Kisah jovan dan alina yang terpaksa menikah karena kesalah pahaman.
mereka menjalani hari-hari pernikahan mereka dengan perasaan biasa, namun perlahan di antara keduanya tumbuh rasa cinta yang seolah sama-sama tidak ingin saling melepaskan.
Namun siapa sangka sebuah kesalah pahaman juga membuat alina ingin berpisah dari jovan.
Apakah yang membuat alina ragu dengan jovan setelah kepulangan jovan dari luar negeri?
Akankah jovan memenuhi keinginan alina untuk berpisah atau tetap akan mempertahankan pernikahan mereka?
===========================
Jangan lupa tinggalkan jejak ya readers.
selamat membaca 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Mdf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Sore ini jovan sudah berada di bandara, jam keberangkatannya satu jam lagi, alina mengantarkan jovan hingga bandara, kedua orang tua jovan serta orang tua alinapun turut ikut mengantarkan keberangkatan jovan. Alina sesekali mengusap air matanya tangannya terus menggenggam erat tangan jovan.
Bunda rumi tidak tega melihat putrinya yang harus hidup terpisah dengan suaminya.
"Sayang?" Gumam jovan memanggil alina yang sejak tadi terus memeluk dirinya. Tangan jovan sesekali mengusap air mata alina.
Jovan merasakan apa yang di rasakan oleh istrinya itu, wanita yang kini sudah memenuhi relung hatinya. Namun harus hidup terpisah dalam beberapa tahun ke depan.
"Sayang. Jangan seperti ini, aku jadi nggak tenang ketika di sana nanti." Gumam jovan pada alina nada suara seperti berbisik namun masih bisa di dengar oleh alin.
Sementara alina tidak mempedulikan kata jovan, dia hanya terus memeluk menyembunyikan wajahnya di dada suaminya. Jovan hanya mengusap lembut pipi mulus alina sesekali mengelus kepala sang istri yang tertutup hijab.
Hingga tiba saatnya jam keberangkatan jovan.
"Mah jo berangkat dulu ya." Pamit jovan menyalami punggung tangan intan. Kemudian beralih pamit kepada papahnya panji.
"Pah, jovan pergi dulu."
"Bunda, ayah. Jo titip alina, kalau ada apa-apa tolong hubungi jovan." Ucap jovan pada mertuanya.
Lalu jovan beralih pada istrinya yang berada di samping bundanya. Jovan langsung memeluk tubuh mungil istri cantiknya itu dan mendaratkan beberapa kecupan pada wajah alina.
"Sayang, Jaga hati. Tunggu aku pulang.. Ingat jika ada apa-apa segera hubungi aku, jangan pernah mengabaikan teleponku jika aku menelponmu nanti." Ucap jovan menangkup wajah sembab alina yang sejak tadi mengeluarkan air mata.
Tidak bisa di pungkiri meski jovan dengan sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak luruh, namun ktika kembali melihat wajah sendu istrinya, kedua netranyapun ikut menggenang. Kembali jovan menciumi wajah istrinya.
"Aku pergi." Ucap jovan pada alina dengan berat hati.
Kemudian jovan beranjak dari boarding room menuju area pesawat. Jovan berjalan tanpa menoleh ke arah belakang lagi karena tidak ingin melihat wajah sedih istrinya. Jovan tidak sanggup.
Sementara alina terus memandangi punggung suaminya hingga tidak terlihat lagi.
"Bunda." Lirih alina memeluk bunda rumi.
"Iya sayang, alina sementara tinggal sama bunda ya nak. Nggak mungkin kan kamu tinggal sendiri di rumah kalian." Kata bunda pada putrinya.
Rumi mengajak putri kesayangannya untuk tinggal kembali di rumahnya untuk sementara waktu sampai jovan kembali ke indonesia. Sebelumnya rumi sudah berbicara dengan intan dan panji mertua alina dan merekapun setuju dengan keputusan bunda rumi.
"Jangan sedih ya nak, jo akan pulang jika ada waktu liburnya." Kata intan ibu mertuanya.
Alin hanya mengangguk.
"Cuma empat tahun kok lin, itu pun jika jovan menyelesaikannya tepat waktu." Imbuh panji ayah mertua alin.
"Iya pah." Sahut alin menampilkan senyum manisnya.
"Mama bolehkan sekali-sekali ngajak alin untuk menginap di rumah mama." Pinta mama intan seraya mengelus bahu alina dan memeluknya memberi kekuatan pada menantunya.
Alina mengangguk mengiyakan permintaan ibu mertuanya itu.
Semuanya kini kembali pulang meninggalkan area bandara, mengendarai mobil menuju kediamannya masing-masing.
Alina mengikuti bundanya, sebelumnya alina pergi kerumah yang di tinggali bersama jovan kemarin untuk mengambil barang keperluannya, termasuk perlengkapan serta beberapa buku mata kuliahnya.
Ketika sampai di kamarnya, alina kembali mengingat momentnya di waktu pagi tadi bersama jovan. Moment paling bahagia yang tidak akan mungkin pernah bisa ia lupakan.
****
Kini alina sudah berada di kediaman orang tuanya, Alina berdiam diri di kamar miliknya menunggu kabar dari suaminya, sesekali alina memanjatkan do'a agar jovan sampai dengan selamat dan akan segera memberi kabar pada dirinya.
Waktu sudah menunjukkan malam, usai melaksanakan sholat isya. Alina menuju dapur untuk mencari sesuatu yang bisa ia makan. Kebiasaan alina ketika sebelum menikah selalu mencari cemilan yang bisa menemaninya ketika sedang menonton drama korea kesuakaannya.
Alina mencoba untuk mengembalikan hati cerianya, mencoba mengalihkan rasa rindunya pada sang suami dengan cara menonton sebuah drama korea yang ada di leptopnya.
Sedang aby yang baru saja pulang dari kantornya, setelah membersihkan diri dia mencoba untuk melihat keadaan adiknya yang katanya di tinggal oleh suaminya untuk sementara waktu.
Dilihatnya alina yang baru masuk kamar dengan membawa sebuah toples cemilan, aby paham dengan kelakuan adiknya itu. Aby menduga jika alina akan menonton hingga larut malam.
"Eeh ada adek cantik aku pulang ke rumah." Kata aby mencoba menjahili adik kesayangannya itu, mungkin bisa menghilangkan rasa sedih alin.
Karena aby mengetahui rasa sedih alina setelah di beritahu oleh bundanya sore tadi ketika dia masih berkutat dengan kegiatan kantornya, bahkan aby tidak mengantarkan kepergian adik iparnya.
"Bang abyyy.." Alina beranjak dari tempat duduknya melihat kakaknya yang baru saja masuk ke kamarnya.
Alina langsung saja memeluk tubuh sispek abangnya, kebiasaan adik kakak itu sejak dulu hingga sekarang. Karena aby memang sering memanjakan alina sejak kecil.
"Bang. Kak jo pergi ninggalin alin." Keluh alina dengan suara lirih, air mata kembali menggenang di kedua netranya.
"Ya allah dek, jovan nggak ninggalin kamu loh ya, dia cuma pergi buat nuntut ilmu menambah pengetahuannya. Dia pergi untuk sementara waktu doang kok." Suara aby mencoba menenangkan adiknya.
Alina hanya mengangguk menanggapi abangnya.
"Jangan sedih lagi, masih ada bang aby yang bisa jagain kamu untuk sementara waktu, sementara kamu juga di sini harus fokus dengan kuliahmu juga bisa mencapai apa yang kamu cita-citakan." Tutur aby.
Alina kembali mengangguk. Perlahan melepaskan pelukannya dari abangnya.
"Bang aby, tadi kata bunda abang mau nikah ya?" Ucap alina ketika mengingat ucapan bundanya tadi.
Aby terkejut mendengar ucapan adiknya.
"Nggak usah percaya, abang masih ada yang harus di capai belum kepikiran untuk menikah." Tukas aby, tidak ingin membahas masalah perjodohannya.
"Tapi bunda tadi bilang kalau abang udah di jodohkan dengan salah satu putrinya sahabat ayah." Sahut alin dengan yakin.
Aby tidak ingin membahas lebih lanjut masalah perjodohannya kali ini, aby pun memutuskan untuk keluar meninggalkan kamar alina.
Mungkin saja pertanyaan alina tidak akan ada habisnya jika aby belum menjawabnya dengan benar. Jadi untuk solusi satu-satunya aaby segera beranjak.
"Eeh bang aby kenapa menghindar sih." Kata alina memperlihatkan wajah polosnya.
Alina paham dengan perasaan abangnya, pasti sangat berat di jodohkan dengan sesorang yang belum ia cintai.
Alina menggeleng memikirkan nasib abangnya itu, kemudian alina memutuskan untuk menonton drakor saja biar fikirannya kembali tenang.
Kalau emang benar bang aby di jodohkan, semoga bang aby bisa menerima perjodohannya dengan baik. dan semoga wanita yang di jodohkan dengan bang aby orangnya baik serta cantik 😊
Gumam alin dalam hati memikirkan abang kesayangannya itu.