NovelToon NovelToon
Tale Of Mumei

Tale Of Mumei

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kutukan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Liang Hou

Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Runtuhnya Benteng Odawara

"Tuan Kotaro! Jalur pengiriman dari gerbang dalam Odawara telah mati total. Tidak ada lagi gandum, tidak ada lagi mesiu, dan tidak ada lagi jawaban atas sinyal asap kita."

Suara itu meluncur rendah dan serak dari balik kabut pekat yang menggantung di Celah Ashigara, perbatasan utara Pegunungan Hakone. Seorang shinobi klan Fuma berlutut di atas tanah berlumpur yang basah oleh sisa gerimis semalam. Tubuhnya yang jangkung penuh luka garitan, sementara pakaian serba hitamnya ternoda debu dan darah kering dari sisa-sisa pertempuran menumpas unit Suppa.

Fuma Kotaro berdiri tegak di atas bongkahan batu hitam raksasa yang menjorok ke jurang. Pria bermata kuning keemasan itu tidak memutar tubuhnya. Topeng kayu iblis bermotif sungut merah di wajahnya menatap lurus menembus gulungan kabut pagi, mengarah tepat ke puncak Gunung Ishigaki di kejauhan.

"Odawara tidak lagi mengirim pasokan bukan karena mereka lupa," bisik Kotaro, suaranya parau bagaikan gesekan dua bilah batu kasar. "Mereka tidak mengirimnya karena gudang-gudang di dalam tembok itu kini tak lebih dari sarang tikus kelaparan."

Sang utusan menundukkan kepala lebih dalam, meremas jemarinya yang gemetar. "Lalu... apa yang harus kita lakukan dengan garis pertahanan Hakone, Tuan? Pasukan klan Toyotomi dan klan Sanada mulai merayap naik dari celah bawah."

Kotaro tidak menjawab. Ia perlahan meraba ukiran kayu topengnya, lalu mengangkat kedua tangannya untuk melepas ikatan tali rami di belakang kepalanya.

Untuk pertama kalinya di hadapan para pengikutnya, Kotaro menanggalkan topeng iblis yang menjadi simbol ketakutan di seluruh Kanto. Di balik topeng itu, tersembunyi wajah seorang pria paruh baya yang tirus dengan rahang tegas, kulit pucat bagaikan mayat, dan garis-garis kelelahan mendalam yang tak pernah terlihat oleh dunia luar.

Ia menatap lurus ke arah pemandangan yang membentang di bawah sana.

Kabut pagi Kanto perlahan terangkat disapu angin laut yang dingin. Dan di sana—di puncak Gunung Ishigaki yang tadinya merupakan rimba belantara cedar tak tertembus—kini berdiri megah sebuah benteng batu raksasa beratap genteng hitam dengan dinding-dinding putih yang memantulkan sinar matahari pagi. Benteng ajaib Toyotomi muncul utuh dalam sekelip mata, berdiri bagaikan raksasa putih yang menatap angkuh ke arah dinding Benteng Odawara yang suram.

Kotaro menghembuskan napas panjang, sebuah hembusan napas kekalahan yang amat pahit.

"Selesai sudah..." gumam Kotaro lirih.

Ia memejamkan mata emasnya sejenak, mengingat kembali puluhan tahun pengabdian klan Fuma di bawah naungan klan Hojo. Selama lima generasi, klan Hojo memerintah wilayah Kanto dengan kejayaan yang tak tertandingi. Namun kejayaan itu telah membutakan mata para pemimpinnya.

"Tuan Ujimasa..." bisik Kotaro, nada penyesalan yang teramat dalam merayap di dalam suaranya. "Kau terlalu terlena oleh kejayaan masa lalu. Kau percaya bahwa tembok batu Odawara yang dibangun oleh nenek moyangmu tidak akan pernah bisa diruntuhkan, hingga kau lupa bahwa dunia di luar sana telah berubah menjadi lautan api dan mesiu."

Kotaro mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga kuku-kuku jarinya melukai telapak tangannya sendiri.

Ia ingat bagaimana beberapa tahun lalu klan Fuma telah memberi peringatan keras kepada Ujimasa tentang pesatnya perkembangan taktik perang Toyotomi, tentang bahaya ribuan senapan tanegashima dari Kansai, dan tentang kelicikan Kuroda Kanbei yang sanggup meruntuhkan provinsi tanpa mencabut katana. Namun Ujimasa dan para penasihat tuanya hanya tertawa, mengandalkan reputasi Benteng Odawara yang dulu gagal ditembus oleh pahlawan sekelas Uesugi Kenshin dan Takeda Shingen.

Ujimasa lupa satu hal penting, Uesugi dan Takeda datang untuk bertarung di medan kehormatan, sedangkan Toyotomi Hideyoshi dan Kuroda Kanbei datang untuk menelan seluruh Kanto bulat-bulat menggunakan kalkulasi politik dan perangkap ekonomi.

"Tuan Ujimasa bertarung melawan bayangan masa lalu," lanjut Kotaro, matanya menatap pilu ke arah Benteng Odawara yang kini tampak begitu kerdil di bawah bayangan Benteng Ishigaki. "Sementara musuhnya bertarung menggunakan masa depan."

"Tuan Kotaro..." panggil bawahannya ragu. "Apakah kita harus turun ke Odawara untuk mati bersama Tuan Ujimasa?"

Kotaro memutar tubuhnya perlahan, menatap belasan shinobi Fuma yang berdiri diam di dalam kegelapan hutan Hakone. Mereka adalah sisa-sisa dari klan pembunuh terkuat di timur—pria-pria jangkung bernapas sunyi yang seluruh hidupnya diabdikan untuk menjadi bayangan penjaga Kanto.

"Mati bersama seseorang yang sudah menyerahkan jiwanya pada ketakutan bukanlah jalan klan Fuma," tegas Kotaro, suaranya kembali mengeras bagaikan besi tempaan. "Klan Hojo telah runtuh hari ini. Tidak ada satu pun anak panah atau mantra gaib yang bisa menyelamatkan Odawara dari tangan Hideyoshi."

Kotaro memegang topeng kayunya erat-erat, lalu melemparnya ke dasar jurang Hakone yang dalam. Topeng iblis itu meluncur jatuh, tenggelam di antara ranting-ranting cedar dan kabut abadi.

"Tarik seluruh pasukan klan Fuma dari Pegunungan Hakone," perintah Kotaro dengan nada dingin yang tak terbantahkan. "Kita mundur ke dalam kegelapan rimba Musashi dan pegunungan utara. Hapus seluruh jejak perkemahan kita. Jangan biarkan orang-orang Kuroda Kanbei atau shinobi Iga menemukan keberadaan kita."

Para prajurit Fuma membungkuk dalam-dalam, menerima perintah terakhir dari pemimpin mereka dengan kepatuhan mutlak.

"Apakah kita akan membalas dendam pada klan Toyotomi suatu hari nanti, Tuan?" tanya sang bawahan sebelum menghilang.

Kotaro menengadah menatap langit Kanto yang kian terang. Di dadanya, kebencian pada Kanbei dan Hideyoshi membakar hangat, namun akal sehatnya yang tajam menyadari kenyataan zaman yang baru.

"Zaman perang para daimyo akan segera berakhir," jawab Kotaro pelan. "Hideyoshi akan memenangkan Odawara, tapi kemenangan ini akan melahirkan serigala-serigala baru di dalam istananya sendiri. Klan Fuma akan bertahan hidup di dalam bayang-bayang... menunggu saat ketika raksasa dari Kansai itu hancur oleh kesombongannya sendiri."

Dengan satu kibasan jubah hitamnya, Fuma Kotaro melompat mundur ke dalam kerapatan hutan Hakone. Sosoknya dan seluruh prajurit klan Fuma menyatu kembali dengan kegelapan rimba, menghilang tanpa jejak bagaikan hantu yang tak pernah ada.

Jalur pertahanan terakhir di Pegunungan Hakone telah sepenuhnya kosong. Pintu belakang Kanto kini telah terbuka lebar tanpa halangan, menyegel takdir kemusnahan klan Hojo di Odawara untuk selama-lamanya.

***

Di dalam aula pertemuan Honmaru Benteng Odawara, keheningan yang menekan terasa seribu kali lebih berat ketimbang dentuman meriam. Cahaya lilin yang kian memendek memantulkan bayangan-bayangan kaku para perwira, jenderal, dan keluarga senior klan Hojo yang duduk berjejer di atas tatami.

Aroma dupa cendana tak lagi sanggup menutup bau busuk luka luka membusuk dan bau amis keputusasaan yang merayap masuk dari lorong-lorong barak di luar.

Di atas panggung utama, Hojo Ujimasa duduk mematu dengan mata terpejam rapat. Jemarinya yang kurus dan kering mencengkeram erat tongkat kayu pusaka keluarga. Wajah mantan penguasa tertinggi Kanto itu tampak amat cekung, dihiasi lingkaran hitam keunguan di bawah matanya.

"Tuan Ujimasa! Hamba memohon dengan sangat... bukalah mata Anda dan tataplah kenyataan ini!"

Sebuah suara melengking penuh kepedihan memecahkan keheningan. Hojo Ujifusa, komandan pertahanan garis utara sekaligus adik Ujimasa, maju bersujud hingga dahi dan kedua tangannya menempel erat di lantai kayu. Wajah Ujifusa penuh dengan jelaga hitam dari gerbang utara yang terbakar, dan baju zirahnya terkoyak di berbagai tempat.

"Pasokan makanan di gudang tengah telah habis total sejak kemarin sore!" seru Ujifusa dengan suara gemetar, air mata menyulut garis-garis bersih di wajahnya yang kotor. "Para prajurit di dinding luar kini memuntahkan darah karena memakan daun-daun busuk dan kulit perisai! Musuh tidak lagi menembakkan satu pun anak panah ke arah kita, Tuan... Kuroda Kanbei hanya duduk melipat tangan di atas Gunung Ishigaki, menunggu kita memakan bangkai saudara kita sendiri!"

Ujimasa tidak bergerak. Bibirnya terkatup rapat, seolah-olah seluruh keluhan di ruangan itu hanyalah bisikan angin lalu.

"Tuan Ujimasa!" sela Matsuda Yasuhide, seorang jenderal senior klan Hojo yang terkenal paling setia. Yasuhide ikut merangkak maju, suaranya parau dan terputus-putus. "Tadi pagi... Benteng Ishigaki berdiri utuh di depan mata kita. Itu bukan sihir, Tuan... itu adalah bukti bahwa Toyotomi Hideyoshi memiliki sumber daya yang tak terbatas! Seluruh Jepang telah berlutut di bawah kakinya! Bahkan klan Fuma yang menjadi bayangan penjaga kita di Hakone telah menarik diri dan menghilang!"

Mendengar nama klan Fuma disebut, mata Ujimasa mendadak terbuka tipis. Kilatan luka dan kepahitan melintas sejenak di mata tua itu.

"Klan Fuma... meninggalkan kita?" bisik Ujimasa, suaranya sangat serak, hampir tak terdengar.

"Jalur Hakone telah kosong, Tuan!" tangis Ujifusa kian pecah. "Tidak ada lagi pasokan dari utara, tidak ada lagi bantuan dari laut! Pasukan klan Sanada dan Date telah mengunci gerbang luar kita rapat-rapat. Jika kita meneruskan kegilaan ini... lima puluh ribu nyawa rakyat dan prajurit di dalam benteng ini hanya akan menjadi bangkai ulat!"

Ruangan itu mendadak penuh dengan desakan dan histeris. Puluhan jenderal senior dan tetua klan Hojo ikut maju, bersujud serentak di hadapan Ujimasa. Suara ratapan, erangan frustrasi, dan desakan agar benteng menyerah membahana memenuhi Aula Honmaru.

"Menyerahlah, Tuan Ujimasa!" "Demi kelangsungan darah klan Hojo, bukalah gerbang itu!" "Kirimkan pesan damai pada Tuan Kampaku sebelum seluruh rakyat di dalam tembok ini mati kelaparan!"

Ujimasa menatap jajaran bawahannya yang berlutut dan menangis di depannya. Pria tua itu gemetar hebat. Kebanggaan lima generasi klan Hojo yang pernah menguasai delapan provinsi Kanto—yang pernah menahan gempuran pahlawan legendaris sekelas Uesugi Kenshin dan Takeda Shingen—kini hancur berkeping-keping di telapak tangannya sendiri.

Ia menyadari kesalahan terbesarnya: ia terlalu percaya pada keagungan tembok batu Odawara yang dibangun nenek moyangnya, hingga ia buta terhadap zaman baru yang dibawa oleh Toyotomi Hideyoshi dan Kuroda Kanbei. Tembok Odawara tidak pernah runtuh oleh meriam atau pedang musuh, melainkan oleh kepungan kelaparan dan mahakarya benteng ajaib di atas Gunung Ishigaki.

"Cukup..." gumam Ujimasa.

Seluruh ruangan mendadak bungkam. Hening kembali menguasai aula, hanya menyisakan Isak tangis terbilang dari para perwira.

Ujimasa melepaskan tongkat kayunya, membiarkannya jatuh terhentak di atas tatami. Pria tua itu menegakkan punggungnya yang bungkuk, menatap lurus ke arah gerbang luar Honmaru.

"Panggil Ujinori..." perintah Ujimasa dengan suara datar yang kosong dari segala emosi. "Minta dia membawa bendera putih dan melangkah keluar menuju perkemahan Kuroda Kanbei di Gunung Ishigaki."

Air mata mengalir perlahan menelusuri kerutan di pipi Ujimasa.

"Katakan pada Hideyoshi..." bisik Ujimasa, memejamkan matanya kembali saat kekalahan mutlak itu akhirnya meremukkan jiwanya. "...bahwa Benteng Odawara... diserahkan ke dalam tangannya. Asalkan... asalkan nyawa rakyat dan para prajuritku di dalam tembok ini diampuni."

Seruan lega yang bercampur duka pecah di dalam aula. Para jenderal Hojo membungkuk dalam-dalam, menangisi akhir dari keagungan klan mereka. Gerbang Benteng Odawara—benteng terkuat yang tak pernah ditembus dalam sejarah Jepang—akhirnya bersiap untuk dibuka dari dalam, menandai runtuhnya kekuasaan klan Hojo di Kanto dan mengakhiri perlawanan terakhir terhadap unifikasi tanah Jepang di bawah panji Toyotomi Hideyoshi.

1
Xiao Qiao
keknya makanan kesukaan dia babi asap nih 🤣
Xiao Qiao
😭
Friend_A
bagus
Xiao Qiao
ngakak tengil bnget nih bocah wkwk🤣
Liang Hou: sesuai sifat aslinya kak 😭😭
total 1 replies
Xiao Qiao
bentar banget thor pertarungannya
Liang Hou: masih agak bingung bikin pertarungan panjang lawan Yokai 🙏
total 1 replies
Xiao Qiao
hmm lumayanlah untuk fiksi sejarah, tapi politiknya terlalu kental jadi agak susah dicerna
Liang Hou: thanks udah baca
total 1 replies
Liang Hou
🤏
penajalanan_
gak jelas banget authornya arc 1 gini doang
penajalanan_
kurang menarik
penajalanan_
bertele-tele sampah
penajalanan_
campur aduk, ini cerita sejarah apa fantasi sih. Sejak kapan tengu ikut perang, lagian mana ada tengu di desa tengu itu tinggal di gunung
penajalanan_
sotoi, Takenaka Hanbei aja udah meninggal tahun 1579 masa ketemu sama Hanbei saat menuju Yamazaki emangnya bisa hidup lagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!