NovelToon NovelToon
PERLAWANAN ISTRI YANG DIDZALIMI KELUARGA SUAMI

PERLAWANAN ISTRI YANG DIDZALIMI KELUARGA SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Tantya Ambardhita hanya lulusan SMA. Bagi keluarga suaminya, itu cukup menjadi alasan untuk merendahkannya.

Mereka menganggap Tantya tak punya apa-apa. Namun anehnya, setiap kebutuhan mertua dan tiga iparnya selalu dibebankan kepada perempuan itu. Tantya diperlakukan seperti ATM berjalan—diminta memberi, tetapi tak pernah dihargai.

Sampai suatu hari, Rendra, suaminya, membawa mantan kekasihnya pulang kampung. Bukan hanya mengajak perempuan itu masuk ke mobil, Rendra bahkan menyuruh Tantya duduk di kursi belakang.

Ironisnya, mobil yang mereka banggakan itu adalah milik Tantya.

Di sebuah rest area, Tantya akhirnya meninggalkan mereka. Dan sejak hari itu, Tantya bukan lagi istri yang selalu mengalah.

Keluarga Rendra mengira mereka sedang kehilangan seorang istri yang hanya lulusan SMA.

Mereka belum tahu…

perempuan yang selama ini mereka remehkan menyimpan identitas dan kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Tantya Speak Up

Tantya melangkah masuk ke dalam rumah dengan wajah masam. Tanpa berniat menyapa siapa pun, ia langsung menuju kamar tidurnya. Malam itu, hatinya masih dipenuhi rasa kesal dan kecewa atas kejadian yang baru saja dialaminya.

Perkataan Rendra tadi benar-benar membekas di hatinya. Bukan sekadar membuatnya tersinggung, tetapi juga melukai harga dirinya sebagai seorang istri. Selama ini, ia berusaha menjadi istri yang penurut, mengikuti keinginan suaminya, dan sebisa mungkin menghindari pertengkaran. Namun, perlakuan Rendra malam itu membuatnya merasa seolah-olah semua yang telah dilakukannya tidak ada artinya.

Sesampainya di kamar, Tantya segera membersihkan wajah dan menggosok giginya. Ia tidak ingin berlama-lama melakukan rutinitas malamnya. Setelah selesai, ia langsung merebahkan tubuh di atas tempat tidur, menarik selimut, lalu memunggungi sisi ranjang tempat Rendra biasanya berbaring.

Malam itu, tak ada sedikit pun keinginan untuk berbicara dengan suaminya. Ia bahkan tidak tertarik mencari tahu apakah Rendra sudah masuk kamar atau masih berada di luar. Untuk sementara, ia hanya ingin menikmati kesunyian tanpa harus berhadapan dengan pria yang telah membuat hatinya terluka.

Tantya memejamkan mata, berusaha mengusir berbagai pikiran yang berkecamuk di kepalanya. Namun, semakin ia mencoba melupakan kejadian tadi, semakin jelas pula perkataan Rendra terngiang di telinganya.

Memangnya aku ini tidak punya perasaan? batinnya getir.

Ia menghela napas panjang, lalu kembali memejamkan mata. Malam semakin larut, dan ia tak ingin menghabiskan sisa waktunya hanya untuk memikirkan pertengkaran yang membuat suasana hatinya berantakan.

Keesokan harinya, saat sebagian besar penghuni rumah masih terlelap dalam mimpi, Tantya sudah terbangun. Langit di luar jendela masih gelap, sementara udara pagi terasa dingin menusuk kulit.

Setelah menunaikan salat Subuh, ia tidak kembali ke tempat tidur seperti yang biasa dilakukan orang-orang pada pagi hari yang dingin. Sebaliknya, Tantya langsung membuka lemari dan mengambil pakaian olahraga yang nyaman dikenakan untuk berjalan kaki.

Pagi itu, ia berniat menyusuri jalanan desa. Ia ingin menghirup udara segar, menikmati suasana pagi yang tenang, sekaligus menjernihkan pikirannya setelah malam yang melelahkan.

Selesai berganti pakaian, Tantya mengambil tumbler, mengisinya dengan air minum, kemudian memasukkannya ke dalam waist bag yang sudah disiapkannya. Ia memeriksa kembali barang bawaannya, memastikan tidak ada yang tertinggal, lalu meraih ponsel dan mengenakan sepatu olahraga.

Semuanya dilakukan dengan tenang, tanpa suara berisik yang bisa membangunkan penghuni rumah lainnya.

Setelah merasa siap, Tantya melangkah keluar kamar. Ia sempat melirik ke arah Rendra yang masih berselimut. Tidak ada keinginan untuk sekadar membangunkan suaminya.

Tantya kemudian berjalan menuju pintu depan. Perlahan, ia membukanya agar tidak menimbulkan suara yang mengganggu, lalu melangkah keluar rumah. Dia sempat berpapasan dengan Bi Lilis yang mau masuk rumah untuk memasak persiapan sarapan pagi. Setelah bertegur spa, dia langsung melanjutkan berjalan ke arah luar.

Udara pagi langsung menyambutnya. Embun masih membasahi dedaunan, sementara jalanan desa tampak lengang. Sesekali terdengar suara burung dari pepohonan dan kokok ayam dari kejauhan, menandai dimulainya hari yang baru.

Tantya menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara segar memenuhi paru-parunya. Kini, wajahnya sedikit melunak..Setidaknya, pagi ini ia bisa menikmati waktu untuk dirinya sendiri tanpa harus mendengar perkataan yang menyakitkan.

Ia mulai melangkahkan kaki menyusuri jalan desa, membiarkan langkahnya mengikuti irama yang nyaman. Sesekali, ia mengamati rumah-rumah penduduk yang masih tertutup rapat, halaman yang basah oleh embun, serta hamparan hijau di sepanjang jalan.

Sementara itu, di dalam rumah, Rendra dan penghuni lainnya masih terbuai mimpi. Tak seorang pun menyadari bahwa Tantya telah keluar sejak pagi-pagi sekali.

Tantya sendiri belum tahu berapa lama ia akan berjalan. Yang jelas, pagi itu ia tidak ingin terburu-buru pulang. Ia membutuhkan waktu untuk menenangkan hati dan mengembalikan suasana hatinya yang sempat berantakan.

Sebab, terkadang, diam dan mengambil jarak sejenak menjadi cara seseorang menjaga dirinya agar tidak semakin terluka.

Hampir pukul tujuh pagi, satu per satu penghuni rumah mulai terbangun. Suasana yang semula sunyi perlahan berubah ramai oleh aktivitas pagi. Ada yang baru keluar dari kamar, ada pula yang mulai bersiap untuk mandi dan membersihkan diri.

Bu Martha menjadi salah satu orang yang paling awal menuju dapur setelah bangun tidur. Seperti biasa, ia ingin memastikan persiapan sarapan berjalan lancar. Begitu tiba di sana, matanya langsung menangkap sosok Bi Lilis yang sedang sibuk menyiapkan hidangan di meja dapur.

Namun, pandangannya segera menyapu sekeliling, mencari seseorang yang biasanya bisa diandalkan untuk membantu pekerjaan tersebut.

"Kok kamu sendiri, Lis? Ke mana Tya? Kok dia nggak bantuin kamu bikin sarapan?"

Bi Lilis yang sedang sibuk menyiapkan peralatan makan menoleh sebentar. "Tadi pagi-pagi sekali Mbak Tya sudah keluar, Bu. Katanya mau cari udara segar."

Mendengar jawaban itu, wajah Bu Martha langsung berubah masam. Ia mendengus, seolah-olah keputusan Tantya untuk berjalan-jalan pagi merupakan sebuah kesalahan besar.

"Belagu banget, tuh anak. Orang kampung, tapi gayanya berlaga seperti orang kota." gerutunya ketus.

Belum sempat Bi Lilis menanggapi, Rendra yang baru saja keluar dari kamar mandi mendengar ucapan ibunya. Dengan rambut yang masih sedikit basah, ia mendekat sambil mengernyitkan dahi.

"Siapa, Bu?" tanyanya penasaran.

"Istrimu itu, siapa lagi!" jawab Bu Martha spontan. "Mending kamu ganti istri saja, Ren!"

Rendra terdiam sesaat, lalu terkekeh mendengar saran ibunya yang terdengar begitu enteng. Ia menggelengkan kepala, seolah sudah terbiasa dengan komentar-komentar pedas keluarganya tentang Tantya.

"Waduh, kemarin Mbak Farah yang menyarankan ganti istri, sekarang Ibu juga?" katanya sambil tertawa kecil. "Kompak banget, sih, kalian!"

Namun, Bu Martha sama sekali tidak menganggap ucapannya sebagai lelucon. Ia justru semakin bersemangat mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap menantu yang satu itu.

"Iya, lah! Memangnya buat apa istri model begitu dipertahankan? Sudah miskin, mandul pula! Apa yang bisa diharapkan dari istri seperti itu?"

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Bu Martha, tanpa sedikit pun memikirkan perasaan perempuan yang sedang dibicarakannya.

Rendra menyandarkan tubuhnya di dekat meja dapur. Senyum tipis masih tersungging di bibirnya.

"Ya, Ibu nggak tahu saja. Tya itu tipe istri penurut. Lumayan, kan, bisa dimanfaatkan buat bantu-bantu kalau sedang ada acara seperti ini." Ia berhenti sebentar, kemudian melanjutkan dengan nada santai, seolah sedang membicarakan sesuatu yang sangat wajar. "Walaupun cuma penjaga toko, penghasilannya juga lumayan, Bu."

Bukannya merasa bersalah karena membicarakan istrinya dengan cara seperti itu, Rendra justru menganggap sikap penurut Tantya sebagai keuntungan yang bisa dimanfaatkan.

Bu Martha mendecakkan lidah. "Ah, tetap saja! Mending Andini. Dia itu cantik, sarjana, pekerjaannya juga bisa diandalkan. Kalau ditanya orang, kamu nggak perlu malu menjelaskan pekerjaan istrinya. Lah, kalau cuma penjaga toko, apa yang bisa dibanggakan?"

Bi Lilis yang sejak tadi sibuk di dapur memilih diam. Ia tidak berani ikut campur dalam percakapan ibu dan anak itu. Tangannya tetap bekerja menata sarapan, meskipun telinganya menangkap setiap hinaan yang mereka lontarkan kepada Tantya. Sementara itu, Rendra mengangguk-angguk kecil, seolah membenarkan pendapat ibunya.

Namun, sebelum ia sempat menambahkan komentar, sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakang mereka.

"Tapi, si penjaga toko inilah yang selama ini membuat dapur ini tetap mengepul."

Seketika, Bu Martha dan Rendra terdiam.

Keduanya serentak menoleh ke arah sumber suara.

Tantya sudah berdiri tepat di belakang mereka. Ia baru saja kembali dari jalan-jalan pagi, dengan pakaian olahraga yang masih melekat di tubuhnya. Waist bag tersampir di pinggang, sementara tumbler berada di tangannya.

Wajahnya tampak tenang. Tidak ada senyum, tidak pula kemarahan yang meledak-ledak. Namun, sorot matanya berbeda dari biasanya. Ada ketegasan yang selama ini jarang mereka lihat.

Tantya rupanya telah mendengar cukup banyak untuk mengetahui bagaimana dirinya dipandang oleh keluarga suaminya.

"Ibu nggak tahu, kan, selama ini siapa yang memberikan uang belanja?" lanjut Tantya lugas.

Bu Martha tampak salah tingkah, tetapi gengsinya membuat ia enggan menunjukkan keterkejutan.

"Memangnya kenapa?" sahutnya ketus.

Tantya menatap ibu mertuanya tanpa gentar.

"Ibu kira anak kesayangan Ibu itu yang selama ini membiayai kebutuhan Ibu? Bukan, Bu." Ia mengalihkan pandangan kepada Rendra sesaat, lalu kembali menatap Bu Martha. "Uang yang selama ini ditransfer ke rekening Ibu, semuanya berasal dari sakuku sendiri. Bukan dari Rendra."

Suasana dapur mendadak terasa jauh lebih sunyi.

Rendra yang tadi masih terkekeh kini kehilangan senyumnya. Ia menatap Tantya dengan ekspresi sulit diartikan, seolah tidak menyangka istrinya akan mengungkapkan hal itu di hadapan ibunya.

Sementara itu, wajah Bu Martha berubah. Ia jelas tidak menyangka bahwa uang yang selama ini diterimanya ternyata berasal dari menantu yang baru saja ia hina habis-habisan.

Namun, Tantya belum selesai. "Jadi, kalau Ibu selama ini bisa makan setiap hari, kalau kebutuhan Ibu bisa terpenuhi, jangan buru-buru merendahkan pekerjaan orang lain." Suaranya tetap terkendali, tetapi setiap katanya terdengar tegas. "Ibu boleh menganggap pekerjaanku rendah. Ibu boleh malu punya menantu penjaga toko. Tapi setidaknya, sebelum menghina, Ibu harus tahu dulu siapa yang selama ini membantu memenuhi kebutuhan Ibu."

Ia menarik napas sejenak, lalu menatap Rendra.

"Dan kamu, Mas. Katanya aku istri yang penurut, jadi lumayan buat dimanfaatkan kalau ada acara? Jadi, selama ini kamu mempertahankanku cuma karena aku bisa disuruh-suruh dan uangku bisa dipakai untuk membantu keluarga kalian?"

Rendra membuka mulut, tetapi tak ada jawaban yang langsung keluar. Kini, ia tidak bisa menertawakan perkataan istrinya.

Tantya menggeleng pelan. Bukan karena ia tidak memiliki kata-kata lagi, melainkan karena hatinya terlalu kecewa untuk terus berdebat dengan orang-orang yang bahkan tidak menghargai pengorbanannya.

"Selama ini aku diam bukan berarti aku nggak tahu diri, Mas. Aku membantu karena aku menganggap kalian keluargaku. Aku memberikan uang bukan supaya dihormati, apalagi dipuja-puja. Aku hanya ingin membantu sebisaku."

Tatapannya kembali tertuju kepada Bu Martha.

"Tapi kalau semua kebaikanku justru membuat Ibu merasa berhak menghinaku, mungkin selama ini aku memang terlalu banyak diam."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Tantya meletakkan tumbler-nya di atas meja dapur. Ia tidak berteriak. Tidak membanting barang. Bahkan, ia tidak menangis. Justru ketenangannya itulah yang membuat suasana terasa semakin canggung.

Bu Martha tampak hendak menyahut, tetapi Tantya lebih dahulu berbalik dan melangkah meninggalkan dapur.

Saat itu, Tantya tidak merasa perlu menjelaskan dirinya lebih jauh. Sebab, ia mulai menyadari bahwa menjadi istri yang penurut bukan berarti harus membiarkan harga dirinya diinjak-injak, dan menjadi menantu yang baik bukan berarti harus terus-menerus membiayai orang-orang yang tidak menghargainya.

1
Heny
What lagi asyik baca thor.. Lanjut
Heny
Jng mau di bujuk di rayu tya jng banyak mengalah
Heny
Gercap tya jng tunggu lama2 amankan aset ygkm punya
Heny
Sudah lah tya lbh baik pisah dr pada dimanfaatkan
Heny
Duh tantya besok2 klau diajak jng mau lbh baik jln sendiri
Ma Em
Keluarga Rendra rencananya mau permalukan Tantya eh ga taunya malah mereka yg malu sendiri karena baju yg dipakai Tantya lbh bagus dari mereka pakai , lbh baik Tantya cepat berpisah dgn Rendra .
Mundri Astuti
bis acara lamaran...hempasin laki" mokondo itu tantya
stela aza
kurang gercep terlalu mengalah trs ,,, di hina di injak injak harga dirinya diem Bae balas donk ,,,, g seru bgt
Mundri Astuti
hempasin aja laki modelan gini
Putri Wulandari
lanjut
stela aza
lemmot
mama
kelamaan,kurang sat set.. tinggal in aj suami macam kyk gitu..
Suhaida Tania
menantu kurang ajar, tidak ada sopan santun kepada ibu mertua
Ma Em
Tantya jgn mau bila diajak pulang sama Rendra biar saja Rendra pulang sendiri , Tantya jgn mau lagi disuruh suruh karena Tantya bkn pembantu apalagi Tantya selalu dihina dan diremehkan sama keluarganya Rendra biar mereka sadar tanpa bantuan dari Tantya Rendra dan keluarganya tdk punya apapa .
Ma Em
Tantya saja yg bodoh kenapa kamu mau saja bantu Rendra dan keluarganya meskipun selalu dihina dan direndahkan karena Tantya selalu diam tdk melawan makanya mereka berani menghina dan menginjak injak harga dirimu Tantya , lbh baik mulai sekarang tdk usah bantu lagi orang orang yg tdk tau diri tdk tau terima kasih biarkan mereka hdp nya susah tanpa bantuan Tantya , Rendra dan keluarganya pasti akan menderita
Ma Em
Tantya kamu jgn istri bodoh mau saja diperlakukan seperti pembantu dihina dan dikucilkan , bangkit Tantya kamu hrs berani melawan Rendra dan keluarganya dan kalau Rendra atau ibunya minta uang sama Tantya jgn kasih biar saja Rendra yg kasih uang untuk ibunya , Tantya jgn mau diremehkan lagi tinggalkan saja suami modelan si Rendra untuk apa dipertahan kan kalau tantya cuma jadi bahan ejekan dan hinaan .
ros
Tunggu byk episode Dan hampir end baru baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!