NovelToon NovelToon
DITALAK ISTRI KARENA MISKIN, AKU PULANG SEBAGAI CEO

DITALAK ISTRI KARENA MISKIN, AKU PULANG SEBAGAI CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Identitas Tersembunyi / Kaya Raya / CEO
Popularitas:852
Nilai: 5
Nama Author: BayouDarda Novelis

“Laki-laki kok nganggur di rumah! Makan di belakang saja. Jangan duduk semeja sama tamu.” Selama tiga tahun, Arkana Pramudya—Arkan—dianggap pengangguran dan beban oleh keluarga istrinya, Laras Wijaya. Pada hari jadi pernikahan mereka, Laras menjatuhkan talak karena malu memiliki suami yang dianggap miskin. Ia tak tahu Arkan adalah pewaris tunggal Grup Pramudya sekaligus pemegang saham pengendali PT Nusa Karya, tempatnya bekerja. Setelah perceraian resmi, Arkan mengambil tanggung jawab sebagai CEO. Namun, kebangkitan Arkan bukan sekadar pamer kekayaan: pelanggaran anggaran harus dibuktikan, konflik warisan mengancam perusahaan, dan Reno—orang yang memanfaatkan ambisi Laras—kembali membawa fitnah. Saat penyesalan datang terlambat dan Laras meminta kesempatan kedua, Arkan harus memilih hidup yang dibangun atas rasa hormat, bukan rasa bersalah. Bersama Nadine Prasetya, teman lama sekaligus CEO yang setara dengannya, Arkan belajar bahwa memaafkan tak berarti harus kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BayouDarda Novelis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 - Bukti yang Tak Dipakai

Pukul sebelas malam, rumah itu akhirnya sepi.

Dari kamar, aku masih mendengar televisi di ruang keluarga. Reno tertawa sesekali, disusul komentar Ibu Retno yang terdengar semakin jauh. Mereka belum tidur. Mungkin masih membicarakan sesuatu yang tidak perlu melibatkan namaku, atau justru menjadikanku bahan percakapan seperti biasanya.

Aku menutup laptop setelah memastikan berkas pekerjaan tersimpan. Gelas kopi di meja kecil dekat jendela tinggal menyisakan noda kecokelatan di dasarnya.

Ponselku bergetar.

Sebuah pesan masuk dari Pak Surya.

Pak Surya: Berkas yang tadi Bapak minta sudah saya kirim. Ada tambahan informasi mengenai transaksi yang melibatkan Reno Saputra. Mohon diperiksa dengan hati-hati.

Nama Reno membuatku kembali menegakkan punggung.

Aku membuka lampiran dari Pak Surya. Dokumen itu berisi ringkasan transaksi yang sedang diperiksa tim kepatuhan PT Nusa Karya. Beberapa nomor referensi, tanggal, serta kode otorisasi tercantum di sana. Belum ada kesimpulan tentang pelanggaran. Tim hanya mencatat sejumlah transaksi yang membutuhkan penjelasan tambahan.

Aku membaca semuanya sampai selesai.

Nama Reno muncul pada salah satu catatan komunikasi internal, tetapi dokumen itu belum cukup untuk membuktikan bahwa ia melakukan pelanggaran. Aku tidak akan menggunakan kecurigaan pribadi untuk mengubah pemeriksaan perusahaan menjadi urusan rumah tangga.

Kepemilikanku atas saham pengendali tidak memberiku hak untuk mengabaikan prosedur. Setiap keputusan tetap harus melalui jalur yang benar. Data keuangan harus lengkap, dokumen hukum perlu diperiksa, rekomendasi komite harus tersedia, dan persetujuan yang diwajibkan tetap harus dipenuhi.

Aku membalas pesan Pak Surya.

Aku: Pastikan tim bekerja sesuai prosedur. Jangan mengambil kesimpulan sebelum seluruh dokumen diverifikasi.

Balasannya datang beberapa menit kemudian.

Pak Surya: Baik, Pak. Saya akan mengawasi kelengkapan berkasnya.

Aku meletakkan ponsel. Ada dua perkara yang terus bercampur di pikiranku: kecurigaan terhadap Reno dan kenyataan bahwa pernikahanku sudah kehilangan tempat untuk kejujuran.

Pintu kamar terbuka.

Laras masuk sambil membawa ponsel. Ia sudah mengganti pakaian, tetapi riasan tipis masih terlihat di wajahnya. Ia melirik meja kerjaku sebelum meletakkan tas di atas kursi.

"Belum tidur?" tanyanya.

"Sebentar lagi."

Matanya berhenti pada laptop yang sudah gelap.

"Kerjaan lagi?"

"Iya."

Ia mengembuskan napas pendek. "Kamu memang selalu punya jawaban itu."

Aku menatapnya. "Memangnya kamu mau aku menjawab apa?"

Laras menuangkan air ke gelas, lalu meminumnya sambil berdiri membelakangiku.

"Aku heran. Setiap malam kamu duduk di depan laptop, tetapi aku nggak pernah tahu apa yang sebenarnya kamu kerjakan."

Aku hampir tertawa, tetapi urung.

Ada banyak jawaban yang bisa kuberikan. Aku bisa menjelaskan pekerjaan yang kuselesaikan, keputusan yang harus kuperiksa, serta rapat yang menunggu persetujuanku. Aku juga bisa menunjukkan dokumen perusahaan yang baru saja kubaca.

Namun, menjelaskan semuanya kepada seseorang yang sejak awal tidak ingin mendengarkan hanya akan menghabiskan tenaga.

"Kalau kamu penasaran, suatu hari mungkin aku akan menjelaskannya."

Laras berbalik.

"Suatu hari? Arkan, kita sudah menikah lima tahun. Sampai kapan kamu mau hidup seperti ini?"

Pertanyaan itu menggantung di antara kami.

Aku ingin mengatakan bahwa selama ini aku nggak pernah berhenti berusaha. Aku menjaga rumah, memenuhi tanggung jawabku, dan menyelesaikan pekerjaan tanpa harus memamerkan hasilnya kepada siapa pun. Tetapi aku juga tahu, selama bertahun-tahun aku membiarkan Laras mengenal diriku hanya dari apa yang terlihat.

Aku memilih diam ketika Ibu Retno merendahkanku. Aku menahan diri ketika Reno menyindir pekerjaanku. Aku bahkan membiarkan Laras mengira bahwa aku tidak mempunyai arah hidup.

Awalnya, aku menganggap kesabaran bisa menjaga pernikahan kami. Belakangan, aku mulai menyadari bahwa diam yang terlalu lama justru memberi orang lain ruang untuk menentukan nilai diriku.

"Aku tidak meminta kamu mengerti semuanya malam ini," kataku.

Laras tertawa kecil tanpa kegembiraan.

"Bagus. Karena aku juga sudah lelah mencoba mengerti."

Ia mengambil bantal tambahan dari lemari, lalu meletakkannya di sisi ranjang yang berlawanan denganku. Gerakannya tidak kasar, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa jarak di antara kami bukan lagi sekadar ruang kosong.

Aku mematikan lampu meja.

Dalam gelap, aku mendengar Laras membuka ponselnya. Cahaya layar memantul di wajahnya. Ia mengetik sesuatu, berhenti, kemudian kembali mengetik.

Beberapa menit kemudian, Laras bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Ponselnya tertinggal di atas ranjang.

Layar yang semula menyala menampilkan notifikasi pesan.

Aku tidak bergerak.

Ponsel itu bukan milikku. Aku tidak memiliki izin untuk membuka percakapan pribadi Laras, sekalipun kami masih berstatus suami istri. Aku juga tidak akan mengambil perangkatnya hanya karena rasa curiga sedang mengganggu pikiranku.

Namun, sebelum layar kembali gelap, satu baris pesan sempat terbaca dari tempatku duduk.

Reno: Besok kita selesaikan rencana itu. Jangan sampai dana kantor keburu diperiksa.

Aku terpaku.

Kalimat itu pendek, tetapi cukup untuk menghubungkan pikiranku dengan dokumen yang dikirim Pak Surya.

Dana kantor.

Aku menoleh ke pintu kamar mandi yang tertutup. Air mengalir dari baliknya. Laras mungkin sedang mencuci wajah, sama sekali tidak menyadari bahwa sebuah pesan baru saja mengubah malam yang semula terasa biasa.

Ponselnya bergetar sekali lagi.

Aku tetap tidak menyentuhnya.

Ada dorongan kuat untuk mengambil perangkat itu, membuka percakapan, dan membaca seluruh isinya. Dengan begitu, mungkin aku bisa menemukan jawaban yang selama ini kucari. Aku bisa mengetahui seberapa jauh Reno masuk ke dalam kehidupan Laras atau apakah mereka sedang menyembunyikan sesuatu yang lebih besar.

Namun, keinginan bukanlah izin.

Aku menarik napas, kemudian mengalihkan pandangan.

Kalau memang ada penyalahgunaan dana perusahaan, buktinya harus ditemukan melalui pemeriksaan yang sah. Aku tidak akan mengotori tanganku dengan mengakses akun pribadi seseorang tanpa izin, apalagi menjadikan pesan yang kebetulan terbaca sebagai dasar untuk menuduh.

Pintu kamar mandi terbuka.

Laras keluar dengan wajah bersih dan rambut sedikit basah. Ia mengambil ponselnya, membaca notifikasi yang masuk, lalu mengetik balasan singkat.

Aku tidak bertanya siapa yang mengirim pesan itu.

Ia pun tidak menjelaskan.

Kami berbaring tanpa percakapan lagi. Punggungnya menghadap ke arahku, sementara aku menatap langit-langit yang hanya diterangi cahaya tipis dari jendela.

Aku teringat surat cerai yang pernah diletakkannya di hadapanku. Cara Laras menyampaikan keputusannya begitu tenang, seolah-olah lima tahun pernikahan kami bisa diringkas menjadi beberapa lembar kertas.

Saat itu aku masih berharap ada sesuatu yang bisa diperbaiki.

Sekarang, harapan itu surut sedikit demi sedikit. Setiap kali aku mendapati diriku berjuang sendirian mempertahankan sesuatu yang bahkan tidak lagi ingin dijaga oleh pasanganku, aku semakin sulit menemukan alasan untuk bertahan.

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya direncanakan Laras dan Reno. Aku juga belum tahu apakah pesan itu berkaitan dengan transaksi yang sedang diperiksa tim kepatuhan.

Yang kutahu, aku tidak boleh membiarkan rasa sakit menentukan keputusan yang seharusnya dibuat dengan kepala dingin.

Pukul dua lewat tujuh belas menit, aku bangun untuk mengambil air minum. Laras sudah tertidur. Ponselnya berada di bawah bantal, layarnya menghadap ke bawah.

Aku berjalan ke dapur, mengisi gelas, lalu kembali ke kamar.

Aku mengambil laptop dan membuka berkas pribadi yang kusimpan terpisah dari dokumen perusahaan. Di dalamnya terdapat salinan surat-surat penting, catatan keuangan, dan dokumen yang berkaitan dengan proses perceraian kami.

Aku memeriksa daftar dokumen yang sudah lengkap dan yang masih perlu disiapkan.

Tidak ada tuntutan baru yang ingin kuajukan. Aku hanya ingin proses ini berjalan sebagaimana mestinya, tanpa manipulasi, ancaman, atau upaya menggunakan kedudukanku untuk menekan siapa pun.

Setelah selesai, aku mengirim pesan kepada kuasa hukum yang menangani perkara kami.

Aku: Mohon pastikan seluruh tahapan tetap berjalan sesuai ketentuan. Saya tidak ingin ada tindakan di luar prosedur, baik untuk mempercepat maupun memperlambat proses.

Pesan itu terkirim.

Aku menutup laptop dan duduk di tepi ranjang.

Ada rasa kehilangan yang sulit kujelaskan. Bukan semata-mata kehilangan seorang istri, melainkan kehilangan gambaran tentang kehidupan yang dulu kubangun bersama seseorang yang kupercaya.

Aku tidak menyesal pernah mencintai Laras. Aku juga tidak ingin mengubah kenangan baik kami menjadi sesuatu yang memalukan hanya karena akhir hubungan ini tidak seperti yang kuharapkan.

Tetapi aku tidak bisa terus menggunakan masa lalu sebagai alasan untuk mengabaikan kenyataan hari ini.

Pagi datang. Aku sudah mandi dan berpakaian ketika ponselku bergetar.

Pesan dari Pak Surya masuk.

Pak Surya: Pak, tim menemukan satu referensi transaksi yang berkaitan dengan rencana penggunaan dana kantor. Kami sedang mencocokkan dokumen pendukung dan jalur otorisasinya. Belum ada kesimpulan final.

Aku membaca pesan itu dua kali.

Kemudian kuketik balasan.

Aku: Lanjutkan pemeriksaan. Jangan menghubungi pihak terkait dengan tuduhan sebelum bukti lengkap.

Aku memasukkan ponsel ke saku dan kembali ke meja kerja.

Ada satu hal yang harus kulakukan sebelum urusan perusahaan semakin rumit.

Aku membuka berkas perceraian, memeriksa jadwal yang sudah ditetapkan, lalu menandai dokumen yang perlu kubawa.

Tidak ada alasan untuk membalas rasa sakit dengan tindakan gegabah.

Tidak ada gunanya pula mengungkapkan segala sesuatu hanya untuk melihat wajah Laras berubah karena terkejut.

Aku akan menyelesaikan urusan rumah tanggaku melalui jalur yang benar. Sementara itu, pemeriksaan di perusahaan harus tetap berjalan berdasarkan bukti, bukan berdasarkan siapa yang kusukai atau kubenci.

Sebelum menutup laptop, aku kembali membaca catatan tambahan dalam lampiran Pak Surya. Di bagian bawah, ada keterangan tentang rencana penggunaan dana kantor yang belum tercatat dalam agenda persetujuan resmi.

Aku memeriksa kode referensinya.

Kode itu tidak asing. Aku pernah melihat pola yang sama pada dokumen yang diserahkan kepadaku beberapa hari sebelumnya. Saat itu, catatan tersebut belum menunjukkan siapa yang berada di balik rencana itu. Kini, pesan Reno membuatku harus memperhatikannya dengan lebih serius.

Aku segera menghubungi Pak Surya.

"Pak, saya sudah membaca catatan tambahan itu."

"Baik, Pak Arkana. Kami sedang meminta dokumen pendukung dari bagian terkait."

"Pastikan semua jejak persetujuan diperiksa. Saya tidak ingin ada satu pun dokumen yang dilewatkan."

"Siap, Pak."

Aku mengakhiri panggilan.

Di luar jendela, matahari mulai meninggi. Rumah kembali sunyi, tetapi ketenangan itu tidak membuat pikiranku lebih ringan.

Aku masih seorang suami yang sedang menghadapi akhir pernikahannya. Aku masih harus menjalani proses hukum yang tidak bisa kuselesaikan hanya dengan kemauan sendiri. Dan aku tetap harus memastikan bahwa setiap keputusan bisnis berjalan melalui mekanisme yang sah.

Aku tidak akan menggunakan kekuasaanku untuk menghukum Laras.

Aku juga tidak akan membiarkan siapa pun menggunakan hubungan pribadiku sebagai alasan untuk mengabaikan dugaan pelanggaran yang perlu diperiksa.

Ponselku kembali bergetar.

Kali ini bukan dari Pak Surya.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang kukenal.

Reno: Mas Arkan, sebaiknya jangan ikut campur urusan kantor yang tidak Mas pahami.

Aku menatap layar cukup lama.

Tidak ada penjelasan. Tidak ada sapaan ramah seperti ketika ia berada di rumah tadi malam.

Hanya satu kalimat yang terasa seperti peringatan.

Aku tidak langsung membalas. Kubaca pesan itu sekali lagi, lalu kusimpan bersama catatan komunikasi lain yang relevan. Aku tidak akan membalas ancaman dengan ancaman, apalagi menggunakan jabatan untuk membuat seseorang ketakutan.

Namun, setelah pesan itu masuk, aku tidak lagi menganggap rencana penggunaan dana kantor sebagai catatan biasa yang bisa menunggu tanpa batas.

Aku membuka kontak Pak Surya dan mengetik satu pesan terakhir.

Aku: Prioritaskan verifikasi transaksi yang terkait dengan rencana penggunaan dana kantor itu. Saya ingin seluruh dokumen pendukung, jalur otorisasi, dan pihak yang terlibat diperiksa sebelum rapat berikutnya.

Aku menekan tombol kirim.

Di layar, pesan itu berubah menjadi terkirim.

Aku meletakkan ponsel di samping laptop, lalu memandang dokumen perceraian yang masih terbuka.

Satu urusan harus kuselesaikan tanpa dendam. Urusan lainnya harus kuhadapi tanpa kompromi terhadap bukti.

Aku tidak akan menjadikan perceraian sebagai alasan untuk menghukum Laras, dan aku tidak akan membiarkan hubungan pribadi menghalangi pemeriksaan perusahaan.

Keduanya harus berjalan di jalur masing-masing.

Sebab pesan Reno tadi pagi memberiku satu alasan baru untuk memeriksa semuanya sampai tuntas.

Ia tahu ada sesuatu yang sedang diperiksa—dan ia ingin aku menjauh.

1
BayouDarda Novelis
Terimakasih atas kehadirannya kak, semoga sukses selalu.
Renjana
hadir kk
BayouDarda Novelis: Terimakasih atas kehadirannya kak, semoga sukses selalu.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!