Jarot, sang penguasa dunia bawah tanah yang sedang menyamar untuk menikmati masa pensiun santainya, tanpa sengaja terseret ke dalam masalah saat ia menyelamatkan seorang pengusaha wanita bernama Nisa dari kepungan preman. Terkesima oleh kemampuan bertarung Jarot, Nisa langsung menyewanya dengan bayaran fantastis untuk menjadi pengawal pribadi tiga putri angkatnya—Lyly, Tata, dan Melly—gadis-gadis keras kepala yang selalu sukses mengusir pengawal mana pun dalam hitungan jam. Di balik kemewahan rumah tersebut, sebuah permainan rahasia yang konyol namun mematikan dimulai; ketiga nona muda itu berusaha menggunakan kemampuan rahasia mereka sebagai ratu Wall Street, master bela diri, dan peretas dewa untuk mengerjai Jarot, tanpa sadar bahwa pria santai yang sedang mereka hadapi adalah monster paling ditakuti di dunia bawah. Kini, sambil meladeni tingkah laku mereka, Jarot harus menggunakan insting pembunuhnya untuk membantai ancaman nyata dari rival bisnis Nisa yang mulai mendekat dari balik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Engh.
Suara rintihan pelan keluar dari celah bibir Tata yang tampak sangat pucat.
Gadis berambut pendek itu perlahan membuka kedua kelopak matanya yang terasa berat.
Rasa nyeri yang luar biasa langsung menyengat lengan kirinya begitu ia mencoba bergerak sedikit saja.
"Jangan banyak bergerak dulu, tulangmu baru saja dipaksa menyambung ke posisi asalnya," tegur sebuah suara yang sangat tenang dari arah depan.
Tata menoleh perlahan dan melihat Jarot sedang duduk di kursi tunggal sambil menyilangkan kaki.
Di samping sofa, Lyly dan Melly langsung mendekat dengan wajah penuh kelegaan.
"Tata! Syukurlah kamu sudah sadar," ucap Lyly sambil mengusap lembut dahi adiknya yang berkeringat.
"Kak Lyly... Melly..." panggil Tata dengan suara serak dan lemah.
Ingatan tentang kejadian mengerikan di jalanan sore tadi kembali membanjiri kepala Tata bagaikan kaset rusak.
Ia ingat bagaimana pukulan andalannya sama sekali tidak mempan pada tubuh keras pembunuh Rusia itu.
Ia juga ingat bagaimana lengannya dipatahkan dengan sangat mudah layaknya ranting kayu kering.
"Aku kalah telak... Aku sama sekali tidak berdaya melawan mereka," gumam Tata dengan tatapan mata kosong menatap langit-langit.
Air mata penyesalan dan rasa frustrasi mulai mengalir deras dari sudut matanya.
Jarot berdiri dari kursinya dan melangkah pelan mendekati sofa tempat Tata berbaring.
"Menangis tidak akan membuat tulangmu cepat sembuh, Mbak Tata," ucap Jarot dengan nada yang sangat dingin.
Lyly menatap Jarot dengan tatapan memohon agar pria itu sedikit lebih lembut pada adiknya yang sedang terluka.
Tapi Jarot sama sekali tidak mempedulikan tatapan Lyly dan terus menatap tajam ke arah Tata.
"Di jalanan, tidak ada medali emas untuk orang yang kalah bertarung," kata Jarot memulai pelajaran mentalnya.
"Satu-satunya hadiah untuk orang yang kalah di dunia bawah tanah adalah peti mati berukuran pas untuk tubuhmu," lanjut Jarot tanpa ampun menguliti ego Tata.
Tata menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan isak tangis yang semakin menyesakkan dada.
"Aku terlalu sombong... Aku pikir gelar juara nasional sudah cukup untuk melindungiku," isak Tata mengakui kebodohannya.
"Gelar juara itu cuma kertas yang dipajang di dinding, tidak bisa menahan pukulan tongkat besi," balas Jarot sangat menohok.
Jarot kemudian berjongkok di samping sofa agar posisi wajahnya sejajar dengan Tata.
"Mulai hari ini, buang semua kebanggaan palsumu itu jauh-jauh kalau kamu masih mau belajar dariku," perintah Jarot dengan suara pelan namun menuntut kepatuhan mutlak.
Tata menatap mata kelam Jarot dan mengangguk pelan dengan penuh keyakinan.
"Aku mengerti, Guru. Aku berjanji tidak akan pernah meremehkan musuh dan melanggar aturanmu lagi," janji Tata meresmikan statusnya sebagai murid.
Jarot tersenyum tipis melihat sorot mata Tata yang kini tidak lagi memancarkan kesombongan kosong, melainkan tekad untuk bertahan hidup.
"Bagus. Sekarang minumlah obat pereda nyeri ini dan makan bubur yang sudah dibuatkan kakakmu," kata Jarot kembali melembut.
Lyly segera membantu Tata duduk bersandar di bantal dan menyuapkan bubur hangat dengan sangat sabar.
Melly duduk di karpet samping sofa sambil memangku laptopnya yang terus menyala menampilkan rekaman CCTV.
"Jarot, apakah dua orang Rusia di jalanan tadi sudah diurus oleh polisi?" tanya Melly penasaran.
"Bukan polisi, tapi teman-teman kebersihanku yang sudah mengangkut mereka berdua ke tempat pembuangan akhir," jawab Jarot dengan analogi kasarnya.
Lyly dan Melly saling berpandangan dan mengerti bahwa Jarot telah menggunakan jaringan bawah tanahnya untuk menghilangkan jejak.
Malam pun semakin larut dan jam dinding besar di ruang keluarga sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Suasana rumah mewah itu terasa sangat damai dan sunyi seolah tidak pernah terjadi pertumpahan darah sore tadi.
Klak. Pet.
Tiba-tiba saja, seluruh lampu di dalam rumah mewah itu mati total dalam hitungan satu detik.
Bukan hanya lampu, suara dengungan AC sentral dan kulkas di dapur juga ikut mati mendadak.
Ruang keluarga yang luas itu seketika tenggelam dalam kegelapan pekat yang sangat mencekam.
"Kyaaa!" jerit Melly terkejut karena layar laptopnya tiba-tiba menjadi satu-satunya sumber cahaya di ruangan itu.
Lyly langsung memeluk Tata dengan erat untuk melindungi adiknya di dalam gelap.
"Apa yang terjadi?! Apa listrik dari pusat sedang padam?" panik Lyly menatap sekeliling yang hitam kelam.
"Tetap di tempat kalian dan jangan ada yang bersuara," perintah Jarot yang suaranya terdengar dari sudut ruangan yang berbeda.
Langkah kaki Jarot sama sekali tidak terdengar di dalam gelap, tapi ia tahu-tahu sudah berdiri di belakang sofa.
"Mbak Melly, periksa koneksi internet dan jaringan seluler di laptopmu sekarang," instruksi Jarot dengan sangat tenang.
Jari-jari Melly bergetar hebat di atas keyboard saat ia mencoba membuka beberapa halaman web.
"Sinyalnya hilang total, Jarot! Koneksi internet terputus dan tidak ada sinyal seluler sama sekali di indikator layarku," lapor Melly dengan nada hampir menangis.
Jarot mendecak pelan dan mengeluarkan pistol rampasannya dari balik celana.
Ctek.
Suara kokangan pistol itu memecah keheningan dan membuat ketiga gadis itu semakin ketakutan.
"Mereka memotong jalur listrik utama dari gardu depan dan memasang alat pengacak sinyal berdaya tinggi," analisis Jarot membaca situasi.
"Pembunuh ketiga dari kelompok Rusia itu akhirnya mulai bergerak, dan dia rupanya jauh lebih pintar dari dua temannya," lanjut Jarot menebak taktik musuh.
Pembunuh ketiga ini tidak mau mengambil risiko menyerang langsung secara frontal seperti teman-temannya.
Ia memilih memutus semua akses rumah ini dengan dunia luar agar targetnya panik dan kebingungan di dalam kegelapan.
"Jarot, kita tidak bisa melihat apa-apa di sini. Bagaimana kita bisa kabur?" bisik Lyly yang suaranya bergetar menahan tangis ketakutan.
"Kita tidak perlu melihat untuk bisa menang, Mbak Lyly," jawab Jarot dengan nada yang luar biasa santai di tengah situasi genting.
Jarot menepuk bahu Melly di dalam keremangan cahaya layar laptop.
"Mbak Melly, ingat ubin lantai dapur yang aku bongkar kemarin malam?" tanya Jarot.
"Iya, aku ingat! Kamu memasukkan beberapa gulungan kabel tebal ke sana kan?" jawab Melly mengangguk cepat.
"Ambil kabel LAN warna merah dari bawah ubin itu dan colokkan langsung ke port laptopmu sekarang," perintah Jarot.
Melly langsung berlari kecil menuju dapur dengan meraba-raba dinding sambil membawa laptopnya sebagai penerang.
Srek. Srek.
Melly menyingkap karpet dan menarik sebuah kabel merah panjang dari balik ubin yang longgar tersebut.
Klak.
Ia mencolokkan kabel itu ke laptopnya dan seketika sebuah jaringan lokal tanpa internet muncul di layarnya.
"Aku sudah terhubung ke jaringan lokal buatanmu, Jarot! Apa ini?" tanya Melly takjub.
"Itu jalur kabel fisik darurat yang aku sambungkan langsung ke kamera CCTV khusus di dalam rumah ini," jelas Jarot berjalan mendekati dapur.
Kamera CCTV biasa pasti sudah mati karena listrik padam dan tidak ada koneksi internet.
Tapi Jarot telah memasang beberapa kamera tersembunyi berdaya baterai yang hanya terhubung melalui kabel fisik yang ditanamnya semalam.
"Sistem pengacak sinyal musuh tidak akan bisa memblokir koneksi kabel fisik yang tertanam di bawah lantai," tambah Jarot tersenyum tipis.
Melly langsung mengetikkan kata sandi yang diberikan Jarot dan empat sudut pandang kamera hitam putih muncul di layarnya.
Kamera itu menggunakan mode inframerah sehingga bisa melihat jelas dalam keadaan gelap gulita.
"Kamu benar-benar sudah merencanakan semuanya sejak semalam," puji Lyly yang ikut merapat ke arah dapur bersama Tata.
"Kalian bertiga sekarang masuklah ke dalam bunker lagi. Jangan keluar sampai aku mengetuk pintunya tiga kali," perintah Jarot dengan nada mutlak.
"Tapi Jarot, kamu mau melawan orang itu sendirian dalam gelap? Dia pasti punya kacamata malam militer," cegah Tata merasa khawatir gurunya kalah.
"Kacamata malam militer cuma alat bantu untuk mata yang rabun dalam gelap," jawab Jarot menyentil dahi Tata pelan.
"Sedangkan aku ini hantu yang lahir dan dibesarkan di dalam kegelapan dunia bawah tanah," ucap Jarot dengan seringai iblis yang sangat menyeramkan.
Mendengar ucapan penuh percaya diri itu, ketiga gadis itu akhirnya menurut tanpa membantah lagi.
Klak.
Pintu bunker kembali dikunci dari dalam, meninggalkan Jarot sendirian di ruang dapur yang gelap pekat.
Wusss.
Jarot mengatur pola nafasnya hingga suara detak jantung dan hembusan napasnya sama sekali tidak terdengar.
Tubuhnya seolah menyatu dengan bayangan hitam di dalam dapur tersebut.