Arka cowok paling populer di sekolah tapi punya sifat yang dingin dan keras kepala. Laras gadis pendiam yang selalu berusaha tampil biasa saja, tapi entah kenapa selalu berakhir berdebat sama Arka. Awalnya mereka saling tidak suka, selalu berselisih paham di mana pun mereka bertemu. Namun seiring waktu berlalu dan berbagai kejadian menyatukan mereka, rasa benci itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam rindu yang tak terucap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Cemmzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehidupan Baru Di Mulai
Hari itu dimulai seperti hari-hari biasanya. Laras berjalan menuju gerbang kampus sambil tersenyum menyapa teman-temannya. Namun ada sesuatu yang berbeda di hatinya pagi ini. Rasanya lebih ringan, lebih hangat, lebih penuh harapan. Saat dia melihat Sandi berdiri di sana sambil menunggunya seperti biasa, jantungnya berdebar bukan karena cemas atau ragu, tapi karena bahagia yang tulus.
Saat mereka berjalan berdampingan menuju bangku taman yang sepi di sudut kampus, Sandi berhenti sejenak dan menatap Laras dengan senyum yang sedikit lebih gugup dari biasanya. Dia menarik napas pelan, lalu berkata dengan suara yang jelas namun lembut.
"Laras, selama ini kita sudah melewati banyak hal bersama. Gue tidak pernah menuntut apa pun dari lu, karena gue tahu lu sedang berjuang dengan perasaan lu sendiri. Tapi hari ini gue ingin bertanya sesuatu dengan jujur. Maukah lu menjadi pacar gue? Bukan untuk menggantikan siapa pun di masa lalu lu, tapi untuk membangun masa depan bersama mulai hari ini. Gue ingin menemani lu, mendukung lu, dan mencintai lu apa adanya. Lu berhak bahagia, dan gue ingin menjadi alasan lu tersenyum setiap hari."
Laras merasa matanya terasa hangat, tapi kali ini bukan air mata sedih. Itu air mata kebahagiaan yang mendalam. Dia menatap mata Sandi yang tulus, lalu tersenyum lebar dan mengangguk pelan.
"Makasih ya Sandi. Makasih sudah sabar menunggu gue sampai benar-benar siap. Gue mau. Gue mau kita jalani ini bersama, selangkah demi selangkah, tanpa terburu buru. Gue tidak berjanji akan sempurna, tapi gue berjanji akan berusaha menjadi versi terbaik dari diri gue saat di dekat lu. Maukah lu menerima gue apa adanya juga?" jawab Laras dengan suara yang tegas dan penuh keyakinan.
Sandi tersenyum lebar, senyum paling bahagia yang pernah Laras lihat di wajahnya. Dia mengangguk dengan antusias. "Tentu saja Laras. Gue menerima lu sepenuhnya. Kelebihan dan kekurangan lu semuanya adalah bagian dari lu yang gue cintai."
Sore itu mereka menghabiskan waktu berjalan berdua sambil bergandengan tangan, bukan karena takut terpisah, tapi karena mereka ingin merasakan kehadiran satu sama lain.
Mereka bercerita tentang mimpi masa depan, tentang tempat tinggal sederhana yang ingin mereka miliki, tentang pekerjaan yang membuat mereka bangga, tentang tempat-tempat indah yang ingin mereka kunjungi bersama.
Tidak ada janji yang berlebihan, hanya keinginan tulus untuk saling mendukung dalam suka maupun duka.
Malam itu saat Laras pulang ke rumah, dia tidak merasa bersalah atau ragu sedikit pun. Dia tahu keputusannya benar. Dia tidak menutup pintu pada masa lalunya, dia hanya membuka pintu lebar lebar untuk masa depannya.
Sandi tidak datang untuk mengisi kekosongan hatinya, dia datang untuk menambah kebahagiaan yang sudah ada di sana.
Hari-hari berikutnya terasa seperti mimpi yang indah namun nyata. Sandi selalu ada di samping Laras, bukan untuk mengatur hidupnya, tapi untuk berjalan bersamanya. Mereka belajar hal-hal baru satu sama lain, seperti kebiasaan kecil, cara menghadapi kesedihan, impian yang ingin dicapai.
Laras menyadari bahwa jatuh cinta untuk kedua kalinya ternyata terasa lebih tenang dan lebih dewasa. Karena kali ini dia tidak mencari seseorang untuk melengkapi dirinya, dia justru sudah merasa lengkap terlebih dahulu, lalu menyambut seseorang yang berjalan sejalan dengannya.