Nadia tak suka dengan perjodohan yang orang tuanya berikan padanya dengan Jayden Mahendra.
Jayden san Nadia kini resmi menjadi suami istri, tapi pernikahan mereka masih harus di sembunyikan sampai mereka lulus sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smarrr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3
Setelah akhirnya sukses mengambil kunci lemari, Nadia membuka dan mengambil satu setel pakaian santai dan menuju kamar mandi jntuk berganti pakaian.
"Duh gue lupa lagi, ini kan resleting nya di belakang, gimana gue mau buka gaunya kalau gitu? Nggak mungki gue minta bantuan si Jay kan? Bisa-bisa dia manfaatin keadaan lagi," dumelnya seorang diri di kamar mandi.
Nadia melakukan segala cara agar resleting itu dapat ia gapai dan bisa menurunkannya sendiri. Tapi lagi - lagi usahanya hanya sia-sia.
"Pegel anjir tangan gue," keluhnya dan mau tak mau akhirnya dia meminta bantuan pada Jayden.
"Ekhem...." Dehem Nadia keluar lagi dari kamar mandi dan Jay hanya melirik sekilas karena sesuatu itu masih merasa berdenyut sakit
"Ada pembantu nggak di rumah ini?" Tanya Nadia yang masih gengsi meminta bantuan.
"Khusus hari ini gue suruh pulang semua! Kenapa?" Jay masih saja meringis.
Nadia menunduk frustasi, ia sangat malu jika harusnya meminta bantuan pada Jay.
"Kenapa baby? Ngomong aja, gini - gini gue masih baik sama lo," tukas Jay yang akhirnya membuat Nadia membuka mulutnya untuk bicara lagi.
"Bantuin gue buka resleting," lirihnya tapi Jay masih mendengar.
Cowok itu melangkah menghampiri Nadia. "Lo denger apa yang gue bilang?" Tanya Nadia tak percaya karena suaranya benar-benar lirih seperti berbisik.
"Pendengaran gue masih bagus Baby, semua yang ada di badan gue masih berfungsi dengan baik, lo mau coba salah satu?" Bisa- bisanya di saat seperti ini Jay yang sedang kesakitan masih saja mencoba menggoda Nadia.
"Mau gue bantun ganti?" Kata Jay saat ia sudah menurunkan resleting gaun yang Nadia pakai.
"Gila lo!" Ketus Nadia dan langsung menuju kamar mandi lagi.
"Ohh... Shit!! Ini masih sakit banget."
Jay berusaha keras agar rasa sakitnya tak terlihat oleh Nadia.
Jay membuka jas dan juga dasi yang ia kenakan.
Tak lupa ia juga membuka dua kancing kemejanya yang terasa mencekik lehernya.
Sementara Nadia baru saja keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang lebih fresh daei sebelumnya.
Saat Nadia akan melewati Jay yang sedang duduk di tepi ranjang, Jay menarik lengan Nadia lalu dengan cepat cowok itu memeluk pinggang Nadia.
"Apaan sih? Lepasin nggak? Gue belum bilang boleh lo peluk gue ya!"
"Hemm.... Gue cape, pengen peluk bentar," lirih Jay menenggelamkan kepalanya di antara perut dan uhuk Nadia.
Nadia hanya bisa diam saja, ia merasa sedikit iba saat melihat Jayden seolah benar-benar sedang lelah.
"Wangi," lirih Jay mencium wangi sabun karena Nadia baru saja habis' mandi.
"Lo laper nggak?" Tanya Jay dengan masih memeluk.
"Laper lah, belum makan gue!"
Jay melepas pelukannya dan mendongak. "Gue mandi dulu, terus habisnitu kita makan," ucapnya yangg terdengar lembut di telinga Nadia.
"Hemm..." Sahut Nadia singkat.
"Dia punya kepribadian ganda kali ya? Barusna kaya bukan dia, lembut banget ngomongnya," Nadia hampir luluh oleh pesona Jayden. "Apaan sih gue anjir!? Jangan sampe deh, oh... Astagaaa.... Kevin gue!" Seru Nadia lalu mencari keberadaan ponseldan segera menghidupkan lagi ponselnya itu.
Nadia menggigit kukunya sendiri saat ia merasa cemas dan gelisah, bagaimana tidak? Kevin sang pacar terus mencoba menghubunginya dan mengirim banyak chat, tapi tak ada satupun yang ia balas.
"Salah banget nggak sih gue, telepon nggak ya?"
Nadia mencoba menimang nimang untuk mempersiapkan hatinya agar bisa berbicara dehgan Kevin.
Nadia berjalan ke arah balkok, mengeklik tombol panggil pada kontak yang ia nama-i 'dunia ku.'
"Halo sayang, kamu kemana aja dari kemarin? Akh benar- bener khawatir, nyariin kamu kemana-mana tapi nggak ada yang tahu, bahkan Naomi aja nggak tahu," cerocos Kevin saat baru saja sambungan teleponnya tersambung.
"Sorry, aku lagi ada acara keluarga kemarin di luar kota, dan di sana ngak ada sinyal, Makanya akh nggak bisa kasih kabar ke kalian, sorry ya," Nadia masih belum sanggup untuk jujur.
"Its okay, nggak apa-apa sayang, tapi kamu baik-baik aja kan?" Tanya Kevin dari sebrang telepon.
"Iya, aku baik-baik aja kok," senyum Nadia mulai merekah karena sudah mendengar suaranya Kevin, cowok yang dua hari ini ia rindukan.
"Besok masuk sekolah nggak? Aku jemput ya? Aku kangen banget sama kamu," setiap uacapan yang keluar dari bibir Kevin seolah mantra yang cowok itu ucapkan pada Nadia.
"Aku juga kangen banget sayang, tapi besok aku berangkat bareng sama Papa, kamu tahu kan kalau papa nggk suka sama kamu, besok kita ketemu di roof top aja ya"
"Oke sayang, makasih ya udah ngasih aku waktu dan tetap bersama walaupun papa kamu nggak suka sama aku, aku janji setelah kita lulus nanti, aku bakal ngelamar kamu dan berusaha agar orang tua kamu suka sama aku."
Nadia mengangguk, walau Kevin tak melihatnya. Terlihat bagaimana raut wajah Nadia kini 180 derajat berubah total. Moodnya kini membaik, dan itu karena Kevin.
"Ya udah kamu istirahat ya sayang, sampai ketemu besok di sekolah."
"Papayy sayang. Lov you. Emuuaach." Kata Nadia kegirangan.
"Love you more sayang, emach emuach..."
Sahut Kevin yang langsung membuat wajah Nadia menjadi merona.
"Udah selesai?" Tanya Jayden tiba-tiba yang sontak membuat Nadia kaget hingga menjatuhkan ponselnya.
"Kaget ya anjir! Lo orang apa bukan sih? Dateng kok nggak da suaranya." Cibir Nadia.
Jayden dengan rahang yang sudah mengeras berjalan menghampiri Nadia yang masih berdiri di tepi balkon.
"Aaaaa...." Teriak Nadia karena tiba-tiba Jay mengangkat badanya dan meletakkannya di pembatas balkon.
"Jay lo jangan ngadi- ngadi ya!" Seru Nadia yang mau tak mau melingkarkan kedua tangannya di leher Jayden.
"Gue? Gue atau lo? Siapa yang baru aja selingkuh? Padahal kita baru aja nikah tadi siang," suara Jay bahkan berubah.
Serak, tegas, mendominasi di setiap kata yang jay ucapkan membuat bulu kuduk Nadia berdiri.
"Turunin gue dari sini! Lo udah janji sama papa gue kalau lo bakal jagain gue, kalau lo nggak lupa!" Teriak Nadia dan Jay malah membalasnya dengan seringaian.
"Putusin itu cowok sekarang! Atau gue bikin hilang itu cowok besok! Bahkan namanya aja nggak tersisa!"
Nadia menelan ludahnya kasar, ia merasa bahwa cowok di depannya ini bukanlah cowok sembarangan.
"Please turunin gue dulu! Gue takut ketinggian!" Rengek Nadia yang hampir menangis.
"Putusin cowok itu sekarang juga! Karena sekarang lo udah jadi istri gue! Jadi jangan harap ada seorang pun yang bisa nyentuh lo selain gue!"
"Turunin gue dulu please gue mohon, gue beneran takut!" Tapi Jay masih tak bergerak,
"Apa imbalannya yang gue dapet kalau gue nurunin lo dari sini?" Tanya Jay dengan tatapan tajamnya.