NovelToon NovelToon
Aku Yang Kau Nikahi, Dia Yang Kau Hamili

Aku Yang Kau Nikahi, Dia Yang Kau Hamili

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Pelakor / Penyesalan Suami
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kak_Hans

Nayara tak pernah menyangka, pria yang dinikahinya dengan penuh cinta, justru tega mengkhianatinya.

Adrian berselingkuh, bahkan menghamili wanita lain, di belakang dirinya.

Di tengah luka dan pengkhianatan, hadir seorang pria yang mencintainya.

Rendra, pria yang mencintai Nayara dalam diam dan bersedia memberinya ketulusan, dan cinta yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.

Kini, Nayara dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan: bertahan demi pernikahan yang telah dikhianati atau pergi bersama luka yang belum sembuh.

Sementara itu, ada hati lain yang menunggunya, berharap suatu hari Nayara mampu membuka kembali pintu cintanya.

Namun, ketika Nayara akhirnya menentukan pilihannya, siapa yang akan ia genggam, suami yang mengkhianatinya, atau pria yang mencintainya? Dan akankah Adrian rela kehilangan istri yang selama ini ia sia-siakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12: Malam Ketika Aku Menangis

____🌺

Suara air dari dalam kamar mandi akhirnya berhenti.

Nayara cepat-cepat menarik selimut hingga menutupi separuh bahunya. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mengatur napasnya agar tidak terdengar bergetar. Air mata yang sejak tadi menggenang, kini mengalir membasahi bantal, tetapi ia menahan bibirnya agar tidak mengeluarkan isakan sekecil apa pun.

Ceklek!

Pintu kamar mandi terbuka. Adrian keluar dengan rambut setengah basah dan handuk melilit pinggangnya. Ia melirik sekilas ke arah tempat tidur, melihat istrinya sudah berbaring memunggunginya.

Rencana makan malam mereka malam ini jelas batal total setelah pertengkaran hebat barusan.

Suaminya menghela napas panjang, berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian tidur. Suasana kamar terasa sangat canggung dan dingin.

Setelah berpakaian, Adrian mematikan lampu utama kamar dan menyisakan lampu tidur di atas meja. Ia naik ke atas kasur, memposisikan dirinya di sebelah istrinya.

Hening menguasai ruangan itu selama beberapa menit.

Nayara mempertahankan posisinya, tidak bergerak sedikit pun meski matanya terbuka lebar menatap dinding di depannya. Pikirannya masih dipenuhi pesan singkat dari Selena yang baru saja ia baca dari layar ponsel suaminya.

Kasur sedikit bergoyang saat Adrian menggeser tubuhnya lebih dekat.

"Nay, kamu sudah tidur?" bisik Adrian pelan memecah keheningan.

Nayara tidak menjawab. Ia pura-pura tidak mendengar.

Namun, Adrian justru makin mendekat. Tangan kanan pria itu terulur, memeluk pinggang Nayara dari belakang. Adrian menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya, mencoba memberikan sentuhan mesra seperti yang biasa ia lakukan saat ingin berdamai setelah bertengkar.

"Maafkan aku soal tadi," bisik Adrian lagi, suaranya melembut. "Aku benar-benar lelah, makanya emosiku gampang terpancing. Kita jangan bertengkar lagi, ya."

Tubuh Nayara kaku seketika saat merasakan pelukan itu. Aroma sabun mandi di tubuh Adrian justru memicu rasa mual di perutnya.

Pelukan ini ... apakah Adrian juga memeluk perempuan itu dengan cara yang sama tadi malam? Apakah sentuhan ini yang Selena maksud dalam pesannya?

Dengan gerakan cepat dan bertenaga, Nayara menepis tangan Adrian dari pinggangnya. Ia bergeser menjauh, merapatkan tubuhnya ke ujung kasur hingga menyisakan jarak yang cukup lebar di antara mereka.

"Jangan sentuh aku, Mas," ucapnya dingin.

Adrian terdiam sejenak. Ia menarik tangannya yang ditepis. "Kamu masih marah? Aku kan sudah minta maaf, Nay. Aku tadi tidak bermaksud untuk membentak."

Nayara membalikkan badannya perlahan. Matanya yang sembap menatap suaminya dalam-dalam.

"Kamu pikir dengan pelukan dan kata maaf, semuanya langsung selesai, Mas? Kamu pikir pertengkaran kita tadi cuma masalah emosi karena kamu lelah bekerja?" tanya Nayara pelan, tapi setiap kata-katanya terdengar tajam.

"Terus masalah apa lagi?" Adrian membalas tatapan itu dengan dahi berkerut. "Kamu yang memulai pertengkaran ini, dengan menuduhku masih mencintai perempuan lain."

"Karena kamu memang tidak membantahnya!" balas Nayara cepat.

"Kamu justru marah dan mengunci diri di kamar mandi. Apa susahnya menjawab tidak, kalau memang di hati kamu tidak ada Selena?"

"Aku sudah bilang, aku malas meladeni pikiran buruk kamu!" Adrian kembali meninggikan suaranya, merasa tersudut.

"Kenapa kamu selalu memperpanjang masalah sih? Aku mau kita berdamai malam ini, aku mau memeluk istriku sendiri, apa itu salah?"

"Sangat salah, kalau pelukan itu cuma kamu pakai buat menutupi kesalahan kamu," sahut istrinya sinis.

"Kamu membelikan aku bunga yang sama dengan yang kamu berikan padanya. Kamu memelukku setelah semalam kamu memeluknya. Kamu pikir aku ini apa, Mas?"

Adrian mengubah posisinya menjadi telentang, menatap langit-langit kamar dengan dada kembang kempis.

"Terserah kamu, Nay. Kalau kamu mau terus-terusan marah dan mendiamkan aku seperti ini, silakan. Aku sudah berusaha menurunkan egoku buat minta maaf, tapi kamu yang tidak mau terima."

Nayara menatap samping wajah suaminya lekat-lekat. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun pernikahan mereka, sebuah pikiran yang sangat mengganggu menghantam kepalanya dengan keras.

Selama ini, rumah tangga mereka selalu terlihat tenang. Tidak pernah ada pertengkaran besar yang bertahan lama. Tapi malam ini, ia baru menyadari alasannya.

"Mas," panggil Nayara, memecah keheningan yang mulai menebal.

"Apa lagi?" sahut Adrian malas.

"Apakah pernikahan kita ini bisa bertahan sejauh ini cuma karena aku yang selalu diam dan menelan semuanya sendirian?"

Adrian menoleh cepat. "Maksud kamu apa bicara begitu?"

"Coba kamu pikirkan, Mas," ucap Nayara, matanya tidak berkedip. "Setiap kali kita berbeda pendapat, aku yang selalu mengalah. Setiap kali ibumu menyudutkanku dan menyuruhku berhenti bekerja, aku yang diam menurutimu. Dan sekarang, saat mantan pacarmu datang mengganggu hidup kita, kamu juga minta aku diam menerimanya dengan alasan pekerjaan."

"Nay, jangan mulai lagi drama kamu malam-malam begini," desis Adrian tidak suka.

"Ini bukan drama, Mas. Ini kenyataan," potong Nayara tegas. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya, tapi ia tidak membiarkannya jatuh.

"Apakah aku ini benar-benar istrimu? Atau aku cuma pelengkap rumah yang tidak boleh punya perasaan? Yang harus selalu tersenyum menyambut mu, meskipun hatiku kamu hancurkan berkali-kali?"

"Aku menikahi kamu karena aku memilih kamu, Nayara! Bukan karena hal lain!" bentak Adrian tertahan.

Pria itu menunjuk ke arah Nayara. "Berhenti bersikap seolah-olah kamu itu korban yang paling menderita di sini. Aku kerja keras siang malam juga demi kamu, demi masa depan kita!"

"Demi masa depan kita? Lalu kenapa kamu membohongiku?"

"Aku tidak membohongi kamu!" sangkal Adrian keras. Matanya melebar, mencoba menutupi kepanikannya dengan kemarahan.

"Kamu yakin?" Nayara menantang. Ia tidak berkedip sedikit pun, menatap lurus suaminya. "Kamu yakin tidak ada satu pun kebohongan yang kamu sembunyikan dariku soal malam kemarin?"

Adrian memalingkan wajahnya dengan cepat, menghindari tatapan mata istrinya yang seolah bisa membaca seluruh isi kepalanya. Ia menarik selimutnya dengan kasar hingga sebatas dada.

"Sudah, aku mau tidur. Besok pagi-pagi aku harus ke kantor buat menyelesaikan masalah yang belum selesai." Adrian membalikkan badannya, memunggungi istrinya, menutup diskusi itu secara sepihak.

"Terserah kamu mau pikir apa malam ini. Aku lelah bertengkar dengan orang yang keras kepala."

Nayara tetap duduk di posisinya. Ia menatap punggung suaminya dengan rasa sakit yang menggerogoti dadanya.

Adrian memilih untuk tidur daripada menyelesaikan masalah ini.

____🌺

Tiga puluh menit berlalu. Kamar itu benar-benar sunyi. Nayara berbaring tanpa bisa memejamkan mata, membiarkan air matanya mengalir dalam diam.

Tiba-tiba, keheningan malam itu pecah.

Ponsel Adrian bergetar panjang. Benda itu menyala, lalu mengeluarkan nada dering panggilan masuk.

Gerakan tubuh Adrian di atas kasur langsung terlihat panik. Pria itu menyambar ponselnya dengan sangat cepat, seolah takut Nayara akan melihat layar ponselnya.

Nayara menahan napasnya. Ia pura-pura memejamkan mata, namun telinganya menangkap setiap gerakan suaminya.

Adrian melihat layar ponselnya selama dua detik, lalu buru-buru mematikan nada deringnya. Ia menoleh ke arah Nayara, memastikan istrinya masih tertidur pulas.

Setelah merasa aman, Adrian turun dari ranjang dengan langkah mengendap-endap.

Pria itu keluar dari kamar utama dengan tergesa-gesa, lalu menutup pintu kamar rapat-rapat di belakangnya.

Begitu pintu tertutup, Nayara langsung membuka matanya. Jantungnya berdetak kencang. Firasatnya mengatakan bahwa panggilan tengah malam ini bukanlah dari asisten suaminya.

Nayara menyingkap selimutnya tanpa bersuara. Ia turun dari tempat tidur, melangkah tanpa alas kaki dengan sangat pelan menuju pintu kamar. Ia menempelkan telinganya di daun pintu kayu, berusaha mendengarkan suara dari luar.

Terdengar langkah kaki Adrian menjauh, menuju arah ruang tamu yang sepi.

Nayara memutar kenop pintu kamarnya dengan sangat hati-hati, membukanya sedikit saja agar ia bisa mendengar percakapan suaminya dengan lebih jelas. Celah pintu itu cukup untuk membiarkan suara Adrian dari ruang tamu masuk ke telinganya.

"Halo? Kamu kenapa menangis? Tenang dulu ...." Suara Adrian terdengar panik dan cemas dari kejauhan. Sangat berbeda dengan nada lelah dan jengkel yang ia gunakan kepada Nayara sepuluh menit yang lalu.

Nayara mencengkeram kenop pintu erat-erat. Adrian tidak pernah merespons tangisannya dengan kepanikan seperti itu.

"Tadi kan kita sudah sepakat. Aku sudah bilang jangan hubungi aku dulu malam ini, Selena," ucap Adrian dengan nada berbisik yang tegas. "Istriku sedang curiga. Tadi kami bertengkar besar."

Jantung Nayara seakan berhenti berdetak mendengar nama itu disebut. Dugaannya benar. Suaminya meninggalkan istrinya yang sedang menangis di kamar, hanya untuk mengangkat telepon dari selingkuhannya.

Terdengar jeda yang cukup lama. Selena pasti sedang berbicara panjang lebar dari seberang telepon, diiringi tangisan yang membuat Adrian semakin gelisah. Suara langkah kaki Adrian terdengar mondar-mandir di ruang tamu.

"Iya, aku tahu kamu takut. Tapi kamu tidak boleh gegabah datang ke rumah. Ini bukan masalah kecil, Selena," bujuk Adrian dengan nada suara yang semakin pelan.

Hening sejenak.

Nayara merapatkan tubuhnya ke pintu, menahan napas agar tidak mengeluarkan suara sekecil apa pun. Tubuhnya bergetar hebat.

Langkah kaki Adrian terhenti di ruang tamu. Pria itu menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar sangat berat dan putus asa.

"Selena, dengarkan aku baik-baik. Berhenti menangis," ucap Adrian dengan nada yang sangat serius.

"Aku janji. Aku akan bertanggung jawab atas semuanya, termasuk anak itu."

1
sunaryati jarum
Adrian Nay sudah muak dengan kamu,urus Selena yang hamil entah benih siapa.Ibumu sangat menyukainya walau Selena cuma benalu.Tuh Selena yang sudah merasa menang kecewa, nanti mengadu pada ibumu
sunaryati jarum
🤣🤣🤣🤭 semoga dengan adanya Nayara perusahaan kecil Rendra semakin berkembang.Adrian kau tidak merasa bersalah sedikitpun pada Naya.Lihat Naya tertawa lepas dengan Rendra,kamu cemburu dan sakit hati, apalagi Nay ,Adrian Tahu suaminya menghamili wanita lain,betapa dalam sakit hatinya,emak berharap itu benih pria lain.Agar Adrian dan ibunya malu dan menyesal
sunaryati jarum
Semoga berhasil dan bisa melambungkan namamu Naya
sunaryati jarum
Tetap semangat jangan goyah,jika Adrian membatalkan tetap kena pinalti.
sunaryati jarum
Bagus Nay, hempaskan nama Adrian.Jika dia merecoki atau mempersulit pekerjaan kamu,ancam kamu akan beberkan perselingkuhan Adrian dengan Selena
sunaryati jarum
Yakinlah Nay, perlakuan suamimu jadikan cambuk untuk berkarir dan kekuatan untuk berdiri di atas kaki sendiri.
sunaryati jarum
Jangan goyah , tetap pendirian kamu.Perusahaan dan nama keluarga bukan urusan kamu,itu urusan Adrian.
sunaryati jarum
Viralkan perselingkuhan mereka jika tidak mau menceraikan kamu.Mungkin Adrian yang bermasalah kesuburannya,dan mudah - mudahan anak yang dikandung Selena bukan anak Adrian, membuat Ny Marissa MALU.
sunaryati jarum
Sudah jangan hiraukan perihal Adrian dan Selena, fokus pada perceraian dan menciptakan kebahagiaan diri sendiri Nay
sunaryati jarum
Semoga keguguran dan itu bukan bayi Adrian
Adinda
jangan jangan kamu yang mandul andrian bukan nayara,anak selena bukan anakmu🤣🤣🤣
한스 |ℌ𝔞𝔫𝔰𝔢𝔫 `: 🫣,,, kayaknya kak😅
total 1 replies
sunaryati jarum
Baru mampir , langsung viralkan perselingkuhan mereka dipastikan perusahaan bangkrut
Adinda
tinggalin rumah itu sembunyi dulu dari suamimu urus perceraian mu
My_Lucia
istrinya udah se-effort ini lho
My_Lucia
bener kata lakinya .. masing-masing aja udah .. dia selingkuh, selingkuh balik aja 😆
emang lu doang yang bisa 🤣🤣
한스 |ℌ𝔞𝔫𝔰𝔢𝔫 `: 🤭, bener lah, yuk, kita, saling selingkuh 🤭
total 1 replies
My_Lucia
laki-laki kurang ajar, udah di masakin gak di hargain... cari yang baru aja Nay, mumpung masih muda
My_Lucia
terlalu berbaik sangka kamu
My_Lucia
terlalu makan ati mikirin laki-laki begini mah
My_Lucia
waduh ada aku di sini 😆
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
memang benar sih. makan saja dulu. jangan kelaperan menunggu yg ga pasti. kalau suami pulang, boleh menemani makan dengan porsi sedkit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!