NovelToon NovelToon
Sang Pemain

Sang Pemain

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: SelToon

Bima Arka Pradipta , anak dari keluarga sederhana di pinggiran Manado. Keras kepala, tidak banyak bicara di luar lapangan tapi meledak-ledak di dalam lapangan. Hamstring putus , pensiun umur 34 tahun. Dikenal karena tendangan bebas melengkungnya dan loyalitasnya sama tim. Dari anak kampung yang main bola pakai kaki ayam -> ditolak akademi karena dianggap terlalu emosional -> bangkit setelah cedera parah di musim hujan -> jadi kapten yang mengangkat tim degradasi jadi juara.
"Bukan tentang seberapa keras kau terjatuh, tapi seberapa lama kau tetap berdiri di tengah hujan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SelToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 Latihan Pertama dan Tangis Di Kamar Mandi Stadion

Senin pertama latihan.

Bima datang pada jam 6 pagi , padahal latihan masih jam 7. Dia takut terlambat lagi.

Dia sudah pakai sepatu nomor 39 itu lagi , tapi kali ini Mama sudah jahitkan ganjalan kain di depannya biar tidak kebesaran. Mama jahit sampai jam 11 malam , pakai lampu lilin.

Lapangan Stadion Klabat itu berbeda dengan lapangan retak Tuminting. Rumputnya hijau , rata , tidak ada batu , dan tidak ada got. Jadi kalau jatuh , tidak akan berdarah.

Tapi anak - anaknya berbeda.

Di Tuminting , kalau jatuh ditertawakan lalu dibantu bangun. Di sini , kalau jatuh ditertawakan lalu ditinggalkan begitu saja.

Tim inti U-13 Manado United ada 22 anak. 21 anak lainnya dari kota. Dari Malalayang , dari Sario , dari anak tentara sampai anak dokter. Bahasa mereka bagus. Logat Manado mereka tidak sekasar logat Tuminting.

Latihan dimulai.

Dimulai dengan pemanasan : Lari keliling lapangan sebanyak 10 kali.

Bima kuat. Dia anak perahu , anak lumpur. Dia finish nomor 2.

Tapi setelah itu , latihan passing.

Coach Bagus bagi 2 tim. Bima satu tim dengan anak bernama Kevin. Kevin anak yang paling kaya , bapaknya punya toko bangunan. Sepatu Kevin baru , merek Nike asli , harganya 2 juta.

Bima passing ke Kevin. Passing pisang pelan yang indah.

Kevin tidak terima. Dia biarkan bola lewat.

"Passing apa itu! Lurus saja! Sok jago!" teriak Kevin.

Bima diam. Dia coba lagi. Kali ini lurus.

Kevin terima , tapi dia tidak passing balik ke Bima. Dia passing ke anak lain.

Selama 1 jam latihan passing , Bima hanya dapat bola 3 kali.

Puncaknya di game terakhir. Mini match 11 vs 11.

Bima ditaruh jadi sayap kiri. Posisi favoritnya.

Bola datang ke dia. Untuk pertama kalinya di stadion bagus itu. Dia kontrol dengan kaki kapalan dengan bagus.

Dia lihat gawang. Dia bisa tendangan pisang . Dia yakin gol.

Tapi dari belakang , Kevin teriak "JANGAN KASIH KE DIA! DIA ANAK TUMINTING!"

Dua anak lain tidak oper ke Bima. Mereka lebih pilih shooting dari tengah padahal kejauhan , daripada oper ke sayap kiri.

Bima lari bolak - balik dan tidak dapat bola.

Sampai di akhir game , dia hanya sentuh bola sebanyak 2 kali.

Peluit panjang. Latihan selesai.

Semua anak langsung ambil botol minum mereka yang bagus - bagus. Ada yang minum susu kotak , ada yang langsung dijemput mobil.

Bima ? Bima tidak bawa minum. Dia lupa. Dia hanya membawa air keran dalam botol bekas Aqua yang tutupnya bocor.

Dia duduk sendiri di bangku cadangan. Sepatu nomor 39nya basah oleh keringat. Kain ganjalan Mama sudah jebol , bikin lecet lagi.

Dia tidak menangis di lapangan. Dia tahan.

Dia jalan ke kamar mandi stadion. Kamar mandi yang bersih , ada keramiknya , tidak seperti jamban di Tuminting yang seperti kayu bolong.

Di dalam bilik kamar mandi yang paling ujung , dia kunci pintu.

Baru di situ , Bima Arka Pradipta yang berumur 12 tahun menangis.

Bukan tangisan kencang. Hanya menangis dalam diam , bahunya naik turun , air matanya jatuh ke sepatu pinjaman nomor 39 itu.

"Pak... kenapa susah begini , Pak..."

Dia ingat lapangan lumpur. Di sana dia dipanggil Arka Lumpur tapi dia bahagia. Di sini , di atas rumput hijau yang bagus , dia tidak dipanggil apa - apa. Dia tidak dianggap ada.

Pintu kamar mandi diketuk dari luar.

"Bima ?"

Suara Coach Bagus.

Bima kaget , dia cepat - cepat hapus air mata. "Iya Coach!"

"Buka."

Bima buka. Matanya memerah.

Coach Bagus tidak marah. Dia tidak tanya kenapa dia menangis. Dia hanya lihat botol Aqua bocor milik Bima.

Dia ambil botol susu kotak dari dalam tasnya , dan memberikannya ke Bima.

"Minum."

Bima minum. Susu coklat. Manis. Pertama kalinya dia minum susu kotak.

Coach Bagus berjongkok di hadapannya , sejajar dengan Bima yang duduk di lantai kamar mandi.

"Dengar , Bima. Di Tuminting , kamu jadi ikan besar di kolam kecil. Di sini , kamu jadi ikan kecil di laut besar. Sakit memang. Semua pemain hebat pernah menangis di dalam kamar mandi."

Bima menatap Coach Bagus.

"Kevin dan kawan - kawannya tidak benci kamu. Mereka takut. Karena mereka tau , kaki nyeker yang pakai sepatu kebesaran itu bisa tendangan pisang yang mereka tidak bisa. Jadi mereka bikin kamu seperti hilang."

Coach Bagus tepuk sepatu nomor 39 itu.

"Besok jangan pakai ini lagi. Pakai kaki saja. Nyeker. Biar mereka lihat kaki kapalan itu."

Besoknya , Bima datang nyeker.

Dan untuk pertama kalinya , seluruh stadion terdiam melihat anak Tuminting yang tanpa sepatu dapat berlari lebih kencang daripada semua anak yang bersepatu.

#####################################

Cukup sampai disini dulu ya , besok lanjut lagi. Semoga suka , jangan lupa berikan saran , like , dan hadiahnya

Happy reading

1
fabdul
thor kenapa ga update lagi?
fabdul
lanjut thor
fabdul
Sinta melihat kearah Nadia dengan tatapan bingung. "Om Bima, Tante ini siapa? itu enak dibaca nya thor 🥰
Jesselyn Runtuwene: Ok , nanti direvisi
total 1 replies
fabdul
cerita mu seru thor cuman penulisan kurang menarik dan bikin pusing bacanya. tolong perbaiki ya thor ini cuman saran kalo pun tidak diperbaiki tidak apa-apa 🤗
Jesselyn Runtuwene: Oke , nanti dibaca ulang dan direvisi
total 3 replies
fabdul
Thor penulisannya lebih enak jika. Nadia, kamu masih ingat saya? jadi enak bacanya nggak ada spasi pas tanda koma di belakang nama Nadia dan kata Saya
Jesselyn Runtuwene: Ok siap nanti direvisi
total 1 replies
fabdul
thor masukan sedikit ya. aku ga enak bacanya karena kebanyakan koma 🙏
Jesselyn Runtuwene: Bab 3 dan 4 sudah direvisi juga
total 3 replies
fabdul
lanjut
fabdul
😭😭
fabdul
bab masih sudah banyak ya thor, ketinggalan jauh
fabdul
semangat nulis nya
Jesselyn Runtuwene: Siap , makasih kak
total 1 replies
fabdul
thor novel mu ini sudah di kontrak?
fabdul: iya thor
total 2 replies
fabdul
wah semangat Bima
fabdul
lanjut thor
fabdul
lanjut
fabdul
lanjut thor
fabdul
lanjut
fabdul
lanjut thor
fabdul
oh iya kah thor? berarti aku yang naik kapal laut ga diterima sama laut karena sering muntah dalam perjalanan 😭
fabdul: hahahaha 😭
total 2 replies
fabdul
maklum anak Kota baru turun gunung 😭
fabdul
😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!