Meng Lin, seorang gadis modern yang baru menyelesaikan pendidikan S2 di bidang sains, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel.
Suatu malam, ia tertidur saat membaca novel berlatar tahun 1974. Ketika terbangun, ia justru mendapati dirinya berada di dalam novel tersebut—menjadi Meng Lin, gadis berusia sembilan belas tahun yang memiliki nama sama dengannya.
Meng Lin asli adalah gadis cantik, baik hati, dan lemah lembut. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya, Meng Wan. Meski memiliki nilai sekolah terbaik, kesempatan kerja justru diberikan kepada Meng Wan. Tanpa pilihan lain, Meng Lin dikirim ke desa sebagai pemuda terpelajar.
Lebih menyedihkan, kekasihnya, Tang Qi, perlahan terlibat dengan Meng Wan. Dalam cerita asli, Meng Lin akhirnya menghilang dari kisah, sementara Meng Wan dan Tang Qi menikah.
"Hmm.. Karakter Utama itu akan menjadi milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Drama Klasik
Meng Wan keluar dari kamar dengan langkah pelan. Wajahnya merah dan sedikit bengkak. Air mata membasahi kedua pipinya, membuat penampilannya terlihat begitu menyedihkan.
Begitu melihat keadaan Meng Wan, Tang Qi dan ketiga gadis yang duduk di ruang tengah langsung terkejut.
"Wan Wan? Kenapa wajahmu?" tanya Cun Yu mewakili mereka semua
Meng Wan tidak menjawab. Ia hanya menggigit bibir, lalu berjalan cepat menghampiri Cun Yu dan langsung memeluknya. "Cun Yu..." Suaranya tercekat. "Hiks..."
Cun Yu buru-buru memeluk balik. "Hei, hei... jangan menangis dulu. Ada apa?" tanyanya dengan panik.
Meng Wan hanya menggeleng sambil menangis.
Teman-temannya saling pandang. Salah satu dari mereka segera pergi melihat ke depan, tetangga tidak boleh sampai mendengarnya. Karena pertengkaran kecil saja bisa jadi besar jika ceritanya sudah melebar keluar.
"Tadi bukannya dia cuma masuk memanggil Meng Lin?" tanya Tang Qi dengan wajah bingung dan terkejut.
"Iya. Kok tiba-tiba jadi begini?" sela yang lainnya.
"Jangan-jangan kalian bertengkar?" tanya Cun Yu seraya menebak.
Meng Wan tetap tidak menjawab. Cun Yu menatap wajahnya lagi. Pipi Meng Wan jelas terlihat merah dan sedikit bengkak.
Ia mulai merasa tidak enak. " Wan Wan, ada yang memukulmu?"
Meng Wan menggigit bibirnya semakin kuat, dia tidak menjawab. Namun justru sikap diam itu membuat teman-temannya semakin yakin bahwa sesuatu memang terjadi di dalam kamar.
Cun Yu menepuk-nepuk punggungnya. "jangan menangis lagi. Katakan pada kami apa yang terjadi.!" Dia sangat penasaran. Apakah dua saudara itu benar-benar bertengkar?
Mereka memang tidak tahu apa yang terjadi di dalam kamar, tetapi mereka juga tidak bodoh. Sesuatu jelas telah terjadi. Terlebih lagi, pipi Meng Wan terlihat merah dan bengkak seperti baru saja terkena pukulan.
Tang Qi yang sejak tadi berdiri akhirnya berjalan menuju kamar Meng Lin. Dia harus bertanya langsung.
Tok. Tok. Tok.
"Meng Lin, keluar sebentar." pintanya dengan suara sedikit tinggi.
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Meng Lin keluar dengan santai, tidak ada rasa takut di wajahnya. Tidak ada rasa bersalah.
Bahkan sorot matanya terlihat tenang, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dalam hati, ia justru merasa puas. Setidaknya Meng Wan sudah mendapatkan pelajaran.
Akhirnya dia melihat wajah Protagonis pria yang tidak tahu malu. Pacaran dengannya, tapi semua barang dari Meng Wan juga sikat abis.
Wajahnya memang lumayan tampan, tubuhnya tinggi dan terlihat seperti pria baik-baik. Tapi Jika dia tidak membaca alur cerita, mungkin dia juga akan tertipu dengan tampangnya itu.
"Ada apa?" tanyanya dengan malas.
Tang Qi terdiam sejenak. sikap macam apa ini? Dulu, jika Meng Lin melihatnya atau dia datang bertamu dia pasti akan menyambutnya dengan antusias.
Meng Lin juga sudah beberapa kali mengajaknya untuk makan bersama, tapi dia sangat sibuk bekerja, hari ini dia ada waktu jadi dia datang untuk mengajaknya tapi malah seperti ini.
"Ayo ikut ke ruang tengah!"
Meng Lin berjalan menuju ruang tengah. Begitu melihat Meng Wan masih menangis dalam pelukan Cun Yu seperti seseorang yang baru kehilangan anggota keluarga, sudut bibirnya bergerak sedikit.
"Aktingnya lumayan." gumamnya dalam hati.
Ia kemudian berdiri di dekat meja. Sebenarnya dia sangat malas drama murahan ini, dia bisa saja langsung mengatakan apa yang terjadi, tapi rasanya sangat puas jika membuat orang marah dan malu dengan kebodohannya sendiri.
Cun Yu menjadi orang pertama yang bertanya.
"Meng Lin... Kenapa Wan Wan menangis setelah keluar dari kamarmu?" Ia berhenti sebentar. "Apakah kau menamparnya?"
Meng Lin tidak langsung menjawab. Ia justru menatap Cun Yu dengan tenang. "Kenapa tidak kau tanyakan sendiri padanya?"
Cun Yu terdiam. "Wan Wan masih menangis. Dia tidak bisa bicara."
"Kalau begitu, tunggu sampai dia selesai menangis." kata Meng Lin dengan santai.
Tang Qi akhirnya ikut bertanya. " Lin Lin." Nada suaranya lebih serius. "Apa kau benar-benar menampar Meng Wan?"
Meng Lin menatap Tang Qi. "Ya." Jawaban singkat itu membuat seluruh ruangan seketika sunyi.
Cun Yu membelalakkan mata. Teman-temannya juga tampak terkejut. Mereka semua mengenal Meng Lin.
Setidaknya, mereka mengenal Meng Lin yang selama ini mereka lihat. Gadis itu lembut, pendiam, dan hampir tidak pernah bertengkar dengan siapa pun.
Bahkan ketika Meng Wan sesekali bersikap menyebalkan, Meng Lin biasanya hanya diam.
Tidak ada yang menyangka dia akan mengangkat tangan dan menampar seseorang.
Apalagi orang itu adalah sepupunya sendiri.
Tang Qi juga terlihat tidak percaya. Namun Meng Lin sudah mengakuinya sendiri. Dan bukti itu ada tepat di depan mata mereka. Pipi Meng Wan benar-benar merah.
Tang Qi menarik napas. "Kenapa?" Ia menatap Meng Lin. "Kenapa kau memukul Wan Wan? Dia hanya masuk untuk memanggilmu keluar."
Meng Lin tidak menjawab pertanyaan itu. Ia malah menatap Meng Wan yang masih berada dalam pelukan Cun Yu. "Kenapa tidak kau tanyakan langsung kepadanya?"
Tatapan Meng Lin menjadi sedikit dingin. "Aku juga ingin tahu alasan seperti apa yang akan dia katakan."
Tang Qi mengerutkan kening. Ia kemudian menoleh kepada Meng Wan. "Wan Wan." Nada suaranya sedikit lebih tegas, meskipun ia tetap berusaha menahannya. "Berhenti menangis dan katakan apa yang sebenarnya terjadi."
Dia tidak ingin masalah ini sampai tersebar ke tempat kerjanya. Padahal dia cuma datang untuk mengajak Meng Lin makan siang berada. Tapi kenapa malah jadi seperti ini?
Dia sedang lagi promosi untuk naik jabatan. Jangan sampai karena masalah makan siang ini membuatnya gagal.
Meng Wan perlahan melepaskan pelukannya dari Cun Yu. Ia mengusap sisa air mata di pipinya. Matanya masih merah dan wajahnya terlihat semakin menyedihkan.
Ia mendongak, menatap Tang Qi dengan mata berkaca-kaca. Suaranya terdengar serak. "Aku... aku hanya meminta untuk ikut pergi makan bersama kalian."
Ia menarik napas pendek. "Aku dan teman-temanku juga ingin ikut." Air matanya kembali menggenang. "Tapi Kakak tidak setuju."
Meng Wan menundukkan kepalanya sejenak sebelum kembali menatap Tang Qi. "Lalu..."
Suaranya bergetar. "Dia langsung menamparku."
Ruangan kembali sunyi. Cun Yu dan yang kedua temannya langsung menatap Meng Lin.
Tang Qi juga menoleh kepadanya. Apakah karena cuma masalah itu? Tapi Kenapa Meng Lin cuma diam?
Sementara Meng Wan kembali menyeka air mata di sudut matanya. Di wajahnya terlihat kesedihan. Namun jauh di dalam tatapannya, terselip sedikit kemenangan.
Ia yakin kali ini Meng Lin tidak akan bisa membalikkan keadaan. Bagaimanapun, bukti tamparan itu sudah ada di wajahnya.
Jika Meng Lin mengatakan apa yang terjadi di dalam kamar tadi, sudah dipastikan tidak ada yang percaya. Karena selama ini di mata mereka dia adalah gadis yang baik dan polos.
.
.
.
.
.
next double up ya Thor 😁
update nya kurang banyak Thor 😀👍
gift ☕ biar semangat 🥰🥰