Ryder Visconti sedang dilanda kebosanan. Bukan bosan yang bisa diobati dengan liburan ke Monaco atau membeli pulau pribadi. Ini adalah bosan yang meresap sampai ke tulangnya, bosan yang membuatnya bertanya setiap pagi, untuk apa semua ini?
Tapi tidak ada yang tahu bahwa di balik nama Visconti yang menjulang tinggi, mengalir darah yang lebih gelap.
Ryder adalah penerus keluarga mafia Italia yang menguasai separuh perdagangan gelap Eropa.
Dan kali ini, dia bosan menjadi monster. Maka, Ryder memutuskan untuk kabur sejenak. Hanya sebentar.
Ia datang ke kafe sahabatnya, dan menjadi barista dadakan untuk sementara.
*
Juliette Wood, putri kedua pemilik Wood Real Estate ini adalah penulis novel yang sedikit eksentrik, lebih nyaman dengan kata-kata di atas kertas daripada gaun pesta dan senyum palsu di acara-acara pesta.
Tapi hidupnya baru saja berantakan. Kakaknya yang cantik dan sempurna, Evelyn, mengumumkan pertunangannya dengan seorang pria yang tak lain adalah pacar Juliette, lebih tepatnya mantan pacar Juliette, yang putus dengannya seminggu yang lalu.
Ia tak butuh cinta. Ia butuh aktor yang bisa memainkan peran sempurna. Pria yang tampan, karismatik, dan cukup meyakinkan untuk membuat seluruh keluarga Wood, dan terutama Evelyn serta mantan pacarnya percaya bahwa Juliette telah move on dengan pria yang jauh lebih mempesona.
Dan kemudian dia melihat Ryder di balik konter kafe. Wajahnya yang tampan namun sangat maskulin. Sorot matanya tajam dan penuh rahasia. Auranya. Caranya berdiri. Sesuatu yang membuat Juliette yakin bahwa pria itu cocok untuk peran yang dicarinya.
Juliette dengan berani mendekatinya. "Aku ingin menyewamu," katanya tanpa basa-basi, matanya menatap langsung ke mata Ryder. "Satu bulan. Menjadi pacarku. Berapa pun bayarannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Bulan
Dua bulan berlalu sejak Ryder pergi. Perlahan-lahan, Juliette mulai membiasakan diri tanpa kehadiran Ryder dalam hidupnya.
Tapi pagi ini, Juliette merasakan pagi yang berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Matahari sudah terlihat tinggi di langit.
Jam di meja nakas menunjukkan angka sebelas lewat lima belas menit. Juliette biasanya sudah bangun dari jam tujuh, sudah sarapan, sudah mandi, sudah mulai menulis lagi dan terkadang bertemu editor.
Tapi semalam Juliette begadang sampai jam empat pagi untuk menyelesaikan deadline novelnya. Editor-nya sudah mengirim tiga email berturut-turut dengan tanda seru yang membuat Juliette merasa dikejar waktu.
Jadi wajar kalau pagi ini dia tidur seperti orang mati. Posisinya masih sama seperti waktu dia akhirnya merebahkan dirinya di ranjang, setengah tengkurap, satu tangan di bawah bantal, rambut acak-acakan menyebar di atas bantal. Dia bahkan tak sempat ganti baju, hanya memakai kaos kebesaran milik Ryder yang sebelumya ada di mesin cucinya.
Dan pagi itu, Juliette merasakan ada rasa hangat yang melingkar di perutnya. Ada yang bergerak naik turun pelan.
Juliette mengerjapkan matanya. Otaknya masih kabur, masih setengah di alam mimpi. Tapi kemudian dia langsung siaga.
Dia merasakan napas hangat di belakang lehernya. Dia merasakan ada dada yang nempel di punggungnya.
Dia juga merasakan ada tangan yang melingkar di perutnya. Tangan yang jelas-jelas bukan tangannya sendiri.
Juliette langsung bangun dengan panik dan mata lebar..
"AAAAH!"
Refleks. Tanpa berpikir. Tangannya langsung mengepal dan mukul-mukul ke arah apapun yang ada di belakangnya. Siku, kepalan tangan, apapun yang bisa dia gunakan untuk membela diri.
"Oh my God! Hei, stop! Ini aku!"
Suara itu. Suara yang sudah sangat dia kenal. Suara yang membuat dia ingin marah dan menangis di saat yang sama.
Juliette berhenti mukul. Dia berbalik dengan cepat, jantungnya masih berdebar kencang, napasnya masih tersengal-sengal.
Dan di depannya, ada pria dengan rambut acak-acakan dan wajah setengah kebingungan, setengah kesakitan. Ryder duduk sambil memegang pipinya yang baru aja terkena bogem mentah dari tangan Juliette
"Kauuu ..." Juliette kehabisan kata-kata. "KAUU?!”
Ryder ngerenggangkan rahangnya. "Sambutan pagi yang indah, Baby,” sahut Ryder dengan suara yang masih serak, khas bangun tidur.
"DIAM!" Juliette narik selimutnya sampai dagu, tiba-tiba sadar kalau dia cuma pakai kaos oblong tipis dan tanpa bawahan, hanya dalaman saja. "Apa yang kamu lakuin di ranjangku?! Dan kenapa kau tiba-tiba muncul lagi?”
Ryder ngangkat alis. "Kau pacarku, jelas aku akan kembali. Itu janjiku. Dan aku di sini, di ranjangmu, karena aku mengantuk semalam dan kamar sebelah sudah kaukunci rupanya.”
"Kauu—" Juliette ingin melempar bantal ke wajah pria itu. "Kontrak kita sudah berakhir!”
"Berakhir? Jadi … rencananya berubah? Kau mencari pria lain untuk menggantikanku?” Ryder masih bersandar santai di atas bantal.
“Sejak kau menghilang tanpa kabar dan pesan, saat itulah kontrak kita berakhir!” Juliette nyaris histeris. "Dan sekarang kau muncul di apartemenku tanpa kabar, naik ke ranjangku tanpa izin, dan kau bahkan terlihat biasa saja setelah semua ini. Apa maksudmu datang kemari lagi, hah?”
Ryder menaikkan kepalanya dan menyandar di headboard. "Aku merindukanmu."
Juliette terpaku.
"Aku sangat merindukanmu," ulang Ryder. “Kau marah padaku? Kau tak merindukanku juga?”
Juliette menelan ludahnya. Kemarahannya masih ada. “Kau pikir aku mainanmu? Hubungan kita memang hanya sebatas kontrak, tapi aku tak suka ketika kau menghilang begitu saja.”
"Maaf.” Hanya kata singkat itu yang diucapkan Ryder, dan anehnya kemarahan Juliette langsung mereda.
sedikit sedikit ray mengungkapkan jati diri.
dan siap" yaa jul akan banyak lagi yang bikin km speechless sama kehidupan ray!
kita doakan kebahagiaan utk kalian!😍
Kalo di dunia nyata,benar² kaya raya sekali Ryder Visconti😄