NovelToon NovelToon
Ternyata Bukan Aku

Ternyata Bukan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Misya dan Reyden menikah selama dua tahun. pernikahan yang mereka jalani karena perjodohan, tak ada masalah dalam rumah tangga mereka yang monoton itu.

namun menjelang pernikahan ke dua mereka, ternyata Misya baru tahu kalau Reyden belum menerima dan bisa mencintai dia bukan karena belum siap. tapi karena hatinya masih ada pada wanita masa lalunya yang akhirnya kembali.

apakah Reyden akan kembali kepada wanita di masa lalunya atau mungkin dia mulai menyadari cintanya kepada Misya?

ikuti terus kelanjutan kisah cinta mereka ya kak...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misya 17

Pintu mobil yang menutup pelan mengantarkan Reyden ke dalam kabin yang sejuk. Ia duduk di kursi belakang, menatap lurus ke depan melalui kaca spion tengah saat mobil mulai berjalan meninggalkan halaman rumah.

Di ambang pintu, bayangan Misya yang berdiri kaku dengan tatapan datar masih terpatri jelas di benak Reyden. Rasa bersalah menghantam dadanya berkali-kali. Kalimat terakhir istrinya “Aku pikir Mas tidak butuh bekal rumahan dari aku lagi” terus berputar di kepalanya bagaikan kaset rusak. Apalagi semalam, perutnya benar-benar kosong karena ia menolak makan malam buatan Misya hanya karena egonya yang terlampau lelah.

Reyden menghela napas panjang, lalu menyandarkan kepalanya ke kursi mobil sambil memijat pelan pelipisnya yang berdenyut kencang.

Di kursi pengemudi, Anggara yang melirik lewat spion mendapati atasannya tampak jauh lebih kusut dari biasanya. Biasanya, begitu masuk mobil, Reyden langsung membuka tablet atau memeriksa dokumen penting. Namun pagi ini, pria itu hanya diam menatap kosong ke luar jendela, membiarkan pemandangan jalanan kota berlalu begitu saja.

"Pak Reyden..." panggil Anggara hati-hati, memecah keheningan kabin.

"Ada hal yang ingin saya sampaikan terkait jadwal hari ini."

Reyden mengerjap pelan, mengalihkan pandangannya dari jendela.

"Ya, Angga? Ada apa?"

"Tadi pagi pihak manajemen memberitahu ulang soal agenda siang kita," jelas Anggara sambil tetap fokus menyetir.

"Pukul sepuluh siang nanti, kita ada meeting lanjutan dengan tim dari Nusantara Production House terkait finalisasi kontrak proyek baru. Dan seperti biasa, pihak mereka meminta agar setelah rapat selesai, kita lanjut lunch bisnis bersama untuk mempererat kerja sama."

Mendengar nama agensi tersebut dan kata lunch bersama klien,dada Reyden seketika bergemuruh tidak enak. Bayangan wajah Misya yang telaten menyiapkan sarapan di dapur tadi pagi langsung berkelebat di kepalanya, kontras dengan kenyataan bahwa siang ini ia justru harus kembali duduk semeja dengan Aurelia, yang tak bisa di pungkiri membuatnya berada di posisi serba salah.

Anggara mengerutkan keningnya, melirik sekilas ke arah sang bos lewat spion. "Maaf, Pak? Ada yang salah dengan jadwalnya? Kalau Bapak merasa keberatan atau ingin jadwalnya saya pindahkan ke hari lain, saya bisa coba hubungi pihak mereka sekarang."

Biasanya, Reyden adalah tipe pria yang sangat profesional. Ia tidak pernah mencampuradukkan urusan pribadi dengan urusan perusahaan, dan ia selalu menyambut agenda bisnis dengan kepala dingin. Namun, respons Reyden kali ini jauh di luar kebiasaan.

Pria itu menggeleng pelan, lalu kembali membuang pandangannya ke luar jendela kaca mobil yang mulai dibasahi rintik hujan gerimis.

"Tidak perlu, Angga. Biar tetap sesuai jadwal," jawab Reyden datar.

"Lanjutkan saja. Agar proyek ini juga cepat selesai!"

"Baik, Pak..." balas Anggara ragu-ragu.

"Oh iya, soal dokumen revisi anggaran yang kemarin sempat dikeluhkan pihak Creative Director mereka... Mbak Aurelia bilang..."

"Angga," potong Reyden tiba-tiba, suaranya terdengar tegas namun sarat akan kelelahan yang luar biasa.

"Ya, Pak Rey?"

Reyden kembali menatap lurus ke luar jendela, di mana pantulan wajahnya sendiri terlihat samar di kaca yang berembun. Pikirannya sama sekali tidak ada di ruang rapat agensi nanti siang. Pikirannya tertinggal di rumah, di lantai bawah, bersama seorang wanita berhati lembut yang kini memilih tidur di kamar tamu dan memanggilnya dengan sebutan formal.

"Menurut kamu..." tanya Reyden pelan, suaranya nyaris seperti gumaman pada diri sendiri.

"Apa yang harus dilakukan seseorang kalau dia sadar... dia sudah salah melangkah, dan hampir kehilangan satu-satunya tempat paling berharga di hidupnya?"

Anggara terperanjat di kursi pengemudi. Ia hampir menginjak rem mendadak mendengar pertanyaan yang sama sekali tidak pernah keluar dari mulut seorang Reyden Dirgantara.

Pria paruh baya itu menelan ludah, bingung harus merespons bagaimana.

"Um... maksud Bapak, urusan pribadi? Bu Misya dan Bu Aurelia?" tanya Anggara hati-hati.

Reyden menutup matanya rapat-rapat, mengembuskan napas lewat hidung dengan kasar. Ia tidak menjawab. Namun tebakan Anggara kali ini benar. Anggara juga sudah lama bersamanya, saat mereka kuliah dan bahkan di saat dirinya mulai merintis karir di perusahaan keluarga. Anggara juga tahu hubungan antara Rey dan Aurelia.

"Kalau untuk saya, semua kembali kepada hati bapak, bapak bisa merasakan sendiri ketulusan dan pengorbanan yang sudah di lakukan oleh keduanya. Masa depan dan masa lalu, pilihan di tangan anda, Pak. Hanya saja, kalau memang anda masih memiliki perasaan kepada Bu Aurelia yang belum selesai, sebaiknya anda lepaskan Bu Aurelia jika memang anda tak memiliki perasaan padanya. Jangan hancurkan hatinya terlalu dalam, Pak. Karena saya melihat bagaimana perjuangan dia selama ini menjalani perannya sebagai istri Anda... Dan Bu Misya berhak bahagia bersama dengan Pria yang mencintainya dengan tulus,"

"Maaf kalau ucapan saya salah, Pak..." tambah Anggara saat melihat ekspresi Reyden.

'Misya berhak bahagia bersama dengan pria yang mencintainya dengan tulus,' ucapan Anggara itu terngiang di kepalanya.

Pukul 09.30 pagi, suasana di lantai 42 gedung Nusantara Tower terasa begitu megah namun hampa bagi Reyden. Tangannya menggenggam ponsel pintar, sementara layar menyala menampilkan aplikasi obrolan hijau dengan kolom percakapan atas nama Misya.

Pesan terakhir yang ia kirimkan pukul delapan pagi tadi.

“Misya, maafkan saya soal semalam. Kamu sudah sarapan?” hanya centang dua abu-abu. Tidak dibalas, bahkan tidak dibaca.

Reyden menghela napas berat, rahangnya mengeras. Rasa cemas yang sejak tadi pagi menggelayuti benaknya kini berubah menjadi kepanikan halus yang merambat cepat ke dalam dada. Tidak biasanya Misya mengabaikan pesannya seperti ini, sekesal apa pun istrinya itu.

Ia melirik jam dinding di ruang kerjanya, lalu kembali menatap layar ponsel. Jari-jarinya ragu-ragu, namun rasakhawatirnya mengalahkan ego. Tanpa pikir panjang, ia membuka kontak dan mencari nama Mbak Atin, asisten rumah tangganya di rumah.

Reyden mengetik pesan dengan cepat:

“Mbak Atin, apa Misya sudah sarapan?"

Tidak butuh waktu lama, ponsel di genggaman Reyden bergetar. Sebuah balasan masuk dari Mbak Atin, dan begitu Reyden membacanya, darah di tubuhnya mendadak berdesir dingin.

“Pak Rey... Maaf, dari tadi pagi setelah Bapak berangkat ke kantor, Ibu Misya belum keluar sama sekali dari kamar tamu bawah. Saya sudah coba ketuk pintu dan membawakan sarapan, tapi tidak dibuka, Pak. Ibu juga tidak mau sarapan...”

Deg!

Pintu ruang kerja mendadak diketuk dari luar, disusul masuknya Anggara dengan membawa beberapa map dokumen.

"Pak Reyden, maaf mengganggu. Tim dari Nusantara Production House sudah mengonfirmasi kehadiran untuk meeting dan lunch siang ini pukul satu nanti. Kita harus segera bersiap turun ke ruang rapat utama," ujar Anggara dengan nada profesional.

Reyden mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menoleh menatap Anggara, lalu melirik layar ponselnya yang menampilkan pesan dari Mbak Atin. Pikirannya berkecamuk hebat, di satu sisi ada ancaman kerugian finansial dan pertaruhan kariernya, di sisi lain ada wanita yang berstatus istrinya sedang salah paham dengan sikap dan ucapannya.

"Baiklah, Anggara. Tapi saya tak bisa makan siang bersama setelah selesai meeting. Saya akan makan siang dengan Misya, tolong kirimkan makanan dari restoran kesukaan Misya ke rumah agar Mbak Atin menyiapkannya nanti,"

"Baik, Pak.." jawab Anggara sambil tersenyum lebar.

1
Susan Paulina
Lanjut lagi Thor, ditunggu ya 👍
Ambu Rinddiany Thea
untung mertua s misya tidak seperti emaknya s abi hadeeeeh amsiong we lmn kitu mah ..🤭
Sri Angga
good job reyden.
ryuka
xiihhh gila ni cewe.. dia yg ninggalin dia yg ga terima pas udah ga di pikirin
Oma Gavin
ulet bulu gatel aurela ngga kapok juga sudah di cuekin sudah di bentak ngga di anggap kok masih saja menggatal
ryuka
haduhhh ada ulet keket gabtau diri muncul
ryuka
untung bapak ibu mertua nya baik ya misya
Oma Gavin
ulet bulu gatel mulai menggatal
Heni Setiyaningsih
/Heart/
Heni Setiyaningsih
bersyukur Misya punya mertua yg selalu menyayangi dan melindungi
nining cahyaningrum
bagus
Lembang Azam
bagus Rey sebelum trlambat, untung kamu cpt menyadarinya dan bergerak cp, klw enggak kamu yg tak ulek JD bergedel🤣
Oma Gavin
akhirnya reydhan tegas juga itu semua orang kenapa berkomplot musuhi misya dan bela aurelia
ryuka
diiihh dasar cewe cewe gila.. 🔥🔥🔥🔥🔥
nely_48
ku pegang kata² mu ya rey,,,
nely_48
hmmmm tunggu hukuman mu merlyn,, sok anggun sok merasa tinggi setinggi langit kau aurelia, gataunya cewe arogan n egois, pantas az bunda nya Rey lbh memilih menjodohkan dgn misya
Sri Angga
jgn cm dg kata tp buktikan
Ambu Rinddiany Thea
sok buktikan ters rey sm s misya kalo cinta kamu hanya buat ambu seorang eh salah , buat misya seorang maksdnya 🤭
Susan Paulina: Di tunggu Up selanjutnya Thor, tambah seruu 👍
total 1 replies
Ambu Rinddiany Thea
lanjuuut maak
Ambu Rinddiany Thea
kenapa sih ga apada terbuka aja 2 2 nya , s rey masih mendem soal s aurelia s misya masih mendem soal sepupu dajalna nu ngirim2 foto te bermerk , maenya ambu kudu turu gunung ie teh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!