NovelToon NovelToon
Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Nikahmuda
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.

​Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27.Sentuhan dingin

Siang merambat pelan menembus celah gorden, menyisakan hawa hangat yang membelai tirai kamar di lantai dua kediaman Adikara. Aruna masih duduk termangu di tepi tempat tidur berukuran besar.

Ucapan Bi Asih tadi pagi tentang bagaimana Kaivan terbangun sejak subuh demi memastikan masakan sarapannya tidak hilang begitu saja dari ingatannya. Namun, alih-alih melembutkan hatinya atau menanamkan benih harapan baru, kenyataan itu justru memicu rasa waspada yang kian besar di dalam dada Aruna.

Bagi seorang Aruna Rasyara, tidak ada hal gratis di dunia ini. Kasih sayang selalu datang bersama harga yang harus dibayar mahal, dan perhatian selalu menjadi pendahulu dari bencana yang lebih besar.

Sejak kecil, ketika ayahnya memberikan sepotong kue atau ibunya tersenyum tipis padanya, hal itu hanya terjadi saat mereka membutuhkan sesuatu darinya—sampai puncaknya, tubuh dan masa depannya ditukar dengan lembaran uang tiga puluh miliar rupiah. Rasa trauma yang membusuk puluhan tahun telah menancapkan sebuah keyakinan mati di dalam jiwanya: Aruna tidak pernah pantas dicintai, dan ia tidak akan pernah percaya pada apa yang dinamakan cinta.

Ceklek.

Suara engsel pintu kamar berbunyi pelan. Aruna refleks menegang, menduga Kaivan yang akan masuk untuk melemparkan sindiran tajam lainnya. Namun, sosok yang melangkah masuk adalah seorang wanita paruh baya berpenampilan anggun dengan kacamata minus dan tas medis di tangannya, didampingi oleh Bi Asih.

"Selamat siang, Nona Aruna," sapa wanita itu ramah dengan suara yang tenang. "Saya Dokter Sinta, psikiater dan konsultan pemulihan yang diminta khusus oleh Pak Kaivan untuk mendampingi Nona."

Aruna menunduk pelan, meremas kain celananya dengan tangan kiri. "Selamat siang, Dok..."

Dokter Sinta duduk di kursi kayu di samping ranjang. Dengan sangat telaten dan tanpa desakan, ia mulai mengajak Aruna berbincang ringan. Tidak ada pertanyaan intimidatif, tidak ada tuduhan. Namun, Aruna memilih untuk memberikan jawaban-jawaban yang sangat pendek, memagari dirinya rapat-rapat dari setiap usaha Dokter Sinta untuk menggali pikirannya.

"Pak Kaivan memberikan instruksi yang sangat spesifik pada saya," ujar Dokter Sinta di tengah sesi mereka, menyunggingkan senyum tipis. "Beliau menekankan berulang kali agar sesi ini tidak membuat Anda cemas atau tertekan. Beliau ingin memastikan Anda merasa aman di rumah ini."

Aruna menatap Dokter Sinta dengan sorot mata yang redup dan datar. Tidak ada rona bahagia, tidak ada binar haru di matanya.

"Pak Kaivan cuma sedang menjaga barang jaminannya agar tidak rusak, Dok," sahut Aruna lirih namun teramat dingin. "Pria seperti beliau tidak sedang mengkhawatirkan saya. Beliau cuma tidak mau investasi puluhan miliarnya terbuang sia-sia."

Dokter Sinta tertegun sejenak melihat kerapuhan mendalam yang terbungkus oleh dinding pertahanan yang begitu kokoh dalam diri Aruna. Wanita tua itu mendesah pelan, mengerti bahwa luka jiwa yang dimiliki gadis di hadapannya sudah terlalu membusuk untuk bisa disembuhkan hanya dengan beberapa patah kata manis.

Sore harinya, sekitar pukul lima, deru mesin mobil sedan mewah terdengar memasuki pelataran rumah.

Kaivan kembali lebih awal lagi dari kantornya. Pria itu melangkah menaiki anak tangga menuju lantai dua setelah melepas jas mewahnya di ruang tengah. Langkah kakinya mantap, namun ada ketegangan kaku yang tersirat di raut wajahnya setiap kali ia mendekati kamar Aruna.

Ketika pintu terdorong terbuka, Kaivan mendapati Aruna sedang berdiri kaku di depan cermin meja rias. Gadis itu berusaha menyisir rambut panjangnya yang sedikit kusut menggunakan tangan kiri. Tangan kanannya yang terbebat perban tebal tergantung lemas di samping tubuh, membatasi ruang geraknya hingga ia kesulitan menjangkau helai rambut bagian belakang.

Kaivan berdiri mematung di ambang pintu sejenak. Melihat sosok ringkih itu bersusah payah sendirian, ada gejolak asing yang meremas dadanya—sebuah kombinasi antara gengsi tinggi dan rasa tidak tega yang amat sangat.

Dengan langkah pelan tanpa suara, Kaivan mendekat. Tanpa mengutarakan sepatah kata pun, jemari panjangnya yang kokoh meraih sisir kayu dari genggaman tangan kiri Aruna yang gemetaran.

Aruna tersentak kaget. Tubuhnya membeku seketika saat bayangan tinggi Kaivan memenuhi pantulan cermin di hadapannya. "P-Pak Kaivan...?"

"Jangan bergerak," gumam Kaivan pendek. Suaranya terdengar berat dan kaku di dekat telinga Aruna.

Jemari Kaivan yang biasanya memegang pena bernilai miliaran rupiah kini merengkuh helai-helai rambut Aruna dengan sangat perlahan. Pria itu mulai menyisir rambut Aruna dari atas ke bawah dengan gerakan yang luar biasa lembut—sebuah kehati-hatian murni yang berbanding terbalik dengan tatapan matanya yang selalu dingin dan angkuh.

Aruna menahan napasnya. Melalui pantulan kaca meja rias, ia bisa melihat raut wajah Kaivan yang begitu dekat di belakangnya. Rahang tegas pria itu menegang, kedua alisnya bertaut fokus, seolah tindakan menyisir rambut ini adalah sebuah tugas krusial yang menuntut ketelitian penuh.

Aroma kayu cendana dan parfum maskulin dari tubuh Kaivan mengelilingi Aruna. Namun, alih-alih merasa tersentuh atau tersipu seperti wanita pada umumnya, dada Aruna justru disergap oleh rasa panik dan kecurigaan yang membakar.

Kenapa dia melakukan ini? batin Aruna menjerit dalam diam. Permainan baru apa lagi yang sedang dia rencanakan? Apakah setelah ini dia akan membentakku lagi? Apakah dia sedang mencoba membuatku merasa berutang budi?

Keyakinan Aruna tidak sedikit pun goyah. Ia tidak membiarkan hatinya tersentuh oleh kehangatan palsu ini. Di mata Aruna, setiap sentuhan lembut Kaivan adalah sebuah jebakan bertopeng kebaikan yang siap menghancurkannya kembali.

"Pak Kaivan... biar saya saja," kata Aruna dengan suara yang sangat dingin dan datar, mencoba mengambil kembali sisirnya.

"Tanganmu sedang sakit. Diamlah," sahut Kaivan singkat, mengabaikan penolakan itu dan tetap melanjutkan sisirannya hingga seluruh rambut Aruna terurai rapi.

Setelah beberapa saat menyelami keheningan yang mencekik, Kaivan meletakkan sisir itu kembali ke atas meja rias. Tangannya terulur ragu-ragu, menyentuh pelan punggung tangan kanan Aruna yang terbungkus perban tebal.

"Apakah... masih perih?" tanya Kaivan pelan, matanya menatap balutan perban tersebut. Ada nada rasa bersalah yang sangat tipis terselip di dalam bariton suaranya.

Aruna tidak menarik tangannya, tetapi ia sengaja menegakkan badannya dan menatap langsung ke arah pantulan mata Kaivan di cermin dengan sorot mata yang sepenuhnya mati dan tanpa pendar emosi.

"Rasa sakit di tangan saya tidak penting, Pak Kaivan," jawab Aruna lirih, suaranya terdengar begitu hampa tanpa ada getaran kehangatan sedikit pun. "Anda tidak perlu berpura-pura bersikap manis seperti ini. Saya tahu betul posisi saya di rumah ini. Saya cuma jaminan utang, dan saya tidak akan pernah lupa akan hal itu."

Kalimat datar dari bibir Aruna menghantam Kaivan tepat di dadanya. Pria tinggi angkuh itu membatu seketika. Tangan Kaivan yang berada di atas perban Aruna mendadak menarik diri secara refleks, seolah-olah kulit Aruna baru saja menyengatnya dengan aliran listrik dingin.

Wajah Kaivan berubah pasi sebelum rahangnya kembali menegang kaku oleh rasa gengsi yang tersengat hebat. Perhatian yang berusaha ia tunjukkan secara canggung mendadak terhempas mentah-mentah oleh tembok ketidakpercayaan Aruna yang tak tertembus.

Kaivan berdiri tegak, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan raut wajah yang kembali membeku bak es.

"Bagus kalau kau sadar diri," cetus Kaivan dengan nada mencela yang ketus, berusaha mati-matian menutup raut kecewa dan rasa bersalah di wajahnya. "Jangan sampai perhatian kecilku membuatmu berpikiran konyol bahwa kau punya arti lebih di rumah ini."

Aruna menatap lurus ke cermin, tersenyum pahit dan tipis. "Saya tidak akan pernah berpikir begitu, Pak. Saya tahu betul saya ini siapa. Saya wanita yang dijual oleh keluarga saya sendiri, dan saya tidak pantas untuk siapa pun—termasuk mendapatkan kebaikan dari Anda."

Kalimat Aruna terasa begitu dingin, jujur, dan dipenuhi oleh pengakuan tak berdaya yang amat sangat tragis. Aruna tidak sedang merajuk, ia murni menyuarakan keyakinannya bahwa dirinya adalah sesosok manusia yang terlalu beracun dan tak berharga untuk dicintai oleh siapa pun di dunia ini.

Dada Kaivan mendadak serasa dihantam oleh rasa sesak yang luar biasa hebat. Kata-kata Aruna bukan hanya menampar gengsinya, tetapi juga meremukkan hatinya sendiri. Pria itu menyadari betapa dalam luka yang telah ia goreskan bersama keluarga Aruna, hingga kebaikan apa pun yang ia berikan kini selalu dianggap sebagai ancaman oleh gadis itu.

Kaivan meremas jemari tangannya di balik lipatan tangannya, menahan getaran emosi yang membakar tenggorokannya.

"Makan malammu akan diantar jam tujuh," kata Kaivan kaku, membuang pandangannya ke arah pintu karena tak sanggup lagi menatap mata hampa Aruna. "Habiskan obatmu."

Tanpa menunggu balasan lagi, Kaivan membalikkan badannya kaku dan melangkah lebar keluar dari kamar, memutar gagang pintu hingga terkatup kencang.

BAM.

Di balik pintu yang tertutup rapat, Kaivan bersandar pada dinding koridor. Pria angkuh itu memejamkan matanya rapat-rapat, mengusap wajahnya yang terasa panas oleh kombinasi antara amarah, gengsi yang hancur, dan rasa bersalah yang kian menggerogoti nuraninya.Ia ingin berteriak bahwa ia tidak sedang berpura-pura, namun bibirnya terkunci oleh benteng kesombongannya sendiri.

Sementara itu, di dalam kamar, Aruna tetap berdiri kaku di depan cermin. Ia memandangi rambutnya yang kini tersusun rapi hasil sentuhan jemari Kaivan.

Tidak ada getaran bahagia di dadanya. Tidak ada keputusasaan yang melunak. Aruna mengusap rambutnya pelan, lalu membuang pandangannya ke balik jendela yang kelabu. Benteng ketidakpercayaannya tetap berdiri kokoh dan tak tergoyahkan. Bagi Aruna, cinta adalah kebohongan paling kejam di dunia, dan ia telah memutuskan untuk tidak akan pernah membiarkan dirinya terluka oleh harapan palsu itu lagi.

_Bersambung

1
Diki Nd
👍👍👍👍
Diki Nd
💪💪💪
dinda aja
sukaaa lanjutkan yahhh
dinda aja
🤭🤭🤭🤭
Pendi Gudung
lanjuttt min
Fadillah Langsa
lanjut napa kak
Ijal Messi
ngakak 🤭🤭
Ijal Messi
lanjuttt
Ijal Messi
🤣🤣🤣
li za
mana kelanjutan nya min
Lenovo A
lanjuttt
Bambang Suanto
duhhh ngakak keciduk
Bambang Suanto
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Bambang Suanto
sedihh
Industri Kreatif
asli seruuu
sosa
Seruu parah
sosa
Sukaa
Rian Moontero
lanjooott👍👍
Isannn
😍😍😍
Alle Salsa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!