“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara
Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.
“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”
Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.
Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Malam itu, rumah mewah milik Reja dan Celin terasa lebih sunyi dari biasanya, namun bagi Celin, kesunyian itu justru terasa mengancam.
Reja tidak lagi berteriak. Setelah pulang dari sekolah, pria itu mengurung diri di kamarnya tanpa menyentuh makan malam yang telah disiapkan.
Celin duduk di meja makan, menatap laptopnya yang masih menyala. Di layarnya, terpampang balasan email dari Adrian yang masuk satu jam yang lalu:
"Papa sangat terkesan, Celin. Strategi kamu tentang efisiensi logistik sangat tajam. Besok malam, Papa akan mengundang rekan bisnis Papa untuk makan malam di rumah kalian. Papa ingin kamu menjelaskan sedikit tentang risetmu. Reja juga harus ikut mendengarkan agar dia belajar bagaimana cara berpikir seorang pemimpin."
Celin menarik napas panjang. Ini adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia mendapatkan perlindungan total dari Adrian. Di sisi lain, ia tahu Reja akan merasa semakin terhina dan terpojok.
Saat jam menunjukkan pukul sebelas malam, pintu kamar Celin terbuka perlahan tanpa ketukan. Celin segera menutup laptopnya dan berdiri. Reja berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kemeja sekolahnya yang sudah kusut, tanpa jaket.
"Lo bener-bener mau main peran sampai sejauh ini?" tanya Reja, suaranya rendah dan serak, tidak lagi meledak-ledak seperti biasanya. "Lo mau masuk ke dunia Papa? Dunia bisnis yang isinya orang-orang rakus?"
"Gue cuma mau aman," jawab Celin tenang. "Gue nggak punya pilihan lain sejak lo mulai ngancam Kirei."
Reja berjalan mendekat, langkahnya gontai. Ia berhenti tepat di depan meja belajar Celin, menatap kasa di tangan Celin yang mulai kusam. "Papa bangga banget sama lo. Dia tadi telepon gue lagi, bilang kalau gue harus bersyukur punya istri kayak lo."
Reja tertawa getir, suaranya terdengar ganjil di tengah kesunyian kamar itu. Ia melangkah mendekat, menatap tajam ke arah Celin dengan sorot mata yang penuh dengan kepahitan.
"Tapi lo tau nggak? Papa sebenarnya tau semua tentang lo," desis Reja, suaranya rendah namun menusuk. "Dia tau soal bokap lo yang hancur karena judi dan alkohol. Dia tau semua borok di keluarga lo yang sengaja dia tutupin dari publik."
Reja berhenti tepat di depan Celin, memaksa gadis itu untuk menatapnya. "Papa itu bukan orang suci, Celin. Dia beli lo bukan karena dia kasihan sama lo. Dia tau masa lalu lo karena dia butuh orang yang nggak punya pilihan buat jadi tameng gue. Dia pilih lo karena dia tau lo pinter, tapi lo juga terikat utang budi sama dia. Lo cuma investasi yang udah dia hitung untung-ruginya."
Ia menyentuh sudut meja belajar Celin dengan kasar. "Jadi jangan pikir lo itu spesial di matanya. Di mata Papa, lo itu barang berkualitas yang dia dapetin dengan harga murah dari tangan bokap lo sendiri. Kita berdua ini cuma bidak di papan catur yang sama, bedanya... lo masih pake topeng menantu teladan, sementara gue udah capek akting."
Celin terdiam, hatinya terasa berdenyut nyeri mendengar kenyataan yang keluar dari mulut Reja. Ia memang sudah menduga bahwa pria sekuat Adrian tidak mungkin tidak melakukan riset, namun mendengar bahwa ayahnya benar-benar menjualnya dengan sepengetahuan Adrian membuat sesak di dadanya semakin menjadi.
"Gue tau," jawab Celin akhirnya, suaranya tetap stabil meski getaran di tangannya tidak bisa ia sembunyikan. "Dan kalau gue emang cuma bidak buat Papa, berarti gue harus jadi bidak yang paling berharga supaya dia nggak punya alasan buat buang gue."
Reja tertawa kecil, kali ini tanpa nada merendahkan, hanya sebuah kekosongan yang dalam. Ia kemudian mengeluarkan sebuah map dari balik punggungnya dan melemparnya ke atas kasur Celin.
"Kalau gitu, buktiin. Buka," perintahnya.
Celin membukanya dengan ragu. Isinya adalah dokumen-dokumen internal tentang Rian's Group, perusahaan milik keluarga teman Reja yang sering ia kunjungi.
"Rian kena masalah keuangan. Bokapnya mau jual aset perusahaan secara rahasia sebelum Papa gue tau," ucap Reja, suaranya kini terdengar penuh konspirasi.
"Papa mau beli perusahaan itu, tapi dia nggak tau kalau ada utang tersembunyi di dalamnya. Kalau lo beneran pinter, buktiin di depan Papa besok malam. Kasih tau Papa soal borok di perusahaan itu."
Celin mengernyit. "Kenapa lo kasih tau gue? Bukannya lo mau gue hancur?"
Reja mendekatkan wajahnya, tersenyum miring yang tampak hampa. "Karena gue benci Rian. Dia pikir dia bisa manfaatin gue buat dapet investasi dari bokap gue. Dan karena gue pengen liat... sejauh mana lo bisa berkhianat demi dapet posisi di mata Papa."
"Kalau gue lakuin ini, apa jaminannya buat Kirei?" tanya Celin.
"Gue bakal lupain soal cafenya. Dan gue bakal kasih lo akses ke tabungan rahasia gue buat bokap lo, biar dia nggak perlu dateng ke sekolah lagi buat malu-maluin gue," ucap Reja. "Gimana? Kesepakatan yang adil, kan?"
Celin menatap lembaran dokumen di tangannya dengan saksama. Angka-angka yang tertera di sana menunjukkan adanya manipulasi laporan keuangan yang sangat rapi—sesuatu yang hanya bisa dideteksi oleh orang yang benar-benar teliti atau seseorang yang memiliki akses orang dalam seperti Reja.
"Kenapa lo kasih tau gue sekarang?" tanya Celin, matanya beralih dari map ke wajah Reja yang tampak lelah. "Bukannya lo sama Rian itu temen deket? Kalian sering kelayapan bareng, kan?"
Reja mendengus, ia menyandarkan bahunya di pintu kamar Celin yang terbuka. "Temen? Di dunia gue nggak ada yang namanya temen. Yang ada cuma orang yang saling manfaatin. Rian pikir gue bego. Dia pikir dia bisa dapet suntikan dana dari Papa lewat gue, sementara dia asyik foya-foya pake uang itu."
Reja maju selangkah, suaranya merendah. "Dan yang paling penting... gue nggak mau Papa gue jadi orang bego yang beli barang rongsokan dengan harga selangit. Kalau Papa rugi besar gara-gara investasi ini, posisi gue sebagai pewaris juga terancam, kan? Gue emang berandal, tapi gue nggak mau miskin."
Celin menutup map itu perlahan. "Jadi, lo mau gue jadi 'mulut lo di depan Papa besok malam? Lo mau gue yang membongkar ini supaya lo nggak keliatan jahat di depan Rian?"
"Pinter," puji Reja dengan nada sinis. "Papa bakal makin kagum sama kecerdasan lo. Lo dapet poin di mata Papa, gue dapet kepuasan lihat Rian hancur, dan Papa nggak jadi rugi. Win-win solution, kan?"
Setelah Reja keluar dari kamarnya, Celin terduduk lemas di tepi tempat tidur. Tangannya gemetar memegang dokumen dari Reja. Ini adalah jebakan, ia tahu itu.
Reja mungkin sedang mengujinya, atau mungkin Reja benar-benar sedang menjatuhkan temannya sendiri.
Namun, tawaran uang untuk ayahnya adalah sesuatu yang sulit ia tolak. Jika ia punya sumber dana sendiri yang tidak diketahui Adrian, ia bisa menjauhkan ayahnya dari hidupnya tanpa harus merendahkan diri terus-menerus.
Celin menatap cermin di kamarnya. Wajahnya tampak lebih dewasa dari usianya yang masih sekolah. Ia menyentuh kasa di tangannya, lalu perlahan membukanya. Luka siraman kopi itu sudah menjadi keropeng, jelek dan kasar.
"Perang ini nggak cuma soal bertahan hidup lagi," batin Celin. "Ini soal siapa yang akan bertahan paling akhir di meja makan besok malam."
Besok bukan hanya sekadar makan malam bisnis. Itu adalah panggung di mana Celin harus memilih tetap menjadi menantu yang manis, atau menjadi pemain yang kejam demi melindungi dunianya.
Bersambung...