NovelToon NovelToon
Bersama Sistem

Bersama Sistem

Status: tamat
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Mafia / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.7
Nama Author: Adib Mudzofar

Ryan adalah seorang pemuda yang bernasib malang yang tidak memiliki harta apapun kecuali ibunya.

Sejak kecil Ryan sudah dididik untuk menjadi pribadi yang pekerja keras dan pantang menyerah oleh orang tuanya. Slogan 'hasil tidak akan mengkhianati usaha' selalu terpatri dalam jiwa Ryan.

Sampai pada akhirnya dia bisa memasuki sebuah perkuliahan yang bergengsi dengan beasiswanya. Namun disitulah kepahitan demi kepahitan dia rasakan karena mendapatkan bully dari teman-temannya, selalu menghinanya, bahkan memanggilnya dengan kalimat 'Miskin'.

Namun Ryan tidak pantang menyerah! Dia terus menjalani kehidupannya yang berat itu dengan kesabaran hingga disuatu hari dia mendapatkan keberuntungan berupa sistem yang akan membantunya dalam segala hal dan merubah kehidupan Ryan. Perlahan, kehidupan Ryan yang miskin harta berubah menjadi orang yang berpunya dengan keberadaan dari Sistem. Yang awalnya susah kini menjadi lebih baik.

Bagaimanakah kelanjutannya? Simak kisahnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adib Mudzofar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2

Ryan yang melihat tempatnya bersembunyi sudah diketahui oleh Leo dan keempat temannya, dia segera berlari dengan kecepatan tertingginya.

Meskipun merasakan sakit disekujur tubuhnya setelah dihajar habis-habisan oleh kelima pemuda itu, Ryan hanya bisa menahannya dan terus mengayunkan kakinya dengan cepat untuk melarikan diri.

Dia berlari kelorong-lorong sepi yang ada ditempat itu. Sementara kelima pemuda yang mengejarnya terus memperpendek jaraknya dengan Ryan.

'Sial!' batin Ryan saat melihat lorong itu adalah jalan buntu yang tertutup oleh pagar jaring besi setinggi lima meter.

'Tidak! Aku harus bisa selamat!' tekat Ryan lalu berusaha memanjat penutup jalan itu.

Disisi lain, Leo, Topan dan dua temannya yang lain melihat Ryan sedang berusaha memanjat pagar jaring besi mempercepat laju larinya.

"Ayo lebih cepat! Dia hendak naik pagar!" seru Topan kepada teman-temannya.

"Ryan brengs*k! Aku tidak akan melepaskanmu yang telah melukai si bos!" ucap Leo dengan geram.

Ryan terus berusaha menaiki pagar jaring besi itu. Dia tampak kesusahan karena memang pagar jaring besi itu terus bergoyang-goyang seperti artis dangdut. Belum lagi ditambah staminanya yang sudah terkuras banyak sebelumnya karena dihajar oleh lima pemuda membuat dirinya semakin kesusahan.

"Aaakhh.."

Ryan menguatkan tekat dengan berteriak kencang. Beberapa kali kakinya terpeleset dan hendak jatuh, namun Ryan segera naik lagi dan lagi.

Ryan telah berhasil mencapai puncak setelah Leo dan rombongannya sampai di pagar jaring besi tersebut. Mereka menggoyang-goyangkan pagar itu berharap Ryan jatuh kearah mereka.

"Oi.. Sialan! Turun kau bajing*n! Aku akan membunuhmu!" teriak Leo sambil terus menggoncang-goncang pagar jaring besi.

Ryan pegangan dengan erat kepada besi yang menjadi landasan tertinggi pagar. Dia sangat khawatir jika tangannya yang sudah agak tidak bertenaga itu terlepas dari pegangannya dan terjatuh dari atas.

Lima meter bukanlah tinggi yang bisa dibuat main-main dan asal loncat bagi manusia biasa seperti Ryan. Jika terjatuh, pastilah akan terasa remuk badan seseorang atau bahkan patah tulang. Terlebih jika Ryan ini jatuh kehadapan musuh, maka tamatlah sudah riwayatnya.

'Haduh! Gimana ini?' batinnya kebingungan. Dia sama sekali tidak menghiraukan teriakan Leo dan teman-temannya.

Dia bimbang jika harus melompat maka bisa-bisa dia sama tidak selamatnya dengan tertangkap oleh mereka. Lalu jika dia turun secara perlahan disisi berlawanan dari mereka, sudah dipastikan dia akan terluka karena Topan tampaknya membawa pisau yang dipegang oleh Brian sebelumnya.

Topan bisa saja menusuknya jika Ryan turun karena pagar itu hanyalah jaring besi yang berlubang-lubang.

Disisi lain Leo, Topan dan dua temannya semakin menggila untuk menggoncang pagar jaring besi itu saat melihat Ryan hanya diam diatas dengan tubuh melekat seperti cicak.

"Sialan kau brengs*k miskin! Leo dan kalian berdua, kalian diam dulu! Aku akan naik juga!" ucap Topan dengan geram.

"Baik! Bunuh saja dia jika mungkin!" ucap Leo lalu diam membiarkan Topan untuk naik pagar seperti yang Ryan lakukan.

Wajah Ryan memburuk saat Topan mulai naik pagar sambil membawa pisau. Dia menggoncang-goncang pagar jaring besi itu dengan kedua kakinya. Namun tampaknya hal itu tidak terlalu berhasil. Topan terus naik sedikit demi sedikit.

'Cih! Kampret ini melekat seperti cicak saja!' batin Ryan asal-asalan tanpa memperhatikan kata-katanya yang sangat aneh. Yaitu menyamakan kampret dengan cicak.

Ryan kembali memutar otaknya untuk berfikir. Dia mencari cara agar Topan tidak pernah sampai diatas menyusulnya. Tiba-tiba wajah Ryan yang sebelumnya terlihat suram dan serius kini tersenyum menyeringai.

'Mengapa aku begitu bodoh? Aku yang diatasnya! Dia harus dengan hati-hati naik dan menjaga keseimbangan agar sampai ditempatku! Hehehe.. Jangan salahkan aku jika sedikit kejam lagi!' batin Ryan sambil terus tersenyum menyeringai.

Dia menempelkan kedua telapak kakinya dengan posisi yang tertekuk disisi yang berbeda lalu mengencangkan pegangan pada tangannya. Hal ini cukup efektif untuk memperjauh jaraknya dengan Topan yang semakin mendekat.

Topan yang melihat Ryan justru tersenyum saat dirinya menghampiri menjadi semakin kalap. Dia mempercepat gerakannya untuk segera sampai diatas.

"Aku akan membunuhmu!" teriak Topan.

"Ehehe.. Kemarilah jika kau bisa angin topan!" ujar Ryan mengejek.

"Bajing*n kau!" geram Topan.

Topan terus naik hingga jaraknya dengan Ryan sudah semakin dekat. Dengan kemarahan yang memenuhi hatinya dan ejekan Ryan yang semakin membuat dirinya tidak bisa berfikir dengan jernih.

Topan terus berusaha naik meski beberapa kali kakinya terpeleset. Saat jarak antara dirinya dan Ryan sudah tinggal satu meter lagi, tiba-tiba kaki Ryan yang sebelumnya dalam posisi tertekuk dan saling apit satu sama lain antar telapak kini mendatangi dirinya atau lebih tepatnya wajah Topan bagian hidung dengan sangat cepat dan tidak terduga.

Buak!

"Ugh!"

Topan yang terkejut secara reflek memegang hidungnya yang terasa patah dan melepaskan pegangan tangannya pada jaring pagar. Dia pun terjatuh dan menimpa Leo dan dua temannya yang lain yang tepat berada dibawahnya.

Brukk!

"Aaakkhh.."

Topan, Leo dan dua temannya yang lain saling berteriak kesakitan. Topan berteriak karena hidungnya yang patah dan berdarah. Sementara Leo dan satu teman yang lain berteriak karena sakit tertimpa oleh tubuh Topan. Satu orang yang tersisa dengan cepat berusaha menenangkan keempat orang itu.

Melihat hal demikian, tanpa menunggu waktu lagi, Ryan turun dari atas pagar dengan tergesa-gesa. Karena saking tergesa-gesanya dan panik, dia tanpa sadar sudah meloncat saja saat ketinggian masih berukur tiga meter.

Brukk!

"Aduh! Sial! Ternyata masih terlalu tinggi!" ucapnya mengeluh karena dia mendarat dengan posisi kaki kurang pas. Akibatnya dia sedikit keseleo dan merasakan sakit yang luar biasa.

Ryan berusaha menahan rasa sakitnya. Kali ini dia sudah aman! Dia berusaha tersenyum saat melihat Leo, Topan dan kedua temannya yang lain sedang berteriak kesakitan.

Setelah beberapa saat, keempat orang pemuda itu sudah mulai tenang sambil menatap Ryan dengan tatapan kebencian. Terlebih Topan yang hidungnya patah dan kini terus mengalirkan darah.

"Hehehe.. Angin topan busuk! Bagaimana rasanya telapak kakiku? Nikmat bukan?" ucap Ryan dengan berani.

"Keparat kau Ryan! Aku berjanji akan membalas semua perbuatanmu ini!" teriak marah Topan sambil terus memegangi hidungnya yang terasa sakit dan nyeri tidak karuan.

"Hehehe.. Itu adalah pelajaran buat kalian! Lain kali aku akan memberikan yang lebih untuk kalian semua!" ucap Ryan sambil terkekeh.

"Beraninya kau!" geram Leo.

"Oiya! Gimana kabar bos kalian? Apakah telurnya pecah? Jika pecah suruh digoreng saja! Hahaha!" ujar Ryan sambil tertawa lantang.

"Kau!" ucap semua pemuda itu dengan geram namun tanpa sadar tangan mereka bergerak menutupi bagian burung perkututnya. Mereka merasakan sedikit linu yang menjalar jika mengingat nasib Brian yang sedang terkapar didalam mobilnya.

"Hahaha.. Yasudah! Kalau tidak ada kepentingan lagi, aku pergi dulu!" ucap Ryan sambil terus tertawa lalu bangkit untuk pergi meninggalkan kelima pemuda anak buah Brian.

"Kau!" kelimanya tidak bisa berkata-kata lagi saat Ryan sudah berbalik badan meninggalkan mereka.

Menanggapi teriakan mereka, Ryan hanya mengangkat tangannya sambil memperlihatkan jari tengah yang membuat kelimanya semakin murka namun tidak bisa berbuat apa-apa.

1
Erik Brigez
sampah
Siget Budianto
Ceritanya bagus dan seru
Syamsul Bari
masak lupa bawa hp,
3RSEL
💪💪💪💪💪
Obey Propaganda
nah demen gw kalo jagoan d jweer mak nya 😄
Obey Propaganda
apa kagak kuliah lu riyan
Henry Ronald Maramis
bukannya sudah minum pil anti rasa sakit?
Memyr 67
𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗀𝗂𝗍𝗎? 𝗆𝖺𝗁𝖺𝗌𝗂𝗌𝗐𝖺 𝖽𝗂𝖻𝗎𝗇𝗎𝗁, 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌 𝗉𝖾𝗆𝖻𝗎𝗇𝗎𝗁𝗇𝗒𝖺 𝖻𝖾𝖻𝖺𝗌 𝖻𝖾𝗋𝗌𝖾𝗇𝖺𝗇𝗀 𝗌𝖾𝗇𝖺𝗇𝗀, 𝗄𝖺𝗋𝖾𝗇𝖺 𝗄𝖺𝗒𝖺? 𝖺𝖽𝗂𝗅 𝗌𝖾𝗄𝖺𝗅𝗂
Makmur Djajamihardja
maklum aja authonya belum sarapan bosqu
Makmur Djajamihardja
masalah karakter suka suka author lah wong dia penulisnya bro
Makmur Djajamihardja
Ryan ajie barang kalee
Makmur Djajamihardja
beli aja logam mulia di Antam semua duitnya beres kan
Makmur Djajamihardja
beri aja lotek kucur bosqu
Makmur Djajamihardja
mestinya sistim kasih duit sebagai hadiahnya
Makmur Djajamihardja
taktili tiktok tinong camcauh gula batu pamere nona enong hu hahu ha haseum 👍
Himawan Wawan
borju
Himawan Wawan
jebakan tuh
Himawan Wawan
josssssssss
Himawan Wawan
rahasiakan
Himawan Wawan
ayo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!