NovelToon NovelToon
Memanjakan Istriku Cukup Minta, Kuberikan

Memanjakan Istriku Cukup Minta, Kuberikan

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Tamat
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Naysol C.

Sejak lahir, Emira Prawira hanyalah boneka hidup—dirancang untuk patuh, dibentuk untuk menyenangkan pria yang telah dijodohkan dengannya. Ia menelan setiap penghinaan, tersenyum di depan kamera, dan berpura-pura bahagia sebagai tunangan Marko Gunawan, sang pewaris dingin yang tak pernah sedetik pun memandangnya dengan lembut.

Tapi semua berubah saat seorang pria kembali ke dalam hidupnya.

Daniel Mahendra—konglomerat muda yang dijuluki "sang kaisar", pria paling berkuasa sekaligus paling diidamkan di negeri ini. Di mata dunia ia dingin dan tak tersentuh. Namun di hadapan Emira, ia rela menurunkan seluruh takhtanya. Posesif, memuja, dan tak kenal batas: "Cukup minta, dan akan kuberikan segalanya."

Ketika keluarga yang seharusnya melindunginya justru mengkhianatinya, Emira harus memilih—terus menjadi korban, atau bangkit menjadi wanita yang ditakuti dan dicintai. Di balik senyum lembutnya tersimpan dendam yang membara, rahasia keluarga yang berdarah, dan sebuah dunia kekuasaan yang jauh lebih gelap dari yang pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naysol C., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

— Marko —

Pukul delapan malam. Tinggal satu jam lagi sebelum pertemuan dengan orang tuaku. Sejujurnya aku enggan pergi; setiap kali ke sana, aku selalu harus berakting. Semua gara-gara Emira, tunanganku.

Harus kuakui ia cantik dan anggun, tapi aku benci kenyataan bahwa ia selalu tahu apa yang kusuka dan apa yang tidak. Sejak kami resmi berpacaran, ia selalu bersikap kaku dan tunduk pada setiap perkataanku.

Perilakunya membuatku muak. Ia tak pernah menunjukkan ekspresi atau pendapatnya yang sebenarnya. Di awal pertunangan, aku sempat menyukainya, tapi seiring waktu ia berubah menjadi sesuatu yang menjijikkan — makhluk yang rela mengubah dirinya hanya demi menyesuaikan diri denganku.

Itulah sebabnya, selama bertahun-tahun ini aku selalu terlibat dengan perempuan lain dan memperlakukan mereka dengan baik. Aku ingin Emira menjauh dariku. Sejak awal aku menentang pertunangan ini di depan orang tuaku, tapi aku gagal — lagi pula, aku memang tak mau menikahinya.

Satu setengah jam berlalu; aku tenggelam dalam tumpukan dokumen. Sudah pasti ia pulang duluan.

Saat keluar dari ruangan, kulihat ia tertidur di mejanya. Ia tampak begitu cantik hingga tanpa sadar tanganku mulai bergerak ke arah wajahnya — tapi saat itu ponselnya berdering. Orang tuaku. Sungguh menjengkelkan.

Mereka hanya peduli membesarkan perusahaan lewat koneksi dengan keluarga Prawira, sementara Emira hanya ingin memanfaatkanku agar ada yang mengurus perusahaannya, sekaligus menyetir keluarga Gunawan sesuka hatinya. Hanya memikirkannya saja membuatku akhirnya membentaknya, saking marah dan muaknya aku.

Setelah agak tenang, aku teringat harus menyetir ke rumah orang tuaku dan kembali berakting seolah aku peduli padanya.

Setelah sekian lama berpura-pura mesra sepanjang makan malam, masuk pesan dari sekretaris yang tadi pagi kugoda. Ia punya bentuk tubuh yang menggoda, tapi aku tak tertarik padanya. Aku hanya memakainya untuk menjauhkan Emira.

Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur dari makan malam yang menyesakkan ini, dengan alasan harus ke kantor mengambil beberapa dokumen.

Padahal sebenarnya aku pergi ke bar. Kuajak sekalian teman-temanku, untuk melampiaskan seluruh stres hari ini.

* * *

"Hei, kukira kau sedang bersama tunanganmu," kata David.

"Jangan sebut-sebut dia. Mengingatnya saja langsung merusak suasana hatiku."

"Kupikir kau sedang bersenang-senang," sahut Bagus. "Di foto yang dia unggah, kalian tampak mesra sekali."

Aku mengangkat alis, penasaran. "Foto apa yang kau maksud?"

Ketika Bagus menunjukkan fotonya, ada rasa bahagia yang sulit kujelaskan — tapi sekaligus aku sangat marah karena unggahan itu. Berani sekali ia memasang foto tanpa izinku, hanya karena aku menunjukkan sedikit keramahan. Ia pikir ia bisa pamer dan memanfaatkanku, memberi tahu seluruh dunia bahwa aku ada dalam genggamannya.

Tapi ia salah besar. Aku harus bersikap lebih keji dan kejam, sampai ia berhenti berpura-pura mencintaiku.

"Teman-teman, ayo mabuk sampai pagi, ditemani wanita-wanita cantik ini!"

Empat jam kemudian, di bar...

"Bagus," bisik David, "Marko makin aneh. Biasanya dia menjauhi perempuan, tapi lihat dia sekarang, dikelilingi banyak wanita cantik."

Bagus mendengus. "Sudah jelas dia sengaja. Tapi meski dikerubungi banyak perempuan, tatapan matanya kosong tanpa emosi."

"Benar juga... dia cuma bereaksi pada Emira. Aku tak mengerti kenapa dia tak memperlakukannya dengan baik. Padahal jelas-jelas dia menyukainya."

"Dia terlalu sombong. Tak akan pernah mau mengakui kalau dia suka Emira."

"Hubungan mereka pasti berbeda seandainya keluarganya tak memaksanya menikah. Dia benci dikendalikan."

"Tapi celakanya, si bandel ini tak mau mengakui bahwa perasaan Emira padanya tulus."

"Yah, suatu hari dia pasti menyesal tak menghargai Emira. Aku cuma berharap semoga belum terlambat saat dia sadar... Kita tak boleh lengah mengawasinya. Cih." David berdecak. "Emira juga teman kita, dan dia tak pantas diperlakukan seperti itu."

Bagus menyandarkan kepala ke sofa. "Kita cuma perlu memastikan dia tak berbuat nekat."

Dua jam kemudian, Bagus dan David meninggalkan bar sambil memapah Marko, untuk mengantarnya ke apartemen tempatnya tinggal bersama Emira. Meski belum menikah atau mengumumkan pernikahan, kedua keluarga memaksa anak-anak mereka tinggal serumah. Namun mereka tidur di kamar terpisah dan tak pernah sekali pun berciuman atau tidur bersama.

Bel dipencet berkali-kali, dan Emira membuka pintu dengan mata mengantuk — hanya untuk mendapati Marko mabuk dan setengah sadar, beraroma parfum perempuan. Di matanya terpancar kesedihan, seolah ia hampir menangis.

Bagus dan David menawarkan diri memapah Marko ke kamar agar bisa beristirahat, lalu pamit pergi. Sebelum itu, mereka sempat melihat ekspresi Emira, dan hanya berkata bahwa Marko mabuk berat tapi tak melakukan hal yang aneh-aneh. Tentu saja mereka tak menyebut bahwa tadi banyak perempuan menempel padanya. Toh tak perlu dikatakan, karena Emira sudah menyadarinya — sejak membuka pintu, ia langsung mencium aroma parfum perempuan.

* * *

Pagi menjelang ketika aroma masakan menyeruak dan membangunkanku. Aku bangkit dengan kepala berdenyut hebat. Aku berjalan ke ruang makan dan melihat ada obat pereda mabuk di atas meja, di sampingnya sarapan, lengkap dengan secarik catatan:

Selamat pagi, Marko. Semoga kau sempat sarapan. Jangan khawatir soal dokumen yang belum sempat kau selesaikan kemarin — semuanya sudah rampung dan ada di dalam mobil.

Selesai membaca catatan itu, aku langsung melemparnya ke tempat sampah. Dan ketika melihat makanannya, perutku terasa begitu mual hingga aku pun membuangnya. Aku menelan obat itu, lalu berangkat ke kantor.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!