Sebuah utang nyaris sejuta dolar mengubah segalanya bagi Alice. Demi menyelamatkan sang kakak dari maut, gadis polos berusia dua puluh tahun itu harus menandatangani kontrak paling gila dalam hidupnya: menjadi istri Adriano Mancini selama dua tahun.
Adriano bukan pria biasa. Ia bos mafia paling ditakuti di Sisilia — dingin, posesif, dan bersumpah tak akan pernah jatuh cinta lagi. Yang ia inginkan hanya satu: seorang perawan untuk melahirkan pewaris kerajaannya. Tanpa cinta, tanpa hati. Begitu bunyi perjanjiannya.
Tapi Alice bukan perempuan yang mudah ditaklukkan. Di balik pesonanya tersembunyi keberanian dan kecerdikan yang perlahan meruntuhkan tembok es di dada sang mafioso. Dan ketika sebuah rahasia kelam tentang tubuh Alice terungkap, Adriano dipaksa memilih antara kesepakatan dingin yang ia buat... dan perasaan yang tak pernah ia duga akan tumbuh.
Di tengah dunia penuh kuasa, pengkhianatan, dan gairah yang membara, mampukah dua hati yang terikat kontrak menemukan cinta yang sejati? Ataukah masa lalu — dan musuh yang mengintai di kegelapan — akan menghancurkan segalanya lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jullia Soares, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Keesokan paginya...
Alice bangun lebih awal, menyiapkan sarapan, mandi, mengenakan rok setelan dan blus paling barunya — yang bagi Alice sudah dipakai enam bulan — lalu berangkat kerja.
Saat berjalan, masih di jalanan depan rumahnya, sebuah Bugatti La Voiture Noire yang legam berhenti di sisinya, membuatnya terkejut.
Adriano menurunkan kaca mobil dan berkata,
"Masuk."
Ada aura kuasa yang berdaulat pada dirinya, bahkan tanpa perlu mengubah raut wajah sedikit pun.
Alice menatapnya, tak tahu mana yang lebih kelam — mobil itu atau pemiliknya.
"Aku harus bekerja, tak boleh terlambat," ucap Alice.
Adriano memandanginya dan membatin,
"Perempuan ini nekat, atau terlalu polos."
"Aku akan mengantarmu ke tempat kerja. Tapi kita mampir ke suatu tempat dulu," katanya.
Beberapa menit kemudian keduanya turun dan masuk ke kantor notaris, lalu meresmikan ikatan mereka. Kini Alice resmi menjadi perempuan bersuami. Sepanjang perjalanan kembali ke mobil ia membisu, berdoa agar Adriano tak ikut masuk ke perusahaan tempatnya bekerja.
Ketika mereka mendekati jalan yang sama dengan kantornya, Alice berkata,
"Turunkan aku di sini saja, tolong."
"Aku juga akan masuk ke perusahaan itu. Jadi untuk sekarang kau tak boleh keluar dari mobil," ujarnya sambil menghentikan mobil.
"Kau sudah berjanji padaku bahwa..." ucapan Alice terputus, dibungkam oleh tatapan mematikan Adriano.
"Kau takut semua orang di kantor tahu kau turun dari mobil bersamaku?"
"Ya," jawab Alice.
Alice memang membuat Adriano penasaran. Gadis itu tak menyembunyikan apa pun darinya, bahkan tampak tak takut padanya. Maka Adriano memilih menganggap Alice sedang bersikap naif; ia membuka pintu mobil dan berkata,
"Untuk sekarang, akan kubiarkan kau merasa nyaman. Tapi begitu kau pindah ke mansion-ku, aku tak akan peduli kau mau atau tidak terlihat bersamaku di tempat kerjamu. Aku bisa mengeluarkanmu dari perusahaan ini kalau kau terus memintaku menjauh dari sisimu, mengerti, Alice?"
Bagi Adriano, perempuan yang tak mau terlihat bersamanya sama saja menginjak-injak harga dirinya.
Alice hanya mengangguk, dan Adriano kembali menyetir.
Begitu mobil berhenti di depan perusahaan, Alice mencoba membuka pintu, tapi terkunci.
"Kau baru boleh keluar dari mobil ini setelah memberiku sebuah ciuman," ucapnya.
Alice mendekat dan menunggu Adriano menciumnya.
"Ayo, Cantik, atau kau terlambat kerja," kata Adriano.
Alice mendekat dan menciumnya.
Lalu Adriano berkata,
"Aku bilang, sebuah ciuman."
Keduanya bertukar pandang ke arah bibir masing-masing, dan Alice menggigit bibirnya sendiri. Adriano mendekatkan wajahnya ke wajah Alice; napas gadis itu menjadi lebih dalam dan cepat. Lalu Adriano mendekatkan bibirnya ke telinga Alice dan berbisik,
"Jangan buat aku menunggu, Cantik."
Ia mencengkeram tengkuk Alice, dan dahi keduanya bertemu.
Alice menarik napas dalam-dalam, malu setengah mati, lalu menciumnya — dan Adriano seketika membalas ciuman itu.
Bibir mereka bersentuhan, lidah mereka berpagut dalam irama yang panas dan penuh gairah. Begitu kehabisan napas, keduanya menghentikan ciuman. Adriano membuka kunci pintu, dan Alice bergegas keluar tanpa menoleh lagi.
Adriano memperhatikan Alice masuk ke perusahaan, lalu memarkir mobilnya. Ia mengambil sebuah koper berisi dokumen, turun dari mobil, dan melangkah masuk ke perusahaan tempat Alice bekerja. Para perempuan di sana memandanginya penuh kagum — ia membangkitkan hasrat banyak wanita, bukan hanya karena ketampanannya, tetapi juga karena kuasa yang terpancar lewat setelan mahal dan parfum yang sanggup meninggalkan jejak di setiap tempat yang ia lewati.
"Selamat pagi, Tuan Mancini," sapa Eugenia, sekretaris Massimo, yang telah menantinya di depan pintu lift.
Adriano menoleh ke arah Alice, yang berusaha menghindari tatapannya, lalu berkata,
"Nona Alice, bisakah Anda mengantar saya ke kantor bos Anda?"
Alice menatapnya, tak percaya sekaligus takut.
"Ta-tapi, Tuan Mancini, saya cuma resepsionis. Saya tak bisa meninggalkan tempat ini."
Eugenia, yang bersahabat dengan Alice tapi juga tahu bahwa Massimo selalu berusaha menyenangkan klien terbaiknya, Adriano, berkata,
"Alice, tolong antar Tuan Mancini. Aku akan menggantikanmu di sini sampai dia kembali, jangan khawatir."
Alice beranjak dari meja resepsionis dengan wajah muram, seakan hendak melayat. Eugenia menatapnya, tak mengerti apa yang sedang terjadi — biasanya Alice selalu tersenyum dan ramah pada para tamu.
Di dalam lift, Alice menunduk. Adriano berkata,
"Kukira kau resepsionis yang baik. Setidaknya dua kali sebelumnya aku ke sini, kau selalu tersenyum pada para tamu," ucapnya, membuka fakta bahwa ia sudah mengenal Alice sejak dulu.
"Maaf, Tuan Mancini," kata Alice sambil menyunggingkan senyum tipis.
Pintu lift terbuka. Massimo menatap Adriano dan Alice dengan sedikit terkejut.
"Nona Alice, ada yang bisa saya bantu?" tanya Massimo.
Wajah Alice bersemu merah. Sebelum ia sempat bicara, Adriano menjawab,
"Dia menemaniku."
Ketiganya masuk ke ruang kerja, dan Massimo bertanya,
"Alice, kau boleh kembali ke resepsionis. Terima kasih banyak sudah menemani Tuan Mancini."
"Dia tetap di sini!" ujar Adriano.
"Tapi, Tuan Mancini, saya rasa kurang pantas bila dia hadir di sini," kata Massimo.
"Kau mau membantah ucapanku, Massimo?"
"Bukan begitu, hanya saja..." ucapan Massimo terpotong oleh Alice.
"Sayang, Tuan Massimo benar, aku harus kembali bekerja," ucap Alice, menggunakan pesonanya agar Massimo tak kehilangan klien istimewa itu.
Adriano menatap Alice dengan terkejut; tak disangkanya gadis itu cukup cerdik untuk membujuknya. Ia berkata,
"Sayang, duduklah. Aku butuh kau hadir untuk apa yang akan kukatakan pada Massimo."
Alice duduk, dan Adriano segera berkata,
"Aku mau tiga puluh persen saham firma hukummu atas nama Alice. Mulai sekarang, dia bukan lagi resepsionis. Aku ingin dia magang di sini sebagai pengacara, karena dia sedang kuliah hukum. Cukup jelas?"
Massimo terkejut dan hanya bisa menjawab,
"Ya! Akan segera saya urus."
"Aku juga ingin dia punya ruang kerja sendiri," kata Adriano.
Alice menyentuh tangan Adriano dan berkata,
"Maaf memotong, tapi aku tak mau ruang kerja khusus untukku. Orang-orang akan mengira aku naik jabatan hanya karena menjalin hubungan dengan salah satu atasan di perusahaan ini."
"Kau istriku. Siapa pun yang berpikir begitu akan langsung kupecat," ujar Adriano.
Massimo tahu betul kuasa Adriano di Sisilia. Kalau ia tak menuruti semua kemauan pria itu, perusahaannya yang sudah kondang bisa bangkrut dalam hitungan detik, andai sang mafioso menghendakinya.
"Aku terima posisi sebagai pemagang, itu sungguh sangat berarti bagiku. Tapi aku tak mau saham dan ruang kerja itu, tolong, Sayang," ucap Alice, mencoba membujuk pria yang terpaksa ia nikahi.
"Bella, hanya soal ruang kerja aku setuju kau merebutnya dengan kecerdasan dan prestasimu di perusahaan ini. Tapi soal sisanya, meski kau memanggilku sayang, aku tak akan berubah pikiran," kata Adriano sambil menggenggam tangan Alice.