Mereka menyebutnya monster—Capo dei capi Camorra yang paling ditakuti, pria berdarah dingin yang katanya kehilangan hatinya bertahun-tahun lalu dan hanya hidup untuk kekuasaan, darah, dan balas dendam. Gabriele Saviano tak pernah menginginkan seorang anak. Tapi ketika istri yang tak pernah ia cintai meninggal saat melahirkan, ia terjebak dengan satu hal yang tak pernah ia rencanakan: seorang bayi perempuan mungil berambut pirang.
Sofia Palermo baru sembilan belas tahun, yatim-piatu, dan tak pernah mengasuh siapa pun. Yang ia punya hanyalah kehangatan seorang gadis yang tumbuh dicintai—dan keberanian nekat untuk melawan siapa pun, bahkan pria paling berbahaya di dunia mafia. Ia datang ke rumah besar sang Capo untuk merawat seorang bayi terlantar. Ia tak menyangka akan menemukan dirinya bermain api dengan sang iblis itu sendiri.
Satu sinar matahari yang keras kepala. Satu monster yang bersumpah tak akan pernah jatuh cinta lagi. Di antara mereka: gairah yang membakar, pertengkaran yang memancing badai, dan seorang gadis kecil yang perlahan menyatukan dua jiwa yang sama-sama hancur.
Tapi mencintai seorang Capo berarti masuk ke medan perang. Musuh lama mengintai dari bayang-bayang, pengkhianat bersembunyi di dalam rumah, dan sebuah dendam berdarah siap merenggut segala yang mulai berharga bagi Gabriele. Ketika mereka yang paling ia sayangi menjadi sasaran, sang Bestia harus memilih: tetap menjadi monster tanpa hati—atau membakar dunia demi melindungi keluarganya.
Dari kesepakatan dingin menjadi obsesi yang mematikan. Dari sekadar pengasuh menjadi ratu yang bersemayam di jantung kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yesenia Stefany Bello González, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Libur
Sofia
Untuk kesepuluh kalinya kubersihkan mulut dan tangan Mia. Setiap kali makan bubur ia membuat kekacauan, tetapi aku suka melihatnya menikmati makanan yang kubuatkan. Hari ini aku mulai menambahkan daging ke dalam resepnya dan kurasa ia menyukai perubahannya, karena selama sepuluh minggu terakhir hanya ada sayuran dan ia sudah mulai bosan dengan rasa yang sama.
"Mau lagi?" tanyaku dan si kecil memukul-mukul alas kursi makannya dengan kepalan tangan, yang kuartikan sebagai iya.
"Nafsu makannya besar hari ini," kata Anna sambil mencuci peralatan yang kupakai untuk memasak.
"Iya. Si kecil suka daging, ia seperti anak harimau."
Anna menyodorkan botol berisi jus wortel yang kutinggalkan di atas meja dapur.
Kuberikan sedikit pada Mia, tetapi ia mulai membuat suara jengkel ketika aku berhenti menyuapinya bubur demi memberinya jus.
"Ada kabar dari Gabriele?" tanyaku lagi.
Belakangan ini aku sering menanyakannya, karena satu-satunya informasi yang kudapat tentangnya adalah lewat Anna. Si brengsek tak menjawab saat kutelepon, dan ketika kukirim pesan ia tak membalas.
"Tak ada sejak terakhir kali kamu bertanya," katanya sambil memandangku dengan sedikit iba, yang entah bagaimana justru membuatku merasa lebih buruk.
Aku tahu aku tak cukup penting untuk memengaruhinya, tetapi rasanya seolah ia sedang menghindariku. Aku tak melihatnya sejak malam kami makan malam di rumah Dante, saat ia dan aku... Aku menolak memikirkan itu.
Sudah begitu lama sampai aku mulai meragukan apakah itu benar-benar terjadi, mungkin aku memimpikannya dan kami tak pernah berciuman. Mungkin aku salah mengartikan semuanya. Mungkin bagi dia aku hanyalah gadis bodoh yang mau bermain api dan berakhir terbakar.
Mia membuat suara tak sabar dan memaksaku kembali ke saat ini.
Kuselesaikan menyuapinya, sambil merasa seperti orang bodoh. Aku terlalu membesar-besarkan sebuah ciuman, itu pun kalau benar-benar terjadi. Bagi Gabriele pasti itu tak berarti, bahkan mungkin ia sudah melupakannya, tetapi aku tak bisa. Dan bukan hanya karena itu ciuman pertamaku, lebih dari itu. Bagiku itu adalah menemukan sebuah dunia yang sampai saat itu asing dan tak kukenal. Dunia yang ingin sekali kukenal dari tangannya.
Cukup, Sofia.
Kugendong Mia dan kucium pipinya. Si kecil langsung mulai menggigit daguku dengan gigi-gigi mungilnya. Ia kian hari kian cantik. Aku tak habis pikir seorang ayah membiarkan dirinya melewatkan begitu banyak hal dari putrinya.
Kurasa ia memang tak peduli. Dan kalau ia saja tak peduli pada putrinya sendiri, orang sepertiku tak punya tempat di kepala Gabriele.
Sudah cukup. Aku tak akan menghabiskan seumur hidup di kamar itu menunggunya. Secara fisik aku memang ada di dapur bersama Mia, tetapi secara emosi aku masih di kamar Dante, menunggunya kembali untuk menjemputku dan mengatakan sesuatu. Aku masih di sana, menunggunya, merasa malu, terangsang, dan bergairah.
Dasar bodoh.
Kuambil ponselku sementara Mia terus membasahi wajahku dengan air liur dan bubur, lalu kuunduh salah satu dari ribuan aplikasi kencan yang ditawarkan ponselku.
Kalau si brengsek tak menginginkanku, aku tahu orang lain akan menginginkanku.
Kulepas kaus hitamku dan kucoba yang berwarna merah. Kupandangi diriku di cermin sementara Mia bermain dengan mainannya di boks bayi. Aku berputar di depan cermin.
"Entahlah," bisikku ragu.
Kulepas semuanya lagi dan sekarang kucoba blus kuning dan celana pendek berbahan denim. Ya, kurasa yang ini cocok.
Hari ini akhirnya aku mendapat hari libur pertamaku. Anna akhirnya kasihan padaku dan bilang ia akan menjaga Mia. Lagi pula, sekarang si kecil sudah tak sering menangis seperti dulu dan lebih ramah dengan Anna serta pelayan-pelayan lain di rumah.
Setelah berkomunikasi selama dua minggu, akhirnya aku akan bertemu Adrian. Usianya dua puluh dua tahun dan ia mahasiswa kedokteran. Yang terbaik dari semuanya, untuk membayar kuliahnya ia bekerja sebagai bartender di sebuah pub di pusat kota, dan di sanalah kami akan menghabiskan kencan pertama kami. Ia berjanji aku bisa minum, karena temannya yang akan bertugas menjaga bar malam ini. Aku belum genap dua puluh satu tahun, jadi ini seru sekali.
Ini pertama kalinya aku pergi ke pub!
Kuambil jaket kulit cokelat tua dan kukenakan. Terlihat bagus, tetapi sekarang aku tak yakin dengan celana pendeknya, jadi kuganti dengan jeans.
Ya, akhirnya aku siap.
Aku berbalik ke arah Mia, yang sedang memandangiku lekat-lekat. "Kamu harus jadi anak baik dengan Anna, ya, sayang."
"Na na na," balasnya dengan senyum.
"Benar, anak yang penurut." Aku mendekat ke boks dan mencium pipinya. "Sampai nanti, ya."
Aku keluar dari kamar dan berlari menuruni tangga.
"Mia sedang bermain di boksnya," kataku pada Anna, yang sudah menungguku.
"Matteo sudah menunggumu. Bersenang-senanglah dan jangan berbuat bodoh," tambahnya serius.
Kucium pipinya. "Pasti," janjiku.
Aku keluar dengan perasaan tak sabar dan bahagia, seperti yang sudah lama tak kurasakan.
Kubuka pintu dan langsung bertabrakan dengan Matteo.
"Matteo, maaf," kataku, tetapi terdiam saat melihat ternyata itu Gabriele.
"Kau mau ke mana?" tanyanya dengan nada masam.
"Hari ini aku libur."
"Siapa yang mengizinkannya?" balasnya dengan nada buruk.
"Aku berhak punya hari libur, ini bukan penjara," desisku dan berusaha melewatinya, tetapi ia menahanku dengan mencengkeram lenganku.
"Kau mau ke mana, Sofia?"
"Bukan urusanmu."
"Sofia, jangan buat aku mengulang pertanyaannya," gumamnya murka.
Kulepaskan lenganku dari cengkeramannya. "Aku mau kencan dengan seorang teman."
"Seorang teman?"
"Ya, teman adalah orang yang kau percaya dan bisa kau ajak berbagi momen-momen istimewa. Kau sebaiknya menggugelnya."
Ia mencengkeram daguku dengan kasar. "Lupakan, kau tak akan keluar dari rumah ini."
Aku tersenyum jahil. "Maaf, Capo, Adrian sudah menungguku dan aku tak sabar menghabiskan malam bersamanya."
"Apa..?" ia mulai bertanya, tetapi aku berlari ke arah limusin sebelum ia menambahkan apa pun. "Cepat, Matteo," pintaku. "Aku agak terlambat," tambahku sambil memandang Gabriele berjalan menuju limusin.
Ketika akhirnya Matteo menginjak gas, aku bersandar lega ke jok. Tadi nyaris saja. Besok aku akan menghadapi masalahnya. Hari ini aku ingin bersenang-senang dan tak memikirkan seorang Capo yang bertampang masam.