NovelToon NovelToon
Pengasuh Yang Dibenci Tuan Muda

Pengasuh Yang Dibenci Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Keira Azzalea datang ke Jakarta hanya demi satu hal: melunasi utang keluarga.

Menjadi pengasuh Mika di kediaman mewah keluarga Mahardika terasa bagai angin segar selain gajinya besar, tempatnya juga nyaman.

Masalahnya, rumah itu juga dihuni oleh Ian Xavier Mahardika.

Ian, putra sulung Nathaniel yang dingin dan skeptis, terang-terangan membenci Keira.

Bagi Ian, Keira hanyalah wanita parasit pemburu harta yang memanfaatkan kebaikan ayahnya. Hinaan pedas dan tatapan sinis jadi makanan Keira sehari-hari.

Namun, tinggal di bawah satu atap membuat benturan tak terelakkan.

Seiring berjalannya waktu, benci yang membakar perlahan berubah menjadi perhatian yang membingungkan.

Akankah permusuhan mereka luluh, atau justru tumbuh menjadi obsesi yang berbahaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 : Konflik Tengah Malam di Dapur

Malam di kediaman Mahardika terasa terlalu sepi bagi Keira yang terbiasa tinggal di desa.

Di kampungnya, pukul sembilan malam masih terdengar suara motor anak muda yang nongkrong di pos ronda, jangkrik dari kebun belakang, atau suara televisi tetangga yang volumenya sengaja dibesarkan sampai terdengar ke tiga rumah sebelah.

Sementara di sini, hanya ada dengung halus pendingin ruangan dari langit-langit kamar.

Keira berbaring telentang di atas kasurnya. Matanya menatap langit-langit kamar yang bersih tanpa bercak, sangat berbeda dengan kamar di rumahnya.

Sambil memainkan ponsel retaknya yang tersambung ke WiFi rumah, ia mengetik pesan untuk ibunya.

Keira: Bu, Keira udah di kamar. Anak yang Keira asuh ternyata imut banget. Tadi Keira bikin kodok kertas, dia langsung nempel. Ibu sama Bapak udah makan malam? Obat Bapak jangan lupa diminum.

Balasan ibunya datang semenit kemudian.

Ibu: Sudah, Nak. Bapakmu tadi makan pakai sayur bening. Kamu baik-baik di sana, ya. Jangan bikin malu. Kalau ada makanan sisa yang masih bagus di kulkas, tanya dulu sebelum dimakan.

Keira terkekeh membaca pesan itu.

"Masa iya gua ngubrak-ngabrik kulkas orang kaya jam segini," gumamnya sambil menggeleng.

Namun, sebelum sempat mematikan layar ponselnya, terdengar ketukan pelan dari pintu.

Keira buru-buru bangkit dan membetulkan kausnya sebelum membuka pintu. Bik Yani berdiri di sana sambil membawa kain lap dan beberapa wadah plastik.

"Mbak Keira belum tidur?" tanyanya.

"Belum, Bik. Masih menyesuaikan diri sama kasur," jawab Keira sambil menyengir.

Bik Yani tersenyum maklum.

"Biasa itu. Oh iya, saya mau mengingatkan. Non Mika biasanya bangun sekitar jam dua belas atau satu malam buat minta susu hangat. Susunya bisa disiapkan di kamar pakai termos kecil atau Mbak turun ke dapur utama buat menyeduh yang baru."

"Oh, begitu."

"Soalnya Non Mika agak rewel soal suhu susu. Kalau terlalu dingin atau kepanasan sedikit, bisa langsung dilempar."

Keira spontan menepuk jidatnya.

"Dilempar lagi? Hobi banget ngelempar barang, ya, itu bocah."

Bik Yani terkekeh.

"Makanya, Mbak harus hati-hati. Dapur utama ada di lantai dasar, sebelah kanan. Pintunya kaca buram. Sakelar lampunya ada di dekat kulkas besar warna perak."

"Baik, Bik. Nanti saya turun ke dapur saja biar susunya masih hangat."

"Kalau begitu saya tidur dulu, ya, Mbak. Badan sudah pegal semua."

"Iya, Bik. Makasih banyak informasinya!"

Setelah Bik Yani pergi, Keira kembali ke kasur. Namun, tidur rupanya belum mau menghampiri. Ia terus berganti posisi, miring ke kanan lalu ke kiri.

Sampai akhirnya, jam di ponselnya menunjukkan pukul 23.45 WIB.

Keira memutuskan bangun. Tenggorokannya juga terasa kering akibat udara AC yang terlalu dingin.

Ia memakai sandalnya, mengambil botol susu milik Mika, lalu membawa gelas kosong untuk dirinya sendiri.

Lorong lantai dasar tampak remang-remang. Hanya lampu kecil di dekat lantai yang menyala, cukup untuk menerangi jalan tanpa membuat penghuni rumah silau.

Keira menyusuri koridor yang dingin hingga menemukan pintu kaca buram seperti yang dijelaskan Bik Yani.

Begitu pintunya terbuka, ia langsung terpana.

"Ini bukan dapur, ini mah laboratorium masak."

Dapurnya hampir seluas rumah Keira di kampung. Meja konter dari marmer hitam mengilap, kompor tanam yang bersih seperti cermin, serta kulkas dua pintu berukuran besar memenuhi ruangan.

"Buset dah, kompornya aja nggak ada apinya. Pakai induksi begini gimana cara nyalainnya coba?"

Keira menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Untungnya, dispenser canggih di sudut konter masih mudah dipahami. Ada tombol bergambar cangkir dengan uap di atasnya.

Ia menuangkan air panas ke botol susu Mika, mencampurnya dengan air suhu ruangan, lalu memasukkan dua sendok formula khusus sesuai petunjuk Bik Yani.

"Kocok-kocok dulu. Putar kanan, putar kiri. Biar nggak menggumpal kayak adonan cucur Ibu."

Setelah selesai, Keira meneteskan sedikit susu ke punggung tangannya untuk memastikan suhunya.

"Nah, hangatnya pas. Nggak bakal bikin jidat gua jadi sasaran bola lagi."

Merasa tugasnya selesai, Keira mengambil gelas kosong dan hendak membuka kulkas untuk mengambil air dingin.

Namun, baru saja tangannya menyentuh gagang kulkas—

"Lapar, atau lagi ngerencanain mau ngantongin sesuatu dari kulkas?"

"ASTAGA!"

Keira terlonjak sampai salah satu sandalnya terlepas. Botol susu di tangan kirinya hampir saja melayang kalau bukan karena refleksnya menangkap botol itu dengan kedua tangan.

Cklek!

Lampu utama dapur tiba-tiba menyala terang.

Keira memicingkan mata. Setelah penglihatannya kembali jelas, ia melihat sosok tinggi berdiri di dekat sakelar pintu masuk.

Ian Xavier Mahardika.

Pria itu hanya mengenakan celana pendek abu-abu dan kaus singlet hitam yang memperlihatkan bahu serta otot lengannya. Rambutnya sedikit basah, sepertinya baru selesai mandi. Di tangan kanannya ada gelas kaca berisi jus jeruk dingin.

Keira mengelus dadanya yang berdebar kencang.

"Mas Ian! Bisa nggak sih kalau jalan itu pakai suara? Kaget tahu nggak! Hampir aja susu adiknya tumpah!"

Ian tidak menunjukkan rasa bersalah. Ia justru berjalan santai menuju konter, lalu menyandarkan pinggulnya sambil menyesap jus.

Tatapannya memindai Keira dari atas sampai bawah, mulai dari kaus kebesaran hingga sandal yang terlempar setengah meter dari kakinya.

"Punya mulut lancang juga ternyata," komentarnya dingin. "Ini rumahku. Aku bebas jalan tanpa suara atau mau pakai drum sekalian. Yang aneh itu kamu. Jam dua belas malam kelayapan di dapur orang."

Keira menarik napas panjang. Ia mengambil sandalnya, memasang kembali ke kaki, lalu berdiri tegak.

"Saya ke sini buat bikin susu Mika, Mas. Bik Yani bilang Mika suka bangun jam segini buat minta minum."

Ia menunjukkan botol susu di tangannya.

Ian melirik botol itu sekilas sebelum kembali menatap Keira.

"Susu Mika?" Ia terkekeh sinis. "Atau itu cuma alasan kamu biar bisa keluyuran di area utama rumah jam segini? Siapa tahu ada barang berharga Papi yang ketinggalan di meja makan?"

Keira terbelalak.

"Maksud Mas Ian apa, ya? Saya ke sini murni buat kerja! Nggak ada niat aneh-aneh!"

"Nggak usah akting lugu di depanku, Keira."

Ian melangkah mendekat. Tubuhnya yang jauh lebih tinggi membuat bayangannya menutupi Keira di bawah lampu dapur.

"Aku sudah paham pola orang-orang kayak kamu. Datang dari kampung dengan gaya polos, pura-pura kasihan, sok rajin di depan Papi, ujung-ujungnya apa? Minta pinjaman uang, minta naik gaji, atau lebih parah lagi... ngincer posisi lebih tinggi di rumah ini."

Dada Keira naik turun menahan emosi. Tangannya mengepal di samping paha.

"Mas Ian kalau ngomong dijaga, ya! Jangan asal tuduh! Saya memang butuh uang, tapi saya cari uang dengan cara halal! Saya kerja banting tulang dari pagi sampai malam, bukan mau jadi benalu!"

"Banting tulang?"

Ian mengangkat sebelah alis.

"Baru beberapa jam kamu di sini, dan kamu bilang banting tulang? Kamu pikir aku nggak tahu berapa gaji yang disetujui Papi buat pengasuh Mika? Angka yang fantastis buat cewek lulusan SMA kayak kamu yang nggak punya pengalaman apa-apa."

"Itu Pak Nathaniel yang nentuin, bukan saya yang minta!"

Suara Keira sedikit meninggi hingga menggema di dapur yang luas.

"Tapi kamu nerima, kan?"

Ian memotong ucapannya. Ia menundukkan kepala sedikit, mendekatkan wajahnya ke arah Keira.

"Kamu nerima tanpa mikir dua kali. Kenapa? Karena kamu sadar, dengan manfaatin rasa kasihan Papi dan trauma Mika, kamu bisa dapat uang dengan gampang. Kamu itu cuma wanita pengincar uang yang kebetulan dapat tiket masuk ke rumah ini."

DEG!

Ucapan itu terasa seperti tamparan keras bagi Keira.

Bukan sekadar hinaan biasa. Sebutan wanita pengincar uang benar-benar menusuk harga dirinya.

Pikirannya langsung melayang pada wajah ibunya yang tadi memberikan uang lima puluh ribu rupiah sebagai bekal. Ia juga teringat ayahnya yang masih harus berjalan pincang akibat kecelakaan truk empat tahun lalu.

Keluarganya memang miskin. Mereka juga terlilit utang. Namun, mereka bukan pengemis, apalagi penipu.

Air mata mulai menggenang di sudut mata Keira. Namun, ia buru-buru menahannya.

Tidak. Ia tidak boleh menangis di depan pria arogan ini.

Keira menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat wajahnya. Tatapannya kini lurus mengarah pada mata Ian yang dingin.

"Mas Ian Xavier Mahardika yang terhormat," ucapnya pelan. "Mas ini mungkin punya uang berlimpah dari lahir. Mas nggak pernah tahu rasanya bingung besok mau makan apa atau dikejar-kejar tagihan orang. Jadi, saya maklum kalau pikiran Mas cetek banget sampai mikir semua orang miskin itu penjahat."

Dahi Ian langsung berkerut.

Sepertinya ia tidak menyangka gadis yang baru beberapa jam bekerja di rumahnya itu berani membalas ucapannya.

"Tapi satu hal yang harus Mas ingat."

Keira melangkah sedikit mendekat, ia tidak berniat menghindari tatapan Ian.

"Saya berada di rumah ini karena Pak Nathaniel yang minta saya menjaga anaknya. Saya bekerja pakai tenaga saya, pikiran saya, dan ketulusan saya buat Mika. Saya nggak pernah mengemis satu rupiah pun dari Mas ataupun Papi Mas!"

1
Ael
Ian Ian😄
Ael
udah salting gengsi an lagi
Ael
Ian gampang salting yaa🤣
Ael
😄😄😄
Skyline Scribe
semangat Keira 💪
Fazira
baru aja ketemu Ian, kok kata-katanya kaya gitu 😄
Ael
👍👍
Inaa LA Aeylul Nazha
bagus tapi tidak ada kelanjutanya
Skyline Scribe: Makasih Kak bintang limanya 🤗🤗
novel ini update setiap hari 1 bab yaa, tunggu besok buat kelanjutannya 😄
total 1 replies
Inaa LA Aeylul Nazha
mana untuk kelanjutannya
Ael
semangat kak 💪💪
Ael
uang lima puluh ribu jaman sekarang keliatan dikit yaa
Fazira
Karya baru lagi 😍😍😍
semangat Kak 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!