NovelToon NovelToon
Cuma Modal Cerita

Cuma Modal Cerita

Status: tamat
Genre:Teen / Solo Leveling / Menjadi NPC / Tamat
Popularitas:486
Nilai: 5
Nama Author: jiejie_IYAYA'S

Aku bukan siapa-siapa. Nggak punya prestasi, nggak punya bakat khusus.
Yang aku punya cuma kenangan.

Kenangan jadi remaja perempuan yang dulu mikir dunia selebar halaman sekolah.
Tentang tawa di jam kosong, surat cinta yang nggak pernah dikasih, persahabatan yang pecah karena sepele, dan guru yang tanpa sadar ngubah hidupku.

"Cuma Modal Cerita" adalah kumpulan kisahku.
Loncat dari sekarang ke dulu. Dari dewasa ke anak kecil yang masih percaya permen bisa nyelesaiin semua masalah.

(Gak Semuanya Real Dari Hidup Ku ,Ada Beberapa Karangan)

Ini bukan novel tentang orang hebat.
Ini novel tentang kita. Tentang kamu, aku, dan semua orang yang pernah duduk di kursi paling belakang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jiejie_IYAYA'S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

karangan horor

Malam itu, di pojok kantin belakang sekolah yang baunya selalu bercampur antara minyak gorengan dan aroma tanah basah, percakapan kami mengalir tanpa arah. Angin sore berembus pelan, menggoyangkan tirai plastik lapak Mbok Nah. Kami bertiga—aku, Lia, dan Siti—duduk melingkar di atas bangku kayu panjang yang paku-pakunya sudah longgar. Di usia SMP, hal paling menyenangkan memang membanding-bandingkan kehidupan, seolah-olah siapa yang punya cerita paling ekstrem adalah pemenangnya.

Topik hari itu entah bagaimana bermula dari keheningan yang sedikit menyergap ketika lampu kantin mendadak berkedip. Dari pembicaraan soal tugas Matematika yang menumpuk, obrolan kami bergulir mulus ke ranah mistis: rumah siapa yang paling seram.

Aku menjadi orang pertama yang melemparkan umpan. Dengan nada yang sengaja dibuat agak berbisik agar terkesan lebih dramatis, aku mulai bercerita tentang rumahku.

"Kalau soal seram, rumahku jelas juara," kataku sambil menyeruput es teh manis yang tinggal menyisakan bongkahan es batu. "Kalian tahu sendiri, kan? Tepat di samping tembok kamar tidurku itu kuburan. Ya... memang cuma kuburan sepetak, keluarga yang punya tanah situ doang. Tapi tetep aja, tiap malam Jumat Kliwon, daun pohon kamboja di atasnya itu suka gugur sendiri padahal gak ada angin.

Belum lagi kalau malam-malam ada suara burung hantu. Aku kalau mau tidur malam harus meram rapat-rapat."

Aku menyampaikan cerita itu dengan penuh keyakinan. Dalam pikiranku, tinggal di sebelah makam—walaupun cuma sepetak kecil—sudah cukup untuk memenangkan gelar "pemilik rumah paling bikin merinding" di antara kami bertiga. Aku menunggu reaksi heboh atau setidaknya helaan napas kaget dari teman-temanku.

Lia, yang duduk di sebelah kiriku, cuma manggut-manggut pelan. Tangannya sibuk mengaduk-aduk sisa bakso di mangkuknya dengan sendok. Lia ini tipikal anak yang kalem, santai, dan sejujurnya, keluarganya paling berada di antara kami. Rumahnya besar sekali, terletak di kawasan perumahan lama dengan pagar besi setinggi dada orang dewasa dan halaman depan yang luasnya bisa dipakai main futsal. Tapi Lia tidak pernah pamer. Ketika aku menceritakan rumahku yang bersebelahan dengan makam, respons Lia sangat datar.

"Oh... begitu ya? Berarti kalau malam sepi banget dong ya rumahmu," tanggap Lia pendek. Wajahnya polos, tidak ada nada meremehkan atau berniat menyaingi. Ia cuma merespons sekadarnya, khas Lia yang memang pada dasarnya cuek dan tidak suka mendramatisasi keadaan.

Aku tersenyum puas. Tanggapan Lia yang biasa saja justru menandakan dia mengakui bahwa cerita rumahku memang cukup seram. Bagiku, percakapan itu seharusnya selesai di situ. Kami tinggal mengganti topik ke hal lain, mungkin soal gosip anak kelas sebelah atau rencana kerja kelompok esok hari.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

Siti, yang sejak tadi duduk di seberang kami sambil mengunyah kerupuk kaleng dengan suara nyaring, mendadak memajukan badannya. Raut wajahnya berubah, seolah-olah ia baru saja menemukan sebuah celah untuk mematahkan argumenku. Siti ini sebenarnya bukan anak yang jahat, aku tidak pernah membencinya. Tapi ada satu sifatnya yang sering kali membuat dadaku mengelus kesal: dia selalu punya dorongan untuk terlihat paling tahu, paling kritis, dan paling unggul dalam percakapan apa pun. Sok tahu, kalau boleh jujur.

"Halah, kuburan sepetak doang bangga," celetuk Siti dengan nada suara yang sengaja dinaikkan setengah oktaf. Ia meletakkan kerupuknya kembali ke dalam plastik, lalu menatapku dengan senyum remeh yang sangat khas.

"Iya lah, tetep aja itu kuburan, Sit. Malam-malam gelap," belaku tak mau kalah.

"Lho, gak bisa gitu!" Siti memotong cepat, tangannya bergerak-gerak di udara seolah sedang memberikan presentasi penting. "Seraman rumah Lia lah dibanding rumahmu! Rumah Lia itu gedenya minta ampun. Rumah gede tua kayak begitu tuh tempat kumpulnya yang 'begituan'. Lorongnya panjang, kamarnya banyak yang kosong. Makin besar rumah, makin banyak sudut gelapnya. Rumahmu kan kecil, kuburannya cuma sepetak. Cuma kelihatan dari jendela. Kalau rumah Lia? Mau lari ke mana coba kalau ada apa-apa di dalam rumah?"

Aku melotot mendengar pernyataan Siti. Dadaku seketika terasa panas. Bukan karena aku ingin rumahku dipuji seram, tapi karena cara Siti menyampaikannya yang terkesan sangat sok mendikte dan berusaha membelokkan perhatian. Yang membuatku makin sebal, Lia sendiri—orang yang rumahnya sedang dijajakan keseramannya oleh Siti—sama sekali tidak minta dibela atau dipuji.

Aku melirik Lia. Anak itu justru terlihat makin tidak peduli. Lia malah asyik memperhatikan seekor kucing oranye yang berjalan santai di bawah meja kantin. Wajah Lia benar-benar menunjukkan bahwa dia tidak tertarik sedikit pun dengan perdebatan konyol soal rumah siapa yang paling berhantu. Lia tidak butuh validasi dari Siti, dan tidak berniat membuat rumahnya terdengar seperti setting film horor.

Tapi Siti tidak berhenti di situ. Melihat respons kami yang agak tertahan, ia makin menjadi-jadi.

"Beneran, deh! Kamu gak tahu aja," lanjut Siti dengan wawasan yang seolah-olah paling sahih di muka bumi. "Rumah besar itu energi negatifnya lebih gampang mengendap. Apalagi kalau ceiling-nya tinggi terus ada pohon beringin kecil di depan kayak rumah Lia. Wah, fix sih, itu mah tingkat keseramannya jauh di atas kuburan sepetakmu."

Aku menghela napas panjang, berusaha menahan diri agar tidak memutar bola mata di depannya. Dalam hati aku menggerutu, Padahal yang punya rumah aja biasa aja, kenapa malah si Siti yang sibuk banget nge-dramatisir? Kenapa sih harus selalu ada orang yang merasa paling paham situasi orang lain?

Aku menatap Siti dengan pandangan datar. "Lia aja gak bilang rumahnya seram, Sit. Kok kamu yang malah heboh?"

Siti tersenyum tipis, jenis senyuman yang membuat rasa sebal di dadaku naik sampai ke leher. "Ya kan Lia mah udah terbiasa, jadi gak kerasa. Tapi secara teori dan kenyataan, ya jelas seraman rumah Lia. Iya kan, Li?" Siti memalingkan wajahnya ke arah Lia, meminta dukungan agar argumennya makin kuat.

Lia yang mendadak dipanggil hanya menoleh pelan dari kucing di bawah meja. Ia mengedipkan mata dua kali, tampak bingung dengan ketegangan kecil yang mendadak tercipta di antara aku dan Siti.

"Eh? Kenapa?" tanya Lia polos. "Rumahku? Nggak ah, biasa aja. Cuma capek aja kalau nyapu halaman depan, luas banget."

Jawaban singkat dari Lia itu seketika memotong kalimat-kalimat sok tahu yang sudah bersiap keluar dari mulut Siti. Ada hening sejenak yang terasa sangat memuaskan di telingaku.

Siti tampak agak tersentak, wajahnya sedikit berubah karena pahlawan yang ingin ia bela justru menepis tuduhan itu dengan cara paling santai yang pernah ada.

Aku menahan tawa kemenangan yang hampir saja meledak di wajahku. Aku sengaja meminum kembali es tehku, membiarkan Siti merasa canggung sendiri dengan analisis mistisnya yang baru saja mentah begitu saja.

Siti berdeham pelan, mencoba menyelamatkan mukanya. "Ya... ya maksudku kan kalau dibandingin sama kuburan sepetak. Tapi ya terserah deh kalau menurut kalian gitu." Ia kemudian kembali meraih kerupuknya dan mengunyahnya cepat-cepat, pura-pura sibuk memperhatikan anak-anak tim basket yang baru selesai latihan di lapangan.

Percakapan sore itu akhirnya menguap begitu saja, tergantikan oleh suara bel sekolah yang menandakan jam ekstrakulikuler telah usai. Kami bertiga berbenah, membereskan tas kusam kami masing-masing, dan berjalan berdampingan menuju gerbang depan.

Meskipun kejadian itu terasa sepele—hanya perdebatan anak SMP di meja kantin tentang kuburan sepetak dan rumah besar—perasaan sebal pada Siti sore itu menempel cukup lama di kepalaku. Bukan karena aku benci padanya sebagai manusia, melainkan karena rasa sebal pada satu sifat sok tahunya yang selalu ingin mengatur narasi cerita orang lain.

Di sepanjang jalan pulang, sambil berjalan menyusuri trotoar menuju rumahku yang berada tepat di samping makam sepetak itu, aku tersenyum tipis. Ternyata, hal yang paling membuat merinding di masa SMP bukanlah kuburan tua atau sudut rumah yang besar dan gelap, melainkan tingkah teman sendiri yang merasa paling tahu segalanya.

1
Araara
seru abis
Araara
semangat ya kakak jangan pantang menyerahnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!