NovelToon NovelToon
Tale Of Mumei

Tale Of Mumei

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kutukan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Liang Hou

Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. Tembok Kelaparan

SRAK!

Bilah rantai kusarigama meluncur membelah kegelapan malam Hakone, memotong dahan cedar raksasa hingga terbelah dua sebelum menghantam dada seorang pembunuh Suppa di samping Rokusuke. Pria itu bahkan tidak sempat melontarkan jeritan; darah segar menyembur dari rongga dadanya yang hancur, membasahi wajah Rokusuke dengan kehangatan amis yang memenjarakan napas.

"Jangan berhenti berlari!" jerit Rokusuke, suaranya parau seraya mengayunkan pedang lurusnya untuk memotong tali rantai besi yang melilit lengan bajunya.

Di celah tebing batu Hakone yang sempit dan curam, pertempuran puncak antara sisa-sisa unit Suppa milik Kuroda Kanbei dan para hantu malam klan Fuma telah mencapai derajat kekejaman yang paling mengerikan. Hujan gerimis yang mulai turun membuat bebatuan tebing menjadi sangat licin, mencampurkan air hujan dengan genangan darah hangat yang tak kunjung mengering.

Sosok jangkung Fuma Kotaro meluncur turun dari tebing batu setinggi delapan meter tanpa mengeluarkan bunyi benturan sedikit pun. Topeng kayu bermotif iblis gunung bersungut merah yang dikenakannya tampak bagaikan monster nyata di tengah tebalnya kabut keperakan. Tangannya yang dibalut sarung besi berduri menyambar leher prajurit Suppa terakhir di sebelah Rokusuke.

KREK!

Dengan sekali putaran jemari Fuma Kotaro, leher prajurit itu terkoyak hingga urat nadinya terputus total. Darah menyembur deras mengolesi kulit pucat sang pemimpin klan Fuma.

Kini, hanya Rokusuke seorang diri yang tersisa dari unit penyusup Kanbei.

"Tikus tanah dari Kansai..." suara Kotaro bergema rendah dari balik topeng kayunya, melangkah mendekati Rokusuke yang terdesak ke sudut tebing mati. "Kau sudah berlari cukup jauh. Namun di pegunungan ini, tidak ada mangsa yang bisa lolos dari cengkeraman bayangan Fuma."

Rokusuke menggeram liar. Luka-luka lama di tubuhnya yang belum pulih akibat cakar Karasu Tengu di Kurama kini kembali terbuka, mengalirkan darah yang menyengat dingin disapu gerimis malam. Namun, rasa takut Rokusuke telah hilang, digantikan oleh kenekatan orang yang menyadari bahwa jalan pulangnya telah ditutup rapat oleh takdir.

"Aku tidak akan mati tanpa membawa lehermu, Iblis Hakone!" jerit Rokusuke hysteris.

Dengan sisa kekuatan di dadanya, Rokusuke menerjang maju. Ia tidak lagi peduli pada pertahanan diri; pedang lurusnya mengayun dalam tebasan melingkar yang liar menuju leher Kotaro.

Kotaro tidak bergerak mundur satu inci pun. Ketika bilah besi Rokusuke tinggal tiga jari dari topeng kayunya, Kotaro mengangkat tangan kanannya. Sarung besi berduri yang melilit lengannya menjepit bilah pedang Rokusuke dengan kepresisian yang mengerikan.

KLANG!

Bilah besi lurus itu patah terbelah dua.

Sebelum Rokusuke sempat memproses rasa syoknya, cakar besi Fuma Kotaro telah meluncur ke depan, menembus tepat di tengah dada Rokusuke. Kuku-kuku besi tajam itu mengoyak baju zirah kulitnya, meremukkan tulang rusuk, dan merobek paru-parunya dalam satu dorongan yang bertenaga raksasa.

"Ugh... hah..." Rokusuke memuntahkan gumpalan darah hitam ke atas topeng kayu Kotaro. Matanya mendelik lebar, menatap mata kuning keemasan sang penjaga Hakone yang tak memancarkan rasa iba sedikit pun.

"Sampaikan pada Kuroda Kanbei di neraka..." bisik Kotaro tepat di telinga Rokusuke yang mulai membeku, "...bahwa jalan menuju Odawara dipenuhi oleh mayat orang-orang yang meremehkan klan Fuma."

Kotaro menarik kembali tangannya dengan sentakan cepat. Tubuh Rokusuke roboh ke atas tanah berlumpur, terkulai kaku di antara genangan air hujan dan darah kawan-kawannya. Jalur informasi rahasia klan Hojo di Pegunungan Hakone telah dipertahankan oleh klan Fuma dengan harga darah yang sempurna—namun kemenangan berdarah di dalam hutan ini sama sekali tak sanggup menghentikan kepungan maut yang sedang merayap di dalam tembok Odawara.

***

Sementara darah Rokusuke mengering di Pegunungan Hakone, di dalam dinding batu Benteng Odawara, keputusasaan yang jauh lebih kelam sedang melahap jiwa puluhan ribu prajurit klan Hojo.

Di dapur-dapur militer dan barak pertahanan, suasana terasa bagaikan perkuburan massal. Bau harum nasi hangat yang biasa menguatkan moral para prajurit kini telah lenyap total, digantikan oleh aroma tanah basah dan asap kayu bakar dari rebusan akar-akar tanaman liar yang pahit.

"Hanya ini?"

Seorang samurai veteran klan Hojo menatap mangkuk kayunya dengan mata cekung yang memancarkan kekecewaan mendalam. Di dalam mangkuk itu, hanya ada kuah bening air garam dengan tiga lembar daun pakis rebus dan beberapa butir beras kusam yang mengapung menyedihkan.

"Bersyukurlah kau masih menerima kuah garam malam ini, Sanzo," sahut juru masak perkemahan dengan suara parau dan lemas. Wajah sang juru masak tirus, bibirnya pecah-pecah akibat kekurangan nutrisi. "Gudang beras di sektor tengah sudah ditutup rapat atas perintah Tuan Ujimasa. Pasokan dari laut diputus total oleh kapal-kapal perang klan Kuki, dan jalan utara telah dikunci oleh klan Sanada dan klan Date. Jika kita tidak menghemat pasokan ini, minggu depan kita hanya akan minum air lumpur."

Sanzo mencengkeram mangkuk kayunya erat-erat hingga buku jemarinya memutih. Di sekelilingnya, ratusan prajurit Hojo duduk bersandar pada dinding batu. Baju zirah mereka yang tadinya megah kini longgar di tubuh yang makin kurus. Pemandangan prajurit yang pingsan akibat kelaparan di tengah tugas jaga menjadi hal yang biasa di setiap sudut lorong benteng.

Krisis tidak hanya melanda perut mereka, tetapi juga persenjataan.

Di gudang amunisi gerbang dalam, para perwira Hojo sedang memeriksa peti-peti kayu yang hampir kosong.

"Bubuk mesiu kita hanya tersisa lima peti," laporkan seorang perwira amunisi kepada Hojo Ujifusa dengan suara gemetar. "Anak panah di menara selatan sudah habis sejak kemarin sore. Para prajurit terpaksa mencabut kembali anak panah milik musuh yang menancap di dinding kayu untuk ditembakkan ulang!"

Hojo Ujifusa memejamkan matanya rapat-rapat, meraba gagang katananya yang dingin. "Bagaimana dengan sisa senapan tanegashima kita?"

"Tidak ada guna memiliki senapan jika tidak ada peluru timah dan mesiu untuk menyulutnya, Tuan!" jawab sang perwira frustrasi. "Kuroda Kanbei sengaja membiarkan kita memuntahkan seluruh amunisi kita saat serangan malam klan Sanada dua hari lalu. Dia membakar amunisi kita tanpa perlu melompati tembok!"

Taktik kepungan tanpa pertumpahan darah raksasa yang dirancang Kuroda Kanbei bekerja dengan efisiensi yang kejam. Kanbei tidak perlu membuang puluhan ribu nyawa prajurit Toyotomi untuk memanjat tembok Odawara. Dengan memblokir total pasokan makanan dari laut dan darat, serta memancing Hojo membuang amunisinya dalam pertempuran-pertempuran kecil di batas luar, Kanbei sedang membunuh klan Hojo dari dalam menggunakan kelaparan dan frustrasi yang perlahan-lahan menggerogoti kehendak untuk bertarung.

Di Aula Utama Honmaru, Hojo Ujimasa duduk di hadapan cangkir tehnya yang sudah dingin. Di sekelilingnya, para jenderal klan Hojo saling menundukkan kepala dalam keheningan yang menindas. Tidak ada lagi perdebatan sengit mengenai taktik gempuran balasan; yang tersisa hanyalah bayang-bayang kekalahan yang kian nyata.

"Tuan Ujimasa..." panggil seorang jenderal tua dengan suara bergetar. "Para prajurit di dinding luar... beberapa di antara mereka mulai memakan kulit dari perisai dan sabuk zirah mereka sendiri. Kita tidak bisa bertahan satu bulan lagi..."

Ujimasa menatap lilin yang berkedip ditiup angin malam. Kepalan tangannya di atas tatami bergetar hebat. Kebanggaan lima generasi klan Hojo yang mendominasi wilayah Kanto kini berada di ambang keruntuhan—bukan karena kehebatan pedang musuh, melainkan karena perangkap kelaparan tak bertepi yang dipasang secara dingin oleh Kuroda Kanbei di atas Gunung Ishigaki.

Dan di luar sana, di atas Gunung Ishigaki yang tertutup rapat oleh kerapatan hutan cedar, ribuan gergaji dan kapak para buruh Toyotomi sedang bersiap untuk melancarkan pukulan psikologis terakhir yang akan meruntuhkan sisa-sisa mental pertahanan klan Hojo selamanya.

1
Xiao Qiao
ngakak tengil bnget nih bocah wkwk🤣
Liang Hou: sesuai sifat aslinya kak 😭😭
total 1 replies
Xiao Qiao
bentar banget thor pertarungannya
Liang Hou: masih agak bingung bikin pertarungan panjang lawan Yokai 🙏
total 1 replies
Xiao Qiao
hmm lumayanlah untuk fiksi sejarah, tapi politiknya terlalu kental jadi agak susah dicerna
Liang Hou: thanks udah baca
total 1 replies
Liang Hou
🤏
penajalanan_
gak jelas banget authornya arc 1 gini doang
penajalanan_
kurang menarik
penajalanan_
bertele-tele sampah
penajalanan_
campur aduk, ini cerita sejarah apa fantasi sih. Sejak kapan tengu ikut perang, lagian mana ada tengu di desa tengu itu tinggal di gunung
penajalanan_
sotoi, Takenaka Hanbei aja udah meninggal tahun 1579 masa ketemu sama Hanbei saat menuju Yamazaki emangnya bisa hidup lagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!