Alea hidup dalam realitas kemiskinan mulai dari tagihan listrik dan kontrakan yang menunggak memaksanya berjuang keras banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendri.
Di sisi lain, Arka Adiwangsa hidup dalam kemewahan namun dibayangi darah, pengkhianatan, dan rahasia gelap keluarganya.
Hingga pertemuan tak terduga di tepi jembatan malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Dua dunia yang bertolak belakang pun berbenturan: Alea perlahan terseret ke dalam pusaran bahaya dunia mafia, sementara logika absurd gadis itu tanpa sadar menundukkan sisi gelap di dalam diri Arka.
Ketika nyawa dan uang receh dipertaruhkan di meja yang sama, akankah sang pewaris takhta akhirnya luluh dan menaklukkan hati Alea? Atau justru mereka harus kembali melangkah di jalan masing-masing?
Kisah mereka lebih dari sekadar pertemuan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan. Penasaran? Langsung baca saja ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Langkah Alea yang tadinya tegap penuh percaya diri mendadak tersandung angin. Wajahnya yang kebal terhadap segala jenis hinaan maupun preman berotot, kini mendadak terasa hangat hanya karena bisikan serak dengan volume nyaris tak terdengar.
Ia segera menarik tangannya dari genggaman Arka dengan kasar, lalu buru-buru merogoh ponsel dengan layar retak dari saku roknya. Jari-jarinya mengetik kalkulator dengan kecepatan brutal.
"Satu menit lima puluh ribu, dikali enam puluh menit, dikali dua puluh empat jam..." gumam Alea dengan napas sedikit memburu, berusaha menutupi salah tingkahnya dengan kalkulasi finansial. Ia menodongkan layar ponselnya ke depan wajah Arka.
"Paket unlimited 24 jam itu jatuhnya tujuh puluh dua juta, Bos! Lo pikir gue provider kuota internet yang bisa lo subscribe seenak jidat?! Lagian kalau tangan gue dipegang seharian, gue nyapu apartemen lo pakai apa? Pakai kaki?!"
Arka tidak tertawa, namun pendar geli di mata kelamnya terlihat begitu jelas. Ia memasukkan sebelah tangannya ke saku celana, berjalan santai menyejajari langkah Alea.
"Potong aja dari duit seratus dua puluh juta yang ada di ransel lo," balas Arka santai.
Mendengar hartanya diungkit, Alea langsung memeluk ranselnya protektif ke depan dada layaknya ibu kanguru melindungi anaknya.
"Enak aja! Ini dana pensiun dini gue! Langkahin dulu mayat gue kalau lo mau motong saldo ini!"
Perdebatan absurd itu berlanjut hingga mereka tiba di depan kelas XII-IPS 2.
Begitu Arka melangkah masuk mengekor di belakang Alea, keheningan mencekam yang sudah menjadi standar operasional setiap kali Tuan Muda itu muncul, kembali terjadi.
Alea berjalan santai menuju mejanya di barisan paling belakang. Namun, ia menyadari sebuah kejanggalan. Budi, siswa berkacamata tebal yang sebelumnya duduk di sebelah Alea, sebelum Arka pindah sekolah, kini mematung dengan keringat dingin mengucur deras. Ia sama sekali belum pernah melihat Arka karena ia beberapa hari lalu gak masuk sekolah karena lagi sakit.
Arka berdiri tepat di sebelah meja Budi. Ia tidak membentak, tidak juga mengangkat kerah seragam siswa itu. Arka hanya menunduk, menatap Budi dengan sorot mata kosong dan gelap yang seolah bisa menembus langsung ke lapisan neraka ketujuh.
"P-pindah... i-iya, saya pindah sekarang," jawab Budi dengan suara bergetar.
Bocah malang itu meraup seluruh buku pelajarannya ke dalam satu pelukan, melangkah cepat mencari meja kosong lainnya.
Arka menarik kursi Budi yang kini kosong, lalu duduk dengan tenang di sebelah Alea. Ia menyandarkan punggungnya, melipat tangan di depan dada, dan menatap lurus ke papan tulis seolah ia adalah siswa paling teladan di sekolah itu.
Alea memutar bola matanya malas, menurunkan ranselnya dan hendak memasukkannya ke dalam laci meja.
Namun, gerakan tangannya terhenti.
Di dalam lacinya yang biasanya hanya berisi remahan keripik atau bungkus permen sisa kemarin, kini tergeletak sebuah amplop hitam pekat. Kertas amplop itu tebal, bertekstur matte premium, dan disegel dengan lilin merah berlogo huruf 'A' yang tercetak elegan.
"Surat apaan, nih?" gumam Alea, menarik amplop itu keluar.
Di sebelahnya, tubuh Arka langsung menegang. Suhu di sekitar meja mereka anjlok drastis.
Mata obsidian Arka mengenali segel lilin itu. Itu adalah stempel resmi yang hanya digunakan oleh jaringan eksekutif keluarga Adiwangsa. Surat itu bukan surat peringatan biasa, melainkan 'Tanda Kematian' sebelum melenyapkan target yang dianggap sebagai penghalang.
Hartawan Adiwangsa tidak hanya memantau dari luar gerbang. Orang suruhannya bahkan berhasil menyusup ke dalam sekolah dan meletakkan surat itu di meja Alea.
"Jangan di sentuh," perintah Arka dengan nada tajam, tangannya melesat hendak merebut amplop tersebut.
Namun Alea yang memiliki kecepatan tangan setara pencopet pasar malam sudah lebih dulu merobek ujung amplop itu. Ia menarik isinya keluar.
Selembar foto dan secarik kertas berukir jatuh ke atas meja.
Arka menahan napas. Matanya menatap foto tersebut. Itu adalah foto Alea yang diambil secara sembunyi-sembunyi saat gadis itu sedang melayani pelanggan di kafe semalam. Di tengah kening foto Alea terdapat titik merah bundar, sebuah bidikan dari lensa sniper.
Itu adalah ancaman paling nyata.
Hawa membunuh meledak dari tubuh Arka. Kursi kayunya berderit pelan menahan ketegangan otot-ototnya. Ia siap membalikkan meja, mengunci sekolah ini, dan membantai siapa pun yang menyelundupkan surat itu.
Namun, di tengah atmosfer horor yang mencekik itu, terdengar lengkingan protes dari Alea.
"Wah, gak iya nih!" seru Alea nyaring, menggebrak mejanya hingga anak-anak sekelas terlompat kaget.
Arka menoleh dengan cepat, bersiap melihat kepanikan dan air mata ketakutan di wajah gadis itu.
Namun pada kenyataanya Alea sedang memungut foto berbidik sniper itu, menatapnya dengan raut wajah sangat tersinggung.
"Liat deh bos, hasil kameranya. Gue curiga nih fotografernya pasti amatiran?! Bisa-bisanya dia motret gue pas lagi mangap nahan bersin! Udah gitu cahayanya backlight lagi, muka gue keliatan kusam, terus bibir gue pucat parah, jir. Ah, tau ada pengemar rahasia gini gue sempetin dandan dulu tadi! Trus, nih apaan lagi kok ada titik merah di jidat gue?! Apa dia ngira gue orang India, ya?!"
Arka membeku. Semua rencana pembantaian berdarah di kepalanya mendadak error.
"Alea, itu bidikan—"
"Dan lo liat yang ini, bos!" potong Alea menggebu-gebu, membantingnya kertas di tangannya ke atas meja.
Sebuah cek kosong dari bank internasional, lengkap dengan tanda tangan asli Hartawan Adiwangsa. Sebuah pesan tersirat di sana. 'Tulis berapa pun harganya lalu pergi, atau mati'.
"Wah, parah banget nih orang tua, gak up to date berita apa ya?!" omel Alea, mengipasi wajahnya sendiri dengan cek kosong bernilai miliaran tersebut seolah itu brosur kredit panci.
"Masak Bokap lo ngasih cek kosong sih, Bos?! Sekarang cairin cek itu ribet, tau! Harus antre di bank, isi form kliring, nunggu verifikasi telepon, belum lagi potongan pajaknya! Kalau niat ngasih harusnya langsung minta QRIS gue aja, biar langsung masuk e-wallet gue?!"
Untuk sesaat, suasana di ruang kelas serasa berhenti berputar.
Arka, sang pangeran dunia bawah yang ditakuti oleh para pembunuh bayaran internasional, perlahan mengangkat tangannya. Ia meraup wajahnya dengan kasar, dan bahunya bergetar pelan.
Bukan karena marah melainkan menahan tawa yang begitu hebat hingga dadanya terasa sesak.
Keluarga Adiwangsa mengirimkan ancaman paling mengerikan dalam sejarah keluarga, namun gadis ini justru mempermasalahkan hasil foto dan metode transfer yang tidak support QRIS.
Arka menurunkan tangannya. Matanya kini menatap Alea dengan intensitas yang begitu gelap, berbahaya, namun dipenuhi oleh obsesi mutlak yang tak lagi bisa disembunyikan.
"Alea," panggil Arka, suaranya sangat tenang, nyaris seperti bisikan mematikan. Ia mengambil cek kosong itu dari tangan Alea, lalu merobeknya menjadi dua bagian di depan mata gadis itu.
"Heehh!! Dana masa tua gue!" pekik Alea panik melihat potensi kekayaannya disobek begitu aja.
"Ayo, ikut gue," ucap Arka, mengabaikan jeritan kehilangan Alea. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mengurung Alea di sudut mejanya sesaat sebelum perlahan menarik lengan Alea untuk mengikuti langkahnya. Alexa dengan cepat menyambar tas ranselnya.
"Tunggu, jir! Lo mau bawa gue kemana, sih?!"
Bersambung...
udh lah jngan suka mancing2 Alea yg bar2 ini, bisa kena bogem loh buru**nya nnt 😂😂😂