Sebuah kisah nyata tentang kehidupan seorang gadis cantik berhati lembut yang dipenuhi dengan beragam kebohongan yang ia buat hanya karena ia takut dengan apa yang akan ia hadapi,
Hingga akhirnya berujung dengan pernikahan yang membuatnya harus mengubur dalam dalam rasa penyesalannya karena harus berusaha untuk mencintai hal yang dicintai oleh suaminya, termasuk agama dan keyakinan pria yang menjadi pemuja hatinya itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Pecahan Kaca, Sumpah di Atas Sajadah, dan Pengakuan yang Berdarah
Keheningan rumah sakit swasta di kawasan Jakarta Selatan terasa mencekam dan dingin, amat bertolak belakang dengan gemuruh badai yang masih bersahutan di luar sana. Bau antiseptik menyengat menyapa indra penciuman Naya saat ia perlahan membuka kelopak matanya yang terasa amat berat. Jarum infus menancap lunak di punggung tangannya, sementara lehernya dilapisi perban putih tebal—menutup bekas sayatan pisau Rian yang sempat merobek kulit halusnya.
Di samping pembaringan, Gavin duduk dalam posisi membongkok, menangkupkan kedua tangannya di tepi ranjang. Pria itu belum mengganti kemeja putihnya yang kuyup dan bernoda bercak lumpur serta darah kering di bagian lengan. Buku-buku jari Gavin yang lebam membiru tampak bergetar pelan. Wajahnya yang memancarkan kelesuan luar biasa mendadak terangkat begitu mendengar lenguhan tipis dari bibir Naya.
"Naya..." suara Gavin pecah, parau oleh keputusasaan dan kelelahan yang memuncak. Ia menyambar jemari Naya, mengecupnya bertubi-tubi dengan bibir yang gemetar. "Alhamdulillah... Ya Allah, terima kasih... Kamu sudah sadar, Sayang. Ada yang sakit? Katakan padaku, bagian mana yang sakit?"
Naya menatap wajah suaminya. Pria gagah, tampan, dan terpandang yang selalu dipuja banyak orang itu kini tampak runtuh di hadapannya. Kilatan obsesi liar di Dermaga Muara Baru beberapa jam lalu telah menghilang, berganti dengan sorot mata seorang pria yang memohon ampunan dan ketakutan kehilangan. Air mata Naya menetes pelan, menyerap masuk ke sela perban di lehernya.
"Gavin..." bisik Naya lirih. Suaranya serak akibat trauma dan dahaga. "Kenapa kamu tidak melepaskanku saja tadi...? Kenapa harus mempertaruhkan nyawamu untuk wanita penuh kebohongan sepertiku?"
Gavin membeku. Tatapan matanya yang kelam mengeras pelan, lalu berubah menjadi sorot kepedihan yang amat dalam. Ia menegakkan tubuhnya, menangkup lembut pipi Naya yang pucat dengan kedua tangannya yang masih memar.
"Jangan pernah... jangan pernah katakan itu lagi, Naya," potong Gavin dengan nada rendah yang bergetar. "Aku tidak peduli rahasia apa yang kamu sembunyikan. Aku tidak peduli sejauh mana kamu membohongiku di masa lalu. Kamu adalah nafasku, Naya. Kamu adalah takdir yang aku minta pada Allah di setiap sujud sepertiga malamku. Jika dunia menghujatmu karena kebohonganmu, maka aku yang akan berdiri paling depan untuk menjadi perisaimu."
Mendengar penuturan itu, tangis Naya pecah. Hatinya seperti diiris tipis-tipis. Bagaimana mungkin seorang pria mencintainya sejauh ini? Cinta Gavin bukan sekadar kasih sayang biasa, melainkan obsesi yang begitu suci sekaligus membakar—sebuah rasa yang membuat Gavin rela menjelma menjadi iblis pelindung demi menjaga Naya tetap berada di sisinya.
Namun, kehangatan di ruang perawatan itu hancur berkeping-keping ketika pintu kamar mendadak terdorong kasar hingga menghantam dinding.
BRAKKK!
Eleanor Ardiansyah berdiri di ambang pintu dengan anggun namun memancarkan aura permusuhan yang amat dingin. Di belakangnya, dua orang pengacara keluarga Ardiansyah berdiri membawa stopmap tebal berwarna cokelat tua. Wajah Eleanor yang biasanya lembut kini mengeras bagaikan batu pualam, matanya menyipit penuh keandilusan saat menatap Naya yang terbaring lemah.
"Cukup drama menjijikkan ini, Gavin!" suara Eleanor menggelegar, memotong keheningan ruangan. Langkah kakinya yang beralaskan sepatu hak tinggi mengetuk lantai marmer dengan irama yang menakutkan. "Ibu tidak akan biarkan kamu terus-menerus dibodohi oleh wanita penipu ini!"
Gavin seketika bangkit berdiri. Tubuh tingginya berdiri pasang badan memagari Naya dari pandangan ibunya. Arah matanya menajam tajam, dingin dan penuh ketegangan. "Ibu! Ini rumah sakit, dan Naya baru saja selamat dari bahaya! Bisakah Ibu menahan emosi Ibu untuk tidak membuat kekacauan di sini?!"
"Kekacauan?!" Eleanor tertawa sumbang, sebuah tawa kejam yang sarat akan rasa jijik. "Kekacauan ini diciptakan oleh wanita yang kamu puja-puja ini, Gavin! Kamu hampir membunuh orang malam ini! Nama baik Ardiansyah Group terancam hancur hanya karena seorang wanita penyusup yang datang ke keluarga kita dengan identitas palsu!"
Eleanor mengibaskan tangannya, memberi isyarat pada pengacaranya. Pengacara itu maju dua langkah dan melemparkan berkas tebal di stopmap cokelat ke atas meja di samping ranjang Naya. Lembaran-lembaran kertas berhamburan, menampilkan dokumen-dokumen usang, foto-foto masa lalu, serta salinan identitas hukum yang selama ini disembunyikan Naya rapat-rapat.
"Lihat sendiri, Gavin! Lihat siapa wanita yang kamu nikahi selama tiga tahun ini!" seru Eleanor seraya menunjuk berkas-berkas itu dengan jari gemetar penuh kemarahan. "Dia bukan 'Naya Sastroamidjojo', putri pengusaha terpandang dari Yogyakarta yang lugu dan berpendidikan tinggi! Dia hanyalah Anindya Naya, anak dari seorang terpidana kasus penipuan besar dan penggelapan dana nasabah yang melarikan diri!"
Kata-kata Eleanor bagaikan petir yang menyambar tepat di dada Naya. Naya menutup matanya rapat-rapat, terisak dalam bisikan tak berdaya. Tubuhnya berguncang hebat di atas ranjang. Topeng yang ia jaga dengan taruhan nyawa selama tiga tahun ini akhirnya terkelupas habis tanpa tersisa.
Eleanor melangkah mendekat, tak peduli pada tatapan membunuh dari putranya. "Dia memalsukan dokumen kelahirannya! Dia merancang latar belakang keluarganya untuk mendekatimu, Gavin! Dan yang lebih parah..." Eleanor menggantung kalimatnya, menatap Naya dengan rasa benci yang meluap. "...sebelum menikah denganmu, dia adalah tunangan Rian! Wanita ini terlibat dalam jaringan cinta terlarang dan pengkhianatan bisnis antara Rian dan perusahaanmu di masa lalu! Dia datang kepadamu bukan karena cinta, tapi untuk menyelamatkan dirinya dari kejaran trauma dan kemiskinan!"
"CUKUP!" raung Gavin. Suara baritonnya menggelegar hingga memantul di dinding kamar rumah sakit. Gavin melangkah maju, mencengkeram berkas-berkas di atas meja lalu merobeknya menjadi serpihan-serpihan kecil di udara. "Cukup, Ibu! Jangan ucapkan satu kata pun lagi tentang istriku!"
Eleanor terbelalak melihat tindakan nekat putranya. "Gavin! Kamu sudah gila?! Wanita ini membohongimu dari A sampai Z! Dia memalsukan seluruh hidupnya hanya untuk menjadi menantu keluarga Ardiansyah! Bahkan agamanya..." Eleanor menunjuk Naya yang kini bersimpuh tangis di ranjang. "...keyakinan yang selama ini dia tunjukkan di depanmu hanyalah kepura-puraan demi memikat hatimu yang taat! Dia tidak pernah benar-benar mencintai agamamu, Gavin! Dia hanya memanfaatkan kesalehanmu untuk menutupi masa lalunya yang kelam!"
Suasana ruangan seketika menjadi hening yang mencekam. Tudingan terakhir Eleanor mengenai "keyakinan" terasa amat menusuk, sebab itulah titik paling rentan dalam hubungan mereka.
Naya merangkak pelan di atas ranjang, memegang dadanya yang terasa sesak luar biasa. Rasa bersalah yang teramat berat, rasa malu, dan penyesalan mendalam meledak dalam dadanya menjadi air mata yang tak terbendung.
"Maafkan aku..." tangis Naya pecah, suaranya melengking pilu memenuhi ruangan. "Maafkan aku, Ibu... Maafkan aku, Gavin... Ya, memang benar! Semua yang Ibu katakan itu benar!"
Gavin menoleh cepat, matanya membelalak menatap Naya dengan kilatan luka yang teramat dalam.
"Aku bukan putri pengusaha... Aku hanya anak seorang penipu yang ditinggalkan dalam kemiskinan dan ketakutan..." ujar Naya dengan napas tersengal-sengal, air matanya membasahi perban di lehernya. "Aku takut... Aku sangat takut dunia akan menghakimiku atas dosa-dosa ayahku! Aku membuat nama palsu, aku merakit masa lalu baru, hanya agar aku bisa hidup tenang tanpa dipandang sebagai anak seorang penjahat!"
Naya menatap Gavin, memohon dengan tatapan yang hancur berkeping-keping. "Dan saat pertama kali aku bertemu denganmu, Gavin... aku memang berpura-pura. Aku berpura-pura menjadi wanita ideal yang anggun, berpura-pura memahami agama yang kamu agungkan, hanya agar kamu mau melihatku... hanya agar aku punya tempat berlindung dari kejaran Rian dan bayang-bayang masa laluku..."
Eleanor tersenyum sinis. "Dengar itu, Gavin? Dia sendiri yang mengakuinya! Dialah penipu yang sesungguhnya!"
Namun, Naya menggelengkan kepalanya keras-keras. Ia mencengkeram seprei ranjangnya dengan jemari bergetar. "Tapi tidak untuk cintaku padamu, Gavin! Tidak untuk rasaku sekarang!" teriak Naya dengan kejujuran murni yang terbit dari lubuk hatinya yang paling dalam. "Awalnya aku berpura-pura... Tapi setiap kali aku melihatmu bersujud di sepertiga malam, setiap kali kamu memegang tanganku dan mengajariku membaca ayat-ayat suci dengan ketulusan yang luar biasa... hatiku runtuh! Aku sadar betapa kotornya diriku di samping pria sesuci kamu!"
Naya terisak hebat, dadanya naik turun dengan liar. "Aku mengubur rasa penyesalanku dalam-dalam... Aku belajar mencintai apa yang kamu cintai... Aku belajar mencintai Allah, belajar mencintai shalat, belajar mencintai setiap huruf Al-Qur'an yang kamu ajarkan, bukan lagi untuk memikatmu... tapi karena aku ingin memantaskan diriku menjadi muhrimmu di syurga! Aku ingin mengubah takdirku yang kelam bersama pria yang menjadi pemuja hatiku!"
Setiap kata yang keluar dari bibir Naya terucap dengan air mata pernikahan yang begitu mengharukan. Kejujuran yang terucap dari jiwa yang terdesak itu mampu meluluhkan kebekuan udara di ruangan tersebut. Pengacara Eleanor bahkan tertunduk, tak sanggup menyaksikan keharuan emosional dari seorang wanita muslimah yang sedang menguliti dosa-dosanya sendiri di hadapan sang suami.
Eleanor memalingkan wajahnya, menyilangkan dada dengan keangkuhan yang tersisa. "Cerita sentimental tidak akan mengubah fakta hukum dan penipuan identitasmu, Naya. Pagi ini juga, aku sudah meminta tim hukum untuk menyiapkan draf perceraian kalian. Keluarga Ardiansyah tidak menerima penipu!"
"Tarik kembali kata-katamu, Ibu," suara Gavin terdengar begitu dingin, datar, namun memancarkan bahaya yang amat mematikan.
Gavin melangkah mendatangi ibunya. Pria itu berdiri tegak, memandang ibu kandungnya tanpa keraguan sedikit pun. "Jika Ibu memaksa aku untuk memilih antara warisan keluarga Ardiansyah atau wanita ini... maka detik ini juga, aku lepaskan seluruh jabatanku di Ardiansyah Group, aku tinggalkan seluruh harta keluarga ini, dan aku akan pergi membawa istriku!"
"Gavin!" jerit Eleanor syok, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Kamu mau membuang ibumu dan hartamu demi wanita penipu ini?!"
"Dia bukan penipu! Dia adalah ISTRILU!" teriak Gavin, matanya merah menyala oleh ketegasan yang tak tergoyahkan. "Apapun masa lalunya, siapapun ayahnya, dan bagaimanapun cara dia datang ke hidupku... itu tidak mengubah fakta bahwa dia adalah wanita yang sudah disahkan atas namaku di hadapan Allah! Dosa kebohongannya di masa lalu adalah urusannya dengan Tuhan dan diriku. Dan aku... sudah memaafkannya sebelum dia sempat meminta maaf!"
Gavin berbalik, memunggungi Eleanor dan pengacaranya. "Kalian bisa keluar sekarang. Dan jangan pernah injakkan kaki di sini lagi jika hanya untuk memisahkan aku dari istriku. Karena tidak ada seorang pun di dunia ini—termasuk Ibu—yang bisa merebut Naya dariku."
Eleanor terpaku. Wajahnya pucat pasi melihat ketetapan hati putranya yang sudah dibutakan oleh obsesi dan cinta yang begitu mengakar. Dengan napas memburu dan rasa marah yang tertahan, Eleanor menghentakkan kakinya keras-keras lalu melangkah keluar dari kamar perawatan, diikuti oleh kedua pengacaranya. Pintu tertutup rapat kembali, menyisakan keheningan yang tebal di antara Gavin dan Naya.
Ruangan itu mendadak sunyi. Gavin memejamkan matanya rapat-rapat, meraup wajahnya dengan kedua tangan yang gemetaran. Bahu pria tegar itu perlahan terguncang pelan—ia menangis dalam diam, menahan beban emosional yang teramat berat setelah menentang ibu kandungnya sendiri.
Naya melepaskan selang infusnya secara paksa, tak peduli pada rasa sakit dan tetesan darah yang keluar dari punggung tangannya. Ia turun dari ranjang dengan langkah sempoyongan, mendekati Gavin yang berdiri memunggunginya.
Dengan sisa kekuatan yang ada, Naya memeluk pinggang Gavin dari belakang. Ia menyandarkan posisinya yang lemas di punggung lebar suaminya.
"Gavin... kenapa kamu lakukan ini?" bisik Naya di antara isolasi tangisnya yang tertahan. "Kamu membuang segalanya demi aku... Aku tidak pantas mendapatkannya, Gavin... Aku terlalu kotor untuk pria sebaik kamu..."
Gavin berbalik dengan cepat. Ia merengkuh tubuh Naya ke dalam pelukannya yang teramat erat. Gavin menangkup wajah Naya, menciumi seluruh permukaan wajah istrinya yang basah oleh air mata—dahi, pipi, hingga bibirnya yang pucat—dengan kecupan yang penuh dengan rasa kehausan akan kasih sayang dan perlindungan.
"Jangan pernah katakan kamu tidak pantas, Naya..." bisik Gavin di atas bibir Naya, suaranya parau dan sarat akan pengorbanan. "Di mata manusia, kamu mungkin punya masa lalu yang cacat. Tapi di mataku, kamu adalah karunia terbaik yang dikirim Allah untuk menguji seberapa besar cintaku. Jika aku harus kehilangan harta dan kehormatanku di dunia hanya untuk bersamamu... maka aku akan menyambutnya dengan bersyukur."
Gavin menarik tangan Naya, membimbing wanita itu menuju sudut ruangan di mana sebuah sajadah bersih terbentang menghadap kiblat. Gavin merapikan pakaian perawatannya, lalu mengambil air wudhu sederhana menggunakan botol semprotan yang ada di kamar. Pria itu menyuruh Naya duduk di atas sajadah kecil di belakangnya.
"Kita sudah melewati badai manusia, Naya," kata Gavin lembut seraya membenarkan letak mukena yang dipakaikan ke kepala Naya. "Sekarang, mari kita adakan pengakuan ini di hadapan Pemilik Jiwa kita. Kita perbaiki yang rusak, kita ubah takdir kita malam ini."
Di atas sajadah yang dibasahi oleh air mata penyesalan dan cinta, Gavin memimpin shalat dua rakaat. Suara lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dikumandangkan Gavin terdengar begitu merdu, parau, dan syarat akan rasa haru yang menggetarkan dada. Naya yang berada di belakangnya bersujud begitu dalam. Di dalam sujudnya yang panjang, Naya menumpahkan seluruh air mata penyesalannya—bukan lagi karena takut akan rahasianya yang terbongkar, melainkan karena rasa syukur yang mendalam atas kesempatan kedua yang diberikan Tuhan melalui suaminya.
Kebohongan yang dulu ia bangun sebagai benteng perlindungan, kini telah runtuh sepenuhnya dan digantikan oleh benteng iman serta cinta hakiki. Naya menyadari, patah hati dan luka masa lalunya hanyalah jalan berliku yang sengaja ditakdirkan untuk membawanya pada kehidupan manis bersama pria yang mencintainya tanpa syarat.
Ketika salam terakhir diucapkan, Gavin berbalik menatap Naya. Pria itu mengulurkan tangannya yang memar. Naya menyambut tangan itu, mencium punggung tangan Gavin dengan penuh kepasrahan dan rasa hormat seorang istri muslimah.
Gavin meletakkan telapak tangan kanannya di atas kepala Naya, membacakan doa kebaikan untuk istrinya sebagaimana yang dilakukan Rasulullah. "Ya Allah... berkahilah pernikahan kami, ampuni dosa-dosa masa lalu kami, dan jadikanlah wanita ini sebagai pendampingku hingga ke syurga-Mu..."
Naya menengadahkan wajahnya, menatap mata suaminya yang purna. Di balik jendela rumah sakit, hujan badai perlahan-lahan mulai mereda, menyisakan titik-titik air yang tenang dan awan fajar yang mulai menyingsing di ufuk timur—menandakan lahirnya takdir baru bagi perjalanan cinta mereka.
Namun, di tempat lain, di dalam kegelapan sel tahanan kepolisian, Rian yang meringkuk dengan tubuh penuh luka memandangi dinding dengan tatapan dendam yang belum padam. Serta di kediaman Ardiansyah, Eleanor mulai menyusun rencana baru bersama kerabat keluarga besar untuk merebut kembali Gavin dari cengkeraman wanita yang mereka anggap sebagai ancaman.
Sanggupkah cinta Gavin dan keimanan Naya yang baru bersemi ini bertahan menghadapi gempuran konspirasi keluarga besar Ardiansyah yang siap menghancurkan rumah tangga mereka hingga ke akarnya? Atau akankah rahasia terakhir yang masih tersimpan rapat tentang kematian ayah Naya di masa lalu justru menjadi pemungkas yang memisahkan mereka selamanya?
#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, pantengin terus kelanjutan ceritanya yah, ada cerita aku yg lain yg ngga kalah seru juga loh, judulnya AKU TAK SALAH, dan TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA, ingat guys, subscribe, like, dan komen, share juga yah 🙏😭😘