Berawal dari niat Baik yang berujung pada jatuhnya ia dari lantai dua puluh Gedung Dingfeng.
Jiang Chen, seorang pemuda yang putus asa mencari pekerjaan, secara tidak sengaja mewarisi jutaan pengetahuan rahasia medis dan kekuatan kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Langit kota Jinghai perlahan berubah warna menjadi jingga kemerahan menyambut datangnya malam.
Lampu-lampu jalanan dan gedung pencakar langit mulai menyala satu per satu menghiasi pemandangan dari jendela lantai delapan.
Chu Mengqi berjalan menyusuri lorong apartemen dengan langkah kaki yang terasa jauh lebih ringan dari biasanya.
Gadis itu baru saja menyelesaikan semua jadwal kuliah siangnya dengan perasaan yang sangat tenang.
Tidak ada lagi teror pesan singkat atau kehadiran menyebalkan dari Zhao Tianyu yang selalu mengganggunya.
Tit tit tit. Cklek.
Mengqi menekan sandi pintu apartemennya dan melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang terang benderang.
Aroma sedap masakan rumahan langsung menyambut penciumannya begitu pintu terbuka.
Jiang Chen terlihat sedang duduk bersantai di sofa sambil memegang sebuah remot televisi.
Pemuda itu sudah mandi dan memakai kaus oblong bersih, terlihat jauh lebih manusiawi daripada tadi pagi.
"Kau sudah pulang, Nona Barbar? Mana uang jasa keamanan lima ratus Yuanku?" sapa Jiang Chen tanpa menoleh dari layar televisi.
Mengqi mendengus pelan sambil melepaskan sepatu ketsnya di dekat rak pintu masuk.
Anehnya, sapaan menyebalkan yang biasanya membuat darahnya mendidih itu kini terdengar seperti sapaan akrab seorang teman.
"Kau ini benar-benar tidak bisa memikirkan hal lain selain uang ya?" balas Mengqi sambil berjalan mendekati ruang tamu.
Gadis itu meletakkan sebuah kantong plastik putih di atas meja kaca tepat di depan Jiang Chen.
"Apa ini? Kau mau meracuniku pakai makanan sisa?" tanya Jiang Chen curiga sambil mengintip isi kantong tersebut.
"Itu bebek panggang dari restoran terbaik di dekat kampusku, harganya mahal tahu!" omel Mengqi berkacak pinggang.
"Anggap saja itu sebagai bayaran lunas untuk jasa keamananmu siang tadi, Tuan Pengawal."
Jiang Chen langsung tersenyum sangat lebar hingga deretan giginya terlihat jelas.
Dia segera membuka bungkus makanan itu dan menghirup aroma bebek panggang yang sangat menggoda selera.
"Wah, kau ternyata punya selera yang bagus juga dalam memilih makanan penyuap," puji Jiang Chen sambil langsung mencubit sepotong daging.
Nyam nyam.
Jiang Chen mengunyah daging bebek itu dengan rakus tanpa mempedulikan sopan santun sama sekali.
Mengqi hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan pemuda itu dan berjalan menuju garis batas selotip merah di lantai.
Dia berjongkok perlahan dan mulai mengelupas selotip merah yang tadi pagi dia tempel dengan penuh emosi itu.
Srek srek srek.
Suara selotip yang ditarik dari lantai keramik membuat Jiang Chen menghentikan kunyahannya sejenak.
"Hei, kenapa kau mencopot batas negara kekuasaanmu itu?" tanya Jiang Chen dengan mulut penuh makanan.
Mengqi tidak langsung menjawab, dia menggulung selotip merah itu dan membuangnya ke tempat sampah.
"Aku sudah memikirkannya baik-baik sepanjang jalan pulang tadi," ucap Mengqi sambil menatap lurus ke arah Jiang Chen.
"Karena kau sudah menyelamatkanku dari Zhao Tianyu, aku akan memberimu sedikit kelonggaran."
Gadis itu menyilangkan lengannya di depan dada dengan wajah yang berusaha dibuat seangkuh mungkin.
"Kau bebas menggunakan area dapur dan ruang tamu tanpa perlu membayar denda sepuluh Yuan lagi."
"Tapi dengan satu syarat mutlak, kau harus memasakkan sarapan untukku setiap pagi secara gratis!" tuntut Mengqi cepat.
Mendengar syarat itu, Jiang Chen hampir saja tersedak tulang bebek panggang di tenggorokannya.
Uhuk uhuk.
Pemuda itu memukul-mukul dadanya sendiri dan meminum air putih dari gelas di atas meja dengan tergesa-gesa.
"Hei Nona, kau baru saja menukar selotip seharga dua Yuan dengan jasa koki sekelas dewa setiap pagi?" protes Jiang Chen tidak terima.
"Otak bisnismu benar-benar licik seperti lintah darat, kau pasti mengambil jurusan ekonomi kan di kampus?"
Mengqi tersenyum sangat puas melihat reaksi protes dari pemuda yang selalu perhitungan itu.
"Aku mengambil jurusan manajemen bisnis, jadi wajar saja kalau aku pandai bernegosiasi," balas Mengqi bangga.
"Lagi pula, bahan makanannya kau beli pakai uangmu sendiri, jadi sekalian saja kau memasak untuk porsi dua orang."
"Kalau kau tidak mau, aku akan menempelkan selotip merah ini lagi dan mengunci pintu dapur setiap malam!" ancam gadis itu setengah bercanda.
Jiang Chen mendecakkan lidahnya dan kembali melanjutkan makan daging bebeknya dengan kesal.
"Baiklah, baiklah, dasar gadis kurang gizi yang tukang palak," gerutu Jiang Chen pelan.
"Tapi awas saja kalau kau berani mengkritik rasa masakanku besok pagi."
Mendengar persetujuan itu, senyuman di wajah Mengqi semakin mengembang lebar.
Perasaan tegang dan bermusuhan yang menyelimuti apartemen itu sejak pagi hari kini telah mencair sepenuhnya.
Mereka berdua akhirnya bisa berbicara layaknya dua orang manusia normal tanpa perlu saling berteriak atau melempar barang.
Mengqi berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat, meninggalkan Jiang Chen yang masih sibuk menghabiskan bebek panggangnya.
Malam itu berjalan dengan sangat tenang.
Jiang Chen menghabiskan waktunya bermeditasi di atas kasur, menyerap energi alam untuk memulihkan cadangan Qi di tubuhnya.
Sementara Chu Mengqi sibuk mengerjakan tugas kuliahnya di dalam kamar hingga larut malam.
Waktu terus berlalu hingga jarum jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari.
Suasana apartemen itu sangat gelap dan sunyi, hanya terdengar dengungan pelan dari mesin pendingin ruangan.
Jiang Chen perlahan membuka matanya dari meditasi panjang.
Dia merasa tenggorokannya sangat kering akibat terlalu banyak memakan daging bebek panggang yang berbumbu pekat tadi.
Pemuda itu bangkit dari kasurnya dan berjalan keluar kamar dengan langkah gontai dan mata setengah terpejam.
Jiang Chen berjalan menuju dapur dan menuangkan segelas penuh air putih dingin dari dalam kulkas.
Glek glek glek.
Air dingin itu membasahi tenggorokannya, memberikan sensasi segar yang sangat luar biasa di tengah malam.
Setelah dahaganya hilang, Jiang Chen kembali berjalan menyusuri lorong menuju kamarnya.
Otaknya yang masih berada dalam fase setengah sadar membuat insting navigasinya sedikit terganggu.