NovelToon NovelToon
Sistem Kasino Realitas

Sistem Kasino Realitas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Jarinya dipotong. Adiknya mati. Tabungannya dirampas.

Dibuang seperti bangkai oleh bos kasino tempatnya mengabdi selama lima tahun, mantan bandar bernama Sora membangkitkan satu-satunya senjata yang tersisa yakni sistem yang memanipulasi probabilitas kenyataan.

Pisau yang harusnya menancap di dada? 0,01% peluang kena. Brankas yang harusnya terkunci rapat? 99,99% terbuka. Sekarang, meja taruhan sudah terbalik. Dan rumah kasino yang selalu menang akan ia beli sendiri.


Peringatan Konten: Cerita ini mengandung kekerasan fisik ekstrem, adegan penyiksaan berdarah, tema kriminalitas (judi, pemerasan, pencucian uang), trauma psikologis gelap, serta bahasa kasar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Suara pintu ganda kayu jati di puncak tangga lantai tiga terbanting membuka dengan dentuman keras.

Langkah kaki terburu-buru yang menuruni tangga karpet merah seketika menarik perhatian seluruh pengunjung lantai dua. Di belakang pengawas lantai yang tampak tegang, sesosok pria paruh baya bertubuh tambun melangkah turun dengan hawa kemarahan yang dipaksakan tertutup senyum lebar.

Koko Jerry.

Kemeja sutra merah menyala bermotif naga emas membalut perutnya yang buncit. Di pergelangan tangan kirinya melingkar jam tangan emas bertabur berlian tiruan, dan di jari manis tangan kanannya terselip cincin giok Burma hijau tua berukuran sebesar telur puyuh. Asap kretek aromatik mengepul tebal dari pipa cangklong gading yang ia jepit di sela-sela gigi emasnya.

Di belakang punggung Jerry, dua orang pengawal bayaran bertubuh kekar berkaus hitam ketat mengikuti seperti sepasang anjing penjaga, tangan mereka menempel waspada pada sabuk kulit masing-masing.

“Ada keramaian apa ini di meja nomor tiga, hah?” seru Jerry dengan tawa ramah berminyak yang menggema di seluruh ruangan, logat medoknya sengaja dilontarkan keras untuk menenangkan para pejudi kaya di sekeliling meja. “Kalian main judi atau lagi bagi-bagi sembako murah, kok sampai teriak-teriak begini?”

Jerry melangkah mendekat ke meja kayu mahoni. Kerumunan para pengusaha berjas safari otomatis membuka jalan baginya dengan rasa hormat bercampur segan.

Namun di balik tawa ramahnya, sepasang mata sipit Jerry memancarkan sorot tajam. Matanya langsung mengunci tumpukan cip emas raksasa yang masih tersusun di atas kotak angka 24 Hitam, lalu meluncur ke arah sosok pemuda bertopi pet kanvas yang sedang duduk tenang di kursi sudut meja.

Jerry menyipitkan mata. Pemuda itu mengenakan kemeja katun abu-abu sederhana dan kacamata berbingkai kawat tembaga, kepalanya sedikit tertunduk menatap karpet beludru hijau sehingga bayangan tudung topi menutupi seluruh garis matanya. Dari sudut pandang Jerry, orang itu tampak seperti seorang akuntan rendahan yang kebetulan sedang dinaungi hoki gila-gilaan.

“Satu koma tujuh lima miliar,” bisik pengawas lantai berjas kelabu di samping telinga Jerry dengan suara bergetar. “Cadangan kas meja habis total, Ko. Tim audit Tuan Ronald di atas baru saja minta rekapitulasi buku kas jam sepuluh.”

Otot di sudut rahang Jerry berkedut sekali.

Satu koma tujuh lima miliar rupiah adalah pukulan telak yang mematikan. Jika ia mencairkan uang sebanyak itu malam ini di depan dewan pengawas Konsorsium Puri Naga, setoran wajib empat miliar yang harus ia serahkan kepada Tuan Ronald akan langsung defisit, dan lisensi ruko Tiga Naga akan melayang ke tangan Bos Tarigan sebelum fajar menyingsing.

Namun di hadapan puluhan pengusaha kaya yang sedang menonton dengan mata lapar, menolak membayar kemenangan pemain adalah bunuh diri reputasi yang jauh lebih berbahaya. Kasino bawah tanah berdiri di atas kepercayaan semu bahwa pemain memiliki peluang untuk menang. Sekali rumor beredar bahwa Jerry menahan uang pemenang, para cukong akan menarik seluruh simpanan mereka dalam hitungan jam.

Jerry mengembuskan kepulan asap kretek tebal ke udara, lalu menepuk pundak dealer mudanya yang sedang gemetar.

“Minggir lu,” bisik Jerry pelan ke telinga dealer itu. “Bikin malu kasino gua saja.”

Dealer muda berompi hitam itu buru-buru membungkuk dan mundur ke belakang, memberi jalan bagi sang pemilik kasino untuk mengambil alih posisi di belakang mangkuk rolet mahoni.

Jerry meletakkan pipa cangklong gadingnya ke asbak kristal di samping piringan rolet, lalu menggulung lengan kemeja sutra merahnya hingga ke batas siku. Cincin giok Burma di jemarinya membiaskan kilatan hijau zamrud di bawah lampu sorot halogen.

“Selamat malam, Saudara-saudara sekalian,” kata Jerry seraya menatap kerumunan para pejudi dengan senyum lebarnya yang licin. “Kasino Ruko Tiga Naga gak pernah pelit sama pemain yang lagi disayang dewi hoki. Kalau meja ini punya utang satu koma tujuh miliar sama teman muda kita ini, kasino bakal bayar sampai rupiah terakhir!”

Para pejudi di sekitar meja bersorak riuh mendengar kata-kata itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!