NovelToon NovelToon
Dulu Aku Pergi Untuk Mati Kini Aku Kembali Sebagai Penguasa

Dulu Aku Pergi Untuk Mati Kini Aku Kembali Sebagai Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Demi membeli sebuah kue ulang tahun untuk sang adik, Rio yang baru berusia sepuluh tahun rela tak menebus obat hingga penyakit jantungnya kumat parah dan nyaris merenggut nyawanya. Tak ingin ibunya mati perlahan karena terjerat hutang biaya operasi sebesar lima ratus juta, Rio nekat kabur dari rumah sakit di tengah malam untuk menjemput ajalnya sendiri, meninggalkan ibunya yang hancur dalam tangisan. Namun takdir berkata lain; lima belas tahun berlalu, Rio yang diselamatkan oleh seorang konglomerat kini kembali sebagai Direktur Utama Grup Sentosa yang berkuasa, hanya untuk mendapati kenyataan yang menjijikkan. Rizky, adik kecil yang dulu sangat ia sayangi, kini tumbuh menjadi pria gila harta yang tega mengusir dan tak mengakui ibu kandung mereka yang pincang di tengah kemewahan pesta pernikahannya. Di detik itulah Rio melangkah maju ke tengah pesta, bukan lagi sebagai kakak yang rela berkorban, melainkan sebagai sang penguasa yang akan menghancurkan siapa pun yang berani meneteskan air

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Mobil mewah hitam itu meluncur mulus memasuki gerbang besi raksasa setinggi lima meter.

Begitu gerbang terbuka, pemandangan taman luas dengan air mancur bergaya Eropa langsung menyambut mereka.

Santi yang duduk di kursi penumpang belakang terus melongokkan kepalanya ke luar jendela mobil.

Matanya berbinar takjub melihat deretan pohon cemara yang tertata sangat rapi di sepanjang jalan masuk.

"Rio, ini rumah Kakekmu? Besar sekali seperti istana di tivi-tivi," kagum Santi dengan polosnya.

Rio yang duduk di sebelahnya hanya tersenyum hangat lalu menggenggam tangan keriput ibunya.

"Mulai sekarang ini adalah rumah Ibu juga, Ibu bebas mau melakukan apa saja di sini," jawab Rio lembut.

Mobil akhirnya berhenti tepat di depan pintu utama pilar marmer putih yang menjulang tinggi.

Dua baris pelayan berseragam rapi sudah berdiri menunduk hormat menyambut kedatangan mereka.

"Selamat datang kembali Tuan Rio, dan selamat datang Nyonya Santi," sapa kepala pelayan dengan suara kompak.

Santi merasa sangat canggung diperlakukan seperti ratu oleh puluhan orang asing itu.

Dia buru-buru menyembunyikan pakaian kumalnya yang masih basah dengan kedua tangannya.

Rio turun lebih dulu lalu membantu ibunya turun dari mobil dengan sangat hati-hati.

Nadia segera mendorong kursi roda yang baru dikeluarkan dari bagasi mobil mendekat ke arah Santi.

"Silakan duduk Nyonya, kamar Anda sudah disiapkan di lantai satu agar Anda tidak kesulitan naik tangga," ucap Nadia ramah.

Santi duduk di kursi roda itu lalu menatap Rio dengan pandangan yang sulit diartikan.

Ada rasa bangga, haru, namun juga kesedihan yang mendalam di matanya.

"Rio, kamu pasti sudah melewati banyak penderitaan sampai bisa menjadi seperti ini kan nak?" tanya Santi dengan suara bergetar.

Rio terdiam sejenak lalu menggelengkan kepalanya pelan sambil mendorong kursi roda ibunya masuk.

"Tidak Ibu, penderitaan Rio tidak ada apa-apanya dibandingkan pengorbanan Ibu selama ini," jawab Rio tulus.

"Sekarang Ibu harus istirahat, nanti malam kita makan bersama Kakek," ajak Rio mengalihkan pembicaraan.

Santi diantar masuk ke sebuah kamar yang luasnya nyaris sama dengan satu rumah petaknya.

Lantai kamarnya dilapisi karpet bulu tebal, dan ada ranjang berukuran raksasa di tengah ruangan.

"Ya ampun, kasur ini empuk sekali, bisa buat tidur lima orang," gumam Santi mengusap sprei sutra di atas ranjang.

Beberapa pelayan wanita segera membantu Santi membersihkan diri dan memakaikannya piyama sutra yang sangat nyaman.

Santi menatap pantulan dirinya di cermin besar kamar mandi dengan perasaan campur aduk.

Pakaian kotor dan bau mi ayam kini sudah berganti dengan kemewahan yang tidak pernah dia impikan sebelumnya.

Tapi ada satu hal yang terus mengganjal di hatinya sejak tadi.

Santi keluar dari kamar mandi dan melihat Rio sudah duduk menunggunya di sofa kamar.

"Rio, Ibu boleh lihat dadamu?" pinta Santi tiba-tiba membuat Rio sedikit terkejut.

Rio menatap mata ibunya yang penuh dengan kekhawatiran seorang ibu.

Tanpa banyak bicara, Rio berdiri dan perlahan membuka kancing kemeja mahalnya satu per satu.

Kemeja itu terbuka menampilkan dada atletis Rio yang terbentuk sempurna.

Namun di bagian dada kirinya, tepat di atas letak jantungnya, terdapat sebuah bekas luka sayatan panjang yang melintang.

Bekas luka operasi itu terlihat sedikit mengerikan meskipun sudah memudar dimakan waktu.

Santi langsung menutup mulutnya menahan isak tangis yang kembali pecah.

Dia berjalan mendekat dan menyentuh bekas luka itu dengan jari-jarinya yang gemetar.

"Pasti sangat sakit ya nak? Ibu minta maaf tidak ada di sampingmu saat kamu dioperasi," isak Santi memeluk dada Rio.

Rio membalas pelukan ibunya dan mengusap punggung wanita tua itu dengan lembut.

"Ini tidak sakit Bu, bekas luka ini adalah tanda kalau Rio punya kesempatan hidup kedua untuk membahagiakan Ibu," bisik Rio menenangkan.

"Kakek Bramantyo memberikan jantung mendiang putra bungsunya untuk Rio Bu."

Santi mendongak menatap wajah Rio dengan mata terbelalak kaget.

"Jantung putra Tuan Besar? Ya Tuhan, pantas saja Tuan Besar sangat menyayangimu," gumam Santi mengusap air matanya.

"Mulai sekarang Ibu harus hidup sehat dan bahagia ya, anggap ini balasan untuk jantung yang sudah diberikan Kakek," janji Rio mencium kening ibunya.

Malam harinya, meja makan panjang di ruang makan utama dipenuhi oleh hidangan mewah dari berbagai negara.

Bramantyo duduk di kursi utama, Rio di sebelah kanannya, dan Santi di sebelah kirinya.

Suasana makan malam itu terasa sangat hangat dan penuh kekeluargaan.

"Ibu Santi, anggap saja rumah ini seperti rumah sendiri, pelayan di sini siap melayani Anda dua puluh empat jam," kata Bramantyo ramah.

"Terima kasih banyak Tuan Besar, tapi saya tidak biasa dilayani, saya bisa masak dan mencuci piring sendiri," tolak Santi merasa tidak enak.

Bramantyo dan Rio tertawa pelan mendengar kepolosan wanita tua itu.

"Tidak ada yang boleh menyentuh piring kotor di rumah ini selain pelayan Bu," larang Rio dengan nada bercanda.

"Tugas Ibu sekarang cuma makan yang banyak dan jalan-jalan di taman."

Tiba-tiba Nadia masuk ke ruang makan dengan membawa sebuah tablet di tangannya.

"Maaf mengganggu acara makan malamnya Tuan Besar dan Tuan Rio," sapa Nadia menunduk hormat.

"Ada laporan penting apa Nadia?" tanya Rio meletakkan garpunya.

Nadia melirik Santi sekilas lalu menatap Rio seolah meminta persetujuan untuk bicara.

1
kiyoe
hehehe sabar kak 🤭
Sri rahayu
hidup melarat punya anak dajjal tidak berguna .bukannya bantu ibunya malah nyusahin
ceuceu
kejam jg rio
ALEXIS A.😇
thorr.. up dong
kiyoe: terimakasih kak 🙏
total 1 replies
ceuceu
Alhamdulillah rio ketemu orang baik
kiyoe: iyaa kak alhamdulilah hehe
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
akhirnya kena karma juga anak laknat
Dewiendahsetiowati
dasar anak durhaka,jangan sampai kamu nanti ngaku anaknya Ibu Santi ketika ibumu diratukan Rio
Dewiendahsetiowati
bau2 adik durhaka nih
Dewiendahsetiowati
bikin nyesek bacanya😭😭😭
Dewiendahsetiowati: 1 ibu bisa merawat 10 anak giliran anak merawat 1 orang tua dioper2 bahkan di kasih dipanti jompo😭😭
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
kiyoe: terimakasih kak semoga senang dengan cerita nya 🙏
total 1 replies
Rifqy Channel
author please harus buat Rio ungkapkan dirinya biar ibunya Rio Santi dan Rizky itu semua orang yang hadir juga harus terkejut. dan juga buat Rio putus hubungan dengan rizky supaya tidak kembali. dan Santi ikut ke Rio. 🙏😭😭😭
kiyoe: terimakasih kak atas masukannya
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!