NovelToon NovelToon
Takdir Yang Tak Pernah Selesai

Takdir Yang Tak Pernah Selesai

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama
Popularitas:943
Nilai: 5
Nama Author: Cristaal

Aletha sangat terkejut setelah papanya, Baskara memberitahu jika ia dijodohkan dengan anak sahabatnya sejak dari dalam kandungan. Dan sebelum kelulusannya ia akan melangsungkan pertunangan lebih dulu.
Aletha sedikit tergoda oleh ketampanan. Pria itu saat papanya bicara tentang ketampanan calon tunangannya itu.
Namun, saat tiba pertemuan di malam itu. Ternyata pria yang dijodohkan adalah Langit.
Musuh bebuyutannya di sekolah, apakah mereka akan melanjutkan perjodohan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cristaal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Jarak, Waktu, dan Bom yang Membeku

Enam bulan pertama di seberang benua terasa seperti mimpi yang manis bagi Langit Saghara Voss dan Aletha Lizyora Valt. Jarak ribuan kilometer antara London, Inggris, dan tempat kuliah Aletha di Jerman seolah tidak memiliki arti apa-apa. Setiap malam, di sela-sela padatnya jadwal kelas, panggilan video selalu menjadi penawar rindu yang ampuh. Suara berat Langit yang mengabarkan cuaca dingin London dan celotehan berisik Aletha tentang kakeknya yang disiplin selalu menutup hari mereka dengan senyuman.

Namun, perlahan namun pasti, waktu mulai menunjukkan taringnya. Memasuki tahun pertama, Langit yang menerima beasiswa penuh dari Voss Group mulai ditarik untuk memantau ekspansi bisnis keluarganya di Inggris. Di sisi lain, Aletha tidak memiliki pilihan selain menenggelamkan diri dalam tumpukan buku dan mulai magang di perusahaan kakeknya demi membantu memulihkan stabilitas bisnis keluarga Valt yang sempat goyang di Indonesia. Perbedaan zona waktu, rasa lelah yang menumpuk, dan ego remaja yang meninggi mulai menciptakan celah kecil. Satu pesan yang dibalas singkat, satu panggilan yang terabaikan karena ketiduran, hingga akhirnya... sebuah salah paham fatal meledak dari seberang benua.

Dua tahun lalu, sebuah majalah bisnis daring internasional merilis foto Langit di sebuah gala korporat mewah di London. Di dalam foto itu, Valerie Clarissa, antagonis masa SMA mereka yang ternyata menyusul kuliah ke Inggris, nampak bergelayut manja di lengan jas Langit dengan senyum kemenangan. Artikel itu menyebut mereka sebagai pasangan emas masa depan korporat.

Ego Aletha yang masih muda hancur berkeping-keping. Ia mencoba menelepon Langit malam itu juga untuk menuntut penjelasan, namun panggilan itu dialihkan oleh sekretaris baru Langit karena cowok itu sedang rapat penting. Merasa dikhianati dan mengira Langit telah kembali pada masa lalunya, Aletha menarik kesimpulan sepihak. Sejak malam itu, ia bersumpah tidak akan pernah lagi menghubungi suaminya duluan. Ia mengunci hatinya rapat-rapat dalam ketenangan yang dingin.

Namun, Aletha tidak pernah tahu fakta yang sebenarnya.

Di London, Langit juga sedang membakar dadanya dengan kemarahan dan kekecewaan yang serupa. Beberapa minggu setelah insiden gala tersebut, seorang informan bisnis mengirimkan rentetan foto Aletha dari Berlin. Di dalam foto-foto itu, Aletha tampak berjalan berdua dengan sangat dekat di bawah hujan salju bersama seorang pria bule tampan bermata biru. Pria itu sebenarnya adalah sepupu jauh dari pihak ibu Aletha yang tinggal di Jerman namun Langit, yang terlanjur dibutakan oleh rasa rindu dan ego laki-lakinya yang tinggi, mengira pria itu adalah kekasih baru Aletha di seberang sana.

“Lo rela memutus kontak dengan gue berbulan-bulan hanya untuk menghabiskan liburan bersama cowok lain di Jerman, Aletha?” desis Langit rendah malam itu.

Kesalahpahaman ganda itu bertindak seperti racun tak kasat mata. Langit mengira Aletha berselingkuh di Jerman, sementara Aletha mengira Langit bersenang-senang dengan Valerie di London. Tidak ada yang mau mengalah. Tidak ada yang mau menurunkan ego untuk bertanya. Hari demi hari berubah menjadi minggu, minggu menjadi bulan, hingga akhirnya keheningan panjang mengambil alih komunikasi mereka selama tiga setengah tahun berikutnya. Mereka resmi lost contact total.

___________________________

Empat Tahun Kemudian.

Dering nyaring pengumuman kedatangan internasional di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta membuyarkan lamunan panjang Aletha. Langkah kakinya terdengar konstan dan anggun di atas lantai marmer. Empat tahun di Jerman di bawah didikan ketat kakeknya telah mengubah Aletha sepenuhnya. Gadis ekspresif dan meledak-ledak di masa SMA dulu kini telah menjelma menjadi wanita muda berusia dua puluh dua tahun yang teramat tenang, anggun, dan tidak banyak bicara.

Mantel wol panjang berwarna krem yang melekat di tubuhnya memberikan kesan elegan yang matang. Namun, jari manis tangan kirinya masih setia dilingkari sebaris cincin emas putih bermata berlian. Cincin dari pernikahan tertutup mereka dulu yang kini terasa begitu berat.

"Letha, di sini, Sayang!"

Suara lembut Mama Hanna menyambutnya di barisan penjemput. Aletha melangkah anggun, mengulas senyum tipis yang menenangkan sebelum memeluk erat Hanna dan Papa Baskara demi melepas rindu.

"Anak Papa sudah pulang. Kamu hebat bisa menyelesaikan pendidikan dan membantu memantau bisnis kita di Jerman," puji Baskara bangga, menepuk pelan pundak putrinya.

Aletha tersenyum tipis. Matanya sempat bergerak sekilas mengitari area lobi bandara, mencari satu siluet tinggi besar yang familier. Namun, area penjemputan steril. Tidak ada tanda-tanda kehadiran suaminya.

"Langit... tidak ikut menjemput, Pa?" tanya Aletha akhirnya. Nada suaranya terdengar begitu tenang, datar, dan stabil.

Baskara menghembuskan napas pendek, menuntun Aletha berjalan menuju area parkir VIP.

"Langit sudah kembali dari London jauh lebih awal, Letha. Dia sekarang memegang kendali penuh atas seluruh imperium bisnis keluarga Voss selaku pewaris tunggal. Sejak tiga hari lalu, dia harus memimpin ekspansi dan merger perusahaan di luar kota. Jadwalnya sangat ketat, bahkan untuk sekadar pulang ke rumah utama saja dia jarang, sayang."

Aletha tertegun sejenak, namun wajah tenangnya tidak berubah sedikit pun. Pria itu kini sudah menjelma menjadi pemimpin tertinggi Voss Group yang sibuk. Jarak antarnegara kini berganti menjadi jarak kesibukan kedewasaan yang membuat mereka semakin sulit untuk berjumpa.

“Ayo sayang, kita pulang. Mama sangat merindukan kamu,” ucap Hanna lembut sambil menggandeng lengan putrinya.

Mereka melangkah bersama, namun tiba-tiba di area parkir VIP, sebuah Rolls-Royce Ghost hitam legam milik keluarga Voss sudah menunggu dengan dominan.

Seorang ajudan pribadi berjas rapi bernama Hadi langsung membungkuk khidmat dan membukakan pintu belakang untuk Aletha. Papa dan mamanya tersenyum maklum, memilih naik mobil terpisah di belakang.

"Saya Hadi asisten Tuan Langit Nyonya, saya diperintahkan untuk menjemput anda," ucap asisten Hadi formal.

Aletha memandang kedua orang tuanya.

“Ya sudah sayang, masih banyak waktu besok kita berjumpa lagi di rumah. Jangan lupa bawa Langit,” ucap Hanna sambil memeluk Aletha.

“Itu benar, sayang,” Baskara menimpali, Aletha hanya mengangguk pelan.

Akhirnya Aletha masuk kedalam mobil, di dalam Hadi menyerahkan sebuah tablet digital ke baris belakang, tepat setelah mobil mulai membelah jalanan Jakarta.

"Beliau menitipkan pesan ini untuk Anda, Nyonya."

Aletha menerima tablet itu dengan tenang. Di layarnya yang menyala, sebuah pesan video singkat berdurasi sepuluh detik otomatis terputar.

Di dalam video, Langit duduk tegap di sebuah kursi kerja kulit mewah berlatar jendela kaca gedung tinggi luar kota. Setelan tiga potong jas formal (three-piece suit) berwarna abu-abu gelap melekat sempurna di tubuh tingginya yang kini jauh lebih kokoh, tegap, dan berotot daripada masa sekolah dulu.

Wajah tegas dengan garis rahang kokohnya tampak begitu bersih, tanpa ekspresi, dan memancarkan aura otoritas yang mutlak. Sepasang mata hazel-nya menatap tajam lurus ke arah kamera, sedingin es, kaku, dan menusuk telak.

“Selamat datang kembali di Indonesia, Aletha. Gue tahu lo sibuk berjuang buat kuliah dan bisnis bokap lo di Jerman sampai mengabaikan status hubungan kita. Gue nggak bisa menyambut lo hari ini karena urusan Voss Group jauh lebih berharga daripada sekadar menunggu lo di bandara. Masuk ke penthouse baru kita, pelajari semua aturan rumah tangga yang sudah gue kirim di dokumen tablet itu, dan jangan berani-berani lo melangkah keluar dari zona pengawasan gue sebelum gue kembali ke Jakarta.”

Video berakhir. Layar tablet kembali menghitam, menyisakan pantulan wajah Aletha yang kini sedikit menegang kaku.

Di seberang pulau sana, dada Langit sebenarnya diselimuti kemarahan pekat yang membeku selama tiga setengah tahun ini akibat merasa diabaikan oleh istrinya sendiri. Namun, karena ia tahu Aletha mengorbankan waktu tidurnya demi bisnis keluarga Valt di Jerman, ia menahan egonya untuk tidak langsung menemui Aletha, memaksanya menyiksa wanita itu dengan jarak dan perintah dingin dari jauh.

Aletha tidak membalas dengan bentakan defensif seperti dulu. Ia tidak lagi meledak-ledak. Dengan ketenangannya yang anggun, ia menaruh tablet itu di sampingnya, lalu menatap keluar jendela, memperhatikan lampu-lampu jalanan malam kota Jakarta yang bergerak cepat.

Ia tidak menangis. Wajah cantiknya tetap menampakkan ketenangan tanpa cela. Namun di dalam dadanya, ada debaran aneh yang terasa begitu sesak, perih, sekaligus menantang.

Musuh bebuyutannya telah menjelma menjadi pria dewasa yang kelewat tegas, mengurungnya di dalam pengawasan dari jauh, dan membuat perang dingin pasutri yang terasing akibat salah paham ini resmi dimulai tanpa sebuah tatapan mata langsung.

1
Fiya
🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!