NovelToon NovelToon
Abi Baik, Abi Gak Jahat

Abi Baik, Abi Gak Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:641
Nilai: 5
Nama Author: Eritasyofia

Pertemanan medsos membuat wanita yang sudah berusia senja jatuh cinta pada seorang pria muda yang pantas menjadi anaknya.
Dia tidak bertepuk sebelah tangan keduanya saling jatuh cinta, saling sayang, saling memberi dan merima.
" umi gak mau melanjutkan hubungan ini, kalau umi tahu Abi punya istri."
" gak Abi sudah sepuluh tahun menduda.."
Ketika akhirnya dia tahu bahwa si pria punya istri, dia ingin mundur tapi ...
"'Umi, kita jalani aja hubungan ini, apa umi mau, Abi sayang umi.."
Dia menyerah, cinta terlarang itu berlanjut..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eritasyofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gelombang Magnet Cinta

Malam semakin larut, namun kegelisahan yang membelenggu Rangga dan Winta justru kian menjadi-jadi. Perasaan gundah itu memilin dada mereka dengan cara yang meremas pilu, sebuah kegelisahan kekanak-kanakan yang biasa melanda remaja usia belasan ketika dilanda cinta pertama, namun kini menghantam dua insan beruban yang terjebak dalam pusaran kerumitan.

​Di dalam mobilnya yang dingin dan remang, Rangga bersandar pasrah pada kursi pengemudi. Ia memandangi ponsel retak yang tergeletak bisu di samping rem tangan. Rasanya Rangga ingin menangis raung-raung seperti remaja belasan tahun yang kehilangan kesempatan menyatakan cinta. Dadanya sesak oleh campuran rasa kesal, amarah pada keadaan, dan rindu yang membakar.

​"Konyol... Kenapa harus rusak di saat seperti ini?"

gerutunya seraya meremas rambutnya sendiri.

​Rangga bolak-balik menatap pintu gerbang rumah Winta dari kejauhan, lalu melirik jam di dasbor. Keinginan untuk melompat keluar, berlari menerobos kegelapan, dan menggedor pintu kamar Winta begitu membuncah di dadanya. Ia ingin berteriak di depan jendela Winta, menceritakan bahwa ponselnya pecah, bahwa jiwanya hampa, dan bahwa ia tak pernah bermaksud mengabaikannya. Namun, realita merenggut keberanian itu. Bayangan wajah anak-anak Winta yang penuh curiga dan ancaman Rio menahannya bagai rantai besi.

Rangga hanya bisa meratapi kebodohannya, gigit jari di balik kemudi seperti pemuda kasmaran yang patah hati sebelum bertempur.

​Sementara itu, di balik dinding kamar yang kokoh, Winta berbaring miring sambil memeluk lututnya sendiri. Keputusannya memblokir nomor Rangga tadi memang terasa gagah dan tegas, namun efek sampingnya justru menyiksa jiwa.

​Setiap detik yang berlalu terasa bagai siksaan lambat. Jemari Winta gatal, berulang kali bergerak ingin mengambil ponsel di atas meja rias.

Ada bisikan kecil yang merengek di hatinya, bisikan ketakutan khas remaja yang sedang merajuk. Bagaimana kalau dia mencoba menghubungi lewat nomor lain? Bagaimana kalau dia sebenarnya punya alasan?

​Winta membenamkan wajahnya ke bantal, merutuki dirinya sendiri yang masih saja memikirkan pria itu. Air mata kekanak-kanakan yang penuh rasa jengkel kembali menetes.

Ia kesal pada Rangga yang terkesan tak peduli, tapi ia jauh lebih kesal pada hatinya sendiri yang ternyata belum benar-benar sanggup merelakan. Rasanya ia ingin melempar ponsel itu ke dinding, membenci kenyataan bahwa kata-kata manis Rangga tadi siang masih bergema indah di telinganya, bertolak belakang dengan kenyataan pahit malam ini.

​Dua hati yang tak lagi muda itu sama-sama terjaga di bawah langit malam yang sama, saling merindukan dalam amarah, saling mencari dalam ketidakberdayaan, dan terpuruk dalam kegalauan tajam, seperti pasangan remaja yang dilanda prasangka, terpisah oleh tembok ego dan nasib yang sedang mempermainkan mereka.

" Akh, sudahlah, lebih baik aku pulang sebelum Viona kembali mencurigaiku."

Rangga melajukan mobil menuju kerumah.

Dirumah Viona dan Trhesia anaknya sedang bermain.

" Papi pulang."

Thresia menghambur kepelukan Rangga, Rangga memeluknya erat.

Nafas gadis kecil itu menghangatkan wajahnya.

" Ya Tuhan, haruskah aku mengkhianati cinta gadis kecilku ini, haruskah aku memisahkannya dari mamanya, aku tidak akan melakukannya, aku akan menutup mata hatiku untuk Winta."

Rangga berbisik dalam hati.

" Mama yok ajak Thresia main keluar."

Ajak Rangga.

Ketiga orang itu berlari kecil menuju mobil.

Mereka belanja di toko mainan, soalnya Rangga melihat Winta, Dinda suami dan anaknya juga di toko mainan.

Kedua pasang mata itu beradu, karena berselisih jalan, kedua jantung mereka berdebar kencang.

" Ma, cepatan."

Suara Dinda memanggil mamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!