NovelToon NovelToon
SANG PENAFSIR LANGIT

SANG PENAFSIR LANGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Action
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Kang Minho, juru tulis arsip Kota Eunha, meninggal kecelakaan. Di tubuhnya, Nuri terbangun—peramal rasi dari Negeri Cahaya yang kini menempati raga itu. Nuri bukan Minho; ia hanya memakai identitas Minho. Di kota, ia tetap dipanggil Minho. Di baliknya, Nuri membawa peta langit dan warisan Sang Gaib yang mengguncang kerajaan. Dari arsip kota yang sederhana, ia naik menjadi penafsir seluruh cakrawala dan pemimpin Majelis Batu Cakrawala. Namun tiap keping yang ia ungkap mendekatkannya pada Dewa Tua, sementara Pangeran Selat sudah mencuri namanya sejak langit pertama terbuka. Di balik pertempuran dan konspirasi yang berlarut-larut, satu pertanyaan menggantung: apakah Nuri menyelamatkan dunia, atau justru menulis takdir yang menghancurkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Nyala Lampu Minyak di Kamar Arsip

Ada kabut kelabu yang menyelimuti seluruh pandangan.

Nuri melayang di dalamnya tanpa menapak, bernapas tanpa merasakan udara. Ruang-ruang di sekelilingnya berubah bentuk setiap kali ia mengerjapkan mata.

Bisikan-bisikan datang dari berbagai arah—tanpa wajah, tanpa suara yang jelas—seperti desir angin yang menyapu perbukitan di kejauhan.

Ia mencoba mengikuti salah satu bisikan itu dan menyentuh dinding ruang yang tampak tipis seperti tirai, tetapi jemarinya menembusnya tanpa menemukan apa pun.

---

Sebisa ia menatap, kilas-kilas samar melintas di kejauhan: puncak-puncak menara kayu yang menjulang di atas atap genting, halaman berdebui yang disapu angin malam, dan titik-titik cahaya kecil yang berkedip seperti bintang yang jatuh dari tempatnya.

Ada beban yang menekan dadanya, seolah dunia diam-diam mendorongnya untuk memilih sesuatu yang tak pernah benar-benar ia pahami.

Suara-suara itu semakin dekat, semakin nyaring, dan ia merasa berada di ambang sebuah pintu yang tidak ingin ia lewati sendirian.

Lalu semuanya terputus.

---

Sebagian dari dirinya jatuh, dan yang pertama kali kembali adalah nyeri.

Nyeri yang menyesakkan di belakang kepala—tajam, menganga, seolah sesuatu yang keras baru saja menghantam tempurung yang terlindungi kulit dan tulang.

Ia membuka mata dengan susah payah. Cahaya merah tua menuang dari jendela sempit dan menggores lantai kayu dengan bayang-bayang yang bergetar.

Di atas kepalanya, menggantung rendah sepanjang ia bisa melihat, Bulan Rubi bersinar dalam keheningan, seperti mata yang terjaga di balik tirai malam.

---

Ia terbaring di atas tikar anyaman yang tipis, baju lusuh menempel di badan, dan seutas lap lembap yang dijadikan pembalut darurat menutupi sisi belakang kepalanya.

Ia menelan ludah; tenggorokannya perih.

Dengan lambat ia mengangkat tangan dan menyentuh belakang kepalanya. Dingin, basah, dan di bawah jemarinya terbentang sesuatu yang kasar—benjolan yang membengkak, membiru, masih meradang, seakan baru saja terbentur sesuatu yang keras.

Ia menggoyangkan jari, menekuk siku, menggerakkan kaki satu per satu di atas tikar, seolah memastikan setiap anggota tubuh ini mau menuruti perintahnya.

Tubuh ini utuh, mampu berdiri, meskipun kepalanya seakan baru saja bergulat dengan maut.

Kalau besok sakitnya masih begini, bagaimana ia bisa duduk menyalin arsip seharian di kantor catatan?

"Di mana ... aku?" bisiknya serak, dan suaranya sendiri terdengar asing di telinganya.

---

Ia mencoba duduk; ruangan itu berputar sesaat.

Meja kayu yang kokoh berdiri di hadapannya, dipenuhi tumpukan gulungan arsip berdebu, sebatang kuas yang bertinta kering, dan sebuah botol tinta hitam yang tutupnya miring.

Seluruh permukaan meja itu diselimuti warna merah tua yang sama dengan langit—seperti kain sutra yang tak terlihat dibentangkan di atas kuas, botol, dan kertas.

Lampu minyak tanah yang kecil menyala di sudut, sumbunya berkedip-kedip seperti jantung yang berdegup lemah.

Di sisi meja, menumpuk rapi, berdiri sederet buku tua dengan punggung yang menguning.

Dan di atas meja, di antara tumpukan catatan, tergeletak sebilah belati—besinya meredup, gagangnya terbungkus anyaman kulit gelap.

---

Belati itu menarik perhatiannya. Bukan karena bentuknya yang asing, melainkan karena ia merasa seolah-olah pernah menggenggamnya, mencengkeram gagangnya erat-erat ketika ketakutan membuncah di dadanya.

Kenangan asing yang bukan miliknya mengalir masuk dalam potongan-potongan patahan: nama Kang Minho, sebuah kamar sempit, tagihan yang menumpuk, dan rasa malu yang menenggelamkan.

Benturan itulah yang terakhir, sebelum gelap.

---

Potongan-potongan kenangan itu datang seperti gumpalan yang mengapung di permukaan air keruh.

Ia menangkap sekilas wajah seorang pemuda yang jujur namun letih—juru tulis arsip yang setiap pagi duduk di kursi yang sama, menyalin daftar harga air, perjanjian dagang, dan catatan kematian untuk Kantor Catatan Kota Eunha.

Ada uang yang tak pernah cukup.

Ada sepucuk surat berisi tagihan yang semakin menebal.

Ada nama seseorang, Sena, yang membuat dadanya menghangat sekaligus berdebar cemas.

Dan di ujungnya, selalu ada kegelapan yang mendekat.

---

Kang Minho, bisik kenangan itu. Warga Kerajaan Hwaryeong, Kota Eunha, lulusan sekolah negeri yang mengajarkan tata tulis, sejarah, dan Bahasa Langit Tua.

Ayahnya adalah bekas pasukan pengawal kerajaan yang gugur ketika mengawal konvoi dagang di jalur pegunungan; tunjangan duka itulah yang membiayai sekolahnya hingga ia mampu menyalin huruf dengan kedua tangannya.

Ibunya pemuja Ratu Selubung Senja, dan wafat pada tahun ia lulus ujian masuk sekolah.

Keluarga itu tinggal bertiga dalam rumah sewa bertingkat yang sempit: Kang Minho, kakaknya Kang Wonho yang bekerja sebagai pegawai kantor dagang konvoi, dan adik perempuannya, Kang Sena, yang menyalin peta di kantor peta kota dan menyukai segala hal yang berputar—dari roda gerobak sampai jarum jam.

Mereka miskin. Seluruh rumah digantung pada gaji Wonho yang pas-pasan, dan sejak Minho menyelesaikan sekolahnya, kakaknya berharap adiknya itu segera diterima sebagai juru tulis tetap.

---

Ia mengangkat belati itu dan menatap mata bajanya yang memantulkan wajahnya sendiri.

Wajah yang asing baginya: muda, dengan tulang pipi tegas, alis tebal, dan sorot mata yang kini dipenuhi kebingungan.

Bukan mata orang yang ingin menemui ajal, pikirnya perlahan. Justru sebaliknya.

---

Ketika ia memejamkan mata, ia mencoba mengingat siapa dirinya sebelum semua ini.

Ia bernama Nuri, seorang peramal rasi dari Negeri Cahaya yang jauh.

Pekerjaannya adalah membaca tanda-tanda yang menghiasi langit malam—posisi bintang, kemiringan fajar, dan bisikan angin—demi memandu rombongan konvoi melewati lembah-lembah asing agar selamat dari jejak dan tanda ganjil.

Di dalam kepalanya tersimpan semacam gambar langit yang tak pernah ia tanyakan asalnya: petak-petak bintang yang tersusun seperti peta, yang dulu ia anggap hanya takhayul tua dari para peramal yang terdahulu.

Kini peta itu bergolak, terasa semakin nyata, seolah sesuatu di dalam dirinya terbangun bersama tubuh baru ini.

Namun setiap kali ia menggali lebih jauh, kenangan tentang Negeri Cahaya tiba-tiba mengabur, seperti nama yang nyaris terucap lalu hilang di ujung lidah.

Yang tersisa hanyalah rasa: bau tanah basah setelah hujan, derik roda gerobak di jalan berbatu, dan suara orang-orang yang pernah ia lindungi.

Ia tidak tahu apakah ia bisa kembali ke sana, atau apakah Negeri Cahaya itu bahkan masih ada.

---

Ia menunduk dan menatap tangannya sendiri.

Tangan itu lebih muda, lebih halus, dengan bekas tinta di antara jemari telunjuk dan ibu jari—tangan seorang juru tulis arsip.

Ia membalik telapak tangannya lalu, tanpa sadar, mengusap lekuk balik telinganya.

Di lekuk balik telinga kirinya, tepat di bawah titik tempat cuping itu bertemu kulit, terdapat tiga bintang samar yang warnanya lebih pekat daripada kulit di sekelilingnya.

Titik-titik itu samar, nyaris tak terlihat, tetapi ada—seperti tiga bintang yang tergores halus di bawah kulit.

"Ibu ...?" suara itu keluar lagi dengan sendirinya, dan ia menggigil tanpa sepenuhnya mengerti mengapa kata itu meluncur.

---

Ia berusaha merangkak mendekati meja dan meraih gulungan arsip yang berada paling atas.

Tangannya gemetar ketika ia membuka segel lilin merah yang menyegel gulungan itu.

Di dalamnya, di atas kertas yang telah menguning, tertulis daftar pembagian air dan catatan harga konvoi yang lazim disalin oleh juru tulis arsip Kota Eunha—angka demi angka yang rapi, dihiasi tanda rasi kecil di sudut setiap halaman, lambang resmi kantor catatan.

Namun di bawah tumpukan arsip itu, tersisip sesuatu yang bukan bagian dari pekerjaan.

Sepotong kertas yang terlipat berulang kali, menebal di tengahnya, seolah disimpan agar tidak mudah ditemukan.

Ia membuka lipatan itu dengan hati-hati dan menemukan secarik lembaran tua yang penuh angka berdesakan dan garis-garis bersilangan, membentuk semacam alur yang rumit.

Tidak ada satu pun kalimat yang dapat ia baca dengan jelas—hanya deretan angka asing, panah-panah kecil, dan simbol-simbol mirip mata yang ditorehkan di tepi kertas, seperti peta atau bagan dari sebuah ritus.

Ia menatap lembaran itu lama.

Peluh dingin menyusuri pelipisnya.

Sesuatu dalam dirinya berbisik bahwa kertas ini disimpan oleh orang yang tubuhnya kini ia tinggali dengan sangat rahasia—bahwa pemuda bernama Kang Minho yang tewas karena kecelakaan di kamar ini menyembunyikannya, entah sebagai penyebab, entah sebagai jejak terakhir dari sesuatu yang telah menakutinya.

---

Dengan hati-hati ia meraba belakang kepalanya, sedikit demi sedikit.

Kulitnya utuh; hanya ada benjolan memar yang membiru seperti bekas terbentur, tanpa luka yang menganga.

Seharusnya tidak mungkin, pikirnya.

Seorang lelaki yang jatuh dan membenturkan kepalanya sekeras itu seharusnya meninggalkan bekas yang jauh lebih mengerikan: tulang yang retak, aliran darah yang deras.

Namun tubuh ini masih hangat, darahnya masih mengalir, dan kepalanya hanya menyisakan nyeri tumpul yang perlahan-lahan memudar, seolah telah dirawat oleh sesuatu yang tak ia pahami.

---

Di dinding seberang jendela tergantung cermin rias dengan retakan di tengah kacanya.

Ia bangkit, melangkah mendekat, dan memiringkan wajah di bawah cahaya Bulan Rubi.

Bayangan di kaca itu jelas: rambut hitam, mata cokelat muda, perawakan ramping, wajah yang menyimpan keletihan kaum terpelajar—sama sekali bukan wajah miliknya yang dulu.

Kemudian ia menyingsingkan kerah baju di sisi belakang leher dan melihat benjolan memar yang membiru di bawah cahaya samar.

Ia menelan ludah; tenggorokannya kembali perih.

Untuk sesaat ia merasakan dunianya berdiri diam di tepi jurang.

---

Sesuatu yang lain mulai mengusiknya.

Ia menoleh kembali ke meja, ke arah belati yang kini tergeletak di antara gulungan arsip.

Dengan kondisi keuangan keluarga Kang yang begitu pas-pasan—ditopang gaji kakaknya yang hanya cukup untuk makan dan bayar sewa rumah—dari mana bisa muncul belati seindah ini?

Besi semacam itu bukanlah barang murah. Entah dari kantong siapa, dan untuk menjaganya dari siapa.

Ia menghentikan tangannya, lalu menyimpan pertanyaan itu di dalam hati.

---

Ada pula kebiasaan tua yang muncul dari jemarinya tanpa ia kehendaki: cara ia melingkarkan jari di pelipis untuk mengukur denyut, cara ia menelusuri lekukan luka di kepala dengan ujung-ujung jarinya untuk menebak benda keras apa yang telah menghantamnya.

Bukan keterampilan yang lazim dimiliki orang kebanyakan.

Ia menoleh ke genangan air yang masih lembap di ujung kamar, lalu ke lembaran yang penuh angka dan garis di atas meja.

Dua jejak itu berbaur dalam satu pertanyaan yang sama.

---

Ia menegakkan punggungnya dan memandangi kamar dari sudut ke sudut.

Hampir mustahil untuk percaya bahwa hanya beberapa jam sebelumnya, pemuda bernama Kang Minho terpeleset di lantai kamar ini dan kepalanya membentur sudut kotak arsip yang berpinggir besi.

Bekas air yang membasahi papan lantai masih menganga, dan goresan samar di dekat jendela masih terlihat seperti sisa jari yang berusaha meraih penyangga saat jatuh.

Namun yang aneh, tubuh ini tidak menampilkan jejak kekerasan yang seharusnya menyertainya—tanpa pucat yang kelam, tanpa kaku yang membeku, seolah hidup baru saja dituangkan kembali ke dalamnya oleh tangan yang tak terlihat.

Bukan pekerjaan orang, pikirnya.

Sesuatu yang jauh lebih tua menjaga perbatasan antara hidup dan mati di dunia ini, dan entah bagaimana ia telah tersandung ke dalam jaringannya.

---

Angin malam yang hangat merambat masuk melalui celah jendela, membawa bau daun basah dan tanah dari arah pegunungan.

Dari kejauhan, di ujung kota, terdengar suara genderang perunggu ditabuh sebagai tanda gerbang malam; para penjaga akan mengunci pintu kota hingga pagi.

Ia merasakan dadanya bergemuruh, campuran antara bingung, takut, dan sesuatu yang samar-samar mirip harapan.

Ia masih hidup.

Apa pun yang telah terjadi, apa pun yang telah ia alami—terbang melintasi kabut dan cahaya—ia masih bisa menggerakkan jarinya, masih bisa bernapas, masih bisa merasakan benjolan di belakang kepalanya itu berdenyut pelan.

Dan itu, untuk saat ini, sudah cukup.

---

Namun ada sesuatu yang mengganggu.

Di balik lelah dan nyeri, sebuah kesadaran kecil mengetuk dari dalam: bahwa dunia ini bukanlah dunianya.

Bahwa langit dengan Bulan Rubi yang menggantung rendah itu, bau tanah mentah yang menyesakkan itu, dan kamar arsip yang sempit ini—semuanya asing.

Ia adalah seorang pengembara yang terdampar di tubuh orang lain, dan ia tidak tahu bagaimana kembali.

Dan ada pula beban yang lain.

Kenangan Minho membawanya kepada wajah-wajah yang kini menjadi tanggung jawabnya: Wonho yang bekerja keras di kantor dagang, dan Sena yang masih muda dan bersemangat.

Minho mungkin telah menemui ajal dalam kecelakaan yang tiba-tiba, tetapi Nuri, yang kini berdiri di dalam tubuhnya, tidak akan membiarkan utang dan aib menghancurkan dua orang itu tanpa perlawanan.

Terlepas dari kejadian yang menimpanya, mereka bukanlah orang asing baginya lagi—mereka adalah orang-orang yang hidup di bawah atap yang sama, dan selama ia memakai wajah Minho, ia tidak bisa berpaling.

---

Ia menarik napas panjang, membiarkan udara malam Kota Eunha memenuhi paru-parunya.

Di luar, genderang malam berbunyi sekali lagi, dan ia tahu fajar tidak akan lama lagi.

Jika ia hendak mencari tahu misteri yang menyelimuti kematian ini, ia harus memulainya di pagi hari—membeli kebutuhan keluarga, mencari jejak belati itu, dan membaca kembali lembaran angka yang tersembunyi di balik arsip itu dengan mata yang lebih jernih.

Ia menoleh sekali lagi ke arah belati itu, lalu ke lembaran yang penuh angka dan garis.

Perlahan, tanpa sadar, jemarinya meraba benjolan di belakang kepalanya sekali lagi.

"Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini," gumamnya, dan suaranya akhirnya terdengar seperti suaranya sendiri—suara seorang lelaki yang menolak tenggelam di malam yang tidak ia kenali, dan yang bertekad menemukan kebenaran sebelum fajar semakin dekat.

1
-Thiea-
kayaknya minho sengaja dilenyapkan kali ya. 🤔
-Thiea-
bertransmigrasi kayaknya dia ya.🤔
-Thiea-
dia kenapa? apakah hilang ingatan? kayaknya asing sama keadaan.
Xlyzy
itu kayak nya harus di cari tau deh penyebab nya kenapa tiba tiba berpindah di tubuh orang lain lagi
Tamaa
mahalnya
Tamaa
anak gadis sukanya yang begituan
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
aku bayanginnya ala drakor korea min 🤣😭
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
ini latarnya korea berati ya tor?
Kartika Candrabuwana: mirip korea..tp mix fantasi jg
total 1 replies
Miu.Nuha
wiii ajaib juga ya
aku jadi penasaran sok kalo minho cedera lagi apa y gk bakal ngerasa sakit 🙄
Miu.Nuha
ini kalo keluar rumah apa gk pada jerit tuh para warga 😅🙄
Filan
malam ini dia memang terlalu banyak berpikir sampai pusing.
Filan
woah, bulannya merah... ini bukan Korea ya, negeri fantasi? Dan dia juga berasal dari negeri yang beda tapi serupa.
Kartika Candrabuwana: semi korea dan fantasi
total 1 replies
Filan
nyalain lampunya pakai koin?
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
Filan
orangnya memang sudah mati kalau ga ada jiwa lain yang menempati.
Myz Pena
iih ngeri bangettt... seharusnya orang dengan benjolan kepala itu bisa sekarat berhari2 di rumah sakit🤧
Putry Chan
bangkit lah nuri emang tangguh
abis nagis langsung mode srius mental baja gitu loh
ginevra
ou begitu... karena jiwanya gantinmaka raganya ikut pulih
ginevra
lukanya sembuh sendiri ya
ginevra
ngeri banget lukanya, harus cek ke dokter deh, takutnya ada pendarahan otak
Arni Arlinawati Pratiwi💃
oke.. jadi nuri yang masuk ke tubuh nya kang minho ini adalah peramal.. jadi jiwa nuri yang punya kemampuan diem di tubuh nya kang minho, 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!