NovelToon NovelToon
Gadis Desa Dan Lima Pangeran Tsundere

Gadis Desa Dan Lima Pangeran Tsundere

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi / Menantu Pria/matrilokal
Popularitas:316
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Di Kerajaan Shanyue, tepat dipinggiran Kota Shiyue seorang gadis tinggal di sebuah desa terpencil bernama Desa Caiyun.

Dia Xia Qinglan, anak seorang Jenderal ternama di Kerajaan Shanyue yaitu Putri Jenderal Xia Agung, Xia Longyuan.

Xia Qinglan memiliki takdir pernikahan dengan Lima Pangeran yang memiliki sikap angkuh, manja, dingin, bahkan ada juga yang menjadi budak cinta. Namun, alih-alih Qinglan menolak mereka justru ia menaklukan kelima Pangeran itu dengan caranya sendiri.

Dibalik kisah Cinta mereka di liputi perjuangan yang penuh tantangan yaitu mereka berenam harus berhadapan dengan Pangeran Ketiga, Xi Zhouyun yang licik.

Xi Zhouyun adik dari tunangan Qinglan yaitu Xi Yunzhi sang Putra Mahkota. Qinglan tidak memihak siapapun ia hanya berdiri pada keputusannya sendiri. Bahkan, kelima Pangeran itu Feng Huang, Xiao Mingye, Gu Yichen, Ling Chen dan Xi Yunzhi di didik secara langsung oleh Qinglan untuk menjadi Pilar Kerajaan Shanyue.

Ikuti kisah petualangan mereka!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diburu karena Fitnah

Hari-hari di Desa Caiyun tidak pernah benar-benar berjalan tenang sejak kehadiran para pangeran pelarian itu. Kabar kematian palsu Feng Huang yang disiarkan secara besar-besaran oleh istana utara ternyata berbuntut panjang. Tidak hanya Klan Feng yang diguncang badai duka, gelombang kepanikan dan fitnah politik kini mulai merembet ke klan-klan bangsawan lain yang dianggap berhubungan dekat dengan sang pangeran—termasuk masa lalu kelam yang membelit Gu Yichen.

Malam itu, di ruang tamu kediaman Xia Qinglan, suasana mendadak jauh lebih tegang dari biasanya. Gu Yichen duduk bersidekap di dekat sudut ruangan dengan wajah tertunduk dalam. Auranya yang biasanya kaku dan dingin kini tampak diselimuti oleh kepulan emosi yang tertahan. Di atas meja kayu kecil di hadapannya terbentang sehelai gulungan kain intelijen berlumuran lilin merah—sebuah pesan sandi rahasia yang baru saja diselundupkan oleh jaringan bayangan ke perbatasan desa.

Feng Huang, yang masih memendam amarah atas sandiwara pemakaman ayahnya, Tuan Besar Feng Dengxi, melirik sekilas ke arah gulungan pesan tersebut. Alisnya berkerut tajam saat melihat segel lambang keluarga yang tertera di sana.

“Gu Yichen, apa isi pesan sandi itu?” tanya Feng Huang dengan nada berat, memecah keheningan malam. “Dari caramu menatap gulungan itu sejak tadi, sepertinya situasi di luar sana jauh lebih buruk dari perkiraan kita.”

Gu Yichen mengangkat kepalanya perlahan. Sepasang matanya yang tajam memancarkan kilatan rasa frustrasi dan kebencian yang mendalam. Ia membuka mulutnya, dan suara datarnya terdengar berat di dalam ruangan yang sempit itu.

“Situasinya bukan lagi sekadar buruk, Pangeran Feng,” jawab Gu Yichen dingin. “Mereka tidak hanya menyatakanmu tewas di tangan bandit hutan. Pihak istana—atas perintah Pangeran Ketiga dan faksi menteri korup—kini telah menyebarkan maklumat pengkhianatan ke seluruh penjuru negeri.”

Mingye yang duduk di samping meja menegakkan tubuhnya, merasa ada hal janggal yang mengerikan. “Maklumat pengkhianatan? Apa maksudmu?”

“Mereka memfitnah bahwa kematian palsu Feng Huang adalah hasil dari persekongkolan gelap,” lanjut Gu Yichen seraya mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. “Dan dalam maklumat itu, namaku diseret sebagai otak utamanya. Mereka menuduhku sebagai pengawal bayangan yang berkhianat, menerima suap dari musuh kekaisaran, dan sengaja meracuni serta melenyapkan nyawa pewaris sah Klan Feng sebelum akhirnya kabur membawa rahasia militer.”

Mendengar penjelasan itu, ruangan seketika menjadi senyap. Mingye terperangah, sementara Feng Huang mendengus keras hingga angin panas berhembus dari embusan napasnya.

“Keparat licik itu!” maki Feng Huang geram, menghantamkan kepalan tangannya ke atas meja kayu hingga bergetar hebat. “Mereka tidak cukup puas dengan memalsukan kematianku dan membuat Ayah—Tuan Besar Feng Dengxi—berduka di atas peti mati kosong, sekarang mereka bahkan mencoba memfitnahmu sebagai pengkhianat negara agar seluruh pasukan pemburu kekaisaran memburu kepalamu!”

Gu Yichen tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kepahitan dan cemoohan terhadap dunia istana yang selama ini ia abdi dengan kesetiaan buta. “Itulah cara kerja para penguasa busuk di ibukota. Ketika mereka ingin menyingkirkan seseorang, mereka tidak perlu membuktikan kebenaran. Mereka cukup menuliskan kebohongan di atas kertas maklumat, dan ribuan prajurit bodoh akan dengan senang hati datang mencabut nyawamu demi imbalan gelar.”

Di tengah panasnya emosi yang melanda kedua pemuda itu, langkah kaki ringan yang tenang terdengar mendekat.

Xia Qinglan keluar dari arah dapur membawa secangkir teh penenang. Gadis itu berjalan anggun, melewati Feng Huang dan Mingye, lalu meletakkan cangkir tersebut tepat di hadapan Gu Yichen. Ia kemudian menarik sebuah kursi dan duduk dengan tenang, menatap lurus ke dalam mata sang pengawal kaku tanpa keraguan sedikit pun.

“Minumlah, Gu Yichen,” ucap Qinglan tenang. “Jangan biarkan racun kemarahan mereka mengaburkan akal sehatmu.”

Gu Yichen mendongak, menatap manik mata jernih sang gadis. Ada ketenangan luar biasa yang terpancar dari diri Qinglan, seolah sekecil apapun badai fitnah yang menerpa, gadis itu tidak akan pernah goyah barang sedikit pun. Gu Yichen meraih cangkir teh tersebut dan menyesapnya perlahan, merasakan kehangatan yang meresap ke dalam rongga dadanya.

“Terima kasih, Nona,” ucap Gu Yichen pelan. “Tapi kau harus tahu resikonya. Dengan dijadikannya aku sebagai buronan utama atas tuduhan pengkhianatan, para pasukan bayangan istana dan pemburu bayaran kini pasti tengah melacak keberadaanku. Tidak lama lagi, tempat persembunyian ini akan segera tercium oleh mereka. Kehadiranku di sini hanya akan membawa bahaya maut bagimu dan rumah ini.”

Sebelum Qinglan sempat merespons, Mingye sudah menyela dengan nada ketus khasnya, meski tersirat rasa solidaritas di dalamnya.

“Hei, jangan bicara omong kosong, Tuan Pengawal Kaku! Kau pikir kami di sini duduk berpangku tangan menunggu diserang? Sejak hari pertama kita menjejakkan kaki di bawah atap rumah Lanlan, kita sudah terikat dalam perahu yang sama. Kalau istana ingin memburumu, mereka harus melewati mayat kami dulu—terutama mayat si arogan di sebelahku ini!” cerca Mingye, melirik tajam ke arah Feng Huang.

Feng Huang mendengus, namun kali ini ia tidak membantah ucapan Mingye. Ia justru menyilangkan tangan di dada, menatap Gu Yichen dengan tatapan penuh tekad.

“Mingye benar, Gu Yichen. Kita semua adalah korban dari permainan kotor yang sama di ibukota. Ayahku, Tuan Besar Feng Dengxi, sedang ditipu mentah-mentah oleh para pengkhianat di istana, sementara kau difitnah atas kejahatan yang tidak pernah kau lakukan. Jika mereka ingin berburu, maka kita akan balik memburu mereka dari bayang-bayang.”

Qinglan menyunggingkan senyuman tipis yang mematikan. Ia berdiri dari kursinya, melangkah perlahan ke dekat jendela kayu yang terbuka, membiarkan angin malam berhembus menerpa helaian rambut hitamnya.

“Fitnah dan perburuan istana...” gumam Qinglan pelan namun penuh penekanan. “Mereka mengira dengan menyebarkan maklumat palsu, mereka bisa menguasai kekaisaran sesuka hati dan melenyapkan siapapun yang menghalangi jalan mereka. Mereka lupa bahwa kebenaran selalu menemukan jalannya sendiri, bahkan di tempat paling gelap sekalipun.”

Gadis itu membalikkan tubuhnya, menatap tajam bergantian ke arah Feng Huang, Mingye, dan Gu Yichen dengan sorot mata penuh wibawa seorang pemimpin sejati.

“Gu Yichen, biarkan mereka mencarimu. Biarkan maklumat itu disebarkan ke seluruh penjuru negeri,” titah Qinglan mutlak. “Karena di balik status buronan dan fitnah keji itu, kita akan menggunakan identitas bayanganmu untuk menyusup kembali ke jantung pertahanan musuh. Perburuan ini baru saja dimulai, dan kali ini... kita yang akan memegang kendali atas jalannya takdir.”

Mendengar kata-kata penuh keyakinan dan keberanian dari Xia Qinglan, keraguan di dada Gu Yichen seketika sirna. Sifat kakunya melebur, digantikan oleh kesetiaan mutlak yang baru kepada sang gadis pemegang takdir bunga plum. Di bawah langit malam Desa Caiyun yang berselimut ancaman bahaya, persekutuan empat jiwa itu semakin mengeratkan barisan, bersiap menyambut badai perburuan yang datang menerjang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!