Alex hanyalah karyawan biasa—bekerja keras, sering diinjak, dan tidak pernah dianggap. Sampai suatu malam, hidupnya hancur dalam sekejap oleh orang-orang yang seharusnya dia percaya.
Di titik paling rendah dalam hidupnya, Alex menemukan sesuatu yang mengubah segalanya: sebuah sistem misterius yang bisa mengabulkan permintaan apa pun.
Tidak ada batas kekayaan. Tidak ada batas kekuatan. Hanya satu syarat—dia harus terus menyelesaikan misi untuk mendapatkannya.
Namun kekuatan tanpa batas punya harga yang tidak terlihat. Perlahan, pria yang dulu selalu menunduk itu mulai berubah menjadi seseorang yang bahkan tidak dia kenali sendiri.
Dan orang-orang yang pernah menghancurkan hidupnya akan segera tahu, bahwa yang mereka injak dulu... tidak akan pernah lagi bisa mereka injak sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Keesokan paginya, jalanan di depan gedung perusahaan Alex dipenuhi puluhan sepeda motor dan beberapa mobil bak terbuka, membawa hampir seratus pria bersenjata—mulai dari pentungan, rantai besi, hingga beberapa golok yang berkilau di bawah sinar matahari pagi.
Karyawan yang baru datang untuk bekerja langsung berbalik arah begitu melihat kerumunan itu, sebagian berteriak panik, sebagian lagi buru-buru menghubungi keluarga mereka sambil bersembunyi di gang-gang sekitar gedung.
Di dalam gedung, suasana tidak kalah kacau. Karyawan berlarian mencari tempat perlindungan, Bima berusaha mengumpulkan mereka menuju ruangan paling aman di lantai atas, sementara Reina dengan tangan gemetar menghubungi pihak kepolisian.
Alex berdiri di depan pintu kaca lobi, menatap keluar ke arah kerumunan yang semakin mendekat, wajahnya tidak menunjukkan sedikit pun kepanikan yang melanda seluruh gedung di belakangnya.
"Pak, jangan keluar!" Bima berteriak dari tangga, suaranya panik. "Mereka terlalu banyak!"
Alex tidak menjawab. Dia mendorong pintu kaca itu, melangkah keluar sendirian menuju halaman depan gedung, berdiri berhadapan dengan kerumunan yang kini berhenti beberapa meter di depannya.
Ketua Macan Bawah melangkah maju dari barisan depan, wajahnya masih menyimpan dendam dari pertemuan mereka beberapa hari lalu.
"Kali ini kau sendirian," ketua itu berkata, menyeringai. "Gak ada bantuan siapa pun."
"Aku memang gak butuh bantuan," Alex menjawab tenang, tangannya santai di saku celana.
Salah satu anak buah yang berdiri di sisi kanan tertawa mengejek, mengangkat goloknya tinggi-tinggi sebelum berlari menyerbu duluan.
Alex bergerak secepat kilat, menghindari ayunan golok itu dengan gerakan minimal, lalu membalas dengan satu tendangan yang membuat penyerang pertama terpental jauh ke belakang, menabrak dua rekannya sekaligus.
Serangan berikutnya datang bertubi-tubi—satu, lima, sepuluh orang sekaligus mengepung dari segala arah. Namun setiap pukulan, setiap tebasan, setiap ayunan senjata seolah selalu terlambat satu langkah dari gerakan Alex yang bergerak seperti sudah menghafal pola serangan mereka sebelum benar-benar terjadi.
Satu per satu, penyerang jatuh berguguran di halaman gedung, mengerang kesakitan, beberapa bahkan tidak lagi mampu berdiri. Karyawan yang mengintip dari balik jendela lantai atas menyaksikan dengan mulut ternganga, tidak percaya pada apa yang mereka lihat.
Dalam hitungan menit yang terasa jauh lebih lama bagi mereka yang menyaksikan, seratus orang yang tadi datang dengan penuh percaya diri kini tergeletak di sekeliling halaman, hanya menyisakan ketua mereka yang masih berdiri, napasnya memburu, mata tidak percaya menatap sosok di depannya yang bahkan tidak berkeringat sedikit pun.
Ketua Macan Bawah menjatuhkan pentungannya sendiri, berlutut perlahan, bukan karena menyerah oleh kekuatan fisik semata, melainkan oleh sesuatu yang lebih dalam dari itu.
"Kekuatan apa yang kau dapat," ketua itu bertanya, suaranya bergetar, "sampai bisa sekuat ini?"
Alex berdiri di hadapannya, menatap langit pagi yang cerah sejenak sebelum menjawab dengan nada yang begitu tenang, hampir seperti seorang guru yang membagikan kebijaksanaan hidup.
"Kekuatan yang didapat dari kegagalan dan penghinaan."
Ketua Macan Bawah terdiam lama, kata-kata itu seolah menghantam sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar rasa sakit fisik yang dia rasakan. Wajahnya yang tadi penuh amarah perlahan berubah, seperti seseorang yang baru saja menemukan makna baru dari hidupnya sendiri.
"Aku ingin belajar darimu," ketua itu berkata akhirnya, menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Alex. "Jadikan aku muridmu. Aku janji, kapan pun kau butuh bantuan, aku dan anak buahku akan selalu ada buatmu."
Alex menatap pria di hadapannya lama, sedikit terkejut dengan perubahan sikap yang begitu drastis, tapi tidak menunjukkan keterkejutan itu di wajahnya.
'Lumayan juga, dapat satpam gratis.'
"Berdirilah," Alex berkata akhirnya, nadanya tetap tenang seperti biasa. "Kalau kau benar-benar serius, buktikan dengan tindakan, bukan cuma kata-kata."
Ketua Macan Bawah berdiri, menatap Alex dengan mata yang kini penuh hormat, jauh berbeda dari tatapan penuh dendam beberapa menit sebelumnya.
Sirene polisi mulai terdengar dari kejauhan, mendekat ke arah gedung yang halamannya kini dipenuhi tubuh-tubuh yang mengerang kesakitan.
Alex berbalik, berjalan kembali menuju gedungnya sendiri, meninggalkan ketua Macan Bawah yang masih berdiri mematung di tempatnya, sementara di sudut penglihatannya, sebuah panel baru muncul melayang, seolah sistem ikut menyaksikan momen yang baru saja terjadi.
[Misi Baru Tersedia.]
[Judul: Bayangan yang Semakin Nyata.]
[Tugas: Bertahan dari ancaman yang lebih besar dari keluarga Hartono.]
[Hadiah: +2 Permintaan.]
Alex menatap tulisan itu sejenak, senyum tipis kembali muncul di wajahnya. 'Bayangan yang lebih besar, ya. Mari kita lihat, seberapa jauh kalian berani melangkah kali ini.'