NovelToon NovelToon
Hi My Lord

Hi My Lord

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu susu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______

"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______

Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.

Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.

Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.

Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#10

Keheningan melingkupi kamar megah milik Pangeran Ocean di sayap utara Istana Blackwood. Pendar cahaya matahari pagi yang menembus celah gorden sutra transparan menjatuhkan bayangan keemasan di atas lantai marmer porselen.

Di tengah ruangan, sebuah boks bayi berukir lambang kerajaan yang terbuat dari kayu jati tua berdiri kokoh. Di dalam boks tersebut, sosok bayi mungil itu terlelap dengan sangat tenang. Napasnya yang teratur menimbulkan ketukan halus yang menjadi satu-satunya suara di ruangan berudara dingin itu.

Snow berdiri kaku di samping boks kayu tersebut. Jemari tangannya yang halus gemetar tipis saat mengusap perlahan pipi gempal sang bayi. Ia tidak berani menekan terlalu kuat, takut sentuhannya akan mengusik tidur lelap sosok mungil yang amat berharga baginya itu.

Pandangan matanya memaku penuh kerinduan pada paras polos Ocean, sementara sepasang mata beningnya perlahan tergenang oleh selaput air mata yang berkaca-kaca.

Rasa sesak yang amat pekat merayap di dalam dada Snow. Tirai kenangan pahit, rasa kehilangan, dan duka masa lalu yang terakumulasi selama empat tahun terakhir kembali tersingkap lebar, menghantam relung jiwanya tanpa ampun.

"Nama Mommy bahkan sudah aku sematkan pada putraku..." bisik Snow amat lirih. Suaranya serak, tercekik oleh penyesalan dan kepahitan yang menumpuk di tenggorokan. "...Pangeran Ocean Sterling Blackwood."

Ia menundukkan kepala lebih dalam, membiarkan satu bulir air mata menetes basah, jatuh tepat di atas permukaan selimut tebal bertuliskan inisial kerajaan.

"Bukankah itu nama yang sangat indah, Mom? Oceana..." lanjutnya dalam bisikan hampa yang menyatukan seluruh kepedihan hatinya, menyebut nama mendiang ibunya yang telah tiada.

Snow menyapu sudut matanya yang basah dengan punggung tangan yang bergetar. Bayangan empat tahun lalu berputar kencang bagai mimpi buruk yang tak kunjung usai di dalam kepalanya.

Ibunya—Oceana—seorang wanita lembut dan jujur yang bekerja tulus sebagai pelayan di kediaman Keluarga Hawthorne, tewas mengenaskan di tepi jalanan yang dingin dalam sebuah kecelakaan maut.

Dihantam oleh kendaraan melaju kencang yang menghancurkan seluruh masa depannya dalam hitungan detik.

Namun yang jauh lebih menyakitkan dari sekadar kematian itu sendiri adalah kenyataan di baliknya. Pelaku utama yang bertanggung jawab atas hilangnya nyawa sang ibu justru melangkah dan berkeliaran bebas di luar sana tanpa pernah merasakan dinginnya sel penjara.

Tanpa adanya rasa bersalah, berlindung nyaman di balik tembok kebohongan, kekuasaan, dan rekayasa hukum yang dirancang oleh orang-orang berpengaruh.

Sorot mata Snow yang semula tampak rapuh dan diliputi luka perlahan-lahan berubah. Bening matanya mengeras, memancarkan kilatan dendam yang dingin, tajam, dan mematikan. Kesedihannya kini bermutasi menjadi bahan bakar pembakaran keberanian yang amat pekat.

"Aku akan menghancurkanmu, Savea..." desis Snow amat pelan. Katanya hampir tak terdengar di udara kosong, namun sarat akan ancaman yang sangat pekat. "Aku akan merampas semua apa yang kau miliki saat ini... tanpa menyisakan satu hal pun."

Snow menarik sudut bibirnya tipis. Sebuah senyum dingin yang samar dan berbahaya terukir di paras ayunya yang pucat.

"Oh, maaf... bukan merampas," gumamnya lagi seraya menatap lurus pada pantulan bayangan dirinya di kaca jendela yang suram. "Arthur memang milikku sejak awal."

Tuk... tuk... tuk...

Suara ketukan tumit sepatu yang tegas, lantang, dan tergesa-gesa mendadak bergema dari arah koridor luar kamar. Langkah kaki itu makin mendekat dengan irama yang mencerminkan ketidaksabaran sang pemilik.

Snow menyapu sisa air mata di pipinya dalam satu gerakan yang sangat cekatan. Dalam sekejap mata, seluruh raut wajahnya yang dipenuhi dendam berganti menjadi sosok ibu susu yang tenang, lugu, dan tampak tak berdaya.

Brak!

Pintu kayu tebal kamar terdorong terbuka dengan kasar. Sosok Dixie Savea Lopez berdiri di ambang pintu. Ia mengenakan gaun malam berbahan satin merah menyala dengan potongan leher rendah serta riasan wajah yang tebal dan sempurna. Matanya yang tajam langsung menyapu sekeliling ruangan sebelum akhirnya terkunci rapat pada Snow yang berdiri menunduk di samping boks bayi.

Savea melangkah masuk ke dalam kamar dengan gaya anggun yang sengaja dipaksakan. Dahi mulusnya berkerut penuh jijik saat mendapati kelopak mata Snow yang sedikit memerah.

"Aku tahu kenapa kau melahirkan bayi rewel yang terus-terusan menangis seperti itu," celetuk Savea dengan nada suara ketus, sinis, dan melengking. "Rupanya karena dirimu sendiri memang suka menangis. Kau sedang menangisi pria tidak bertanggung jawab yang telah menghamilimu dan membuangmu di jalanan itu, huh?"

Snow mendongak pelan, mengatur pandangannya agar tampak rapuh. Dengan nada suara yang sengaja dibuat sangat lugu, lembut, dan penuh kepolosan tanpa dosa, ia menjawab halus, "Tidak, Nyonya... Saya tidak sedang menangisi siapa pun. Saya hanya menangis bahagia... karena akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bertemu dan merawat putraku lagi."

Ctek!

Raut wajah Savea mendadak berubah berang seketika. Rahangnya menegang rapat saat mendengar dua kata terakhir yang keluar dari bibir wanita di hadapannya. Kilatan emosi yang tidak terkontrol mencolok dari matanya.

"Pangeran Ocean!" potong Savea dengan bentakan ketus yang ditahan, melangkah maju beberapa tindak hingga memotong jarak di antara mereka. "Dia adalah putraku! Dia Pangeran Ocean Sterling Blackwood! Berhenti menyebutnya sebagai 'putramu', wanita sialan!"

Snow langsung menundukkan kepalanya lebih dalam. Ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat, membiarkan seluruh gestur tubuhnya tampak gemetar ketakutan di hadapan sang Nyonya Istana yang sedang membakar amarah.

Savea menghembuskan napas gusar, mengibaskan jemarinya di udara dengan jijik seolah sedang mengusir debu. Dari balik lipatan tangannya, ia melempar sebuah kantong belanja eksklusif berbahan kertas tebal ke atas meja rias di samping boks bayi. Sebuah gaun baru berbahan sutra licin berwarna abu-abu gelap menyembul dari dalam kantong tersebut.

"Pakai ini," sodor Savea dengan tatapan penuh keangkuhan dan rasa superioritas yang kentara. "Aku membeli gaun ini khusus untukmu."

Snow memandangi kantong belanja dan gaun tersebut dengan raut bingung yang dipola sangat rapi. Ia menatap Savea kembali dengan sepasang mata bening yang berbinar polos dan tidak mengerti. "Untuk... saya, Nyonya?"

"Ya, tentu saja untukmu. Memangnya untuk siapa lagi?" balas Savea, menyunggingkan senyum miring yang dipenuhi oleh siasat, kelicikan, dan maksud terselubung yang amat busuk. "Dan pastikan kau memakai gaun itu nanti malam."

"Nanti malam?" ulang Snow pelan, menatap Savea dengan keraguan yang dibuat-buat.

"Jangan banyak bertanya!" sergah Savea dingin, menatap Snow dengan mata yang menyipit penuh perhitungan. "Ada jamuan makan malam keluarga besar nanti malam di aula utama. Pangeran Arthur dan para petinggi istana akan hadir. Aku ingin kau tampil 'rapi' saat bertugas mengawasi Ocean di sekitar meja makan."

Savea membalikkan tubuhnya dengan keangkuhan penuh, membiarkan gaun satin merah mewahnya mengibas tajam di udara. Ia melangkah keluar dari kamar dengan benak yang dipenuhi oleh skenario racun.

Nanti malam, di meja makan istana yang megah dan terhormat itu, Savea bermaksud membuktikan sesuatu. Ia telah menyiapkan sebuah jebakan terencana.

Brak.

Pintu kamar kembali tertutup rapat.

Di dalam ruangan yang kembali diliputi keheningan, Snow perlahan-lahan mengangkat wajahnya. Rasa takut dan keluguan yang tadinya menghiasi parasnya menguap tanpa bekas dalam sekejap.

Jemari tangannya terulur, meraih gaun sutra pemberian Savea dari dalam kantong, lalu mengusap teksturnya yang licin di bawah pendar lampu.

Snow tahu persis ada racun yang disembunyikan di balik kebaikan palsu wanita itu. Namun, ia tidak akan lari. Ia justru akan melangkah masuk ke dalam permainan tersebut.

Sebuah senyum tipis yang amat dingin, indah, sekaligus berbahaya kembali terukir di bibirnya.

"Terima kasih banyak atas hadiahnya, Savea..." bisik Snow amat pelan, matanya menyala penuh intimidasi di tengah keheningan kamar. "Mari kita lihat nanti malam... siapa yang sebenarnya akan terbukti telanjang dan hancur di meja makan itu."

1
Astrid Kucrit
ocean minta adik tuhh 😂😂
Astrid Kucrit
menikah jugaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: yeayyy🥳
total 1 replies
Yusry Ajay
akhirnya snow menikah jg🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
keren raja
Astrid Kucrit
yukk nikah yukk
Astrid Kucrit
yeeaayyyyyyy akhirnyaaaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
di tunggu besok
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
ya kk lanjut besok ditunggu up nya kk Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Ranita Rani
q kurang paham waktu mundur dlm crta ini,,,,
Ranita Rani
ocean umur brp sih
Rosdianah 🌷: Ocean umur dua bulan sebelumnya ya kak
total 1 replies
Astrid Kucrit
siap2 kaget tur arthur
Rosdianah 🌷: Gedubrak dia🤣
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan berpikir buruk dulu arthur
Astrid Kucrit
silahkan bermimpi savea
Leo
Bener2 cerita yg keren, selalu bikin penasaran
Rosdianah 🌷: ikutin terus cerita nya kak🤭
total 2 replies
Yusry Ajay
savea ga waras..🤔
Rosdianah 🌷: author silent 🤭🤣
total 1 replies
Leo
Bener2 gila nihh savea
Rosdianah 🌷: mau digetok 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan termakan bualan istrimu
Rosdianah 🌷: nah kasih tau 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
tunggu tanggal mainnya wanita gila
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
semoga ocean tidak jadi tumbal,kasian Thor 😭
Rosdianah 🌷: tenang kak🫶
total 1 replies
Leo
Ceritanya keren gak sabar nunggu lanjutnya
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!