Apa jadinya kalau dua orang yang bahkan tidak saling menyukai tiba-tiba terbangun dalam tubuh masing-masing?
Itulah yang dialami Daffa dan Dinda setelah sebuah kejadian aneh membuat roh mereka tertukar. Kekacauan pun dimulai. Daffa harus menjalani kehidupan sebagai perempuan, sementara Dinda terpaksa menghadapi dunia sebagai laki-laki.
Awalnya mereka berusaha menjalani situasi yang rumit itu. Namun semakin lama, mereka justru menemukan sisi lain satu sama lain yang selama ini tidak pernah terlihat.
Masalahnya, pertukaran roh itu ternyata memiliki satu syarat aneh untuk bisa berakhir. Mereka harus menikah!
Antara kekacauan, pertengkaran, dan perasaan yang perlahan tumbuh, mungkinkah pernikahan yang awalnya hanya sebuah solusi berubah menjadi kisah cinta sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cuti Kuliah
BAB 12
Cuti kuliah
Daffa baru merasa nyaman setelah di beri obat pereda nyeri oleh Dinda. Mereka terhubung lewat jendela kamar yang saling berhadapan satu sama lain.
Dinda menggunakan pancingan mengantarkan obat dalam kantung kresek lewat jendela untuk Daffa. Tanpa harus repot bertamu lewat pintu depan.
Ide itu baru saja ia temukan setelah kepikiran Daffa yang pasti mengalami sakit yang ia rasakan setiap bulannya.
"Makasih ya, obatnya manjur."
"Harus rajin di ganti pembalutnya Bang. Juga nggak boleh buang sembarangan mesti di bersihkan dulu. Lebih jelasnya Abang belajar lagi deh caranya tanya si Mbah menurut ajaran agama."
Dinda berbicara, tapi tidak menoleh kepada Daffa karena malu dengan topik yang mereka bahas.
"Ohh, gitu ya."
Hening sesaat di antara mereka. Sampai Daffa membuka obrolan kembali.
"Cil. Bentar lagi gue mau seminar. Gue butuh bahan-bahan buat referensi. Kemungkinan, lu juga harus belajar semuanya. Nggak mungkin kan... dalam keadaan bertukar tubuh begini, gue yang maju ke depan?"
"Haah...?!"
Seketika Dinda merasa ingin pingsan.
Pelajaran sekolah saja sudah cukup membuat kepalanya pusing. Sekarang, ia malah harus mempelajari materi kuliah Daffa dan menggantikannya seminar di hadapan para dosen.
Selama bertukar tubuh dengan Daffa, Dinda hanya berusaha mengikuti perkuliahan sebisanya. Ia mencatat materi yang dijelaskan dosen, sementara tugas-tugas kuliah biasanya dikerjakan Daffa ketika mereka bertemu di rumah.
Namun, menghadapi seminar tentu berbeda. Dinda harus benar-benar memahami materi dan mampu menjelaskannya di depan para dosen.
Dinda melemah.
"Gue nggak sanggup kayaknya, Bang."
Suara Dinda terdengar mulai bergetar. Wajahnya seketika berubah cemas membayangkan dirinya harus berdiri di depan para dosen dan menjelaskan materi yang bahkan belum sepenuhnya ia pahami.
"Pelajaran sekolah aja gue masih sering pusing. Sekarang gue harus belajar materi kuliah Abang, terus maju seminar di depan dosen? Gimana kalau gue nggak bisa jawab pertanyaan mereka?"
Dinda menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Bang, gue bisa-bisa mati berdiri di sana."
Daffa terdiam. Ia menatap Dinda beberapa saat, memperhatikan wajah gadis itu yang terlihat semakin cemas.
Ia tahu Dinda memang belum terbiasa dengan dunia perkuliahan. Memintanya memahami materi seminar dalam waktu singkat jelas bukan perkara mudah.
Daffa menghela napas pelan, lalu mengambil ponselnya.
"Ya udah. Fokus sama ujian lu aja."
Dinda menoleh. "Serius, Bang?"
Daffa mengangguk singkat.
"Terus seminar Abang gimana?"
"Nanti baru di pikirkan."
"Apa kita kasih tahu keluarga aja, ya, Bang?"
"Jangan."
"Kenapa?"
"Lu mau, kita dianggap gila?"
Dinda terdiam. Ia tidak bisa membantah perkataan Daffa. Kalau mereka tiba-tiba mengatakan bahwa jiwa mereka tertukar, besar kemungkinan tidak ada yang akan percaya.
"Iya juga, sih..."
Dinda tahu, mengeluh tidak akan mengubah keadaan. Namun, tetap saja ada keinginan dalam dirinya untuk mengeluarkan semua keluh kesah yang selama ini ia pendam.
Bagaimanapun juga, Dinda sama sekali tidak pernah siap menghadapi situasi seperti ini. Tiba-tiba bertukar tubuh dengan Daffa, harus menjalani kehidupan sebagai orang lain, sekaligus menyesuaikan diri dengan berbagai hal yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan.
Yang paling membuatnya tidak tenang adalah satu hal, ia tidak tahu sampai kapan mereka akan terjebak dalam keadaan seperti ini.
***
Hari demi hari mereka lalui dengan berat. Tanpa terasa, sudah sebulan lamanya Daffa dan Dinda hidup dengan raga yang masih tertukar.
Pada akhirnya, setelah terus dibujuk oleh Daffa, Dinda mulai mencoba menerima keadaan yang telah menimpa mereka. Meski awalnya terasa sulit, perlahan ia belajar menjalani hari-harinya dengan keadaan tersebut.
Sejak saat itu, Daffa dan Dinda semakin sering bertemu di depan jendela kamar. Mereka saling bertukar pikiran, menceritakan berbagai hal yang mereka alami, sekaligus mencari cara agar dapat menjalani kehidupan masing-masing dengan lebih mudah.
Kedekatan mereka tentu tidak luput dari perhatian kedua orang tua. Apalagi belakangan ini, Daffa dan Dinda semakin sering terlihat pergi bersama. Tanpa mengetahui kenyataan yang sebenarnya, para orang tua justru mengira keduanya semakin dekat.
"Pa, kayaknya Daffa akhir-akhir ini berubah, deh. Nggak seperti biasanya."
"Berubah gimana, Ma?"
"Loh, Papa nggak memperhatikan belakangan ini? Daffa sekarang nggak banyak protes. Malah lebih sering main sama Dinda."
"Dinda yang sebelah rumah?"
"Iya, lah. Dinda yang mana lagi?" Jawab Mayang sambil terkekeh kecil. "Kalau terus begini, rencana Mama buat menjodohkan mereka berdua bisa terlaksana."
"Mereka masih muda, Ma. Biarkan saja mereka menikmati masa muda dulu."
"Mama tahu, Pa. Nikahnya juga nggak sekarang. Yang penting tunangan dulu."
"Terserah Mama, deh. Tapi ingat, jangan sampai anak-anak merasa dipaksa. Kalau mereka nggak mau, ya jangan dipaksakan."
"Iya, Pa. Mama tahu."
Mayang tersenyum kecil. Dalam hati, ia justru semakin yakin bahwa kedekatan Daffa dan Dinda akhir-akhir ini adalah pertanda baik.
Para orang tua tampak senang melihat kedekatan Daffa dan Dinda. Mereka mengira hubungan keduanya semakin akrab dan tidak pernah menyangka bahwa di balik semua itu, anak-anak mereka justru setiap hari dibuat pusing menghadapi kehidupan dengan raga yang masih tertukar.
Namun, di tengah keadaan yang belum juga menemukan jalan keluar itu, waktu terus berjalan. Tanpa terasa, masa ujian kelulusan Dinda semakin dekat. Hal tersebut menjadi salah satu masalah terbesar yang harus mereka hadapi.
Daffa pun mati-matian membantu Dinda mempelajari berbagai materi pelajaran sekolah agar gadis itu tidak tertinggal. Sementara itu, demi bisa fokus membantu Dinda dan menyesuaikan diri dengan keadaan mereka, Daffa memutuskan untuk mengambil cuti kuliah selama satu semester.
Membayangkan Dinda harus menghadapi berbagai hal yang sebenarnya belum waktunya ia pelajari, Daffa merasa gadis itu pasti sudah cukup terbebani. Ia tidak ingin menambah beban di pundaknya dengan masalah lain.
Entah sejak kapan, Daffa mulai merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga Dinda. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat ia tidak tega melihat gadis itu kesulitan sendirian. Meski sering kali mereka berselisih dan saling membuat kesal, untuk urusan ini Daffa ingin memastikan Dinda baik-baik saja.
Mungkin terdengar aneh, tetapi melihat Dinda dalam keadaan seperti sekarang membuat naluri melindunginya muncul begitu saja. Ia sendiri tidak mengerti alasannya. Yang ia tahu, untuk sementara ini, ia ingin berada di sisi Dinda dan membantunya melewati semua yang harus mereka hadapi.
***
Di kampus.
"Bang, ini beneran nggak apa-apa?"
Dinda masih merasa tidak enak hati karena Daffa memutuskan mengambil cuti kuliah. Bagaimanapun juga, keputusan itu diambil karena keadaan mereka yang masih tertukar.
"Gue udah pertimbangkan baik-baik. Dan ini keputusan yang paling tepat."
Daffa berusaha meyakinkan Dinda bahwa keputusan tersebut bukanlah sesuatu yang ia ambil secara tiba-tiba. Ia sudah memikirkannya matang-matang sebelum akhirnya memutuskan untuk mengambil cuti selama satu semester.
"Tapi, Bang, gue jadi nggak enak. Gimana nanti kalau Om Rendra sama Tante Sarah marah? Mereka pasti kecewa kalau tahu Abang ambil cuti gara-gara gue."
"Nggak usah pikirin itu. Sekarang, lu ikutin aja arahan gue."
Dinda terdiam. Ia masih ingin membantah, tetapi melihat Daffa yang begitu yakin dengan keputusannya, akhirnya ia mengurungkan niat.
Tanpa banyak bertanya lagi, Dinda mengikuti langkah Daffa menuju ruang administrasi kampus. Di sana, ia menjalankan perannya sebagai Daffa dan mengurus seluruh proses pengajuan cuti sesuai arahan yang diberikan.
Meski berat hati, Dinda tahu Daffa melakukan semua itu bukan semata-mata untuk dirinya sendiri. Ia hanya ingin memastikan Dinda bisa menghadapi ujian kelulusan tanpa harus memikirkan hal lain.
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
salahin nggak pake kacamata itu