Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.
Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.
Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.
PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SESAT DI RIMBA SENDIRI
# PELET LAKNAT 2
## Bab 27: Sesat di Rimba Sendiri
Di waktu yang bersamaan namun di tempat yang berbeda, Jaka juga mengalami kesialan. Tiba-tiba ban belakang sepeda motor yang ia kendarai pecah tanpa sebab hingga membuat laju kendaraannya oleng tak terkendali.
"Lah... lah, kenapa ini?!" seru Jaka panik sembari berusaha menyeimbangkan stang, memperlambat laju, dan menepikan motornya ke pinggir jalan.
Ia segera turun untuk memeriksa. Betapa terkejutnya Jaka saat melihat kondisi roda belakangnya yang sudah gembos total, menyatu rata dengan tanah.
"Hah! Sialan, bocor pula! Kenapa harus di saat-saat seperti ini, sih?!" teriak Jaka emosi seraya memukul keras jok motornya.
Mata Jaka menyapu sekeliling, berharap menemukan pemukiman di sekitarnya. Namun, yang terlihat hanyalah barisan pohon cemara dan pinus yang berjejer rapi di sepanjang pinggir jalan yang sepi.
Kala itu, jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB, menandakan malam akan segera tiba. Hujan memang telah reda, namun berganti dengan turunnya kabut putih tipis. Bersamaan dengan itu, embusan angin malam mulai bergesek lembut, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum.
"Aduh, harus ke mana cari bantuan? Di pinggir hutan begini, mana rumah Simbah masih jauh lagi... aku sendirian," gusar Jaka sembari menyalakan sebatang rokok untuk meredakan kepanikannya.
Jaka pun lantas duduk sejenak di pinggir jalan, ditemani suara jangkrik dan binatang malam yang mulai bermunculan, ia berusaha berpikir jernih. Beberapa menit kemudian, ia merogoh ponsel di saku jaketnya. Saat layar ponsel menyala, betapa kagetnya Jaka melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.45 WIB.
"Aduh, sudah jam enam kurang! Hampir malam ini. Aku harus bergerak sekarang sebelum keburu makin gelap!" seru Jaka seraya bangkit dari duduknya. Ia lalu menyembunyikan motornya di balik semak-semak yang ia kira cukup aman.
Bermodalkan nekat dan penerangan senter yang ia bawa dari rumah, Jaka mulai berjalan menyusuri jalan sepi, menembus kabut tebal yang kian pekat. Dengan jinjingan kardus berisi ayam cemani di tangannya, rasa takut dan sapuan dingin yang menusuk kulit tak lagi ia hiraukan. Ia terus melangkah terburu-buru; pikiran dan jiwanya hanya terfokus pada satu tujuan: menuntaskan ritual terakhir.
Namun, alam dan jiwanya seakan terus bersekongkol menahan langkahnya. Di tengah perjalanan yang sunyi, rasa lelah luar biasa dan dahaga yang membakar mulai menyerang. Sementara itu, malam merambat kian larut dan pekat.
"Aduh... haus banget! Aku lupa bawa air minum lagi!" keluh Jaka dengan napas tersengal-sengal dan keringat dingin yang mengucur deras membasahi wajahnya.
Lantas Jaka beristirahat sejenak seraya merebahkan tubuhnya di semak-semak, mencoba memulihkan tenaganya yang terkuras.
"Kenapa hidupku harus seperti ini? Hanya untuk mendapatkan hati Dea... Dea... Dea! Kenapa kamu membuatku gila seperti ini?!" gerutu Jaka frustrasi seraya menatap langit malam yang kelam.
Sementara itu di sisi lain, kondisi Dea justru semakin parah. Jiwa Dea kini sudah 70 persen dikuasai oleh makhluk gaib yang terus menerornya—sosok perempuan bergaun merah kusam yang memang diutus oleh Mbah Usman untuk mengikis dan menguasai jiwanya sepenuhnya.
Anehnya, kedua orang tua Dea justru tampak acuh tak acuh. Sang ibu yang tadinya sangat peka terhadap perubahan drastis anaknya, kini malah termakan mentah-mentah omongan sang suami yang menganggap gangguan tersebut hanyalah bagian dari proses pendewasaan.
Dea yang kala itu berada di dalam kamar mulai menunjukkan perilaku tak wajar. Ia mulai melahap bunga-bunga yang ia petik sendiri di halaman rumah. Sebaliknya, setiap kali ia mencoba memakan makanan normal, perutnya menolak dan berujung muntah-muntah hebat. Hal aneh itu perlahan-lahan menggerogoti fisiknya, membuat tubuh Dea kian menyusut dan kurus kering.
"Jaka... aku akan datang!" seru Dea. Suara itu terdengar sangat aneh, seakan ada dua gema suara berbeda yang keluar dari satu helaan napas yang sama, melengking tajam menembus keheningan malam.
Matanya tak berkedip menatap foto di genggamannya. Sebuah foto lama saat mereka masih bersama—Ayu, Kiki, Jaka, dan Dea—kenangan manis semasa mereka masih duduk di bangku SMA.
Kembali ke Jaka yang masih berjuang menuju kediaman sang dukun. Sudah hampir dua jam lebih Jaka menembus lebatnya hutan dan membelah pekatnya malam. Namun anehnya, rumah sang dukun tak kunjung ia temukan. Langkah kakinya seakan hanya berputar-putar di tempat yang sama sedari tadi.
Kala itu, Jaka terpaksa beristirahat di dekat sebuah mata air demi menghilangkan rasa haus yang kian menggerogoti tenggorokannya. Letaknya memang agak jauh dari jalan utama, namun dahaga yang tak tertahankan memaksanya menyimpang dari jalur tujuan.
"Buset deh! Sudah berjam-jam aku jalan, rumah Simbah belum kelihatan juga. Apa aku nyasar, ya?" tanya Jaka pada dirinya sendiri, mulai meragukan arah langkahnya seraya mengusap wajah yang basah oleh percikan air dari mata air itu.
"Tidak... tidak mungkin aku nyasar. Aku yakin waktu itu jalannya ke sini kok!" lanjut Jaka membatin, menepis kuat-kuat segala keraguan di kepalanya.
Jaka sama sekali tidak menyadari bahwa pergerakannya sedang diawasi ketat oleh beberapa sosok yang tersembunyi di balik pepohonan. Mereka memang belum menampakkan wujud utuhnya, namun sepasang-sepasang mata merah menyala tampak menyipit tajam dari balik kegelapan di sekitar pohon.
Jaka kembali merenung, mencoba mengingat-ingat jalur yang telah ia lalui.
"Tapi sepertinya memang ada yang aneh. Aku sudah tiga kali melewati kebun bambu itu, tapi rumah Simbah belum ketemu juga," ujar Jaka menjeda kalimatnya. "Waktu ke sini sama Kiki, kita cuma lewat sekali dan langsung sampai," lanjut Jaka, keraguan besar kembali menyergap pikirannya. "Apa aku beneran nyasar, ya?!"