NovelToon NovelToon
Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:522
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.

Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!

"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."

Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NEGOSIASI DENGAN RENTENIR (VERSI MAFIA BERJAS)

Pasar Baru di pagi hari adalah sebuah simfoni kekacauan yang sangat otentik. Bau rempah, ikan asin, dan knalpot motor bercampur menjadi satu aroma yang bagi Vania adalah definisi nyata dari "hidup". Dia berjalan di samping Larasati, memakai gaun katun sederhana yang sengaja dia pilih agar tidak terlalu mencolok, meskipun tas Hermes oranye di lengannya tetap saja berteriak "aku mahal" di tengah lautan tas kresek.

"Kak Vania, yakin kita harus ke sini?" tanya Larasati, suaranya bergetar pelan. Dia memeluk tas selempangnya erat-erat, matanya waspada menatap sekeliling. "Mas Raka bilang dia yang akan mengurus utang Papa. Aku tidak mau Kak Vania ikut terkena masalah."

"Raka itu terlalu lambat, Las. Kalau dia yang urus, dia bakal pakai cara diplomatik, ngobrol baik-baik, dan ujung-ujungnya malah disogok sama preman ini," balas Vania datar, matanya menyapu deretan kios. "Kita harus pakai cara yang lebih... persuasif. Lagipula, aku butuh alasan buat keluar mansion. AC di kamar Kevin terlalu dingin, bikin aku bersin terus."

Vania menatap "kamera" imajinernya yang melayang di atas tumpukan karung beras. Di tahun 2026, aku tinggal buka aplikasi, pesan ojek online, bayar utang pakai QRIS, dan selesai dalam lima menit. Di sini? Aku harus jalan kaki tiga kilometer melewati genangan air pasar, pakai sepatu yang solnya tipis, demi menyelamatkan nyawaku dari plot sinetron yang menyedihkan. Hidup di tahun 90-an itu benar-benar uji ketahanan fisik.

Mereka sampai di sebuah warung kopi tua di ujung gang sempit. Di sana, tiga pria duduk di meja kayu yang lengket. Pemimpin mereka, yang oleh Vania secara internal diberi nama "Bang Jago", mengenakan kaos oblong ketat yang memperlihatkan otot lengan (yang sepertinya dilukis dengan spidol hitam), rantai emas tebal di leher, dan tato naga di bahu kirinya. Dia mengunyah tusuk gigi dengan gaya sok keras.

"Heh, nona cantik," sapa Bang Jago, suaranya dibuat serak dan berat, persis seperti dubingan film action kelas B. Dia menunjuk Larasati dengan dagunya. "Bawa uangnya? Atau mau abang yang ambil paksa?"

Larasati mundur selangkah, wajahnya pucat. "S-saya belum punya semuanya, Bang. Tolong beri saya waktu..."

"Waktu?" Bang Jago tertawa, menunjukkan gigi yang kuning. "Waktu itu uang, nona. Dan bunga utang bapaknya jalan terus. Kalau hari ini nggak bayar, besok abang bakar kios bapaknya!"

Vania menghela napas. Klise. Sangat klise. Dialognya bahkan tidak orisinal. Pasti naskahnya ditulis dalam waktu lima menit.

Tepat saat Bang Jago berdiri, siap untuk melakukan adegan intimidasi fisik yang biasanya akan diakhiri dengan kedatangan Raka dalam slow motion, sebuah suara menggelegar memecah suasana pasar.

VROOOOM. VROOOOM. VROOOOM.

Tiga mobil Mercedes-Benz 600SEL berwarna hitam pekat dengan kaca film tingkat dewa melaju pelan, menghalangi seluruh jalan gang. Mobil-mobil itu berhenti secara sinkron, persis seperti formasi militer. Pintu mobil terbuka bersamaan.

Click. Click. Click.

Enam pria berjas hitam dan kacamata gelap turun, membentuk formasi pertahanan. Lalu, dari mobil tengah, sepasang sepatu pantofel kulit hitam mengkilap melangkah keluar.

Kevin.

Dia mengenakan setelan jas hitam bespoke yang potongannya sempurna, kemeja putih tanpa dasi, dan kacamata hitam aviator yang memantulkan cahaya matahari. Angin indoor yang misterius dan selalu datang tepat waktu berhembus kencang di gang sempit itu, mengibarkan ujung jas Kevin dan membuat rambutnya yang disisir rapi berkibar dramatis.

Bang Jago dan kedua anak buahnya membeku. Tusuk gigi di mulut Bang Jago jatuh ke tanah.

Kevin berjalan maju dengan langkah lambat dan penuh wibawa. Di belakangnya, dua pria membawa tas dokumen tebal, dan satu pria lagi membawa stempel notaris.

"K-Kenapa ada mobil mewah di sini?" gumam Bang Jago, suaranya kehilangan seluruh arogansinya. "Ini wilayah kekuasaan kita, Tuan!"

Kevin berhenti tepat di depan Bang Jago. Dengan gerakan lambat yang sangat sinematik, dia menurunkan kacamata hitamnya, menatap preman itu dengan tatapan yang bisa membekukan air mendidih.

"Aku tidak peduli wilayah kekuasaan siapa ini," ucap Kevin, suaranya rendah, berat, dan bergema. "Aku di sini untuk melakukan audit kepatuhan hukum terhadap praktik pinjaman uang yang kau jalankan."

Vania, yang sedari tadi berdiri di samping warung bakso di sebelah gang, mengunyah baksonya dengan tenang. Dia mengacungkan jempol ke arah "kamera" imajinernya. Nah, ini baru gaya. Tidak ada pukulan, tidak ada tendangan. Kita pakai cara beradab.

Kevin mengangguk pada pria di belakangnya. "Bacakan."

Pria berjas itu membuka tas dokumennya, mengeluarkan sebuah buku tebal berwarna hijau, dan mulai membacakan dengan suara lantang dan datar:

"Pasal 368 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang Pemerasan. Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan ancaman kekerasan memaksa seseorang supaya memberikan barang, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun!"

Bang Jago menelan ludah. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya yang gundul.

"Dan," lanjut pria berjas itu, membalik halaman dengan suara srek yang nyaring di keheningan gang, "Pasal 1365 KUHPerdata tentang Perbuatan Melawan Hukum, serta Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/3/PBI/2005 tentang Pelarangan Kegiatan Penghimpunan Dana dan Pemberian Kredit yang dilakukan tanpa izin. Suku bunga yang Anda terapkan sebesar 10% per hari jelas melanggar batas wajar dan dapat dikategorikan sebagai rentenir ilegal yang diancam pembekuan aset dan pidana denda maksimal lima miliar rupiah!"

Pembacaan itu berlanjut. Dan berlanjut. Dan terus berlanjut.

Selama empat puluh lima menit penuh, tim hukum Kevin membacakan pasal-pasal KUHP, UU Perbankan, dan regulasi OJK (yang sebenarnya belum ada di tahun 90-an, tapi Kevin tidak peduli, dia menyuruh pengacaranya mengarang nama lembaga yang terdengar canggih) tanpa henti. Mereka membacakan definisi bunga majemuk, menghitung denda komulatif, dan menjelaskan prosedur penyitaan aset oleh kejaksaan.

Bang Jago dan anak buahnya tidak lagi terlihat seperti preman tangguh. Mereka duduk di kursi kayu warung, gemetar hebat. Air mata mulai menggenang di mata mereka. Bukan karena dipukul, tapi karena bosan, takut, dan otak mereka yang tidak terbiasa dengan istilah hukum tingkat tinggi mengalami overheat.

"Kami... kami tidak tahu, Tuan..." isak anak buah Bang Jago, suaranya pecah. "Kami cuma lulusan SD, Tuan. Kami tidak paham apa itu KUHPerdata..."

"Dan satu lagi," suara Kevin memotong, nadanya dingin dan mematikan. Dia melangkah satu langkah lebih dekat, bayangannya menelan Bang Jago. "Jika kalian masih menagih utang pada keluarga Larasati, aku akan memastikan kalian tidak hanya dipenjara, tapi juga diwajibkan mengikuti kursus literasi keuangan selama sepuluh tahun di dalam sel tahanan. Apakah kalian mengerti?"

Bang Jago mengangguk cepat, air matanya menetes deras membasahi kaos oblongnya. "Mengerti, Tuan! Kami paham! Kami kapok!"

Vania menelan suapan baksonya yang terakhir. Dia menyeka mulutnya dengan tisu, lalu berjalan mendekati Kevin.

"Efisien. Brutal. Aku suka," ucap Vania datar, menatap Kevin dengan tatapan yang sedikit lebih lembut dari biasanya. "Kau tidak perlu membakar kios mereka. Kau membakar mental mereka dengan birokrasi. Itu jauh lebih menyakitkan."

Kevin menoleh, menatap Vania. Wajahnya yang tadi dingin dan mengintimidasi langsung melunak seketika. Sudut bibirnya terangkat sedikit. "Aku hanya ingin memastikan tidak ada yang mengganggumu, Vania. Atau... mengganggu Larasati."

Sebelum Vania sempat membalas, Bang Jago tiba-tiba berdiri. Dia menyeka ingusnya dengan lengan kaosnya, lalu melangkah mendekati Kevin dengan langkah yang ragu-ragu.

"Tuan..." bisik Bang Jago, suaranya bergetar. Dia menatap sekeliling, memastikan tidak ada yang mendengar, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Kevin. "Kami... kami sebenarnya tidak mau menagih gadis itu. Kami disuruh."

Kevin menyipitkan matanya. "Disuruh siapa?"

Bang Jago menelan ludah, wajahnya pucat pasi. "Om Reza. Dia yang bayar kami untuk menagih utang bapaknya, dan dia juga yang bayar kami untuk menyebarkan gosip kalau bapaknya judi. Kami cuma disuruh bikin malu keluarga Tuan Raka..."

Hening.

Angin di gang itu seolah berhenti berhembus. Vania menatap Bang Jago, lalu menatap Kevin. Wajah Kevin berubah. Rahangnya mengeras, otot-otot di lehernya menegang, dan aura dingin yang jauh lebih berbahaya dari sebelumnya menguar dari tubuh pria itu.

"Om Reza," gumam Kevin, suaranya sangat pelan, namun setiap suku katanya terdengar seperti vonis mati.

Vania menatap "kamera" imajinernya dengan tatapan datar. Plot twist. Ternyata dalangnya bukan rentenir, tapi Om Reza yang serakah. Oke, Tuan Kevin. Sepertinya target Anda hari ini sudah ditentukan.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!