Setelah tewas dalam invasi brutal yang meluluhlantakkan kotanya, Yang Zhen tiba-tiba terbangun kembali ke masa remaja saat ia masih menjadi murid akademi yang selalu dicap sebagai pecundang.
Namun, berbekal ingatan masa depan dan pusaka kuno Gulungan Dewa Naga yang memberinya kekuatan, ia kini bersumpah untuk memutarbalikkan takdir dan menginjak-injak siapa pun yang berani meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
"Kepala Akademi, Anda terlihat sangat menyedihkan saat sedang panik seperti ini." goda Yang Zhen dengan nada suara yang sangat tenang.
"Apa kau bilang?!" urat-urat di dahi Master Feng menonjol keluar.
"Anda membiarkan akademi yang mulia ini disetir oleh seekor rubah tua yang hanya bermodalkan koin emas kotor." jelas Yang Zhen tanpa basa-basi.
"Kau tidak mengerti bagaimana dunia ini bekerja, Yang Zhen." balas Master Feng yang mulai menurunkan nada suaranya namun tetap sinis. "Tanpa koin emas mereka, kita tidak bisa membeli pil dan buku teknik untuk para murid."
Yang Zhen menyandarkan punggungnya ke kursi dan menatap lurus ke dalam mata Master Feng.
"Bagaimana jika aku memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar sumbangan tahunan Keluarga Zhao?" tawar Yang Zhen dengan penuh percaya diri.
"Sesuatu yang akan membuat nama Akademi Awan Merah menjadi nomor satu di seluruh kekaisaran." tambah Yang Zhen memberikan umpan emasnya.
Master Feng mendengus kasar seolah baru saja mendengar lelucon paling tidak lucu di dunia.
"Apa yang bisa diberikan oleh seorang murid biasa sepertimu?" ejek Master Feng meremehkan.
"Saya bisa memberikan Anda terobosan ke Tahap Inti Emas Bintang Tiga dalam waktu kurang dari sebulan." jawab Yang Zhen santai.
Ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap seolah waktu baru saja berhenti berdetak. Master Feng mematung di kursinya dengan mata terbelalak sempurna menatap Yang Zhen.
"Anda sudah terjebak di Bintang Satu selama lima belas tahun tanpa ada kemajuan sedikit pun." bongkar Yang Zhen membidik langsung kelemahan terbesar Kepala Akademi itu.
"Bagaimana kau bisa tahu rahasia kultivasiku?!" suara Master Feng bergetar hebat menahan rasa syok yang luar biasa.
"Karena Anda berlatih Teknik Pernapasan Awan Putih dengan postur yang salah sejak awal." ucap Yang Zhen layaknya seorang guru besar yang menceramahi murid bodoh.
"Setiap kali Anda mencoba memadatkan inti emas di Dantian, hawa dingin dari teknik itu merusak meridian jantung Anda." lanjut Yang Zhen menjelaskan dengan sangat detail dan akurat.
Keringat dingin mulai bercucuran membasahi pelipis Master Feng. Semua yang dikatakan oleh pemuda ini adalah fakta yang bahkan tidak diketahui oleh tabib terhebat di kota ini.
"Siapa kau sebenarnya, Yang Zhen?" tanya Master Feng yang kini suaranya dipenuhi oleh rasa hormat dan ketakutan.
"Saya hanyalah murid yang ingin lulus dari akademi ini dengan tenang." jawab Yang Zhen sambil tersenyum manis.
Yang Zhen merogoh saku bajunya dan mengeluarkan selembar perkamen yang sudah ia persiapkan sebelumnya. Ia melemparkan perkamen itu ke atas meja kerja Master Feng.
Srak.
"Itu adalah revisi dari Teknik Pernapasan Awan Putih milik Anda." ucap Yang Zhen menunjuk perkamen tersebut. "Saya juga menuliskan resep ramuan sederhana untuk menyembuhkan luka di meridian jantung Anda."
Master Feng dengan tangan gemetar mengambil perkamen itu dan membacanya dengan sangat teliti. Hanya dalam beberapa detik, matanya berbinar-binar dan air mata haru menggenang di pelupuk matanya.
"Ini... ini terlihat sangat sempurna." gumam Master Feng dengan suara tersendat. "Alur Qi yang ditulis di sini benar-benar menutupi semua kelemahan teknik leluhurku."
"Dengan revisi ini, Anda tidak hanya bisa mencapai Bintang Tiga, tapi menembus Tahap Bumi di masa depan bukanlah sekadar mimpi." tambah Yang Zhen memanaskan ambisi pria tua itu.
Bruk!
Tanpa diduga, Master Feng berdiri dari kursinya dan membungkukkan badannya dalam-dalam ke arah Yang Zhen. Harga dirinya sebagai Kepala Akademi telah runtuh sepenuhnya di hadapan pengetahuan dewa milik pemuda itu.
"Saya berhutang budi yang sangat besar pada Anda, Tuan Muda Yang." ucap Master Feng tulus. "Mohon maafkan sikap tidak sopan saya sebelumnya."
"Tidak perlu berlebihan, Master Feng." Yang Zhen tersenyum penuh kemenangan. "Sekarang, apakah Anda masih berniat untuk mengeluarkanku demi koin emas Keluarga Zhao?"
"Tentu saja tidak!" jawab Master Feng dengan nada tegas dan lantang. "Bahkan jika Zhao Tian membawa seluruh pasukannya kemari, akademi ini akan melindungi Anda dengan nyawa kami!"
"Aku suka cara berpikimu, Master Feng." Yang Zhen berdiri dari kursinya dan merapikan pakaiannya.
"Gunakan waktu minggu ini untuk menyembuhkan luka meridian Anda." perintah Yang Zhen sebelum melangkah menuju pintu. "Karena saat Ujian Akhir Akademi nanti, kita akan mengadakan pembersihan besar-besaran terhadap parasit di kota ini."
Master Feng menganggukkan kepalanya dengan patuh. Ia kini sepenuhnya telah menjadi salah satu bidak catur yang berada di bawah kendali Yang Zhen.
Yang Zhen keluar dari ruang kerja Kepala Akademi dengan langkah ringan dan hati yang sangat puas. Kini akademi telah resmi bergabung dengan aliansi bayangannya.
Ia berjalan menuju gerbang depan akademi di mana Wang Hao sudah menunggunya dengan wajah pucat dan napas memburu.
"Bos! Aku sudah mendapatkan semua Rumput Babi Gila yang kau minta!" lapor Wang Hao sambil menepuk tas raksasanya.
"Kerja bagus, Hao." puji Yang Zhen sambil menepuk pundak sahabatnya itu.
"Tapi ada satu masalah." bisik Wang Hao sambil melirik ke kanan dan ke kiri dengan cemas. "Aku yakin ada seseorang yang mengintaiku saat aku keluar dari pasar gelap tadi."
"Orang itu memakai jubah hitam dan gerakannya sangat cepat seperti bayangan." lanjut Wang Hao dengan nada ketakutan.
Bukannya panik, Yang Zhen malah tersenyum sangat lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih.
"Biarkan saja tikus itu melapor pada Patriark Zhao." jawab Yang Zhen santai.
"T-tapi bagaimana jika mereka tahu rencana kita?" protes Wang Hao bingung.
"Mereka akan berpikir kita sedang meracik racun murahan untuk membalas dendam." ucap Yang Zhen sambil mulai berjalan pulang. "Mereka tidak akan pernah menyangka bahwa Rumput Babi Gila adalah bahan pemicu untuk peledak spiritual tingkat tinggi."
"Kita akan membakar semangat Keluarga Zhao di hari ujian nanti, Hao." batin Yang Zhen dengan mata memancarkan kilatan kejam yang sangat menakutkan.
Hari Ujian Akhir Akademi tinggal menghitung hari, dan panggung pembantaian telah disiapkan dengan sangat sempurna.