NovelToon NovelToon
PENGANTIN SANG JENDERAL

PENGANTIN SANG JENDERAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:253
Nilai: 5
Nama Author: Dede Queen

Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.

Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".

Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.

Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.

Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Jejak yang Tersembunyi

Fajar menyingsing pucat, menyelinap di antara celah pepohonan, namun udara pagi ini terasa berbeda—lebih dingin, lebih sunyi. Ling Yue terbangun lebih awal dari biasanya, seolah ada sesuatu yang menarik kesadarannya keluar dari tidur. Tempat tidur di sebelahnya kosong. Selimutnya sudah dingin.

Ia bangkit perlahan, jantungnya berdebar kencang tanpa sebab yang jelas. Ruangan itu sepi, hanya sisa cahaya lilin yang hampir padam. Ia melangkah keluar, menuju gubuk tempat Rouran menginap—dan di sana, keraguannya berubah menjadi kepastian.

Tempat itu kosong. Tidak ada barang bawaan, tidak ada tanda-tanda tidur semalam. Hanya selembar kertas tipis yang diletakkan rapi di atas meja kayu, tertutup oleh batu pipih.

Ling Yue meraih kertas itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Tulisan tangan Rouran—tegas, sedikit miring, seolah ditulis dengan terburu-buru:

"Jangan mencariku. Aku pergi ke tempat yang seharusnya sudah kutuju sejak lama. Ini bukan pelarian, melainkan penebusan. Jaga dirimu, dan jaga mereka. Kita mungkin akan bertemu lagi, tapi bukan di jalan yang sama."

Tidak ada tanda tangan. Tidak ada penjelasan lebih lanjut.

"Ling Yue?"

Suara Li An terdengar dari ambang pintu. Wajahnya masih tampak segar setelah berlatih pagi, namun berubah segera saat melihat ekspresi gadis itu. Ia melangkah masuk, melirik kertas di tangan Ling Yue.

"Rouran pergi," ucap Ling Yue pelan, suaranya tertahan. "Sendirian."

Li An mengambil surat itu, membacanya sekilas, lalu menghela napas panjang. "Dia tahu risikonya. Tetap saja... pergi sendirian ke wilayah tak dikenal itu terlalu berbahaya."

"Dia menyembunyikan sesuatu," kata Ling Yue, menatap meja kayu itu seolah jawaban terselip di sana. "Kemarin aku melihatnya berbicara dengan Kepala Desa. Mereka menyebutkan sesuatu... peta. Dan tempat yang tidak tertulis di peta mana pun."

Li An mengerutkan kening. "Kalau begitu, arah perginya bukan ke arah pegunungan tempat pasukan musuh bergerak." Ia berbalik cepat. "Aku akan memeriksa jejaknya."

"Aku ikut," potong Ling Yue tegas.

"Kau harus tetap di sini—"

"Li An," potongnya lagi, menatap lurus ke manik mata pria itu. "Kita berjanji, ingat? Bersama. Dan Rouran adalah keluargaku. Aku tidak akan membiarkannya menghadapi bahaya sendirian."

Li An menatapnya lama, lalu akhirnya mengangguk pelan. "Baik. Tapi kita harus bergerak cepat. Kabut pagi akan menghapus jejaknya dalam hitungan jam."

 

Mereka bergerak menyusuri tepi hutan. Di sana, di antara rumput yang tertekan dan ranting yang patah, Li An menemukan jejak langkah yang samar—menuju ke arah hutan tua yang dikenal warga desa sebagai Hutan Terlarang. Pohon-pohonnya tumbuh begitu rapat hingga cahaya matahari nyaris tak bisa menembusnya, dan kabut di sana tak pernah benar-benar hilang, bahkan di siang hari.

"Tidak ada warga desa yang berani masuk ke sana," kata Ling Yue pelan, menatap bayang-bayang pohon raksasa yang menjulang. "Konon, hutan itu melindungi rahasia yang lebih tua dari kerajaan ini sendiri."

"Dan Rouran tahu itu," gumam Li An. Ia berhenti sejenak, menunduk melihat tanah lembap. "Jejaknya masih segar. Belum lama berlalu."

Keduanya melangkah masuk. Udara di dalam hutan terasa berat, berbau lumut tua dan daun yang membusuk. Suara burung seketika lenyap, digantikan oleh keheningan yang menekan telinga. Setiap langkah terasa seperti mengganggu sesuatu yang purba dan tak terlihat.

"Li An..." panggil Ling Yue pelan, meremas lengan pria itu. "Lihat itu."

Di hadapan mereka, di atas batang pohon raksasa yang tumbang, terukir tanda yang samar—lima garis melengkung yang membentuk seperti kelopak bunga, tersusun melingkar. Tanda itu sama persis dengan lambang yang pernah ia lihat di giok kuno yang dibawa Rouran.

"Itu lambang..." Li An terdiam, seolah kata-kata tertahan di tenggorokannya. "Itu lambang Klan Bunga Kabut. Klan yang dianggap telah musnah ratusan tahun lalu."

Ling Yue menatapnya lebar. "Rouran keturunan mereka?"

"Kemungkinan besar. Dan peta yang dibawanya... kemungkinan mengarah ke tanah leluhur klan itu. Tempat yang dikatakan menyimpan kekuatan yang bisa mengubah keseimbangan seluruh negeri." Li An menatap ke arah kedalaman hutan yang semakin gelap. "Tapi ada alasan mengapa klan itu musnah. Kekuatan itu juga menarik orang-orang yang ingin menguasainya dengan cara apa pun."

Mereka melanjutkan perjalanan. Semakin dalam mereka melangkah, semakin banyak tanda serupa yang terukir di batang pohon dan batu-batu besar. Jejak Rouran semakin jelas, seolah ia sengaja meninggalkan tanda-tanda itu—bukan untuk menyembunyikan arah, melainkan untuk menunjukkan jalan.

"Apakah dia ingin kita mengejarnya?" gumam Ling Yue.

"Atau memberi peringatan," jawab Li An pelan.

Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah celah batu yang lebar. Di sana, di tepi jurang yang dalam, jejak Rouran berhenti. Di atas batu datar yang menjorok keluar, tergeletak selembar kain—bagian dari jubah yang biasa dikenakannya. Di sampingnya, sepotong giok retak berkilau samar terkena cahaya yang nyaris tak ada.

Ling Yue meraih giok itu. Panas. Ia terkejut hampir menjatuhkannya, namun giok itu perlahan mendingin di genggamannya.

"Ini bukan sekadar batu," bisiknya.

"Pintu gerbang," kata suara berat dari belakang mereka.

Keduanya menoleh cepat. Kepala Desa berdiri di sana, napasnya sedikit memburu, wajahnya tampak lebih tua dari biasanya di bawah naungan pohon-pohon raksasa.

"Kau tahu arah tujuannya?" tanya Li An.

Kepala Desa mengangguk pelan, menatap ke arah jurang yang kabutnya perlahan mulai menipis, memperlihatkan jalan setapak tersembunyi yang berkelok turun ke bawah.

"Rouran bukan sekadar pergi menebus kesalahan masa lalu," ucapnya pelan. "Dia pergi untuk mengambil alih beban yang seharusnya dipikul oleh pemimpin klan terakhir—beban menjaga Puncak Kabut Abadi. Tempat di mana kekuatan kuno itu tertidur."

Ia menatap mereka berdua dengan tatapan yang serius.

"Dan jika dia sampai di sana sebelum kekuatan itu bangun sendiri... dia mungkin tidak akan kembali sama seperti dulu."

Angin berhembus kencang dari bawah, membawa suara gemuruh yang samar—seperti denyutan jantung raksasa yang mulai terbangun. Ling Yue meremas giok itu erat-erat, merasa getaran halus yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Kalau begitu," katanya tegas, menatap jalan yang terbentang di bawah kabut, "kita tidak boleh terlambat."

Li An menggenggam tangan gadis itu, mengangguk. "Bersama," ucapnya pelan namun tegas.

Tanpa menunggu lebih lama, mereka melangkah turun—menyusuri jalan yang tak diketahui peta mana pun, menuju tempat di mana masa lalu Rouran, rahasia kerajaan, dan takdir mereka sendiri perlahan menyatu menjadi satu.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!