NovelToon NovelToon
Berniat Menceraikan Suami, Malah Hamil Anak Dosenku

Berniat Menceraikan Suami, Malah Hamil Anak Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Nikah Kontrak
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: isd

Niat mau bercerai setelah selesai Kkn, eh pas Kkn mereka malah buat dede bayi. Apakah mereka akan jadi bercerai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jahil

Tanpa menjelaskan lebih lanjut, pria itu melangkah menuju kelompok mahasiswi yang sedang sibuk mengerjakan tugas mereka.

Pandangan Arsen langsung tertuju pada Keira. Perempuan itu hanya berdiri di tempatnya, memperhatikan kesibukan teman-temannya tanpa melakukan apa pun.

"Kalau cuma berdiri, pekerjaan kalian kapan selesai?" tegur Arsen dengan nada tegas.

"Iya, Pak," sahut Keira dingin tanpa menunjukkan ekspresi berarti.

Arsen memperhatikan wajah istrinya selama beberapa saat. Sikap acuh tak acuh Keira belakangan ini benar-benar mengusik pikirannya.

Ia pun melangkah mendekat, mengurangi jarak di antara mereka hingga suaranya hanya bisa didengar oleh Keira.

"Ikut aku."

Keira menoleh dengan tatapan tajam. "Buat apa?"

Arsen membalas tatapannya tanpa berkedip, lalu menjawab singkat, "Ke kamar."

Jantung Keira seketika berdegup lebih kencang.

Bukan karena bahagia, apalagi mengharapkan sesuatu dari pria itu. Justru sebaliknya.

Keira tahu betul bahwa setiap kali mereka berada berdua di dalam sebuah ruangan, selalu ada saja kejadian yang membuat perasaannya kacau.

Arsen selalu berhasil membuatnya kehilangan ketenangan, entah melalui perkataan, sikapnya yang menyebalkan, atau perlakuannya yang sulit ditebak.

Dan kali ini, ketika pria itu kembali memintanya untuk pergi berdua, Keira tidak tahu apa yang sebenarnya sedang direncanakan olehnya. Ia hanya bisa menatap Arsen dengan perasaan waswas. Sebab, jauh di dalam hatinya, Keira mulai menyadari satu hal.

Kali ini, Arsen mungkin akan kembali menguji batas kesabarannya. Dan Keira sendiri tidak yakin apakah ia masih cukup kuat untuk menghadapi pria itu tanpa membiarkan perasaannya kembali terluka.

Arsen melangkah lebih dahulu tanpa repot-repot menoleh ke belakang. Langkahnya lebar dan mantap, seolah sudah mengetahui tujuan yang hendak didatanginya.

Di belakangnya, Keira hanya bisa mengembuskan napas kesal sebelum akhirnya mengikuti pria itu.

"Aku ke rumah Pak Salim sebentar, ya!" seru Keira setengah berteriak kepada Rina.

"Iya," jawab Rina singkat tanpa mengalihkan perhatian dari pekerjaannya.

Mahasiswa lainnya pun tidak terlalu memedulikan kepergian Keira. Mereka masih sibuk dengan tugas KKN masing-masing.

Termasuk Kevin, yang tetap berkutat dengan pekerjaannya meskipun sempat melirik sekilas ke arah Keira yang berjalan mengikuti Arsen.

Sesampainya di rumah Pak Salim, suasana terasa jauh lebih tenang dibandingkan tempat mereka mengerjakan tugas KKN.

Arsen tidak banyak bicara. Ia langsung menuju kamar, sementara Keira berjalan di belakangnya dengan wajah yang masih menunjukkan ketidaksenangan.

Begitu pintu tertutup—

Suasana seketika terasa berbeda.

Kamar itu selalu menghadirkan perasaan aneh bagi Keira. Di sanalah hubungan mereka terasa begitu rumit, seolah semua batas yang biasanya memisahkan mereka perlahan menghilang.

Di luar kamar, Arsen adalah dosen yang tegas, sedangkan Keira hanyalah mahasiswinya.

Namun, ketika hanya ada mereka berdua di dalam ruangan itu, kenyataan bahwa mereka adalah pasangan suami istri kembali terasa begitu nyata.

"Mau bicara apa? Cepat, aku gak punya banyak waktu," ujar Keira sambil berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

Arsen mengangkat wajahnya, menatap perempuan itu dengan sorot mata datar. "Jaga sikapmu saat berbicara dengan suami sendiri."

Keira memutar bola matanya malas. "Iya, iya. Sekarang mau ngomong apa? Aku masih punya tugas KKN yang harus diselesaikan."

Belum sempat Arsen menjawab, pria itu tiba-tiba meraih tangan Keira. "Sini."

"Gak mau!" Keira langsung menarik tangannya, berusaha melepaskan diri dari genggaman Arsen.

"Duduk dulu," perintah Arsen tegas.

Keira mengerutkan kening, jelas tidak menyukai sikap suaminya yang selalu ingin mengatur. Namun, setelah sedikit tarik-menarik, ia akhirnya menyerah dan duduk di samping Arsen dengan wajah masam.

Arsen mengalihkan pandangannya kepada Keira, lalu menatapnya cukup lama sebelum melontarkan sebuah pertanyaan.

"Kamu tahu dosa?"

Keira mengernyit, merasa heran dengan arah pembicaraan mereka yang tiba-tiba berubah.

"Tahu. Memangnya kenapa?"

"Kalau tahu, kenapa kamu terus dekat-dekat sama Kevin?"

Keira langsung menoleh cepat, menatap Arsen dengan ekspresi tidak percaya.

"Siapa yang mendekati siapa? Aku gak pernah sengaja mendekati dia. Kevin sendiri yang sering datang!"

"Bukankah hasilnya tetap sama?" balas Arsen dingin. "Kamu itu istri orang."

Keira menyipitkan mata. Perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang penuh godaan.

Ia mulai memahami sesuatu dari sikap Arsen yang sejak tadi terlihat tidak biasa.

"Kamu kenapa, sih?" tanyanya dengan nada dibuat-buat polos.

Arsen mengerutkan kening. "Kenapa apanya?"

Keira memiringkan kepala, memperhatikan wajah pria itu dengan saksama.

"Jangan-jangan kamu cemburu?"

"Aku hanya berusaha menjaga istriku," jawab Arsen cepat. "Aku gak mau kamu melakukan sesuatu yang salah. Kalau kamu berbuat dosa, aku juga ikut bertanggung jawab."

Keira mendengus kecil. "Alesan..." gumamnya pelan.

Bukannya menghentikan godaannya, Keira justru menggeser tubuh sedikit lebih dekat ke arah Arsen. Senyum jahil mulai menghiasi wajahnya.

"Ngaku aja kalau kamu cemburu," bisiknya menggoda.

"Aku tidak cemburu," bantah Arsen tanpa ragu.

"Oh, ya?" Keira menyeringai, lalu tiba-tiba mulai menggelitik pinggang suaminya.

"Cemburu, kan?"

"Enggak." Jawaban Arsen terdengar tegas, tetapi tubuhnya mulai bergerak menghindari sentuhan Keira.

Keira semakin bersemangat melihat reaksi tersebut.

"Ayo, ngaku aja! Bilang iya!"

Tangannya terus bergerak menggelitik Arsen tanpa memberinya kesempatan untuk menghindar.

"Keira, berhenti—" Arsen berusaha menahan tawa sekaligus menyingkirkan tangan istrinya, tetapi Keira justru semakin jahil.

"Kenapa? Takut ketahuan kalau kamu cemburu sama Kevin?"

"Keira, sudah!"

Namun, perempuan itu masih belum mau menyerah.

Hingga akhirnya—

Dengan gerakan refleks, Arsen berhasil menangkap kedua tangan Keira yang terus mengusiknya.

Ia menarik tangan perempuan itu ke arahnya, menghentikan semua keisengan yang sejak tadi membuatnya kehilangan kendali.

Keira seketika terdiam. Tatapan mereka bertemu dari jarak yang begitu dekat. Senyum jahil di wajah Keira perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi terkejut ketika menyadari betapa dekat posisi mereka sekarang.

Tubuh Keira mendadak kehilangan keseimbangan ketika Arsen menarik tangannya.

Dan—

Bruk!

Keduanya terjatuh ke atas kasur.

Dalam sekejap, posisi mereka berubah. Keira kini berada tepat di atas tubuh Arsen, sementara kedua tangannya bertumpu di sisi tubuh pria itu untuk menjaga keseimbangan.

Hening. Napas mereka berembus begitu dekat, bahkan Keira bisa merasakan kehangatan napas Arsen di wajahnya.

Jarak di antara mereka begitu tipis. Detak jantung Keira berdegup tak beraturan, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia tidak tahu apakah Arsen juga merasakan hal yang sama, tetapi tatapan pria itu yang terus tertuju kepadanya membuatnya semakin gugup.

Mata mereka saling bertaut. Tak ada lagi godaan seperti sebelumnya. Tak ada pula perdebatan yang biasanya memenuhi setiap pertemuan mereka. Hanya keheningan yang terasa canggung, disertai jarak yang terlalu dekat untuk diabaikan.

Selama beberapa detik, keduanya tidak bergerak sedikit pun.

Seolah-olah waktu berhenti, membiarkan mereka terjebak dalam situasi yang sama sekali tidak direncanakan.

Namun, keheningan itu akhirnya dipecahkan oleh suara Arsen.

"Kalau Kevin mendekati kamu, seharusnya kamu menjauh. Bukan malah meladeni dia."

Suaranya terdengar pelan, tetapi ada penekanan yang jelas di setiap katanya.

Keira yang masih berada di atas tubuhnya langsung mengerutkan kening. Napasnya belum sepenuhnya teratur setelah kejadian barusan, tetapi ia tetap mampu memberikan tatapan tajam kepada pria itu.

"Dia baik," jawab Keira singkat. "Dia teman aku."

Arsen mengatupkan rahangnya. Jawaban itu sama sekali tidak membuatnya puas. "Memangnya kamu suka sama dia?"

Pertanyaan tersebut terlontar begitu saja, lugas tanpa basa-basi.

Keira terdiam sesaat. Bukannya langsung menjawab, ia justru menatap Arsen lekat-lekat, seolah sengaja ingin melihat sejauh mana pria itu akan menunjukkan reaksinya.

"Bukannya kamu sendiri yang paling tahu?" balasnya dengan nada menggoda.

"Aku sedang bertanya, Keira." Kali ini, suara Arsen terdengar lebih tegas. Sorot matanya pun berubah serius, seakan ia benar-benar menginginkan jawaban.

Keira justru menyunggingkan senyum tipis. Senyum yang bukan menunjukkan keramahan, melainkan tantangan yang sengaja ia lemparkan kepada suaminya.

"Dia ganteng, baik, terus orangnya juga keren..." Keira sengaja berhenti sejenak, memperhatikan perubahan ekspresi Arsen. "Memangnya, siapa yang gak tertarik sama cowok seperti dia?"

Kalimat itu seolah menyulut api di dalam diri Arsen.

Rahangnya mengeras, sementara tatapannya semakin tajam menahan sesuatu yang sejak tadi berusaha ia sembunyikan.

Tanpa sadar, kedua tangannya bergerak mencengkeram pinggang Keira. Erat. Seolah ingin menahan perempuan itu agar tidak beranjak dari tempatnya.

Keira sontak terkejut. Senyum jahil di wajahnya perlahan memudar ketika menyadari perubahan sikap Arsen.

Pria itu tidak mengatakan apa-apa lagi. Namun, dari tatapan matanya saja, Keira bisa merasakan bahwa ucapannya barusan benar-benar berhasil mengusik emosi Arsen.

1
Annisa
lanjut Thor!
isd: love you buanyak² buat yang udah dukung author ❤❤
total 1 replies
Chenyu Wang
critanya menggemaskan Thor jadi bapper hihi lanjut sampe tamat ya anda luar biasa
Chenyu Wang: 🙏😍 semangat author luar biasa
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!