Kael seharusnya tidak mati, tetapi kesalahan seorang dewa mengubah takdirnya selamanya. Diberi tubuh baru yang sempurna dan tiga kemampuan luar biasa—Adaptation, Infinite Growth, dan Absolute Regeneration—ia direinkarnasikan ke dunia Elyndra. Namun, alih-alih terlahir di tempat aman, Kael justru terlempar ke Death Forest, wilayah terlarang yang dipenuhi monster mematikan. Sambil mencari jalan keluar, ia mulai memahami kultivasi, sihir, dungeon, kerajaan, dan ras-ras kuat yang menghuni dunia tersebut. Pertemuannya dengan seorang Ancient Vampire bernama Seraphina menjadi awal perjalanan panjangnya. Di tengah konflik sekte, peperangan, rahasia kuno, dan cinta, Kael perlahan menyadari bahwa kedatangannya mungkin bukan sekadar kesalahan yang belum pernah diketahui manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4 Darah Primordial
"Darah ..."
Kata itu keluar dari bibir pucat itu seperti hembusan angin, tetapi cukup untuk membuat seluruh ruangan bergetar.
Wanita di dalam peti kristal itu bangkit perlahan, gerakannya kaku seperti sendi yang baru pertama kali digunakan setelah seribu tahun. Rambut putih keperakannya jatuh menutupi sebagian wajah, dan ketika dia membuka mata sepenuhnya, warna merah di sana menyala seperti bara.
Kael mundur satu langkah, bukan karena takut, tetapi karena naluri purba yang mengatakan bahwa apa pun yang ada di depannya bukan makhluk biasa.
[Ancient Vampire — Seraphina Veyra.]
[Perkiraan kekuatan: Domain Realm.]
[Status: Lemah — Kehausan Akut.]
Angka itu membuat Kael menelan ludah. *Domain Realm.* Bahkan dalam keadaan lemah, kekuatan itu jauh di luar jangkauannya.
Seraphina turun dari peti mati dengan langkah gemetar. Hidungnya bergerak halus, seperti mencium sesuatu di udara, dan matanya langsung terkunci pada Kael.
"Darah itu ..." bisiknya, suaranya masih serak. "Aromanya ... aneh."
"Aneh bagaimana?" Kael bertanya, mencoba terdengar tenang meski jantungnya berdegup kencang.
Seraphina tidak menjawab. Tubuhnya melesat maju secepat kilat, jauh lebih cepat dari apa pun yang pernah Kael lawan. Sebelum dia sempat mengangkat pedangnya, taring tajam itu sudah menancap di lehernya.
Rasa sakit tajam menyengat, lalu menghilang secepat kemunculannya.
Seraphina menghirup dalam-dalam, dan seluruh tubuhnya menegang. Matanya melebar.
Ini bukan darah biasa. Rasanya seperti api dan mata air sekaligus, seperti seribu jenis energi yang bertarung dan berdamai dalam satu tetes. Dia melepaskan gigitannya dan mundur, terengah-engah, menatap Kael dengan campuran keterkejutan dan kecurigaan.
"Apa ... apa kau ini?"
Kael menyentuh lehernya. Dua lubang kecil di sana sudah mulai menutup.
[Absolute Regeneration aktif.]
[Luka pulih dalam 4 detik.]
"Aku juga ingin tahu jawabannya," katanya sambil tersenyum kecil, meski dalam hati dia sedikit ngeri. "Tapi kalau kau lapar, tidak perlu menyerang duluan. Tinggal bilang saja."
Seraphina menatapnya lama, seolah mencoba memahami kalimat yang baru saja didengarnya. Selama seribu tahun tidur, dia terbiasa dengan satu hal: setiap makhluk yang mendekatinya akan lari ketakutan atau mencoba membunuhnya. Tidak ada yang pernah menawarkan diri.
"Kau tidak takut?" tanyanya pelan.
"Aku baru saja bertarung melawan zirah tanpa tubuh dan hutan yang bernapas racun," jawab Kael sambil mengangkat bahu. "Rasanya standar 'menakutkan'-ku sudah agak bergeser."
Sudut bibir Seraphina berkedut, hampir seperti senyum, tetapi dia buru-buru menghilangkannya. Dia menegakkan tubuh, mencoba tampak seanggun mungkin meski kakinya masih gemetar setelah tidur seribu tahun.
"Aku Seraphina Veyra," ucapnya, nada suaranya kembali dingin dan berwibawa. "Ancient Vampire. Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur, tetapi jelas terlalu lama."
"Kael," jawabnya singkat. "Manusia. Setidaknya, awalnya begitu."
Seraphina menyipitkan mata. "Apa maksudnya 'awalnya'?"
"Cerita panjang. Melibatkan seorang dewa yang ceroboh, tubuh yang aku rancang sendiri, dan hutan yang mencoba membunuhku selama beberapa hari terakhir." Kael melirik ke sekeliling ruangan. "Kau sendiri, kenapa tidur di dalam peti selama seribu tahun?"
Wajah Seraphina mengeras sedikit. "Itu juga cerita panjang. Ada yang mengkhianatiku. Ada yang menyegelku di sini agar tidak pernah bangun lagi." Dia menatap peti kristal yang kini retak sepenuhnya. "Ternyata mereka gagal."
"Karena aku kebetulan lewat," Kael menambahkan.
"Karena darahmu membangunkanku," koreksi Seraphina tajam. "Segel ini hanya bisa dibuka oleh darah yang cukup murni untuk 'membayar' energi yang hilang selama seribu tahun. Darah manusia biasa tidak akan cukup." Dia menatap Kael lebih dalam, seperti mencoba membedah isi tubuhnya hanya dengan pandangan. "Darahmu jelas bukan darah manusia biasa."
Kael mengangkat bahu lagi. "Aku juga baru tahu soal itu."
Hening sejenak. Seraphina berjalan mengelilingi Kael perlahan, mengamatinya dari berbagai sudut seperti seorang pedagang menilai barang langka. Kael membiarkannya, meski merasa sedikit aneh diperlakukan seperti itu.
"Kau lemah," ucap Seraphina akhirnya, terus terang. "Kultivasimu baru Body Tempering. Tapi darahmu ... darahmu terasa seperti sesuatu yang jauh lebih tua dari kultivasi macam apa pun yang pernah kukenal."
"Aku akan menganggap itu pujian."
"Itu bukan pujian. Itu peringatan." Seraphina berhenti tepat di depannya, menatap matanya yang berwarna perak. "Siapa pun yang tahu tentang darahmu akan menginginkannya. Vampir, kultivator, bahkan mungkin dewa. Kau harus berhati-hati."
Kael terdiam sejenak, memikirkan kata-kata itu. "Baiklah. Aku akan ingat itu. Tapi untuk sekarang, aku hanya ingin keluar dari dungeon ini dan mencari makanan yang bukan daging kelinci mentah."
Sudut bibir Seraphina kembali berkedut, kali ini tidak tertahan. "Kau benar-benar aneh untuk ukuran manusia."
"Aku sudah dibilang begitu oleh seorang dewa."
Seraphina melangkah ke arah peti mati yang sudah retak, dan dari dalamnya dia mengambil sebuah cawan kecil berukir rumit, terbuat dari logam merah gelap yang berkilau meski sudah seribu tahun terkubur debu.
[Crimson Moon Chalice — Grade Kuno.]
"Ini artefakku," ujarnya sambil menyimpannya di balik gaunnya yang compang-camping. "Satu-satunya barang yang tersisa dari kehidupanku dulu."
"Fungsinya apa?"
"Menyimpan dan memurnikan darah." Seraphina menatap Kael sekilas. "Mungkin suatu hari aku akan menunjukkannya padamu."
Kael mengangguk, lalu menatap ke arah tangga yang naik menuju permukaan. "Kalau begitu, mau ikut denganku? Sejujurnya aku tidak tahu apa-apa tentang dunia ini, dan kau kelihatannya... butuh sesuatu yang bisa kau makan yang bukan aku."
Seraphina menatapnya lama, ekspresinya sulit dibaca. Selama seribu tahun, dia sudah lupa rasanya diajak, bukan diburu.
"Aku tidak butuh belas kasihanmu," katanya akhirnya, meski nadanya tidak setajam sebelumnya.
"Bukan belas kasihan," jawab Kael. "Aku hanya butuh seseorang yang tahu cara kerja dunia ini, dan kau butuh seseorang yang tidak akan lari begitu melihat taringmu. Kedengarannya adil."
Seraphina memandanginya beberapa detik lebih lama, lalu, dengan gerakan seanggun mungkin yang bisa dia kumpulkan setelah seribu tahun tidak bergerak, dia melangkah mendekat.
"Baiklah," ucapnya pelan. "Tapi jangan berharap aku akan berterima kasih setiap saat."
"Tidak masalah," Kael tersenyum. "Aku bisa menunggu."
Mereka berjalan bersama menuju tangga, dan untuk pertama kalinya sejak terbangun di Elyndra, Kael merasa dia tidak sepenuhnya sendirian.
Di belakang mereka, ruangan bundar itu perlahan meredup, dan kristal-kristal merah yang tadinya berpendar terang mulai satu per satu memadam, seolah dungeon itu sendiri melepaskan sesuatu yang telah lama dijaganya.
Mereka berhenti di aula lantai satu, tempat pertama kali Kael bertarung melawan para Skeleton Soldier. Tulang-tulang yang sudah hancur masih berserakan di lantai, dan Seraphina memandanginya dengan tatapan datar.
"Kau menghancurkan penjaga-penjagaku dengan cara yang cukup kasar," komentarnya.
"Mereka menyerangku duluan," Kael membela diri. "Lagipula, aku belajar banyak dari mereka."
Seraphina duduk di salah satu anak tangga, tampak masih lemah meski darah Kael sudah memberinya energi. Dia mengeluarkan Crimson Moon Chalice dari balik gaunnya dan menatapnya lama.
"Aku ingin mencoba sesuatu," katanya. "Boleh?"
Kael mengangkat alis. "Selama tidak melibatkan gigitan lagi."
"Hanya beberapa tetes."
Kael mengulurkan tangan. Seraphina menggores pergelangannya sendiri, kali ini menggunakan kuku panjang, lalu menampung tiga tetes darah Kael ke dalam cawan itu.
Begitu darah menyentuh permukaan logam, cawan itu bergetar hebat. Ukiran-ukiran di permukaannya menyala terang, dan aksara kuno yang selama ini tersembunyi muncul perlahan, melingkar di sekeliling cawan seperti tulisan yang menari.
Seraphina terbelalak. "Ini ..."
"Kenapa?" Kael mendekat, penasaran.
"Chalice ini seharusnya hanya bereaksi pada darah tingkat Saint ke atas," Seraphina berkata pelan, suaranya bergetar entah karena takjub atau waswas. "Tapi darahmu ... darahmu memicu reaksi yang jauh lebih kuat daripada itu."
Tulisan di sekeliling cawan berhenti berputar dan mengeja dengan jelas, huruf demi huruf, seolah menunggu untuk dibaca sejak dahulu kala.
*Blood of the Primordial...*
Kael membaca kalimat itu berkali-kali. "Darah Primordial. Apa maksudnya?"
Seraphina menggeleng pelan. "Aku tidak tahu. Aku hidup lebih dari seribu tahun, dan aku belum pernah mendengar istilah itu. Bahkan dalam catatan-catatan kuno klanku, tidak ada satu pun yang menyebutkan hal semacam ini."
"Mungkin sesuatu yang berhubungan dengan tubuhku," gumam Kael, mengingat kata-kata sang dewa.
*Struktur tubuh yang sangat cocok untuk kultivasi. Potensi tanpa batas.*
Waktu itu dia mengira itu hanya permintaan sederhana. Sekarang dia mulai bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang lebih besar di baliknya.
Seraphina menutup cawan itu perlahan, dan cahaya di sekelilingnya meredup, meski aksara itu tetap membekas samar di permukaan logam, seolah tidak mau sepenuhnya menghilang.
"Aku akan menyimpan ini," katanya. "Suatu hari kita akan mencari tahu jawabannya."
"'Kita'?" Kael menyeringai. "Baru saja bilang tidak butuh belas kasihanku, sekarang sudah bicara 'kita'."
Seraphina memutar mata, meski pipinya sedikit merona, warna yang aneh untuk kulit sepucat miliknya. "Jangan besar kepala. Aku hanya penasaran secara ilmiah."
"Tentu saja," Kael tertawa kecil.
Mereka melanjutkan perjalanan naik. Di setiap lantai yang mereka lewati, Seraphina bercerita sedikit demi sedikit tentang dunia Elyndra: tentang tujuh benua, tentang kultivasi dan sihir, tentang kerajaan-kerajaan manusia yang menguasai Asteria, benua tempat Death Forest berada.
"Jadi kita ada di Benua Timur," Kael mengulang, mencoba mencerna semuanya. "Dan kerajaan terdekat adalah Valtherion."
"Benar. Meski 'terdekat' di sini artinya masih berhari-hari perjalanan, tergantung seberapa cepat kau bisa keluar dari hutan ini."
"Kudengar hutan ini menakutkan bagi kebanyakan orang."
"Death Forest adalah salah satu tempat paling berbahaya di Asteria," Seraphina menjelaskan. "Bahkan kultivator Domain Realm jarang berani masuk terlalu dalam. Miasma di sini bisa membunuh siapa pun yang tidak siap."
Kael teringat kabut yang hampir membuatnya mati lemas beberapa hari lalu, lalu tersenyum kecil mengingat bagaimana dia justru mengubahnya menjadi sumber kultivasi.
"Aku sudah berteman baik dengan miasma itu," katanya.
Seraphina menatapnya dengan tatapan campuran tidak percaya dan penasaran. "Berteman? Dengan miasma Death Forest?"
"Adaptation," Kael menjelaskan singkat. "Salah satu kemampuanku. Aku bisa beradaptasi dengan hampir apa saja, asal diberi waktu dan rasa sakit yang cukup."
"Itu ..." Seraphina terdiam sejenak, mencari kata yang tepat. "Itu kemampuan yang sangat langka. Bahkan mungkin belum pernah ada yang seperti itu."
"Aku juga baru sadar semenjak sampai di sini."
Mereka terus mendaki dalam diam beberapa saat, hanya suara langkah kaki mereka yang menggema di lorong batu. Kael mencuri pandang ke arah Seraphina sesekali. Meski penampilannya anggun dan dingin, ada sesuatu yang rapuh di balik matanya, sesuatu yang belum sepenuhnya sembuh dari pengkhianatan seribu tahun lalu.
"Bolehkah aku bertanya," Kael akhirnya bersuara, "siapa yang menyegelmu?"
Wajah Seraphina mengeras seketika. "Bukan saatnya membahas itu."
"Baiklah," Kael tidak memaksa. "Kalau kau ingin cerita, aku akan dengarkan."
Seraphina menoleh sedikit, terkejut dengan responsnya yang begitu ringan tanpa desakan lebih jauh. Selama seribu tahun, dia terbiasa dengan orang-orang yang selalu ingin tahu segalanya, memanfaatkan kelemahannya, atau justru menghindarinya sepenuhnya. Kael tidak melakukan keduanya.
"Kau memang aneh," gumamnya lagi, kali ini lebih lembut.
Mereka akhirnya mencapai gerbang batu besar yang membawa mereka masuk beberapa hari lalu. Cahaya matahari sore menyusup lewat celah yang terbuka perlahan, dan untuk pertama kalinya dalam seribu tahun, Seraphina merasakan sinar matahari menyentuh kulitnya kembali—meski redup, tersaring oleh kanopi Death Forest yang lebat.
Dia menutup matanya sejenak, menikmati kehangatan yang nyaris terlupakan.
"Kita akan pergi ke Eldermere," kata Kael, memandang ke arah timur, mengikuti arah yang pernah ditunjukkan Seraphina di dalam dungeon. "Kota perbatasan Valtherion, katamu?"
"Benar. Dari sana kita bisa mendapatkan informasi lebih banyak, dan mungkin ... pakaian yang lebih layak untukku." Seraphina melirik gaunnya yang sudah lusuh dimakan waktu.
"Aku juga butuh baju baru," Kael menambahkan sambil melihat kainnya sendiri yang penuh sobekan dan noda darah kering. "Kita berdua terlihat seperti baru keluar dari medan perang."
"Secara teknis, memang begitu."
Kael tertawa, dan untuk pertama kalinya sejak terbangun, Seraphina ikut tersenyum tipis, senyum yang tulus meski masih ragu-ragu.
Mereka melangkah keluar dari gerbang Crimson Moon Dungeon bersama-sama, meninggalkan kegelapan di belakang mereka, menuju hutan yang masih berbahaya, tetapi kini terasa sedikit lebih mudah dilalui karena tidak lagi sendirian.
Di kejauhan, jauh melampaui Death Forest, dunia Elyndra terus berputar tanpa menyadari bahwa dua kekuatan yang telah lama tertidur—satu dalam bentuk manusia, satu dalam bentuk kutukan seribu tahun—baru saja mulai bergerak bersama.