NovelToon NovelToon
Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Romansa Fantasi / Romantis
Popularitas:22.9k
Nilai: 5
Nama Author: Laras Cinta

Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.

Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."

Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:

*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*

Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.

Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.

*Setiap. Kata.*

Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."

Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.

Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.

Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.

Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27: Bangun Tidur

"Pemilik gelang emas..."

Kalimat Mbah Suryo tinggal di kepalaku seperti duri kecil.

Tapi pagi itu, aku tidak punya ruang untuk memikirkan seribu tahun, gelang emas, atau fakta bahwa seorang kakek Kejawen di lereng Puncak mungkin baru saja melihat jiwaku lebih jelas daripada cermin.

Yang kupikirkan hanya Reynard.

Ia tertidur sampai matahari naik. Leo datang langsung dari Jakarta sebelum pukul sembilan, dengan wajah seperti ingin memarahi seluruh gunung.

"Kau," katanya padaku begitu masuk kamar.

Aku mengangkat tangan. "Saya tahu. Jangan naik lereng malam-malam."

"Benar. Dan kau," ia menunjuk Reynard yang belum sadar, "jangan hampir mati di tempat liburan."

Steven, yang berdiri di sudut, berbisik pada Natasha, "Om Leo membagi amarah dengan adil."

Natasha menyikutnya. Matanya masih merah.

Leo memeriksa darah Reynard, mencium sisa ramuan, lalu menatapku lama.

"Heliconia muda?"

"Si Kepo bilang..."

Aku berhenti.

Terlambat?

Leo hanya mengangkat alis. "Instingmu bilang?"

"Insting saya sangat bawel."

Ia mendengus. "Untung instingmu benar."

"Apa tanaman itu bisa dipakai lagi?" tanyaku.

Leo menatap hasil pemeriksaan. "Bisa jadi komponen penstabil. Bukan penawar. Jangan senang dulu."

"Saya tidak senang. Saya hanya menambahkan daftar belanja aneh dalam hidup saya."

"Bagus. Tambahkan juga sepatu gunung."

Natasha langsung menunjukku. "Dengar? Sepatu gunung. Kalau lain kali Ci Kei mau jadi pahlawan, minimal outfit-nya benar."

"Tidak ada lain kali," kata Reynard lemah dari ranjang, padahal matanya belum benar-benar terbuka.

Semua orang menoleh.

Aku hampir menangis lagi hanya karena mendengar suaranya.

Ketika Reynard akhirnya membuka mata, aku sedang duduk di kursi samping ranjang, tangan kanan dibalut, lututku diberi obat merah, rambutku berantakan, dan jaketku masih bau tanah walau Sari sudah menyuruhku ganti tiga kali.

Matanya fokus perlahan.

Pertama ke langit-langit.

Lalu ke Leo.

Lalu ke aku.

Wajahnya berubah.

"Keira."

"Hei," kataku, berusaha tersenyum. "Selamat pagi. Liburanmu dramatis sekali."

Ia mencoba bangun.

Leo menekan bahunya. "Jangan bergerak."

Reynard tidak mendengar. Matanya terpaku pada perban di tanganku.

"Apa yang terjadi?"

"Sedikit jatuh."

Steven batuk.

Natasha langsung berkata, "Ci Kei naik lereng malam-malam, hujan-hujan, cari tanaman obat buat kamu. Tangannya berdarah. Lututnya luka. Sepatunya rusak. Aku hampir mati ketakutan."

"Nat!"

"Apa? Dia harus tahu."

Reynard menatapku.

Matanya turun ke perban di tanganku, lalu ke noda lumpur yang masih tersisa di ujung celana. Wajahnya makin pucat, bukan karena sakit, tapi karena marah pada dirinya sendiri.

"Aku menyuruhmu menunggu," kataku cepat, sebelum ia bisa menyalahkan diri. "Kau menunggu. Aku juga menepati bagian tugasku."

"Bagianmu bukan terluka."

"Bagianmu juga bukan hampir mati. Kita sama-sama buruk membaca kontrak."

Tidak dingin.

Tidak datar.

Tidak seperti Tuan Muda Wijaya.

Seperti seseorang yang baru sadar hidupnya berada di tangan perempuan bodoh yang berani menuruni lereng demi tiga batang tanaman.

"Kau..." Suaranya serak. "Kenapa?"

Aku tersenyum.

Senyum yang kupaksa ringan, padahal tenggorokanku sakit.

"Karena kamu hidup, itu cukup."

Ruangan hening.

Lalu Reynard menarikku.

Tidak kuat. Tubuhnya masih lemah. Tapi cukup untuk membuatku jatuh perlahan ke sisi ranjang.

Ia memelukku.

Di depan Leo.

Di depan Steven.

Di depan Natasha, Anto, Budi, Sari, dan mungkin seluruh struktur sosial yang selama ini menganggap Reynard Wijaya tidak punya otot untuk spontanitas.

Aku membeku.

Lalu perlahan, aku membalas.

Tubuhnya masih hangat dari demam yang baru turun. Napasnya lemah di dekat telingaku. Tangannya berhenti di punggungku, hati-hati agar tidak menyentuh luka.

"Jangan lakukan itu lagi," bisiknya.

"Kalau kamu tidak hampir mati lagi, aku pertimbangkan."

Pelukannya mengerat.

Di belakang kami, Steven mengeluarkan ponsel.

Natasha berbisik, "Apa yang kamu lakukan?"

"Mengirim laporan penting."

Aku tidak melihat layarnya, tapi beberapa detik kemudian Anto menerima pesan.

Ko Rey memeluk Nyonya. Ini bukan latihan.

Anto membaca, lalu menatap Steven dengan wajah datar.

"Saya melihat langsung."

Natasha terisak dan tertawa bersamaan.

Leo menggosok wajah. "Kalian semua terlalu berisik untuk pasien."

Tapi ia tidak menyuruhku menjauh.

Ia malah meletakkan selimut lain di pundakku.

"Kau juga pasien kecil malam ini."

"Saya bukan pasien."

"Tanganmu dibalut, lututmu berdarah, dan matamu seperti orang tidak tidur tiga hari. Diam."

Aku diam.

Reynard menatap Leo dengan tatapan yang hampir seperti terima kasih. Leo pura-pura tidak melihat.

Siang itu, setelah kondisi Reynard stabil, kami kembali ke PIK. Leo tidak mengizinkan kami tinggal lebih lama di Puncak. Katanya gunung itu terlalu banyak kejutan, dan aku tidak bisa tidak setuju.

Sebelum pergi, aku mencari Mbah Suryo dari jendela mobil.

Tidak ada.

Hanya kebun teh, kabut, dan jalan kecil ke lereng belakang.

Si Kepo juga diam ketika aku memikirkan gelang emas. Diamnya sistem justru lebih menakutkan daripada cerewetnya.

[Data terkunci.]

Tentu saja.

Aku sudah terlalu lelah untuk berdebat.

Di mobil, tubuhku akhirnya menyerah. Begitu duduk, rasa sakit di tangan, lutut, dan punggung datang bersamaan seperti tagihan tertunda.

Reynard menatapku.

"Tidur."

"Aku tidak..."

Kepalaku jatuh ke bahunya sebelum kalimat selesai.

Ia diam.

Lalu mengatur selimut di atasku dengan satu tangan.

Sepanjang perjalanan, aku tidur bersandar di bahunya. Boba tidur di carrier. Di depan, Anto menyetir lebih pelan dari biasanya. Budi mengikuti di mobil belakang. Steven dan Natasha entah bagaimana duduk di mobil lain dan mungkin sedang bertengkar tentang siapa yang lebih panik semalam.

Aku sempat terbangun sekali ketika mobil melewati jalan menurun. Reynard tidak bergerak, mungkin karena takut membangunkanku. Bahunya pasti pegal, tapi ia membiarkanku tetap bersandar.

Di antara tidur dan sadar, aku mendengar ia berkata sangat pelan, "Terima kasih."

Entah pada siapa.

Pada aku.

Pada Tuhan.

Atau pada dunia yang untuk sekali ini tidak mengambilku darinya.

Aku ingin menjawab, tapi tubuhku terlalu berat. Jadi aku hanya bergerak sedikit lebih dekat, dan kurasakan napasnya berhenti sebentar sebelum kembali pelan.

Mungkin itu juga jawaban.

Di antara kami, kelelahan berubah menjadi selimut yang anehnya hangat.

Untuk pertama kalinya, pulang terasa seperti menang.

Benar-benar.

Ketika kami tiba di PIK, matahari sudah miring.

Aku masih setengah tidur ketika ponsel Reynard berbunyi.

Ia melihat layar.

Hendra.

Wajahnya kembali tenang, tapi bahunya mengeras.

Ia mengangkat panggilan.

Suara Hendra terdengar pendek dan berat.

"Pulang ke Menteng. Ada urusan mendesak."

Reynard menatap halaman PIK yang mulai gelap.

"Tentang apa?"

Di seberang, Hendra diam sebentar.

"Tentang hak warismu."

Aku membuka mata sepenuhnya.

Reynard menatap ponsel beberapa detik setelah panggilan putus. Wajahnya tenang, tapi tangannya di bawah selimut mengepal.

Baru saja ia kembali dari tepi jurang.

Dan dunia sudah menariknya ke jurang lain.

1
Dian Utami
karakter kaira lemah
aku
beuh monica blm jera itu 😌
aku
asik bgt naomi ini keren
aku
bab ini bikin pandangan mertua berasa jd intel ngintai bandar narkoba 😌🤣
aku
tor misal kalo kata batin bisalah di tambah tanda kutip huruf cetak miring biar tahu readernya 🙏
aku
catatan yg membagongkan ya 😌😌
Gustinur Arofah
ceritanya sangat bagus, kata katanya rapih tapi sayank ko blm ada yg baca. 💪💪💪💪
Retno Isma
baru baca nyampe bab 4. tapi sejauh ini bagus novelnya. pemilihan katanya pinter bgt kakk author. ga terlalu kaku tapi ga terlalu santai juga.
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih
Retno Isma
🌷🌷🌷🌷
Retno Isma
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!