NovelToon NovelToon
Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.

Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.

Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.

"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."

Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.

Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.

"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28: Kejatuhan Total

Pagi setelah pertunangan itu hancur, gedung PT Megah Sentosa terasa seperti rumah duka.

Tidak ada musik.

Tidak ada senyum resepsionis.

Tidak ada karyawan yang berani berbicara keras.

Semua orang sudah melihat video semalam.

Vincent jatuh di panggung.

Angelica melepas cincin.

keluarga Permata membatalkan pertunangan.

Dan Herman Hadiprana berdiri seperti orang yang kehilangan bayangan sendiri.

Pukul sembilan tepat, ruang rapat utama dibuka.

Herman duduk di kursi pimpinan dengan mata merah.

Vincent tidak hadir.

Tidak ada yang bertanya kenapa.

Di ujung meja, beberapa direktur duduk terlalu rapi. Wajah mereka tenang, tetapi tangan mereka tidak berhenti menyentuh map.

Herman menatap mereka satu per satu.

"Rapat ini untuk menyusun pemulihan reputasi. Saya tidak mau dengar kata mundur."

Pintu ruang rapat terbuka.

Adrian Chandra masuk.

Di belakangnya ada dua pengacara, seorang notaris, dan tiga staf membawa map tebal.

Herman langsung berdiri.

"Siapa yang mengizinkan kamu masuk?"

Adrian membungkuk sopan.

"Selamat pagi, Pak Herman. Saya hadir sebagai perwakilan resmi PT Surya Abadi Group dan para pemegang saham terkait."

Ia meletakkan dokumen pertama di meja.

"Mulai pagi ini, kami memiliki kepentingan pengendali atas PT Megah Sentosa Group."

Ruangan hening.

Satu direktur tua menutup mata.

Herman tertawa pendek.

"Omong kosong."

Adrian memberi isyarat.

Pengacara membuka map.

Satu demi satu sertifikat kepemilikan saham, perjanjian transaksi blok, surat kuasa pemegang saham, dan pernyataan dukungan dewan diletakkan di meja.

Notaris mengangkat dokumen resmi.

"Semua dokumen ini telah diverifikasi dan dicatat sesuai prosedur. Rapat luar biasa dapat dilaksanakan berdasarkan dukungan pemegang saham yang memenuhi syarat."

Wajah Herman berubah.

Ia menatap direktur yang kemarin masih memanggilnya Pak Herman dengan suara gemetar.

"Kalian?"

Tidak ada yang menjawab.

Jawaban mereka sudah ada di dokumen.

Adrian tetap tenang.

"Berdasarkan struktur kepemilikan terbaru dan dukungan mayoritas dewan, kami mengajukan perubahan susunan pengurus."

Herman mencengkeram tepi meja.

"Kamu pikir bisa mengambil perusahaan saya begitu saja?"

"Tidak begitu saja," kata Adrian. "Kami membelinya."

Kalimat itu lebih menyakitkan daripada hinaan.

"Dengan harga yang pasar berikan setelah semua kebenaran keluar."

Seorang direktur membacakan keputusan.

Suara laki-laki itu bergetar, tetapi terus berjalan.

"Herman Hadiprana diberhentikan dari jabatan Presiden Direktur dan seluruh kewenangan manajerial, efektif sejak keputusan ini disahkan."

Herman memukul meja.

"Saya pendiri perusahaan ini!"

Adrian menatapnya.

"Pendiri bukan berarti kebal dari hukum, Pak Herman."

Pintu kembali terbuka.

Kali ini yang masuk bukan pengacara.

Dua penyidik Polres Kota Biru masuk bersama seorang pejabat OJK.

Di belakang mereka, seorang petugas membawa map berstempel resmi.

Herman mundur setengah langkah.

"Apa ini?"

Penyidik utama menunjukkan surat.

"Herman Hadiprana, Anda diminta ikut kami untuk pemeriksaan terkait dugaan suap, manipulasi pajak, dan penggunaan kekerasan dalam pengambilalihan lahan."

Herman menatap Adrian.

"Kamu!"

Adrian tidak bergerak.

"PT Surya Abadi menyerahkan dokumen kepada pihak berwenang. Setelah itu, hukum berjalan sendiri."

Pejabat OJK berkata, "OJK juga memulai pemeriksaan penuh atas laporan keuangan PT Megah Sentosa Group. Beberapa rekening dan aset terkait keluarga Hadiprana akan dibekukan sementara sesuai prosedur."

Herman seperti baru benar-benar tua dalam satu detik.

Kakinya melemah.

"Saya mau pengacara."

Penyidik mengangguk.

"Hak Anda akan dipenuhi."

Tidak ada teriakan lagi.

Saat borgol menutup di pergelangan Herman, beberapa direktur menunduk.

Rasa hormat tidak ada di sana.

Karena takut suatu hari nama mereka juga dipanggil.

Di ruang operasinya, Cynthia melihat berita penangkapan muncul di layar.

`Herman Hadiprana Dibawa Polisi, OJK Periksa Megah Sentosa.`

Ia menutup laporan keuntungan.

"Aku sudah bilang," gumamnya, "semua luka terbuka bersamaan."

Dimas mengirim pesan ke grup.

`Berita nomor satu di semua portal. Video pertunangan masih trending. Kombinasi sempurna.`

Rizal menambahkan:

`Vincent keluar dari rumah pribadi. Tanpa pengawal tetap. Saya pantau dari jauh.`

Hendry membaca semua itu di mobil.

Ia tidak tersenyum.

Di kursi belakang, ada map akuisisi baru yang ditandatangani Adrian. PT Megah Sentosa, yang selama ini dipakai Vincent untuk menekan orang kecil, kini masuk ke jaringan yang akan ia bersihkan.

Bagus duduk di depan.

"Pak, Hadiprana sudah jatuh?"

Hendry melihat gedung-gedung Kota Biru lewat kaca.

"Keluarganya jatuh. Perusahaannya belum boleh mati."

Bagus menoleh sedikit.

"Kenapa?"

"Ribuan orang bekerja di sana. Yang busuk pimpinannya, bukan semua karyawannya."

Bagus mengangguk pelan.

"Oh. Jadi kita ambil, bersihkan, lalu jalankan."

"Benar."

Bagus berpikir sebentar.

"Itu lebih sulit daripada memukul orang."

Hendry akhirnya tersenyum sangat tipis.

"Makanya aku punya Adrian dan Cynthia."

Sementara itu, Vincent Hadiprana berjalan di pinggir jalan dengan jas kusut.

Ponselnya mati.

Kartu kreditnya ditolak.

Rumah utama Hadiprana dipenuhi wartawan.

Hotel tidak mau menerima reservasi atas namanya setelah berita semalam.

Orang yang kemarin menunduk padanya hari ini tidak mengangkat telepon.

Ia berjalan tanpa tujuan, dasinya menggantung lepas, sepatu mahalnya terkena debu.

Di layar raksasa sebuah pusat perbelanjaan, berita tentang ayahnya diputar ulang.

`Herman Hadiprana Resmi Diperiksa.`

`PT Surya Abadi Ambil Alih Megah Sentosa.`

`Pertunangan Hadiprana-Permata Batal.`

Vincent berhenti.

Wajahnya sendiri muncul sebentar dalam cuplikan video, saat ia jatuh duduk di panggung.

Beberapa orang di trotoar mengenalinya.

Mereka berbisik.

Ada yang tertawa kecil.

"Itu Vincent?"

"Yang semalam?"

"Kasihan juga."

Kata kasihan itu lebih menusuk daripada ejekan.

Tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti di dekatnya.

Pengendaranya membuka helm.

Rudi Santoso.

Wajahnya masih menyisakan bekas lama dari pertemuan dengan Hendry, tetapi matanya sekarang penuh kesenangan kecil yang jahat.

"Wah."

Rudi melihat Vincent dari atas sampai bawah.

"Pak Vincent Hadiprana jalan kaki?"

Vincent menatapnya.

"Pergi."

Rudi tertawa.

"Dulu kamu kalau panggil saya seperti panggil anjing. `Rudi, urus ini. Rudi, bereskan itu.` Sekarang siapa yang urus kamu?"

Vincent mengepalkan tangan.

Namun ia tidak punya tenaga.

Tidak punya pengawal.

Tidak punya nama yang masih ditakuti.

Rudi menyalakan motor lagi.

"Dunia cepat berputar, Pak Vincent. Hati-hati, jangan sampai ketabrak."

Ia pergi sambil tertawa.

Vincent berdiri di pinggir jalan.

Orang-orang lewat.

Tidak ada yang menunduk.

Tidak ada yang membuka pintu mobil untuknya.

Tidak ada yang memanggilnya Pak Hendry.

Untuk pertama kalinya, ia merasakan bagaimana rasanya dilihat sebagai orang yang tidak punya apa-apa.

Dulu ia pikir orang seperti Hendry pantas diinjak karena terlihat miskin.

Sekarang ia sendiri berdiri di jalan, tanpa keluarga, tanpa perusahaan, tanpa tunangan, tanpa kehormatan.

Bedanya, Hendry punya kemampuan untuk bangkit.

Vincent hanya punya sisa kebohongan yang sudah tidak laku.

Di gedung PT Megah Sentosa, Adrian berdiri di depan para karyawan sore itu.

Tidak ada musik.

Tidak ada ancaman.

Ia hanya berkata dengan suara jelas, "Perusahaan ini berganti pengendali. Karyawan yang bekerja jujur tidak perlu takut. Yang terlibat dalam pelanggaran akan diproses. Mulai hari ini, PT Megah Sentosa tidak lagi menjadi alat keluarga Hadiprana."

Beberapa karyawan saling pandang.

Lalu seseorang mulai bertepuk tangan.

Pelan.

Kemudian lebih banyak.

Di rumah, Jessica membaca berita di ponselnya.

Ia melihat nama PT Surya Abadi.

Ia melihat Herman ditangkap.

Ia melihat Vincent berjalan keluar dari gedung dengan wajah kacau.

Ia tidak melihat nama Hendry.

Namun entah kenapa, ia menoleh ke arah ruang kerja.

Pintu itu tertutup.

Di balik pintu, Hendry berdiri di depan jendela.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Adrian:

`Pengambilalihan selesai. Herman ditahan. OJK bergerak. Vincent jatuh.`

Hendry membalas singkat.

`Bersihkan perusahaan. Lindungi karyawan.`

Ia meletakkan ponsel.

Hadiprana sudah runtuh.

Tapi di kota ini, setiap kekosongan selalu mengundang tangan baru.

Dan jauh di tempat lain, seseorang mulai memperhatikan nama Hendry Pratama.

1
Marchel
Seneng banget liat Yanto membeku seperti itu🤣🤣🤣
Marchel
Pasti Yanto punya niat terselubung
Marchel
Bagus Hendri kamu harus tegass
Marchel
Hendri mulut mertuamu lemesss bangetttt pengen aku sumpel pake baju cucian/Panic//Panic//Panic/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!