Ini adalah cerita tentang seorang remaja yang dianggap sebagai generasi muda terkuat saat ini. Ia tidak hanya kuat, ia juga kaya. Semua ia dapatkan berkat campur tangan gurunya.
Takdir mempertemukannya pada seorang pendekar misterius. Pendekar itu sangatlah kuat, walaupun tingkahnya agak sembrono.
Di kemudian hari ia akan mengetahui identitas dari pria itu. Petualangan mereka berdua akan sangat seru dan penuh intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benturan Petir dan Kegelapan
Di sisi lain perbukitan, pertarungan dua pendekar itu telah mencapai tingkat yang mampu mengubah wajah alam di sekitarnya.
Boom!
Ledakan dahsyat kembali mengguncang lereng bukit. Tanah retak memanjang. Pepohonan raksasa tumbang satu demi satu. Kobaran api terus meluas akibat sambaran petir yang tidak pernah berhenti menghantam permukaan bukit.
Di tengah kehancuran itu...
Clang!!
Dua bilah pedang kembali beradu.
Percikan bunga api menyebar ke segala arah. Yuang Dao melesat mundur beberapa langkah sebelum kembali menerjang. Tatapannya tajam bagaikan elang.
"Tidak akan kubiarkan kau mendekati Tuan Muda Rui untuk niat burukmu!"
Whoossh!
Tubuhnya berubah menjadi kilatan cahaya. Pedangnya menusuk lurus ke arah dada Sha Nuo.
"Pedang Petir Menembus Langit!"
Crakkk!!
Petir putih menyelimuti bilah pedangnya. Kilatan arus petir membelah udara, meninggalkan jejak panjang yang menghanguskan segala sesuatu yang dilewatinya.
Namun Sha Nuo sama sekali tidak menghindar. Sudut bibirnya justru terangkat.
Swussh...
Kabut hitam pekat perlahan keluar dari tubuhnya, mengelilingi dirinya seperti pusaran bayangan hidup. Ketika ujung pedang Yuang Dao hampir menyentuh tubuhnya...
Wuussh!
Kegelapan itu bergerak sendiri. Lapisan demi lapisan bayangan menelan cahaya petir yang menyelimuti pedang Yuang Dao.
Crak...
Crakkk...
Suara petir yang menggelegar perlahan meredup, seolah ditelan oleh jurang tanpa dasar.
Tang!!
Pedang Yuang Dao akhirnya menghantam lapisan kegelapan itu. Namun serangan yang seharusnya berdaya rusak tinggi tersebut hanya menimbulkan riak kecil sebelum seluruh dayanya lenyap.
"..."
Sha Nuo tetap berdiri di tempat. Bahkan ujung rambutnya tidak bergerak sedikit pun.
Mata Yuang Dao menyipit. Tanpa memberi kesempatan bernapas, ia kembali menyerang.
Swush!
Pedangnya menebas dari kiri.
Crakkk!
Petir menyambar mengikuti arah tebasan.
Belum selesai...
Swush!
Tebasan kedua datang dari kanan.
Crakkk!!
Petir lain kembali muncul. Disusul tusukan, ayunan, dan putaran pedang.
Setiap gerakan Yuang Dao melahirkan sambaran petir yang semakin ganas. Langit terus bergemuruh. Kilatan putih memenuhi udara.
Serangan demi serangan mengalir tanpa jeda, bagaikan badai yang tidak memberi kesempatan kepada lawannya untuk membalas.
Namun Sha Nuo masih tetap bertahan. Kabut hitam yang menyelimuti tubuhnya bergerak mengikuti setiap datangnya serangan.
Saat petir datang, kegelapan menelannya. Saat tebasan mendekat, bayangan hitam meredamnya. Saat tusukan hampir mengenai tubuhnya, kabut pekat itu berubah menjadi lapisan pelindung yang menghapus seluruh kekuatan benturan.
Boom!
Boom!!
Boom!!!
Ledakan demi ledakan terus mengguncang bukit.
Setiap benturan antara petir dan kegelapan menciptakan gelombang kejut yang merobohkan pepohonan di sekitar mereka. Meski demikian, tidak satu pun serangan Yuang Dao berhasil melukai Sha Nuo.
Sebaliknya, skspresi Sha Nuo justru berubah semakin bersemangat.
"Hahaha...!"
Tawanya bergema di seluruh perbukitan.
Suara itu bercampur dengan gemuruh petir, terdengar menyeramkan sekaligus penuh kegembiraan.
"Luar biasa!"
Clang!
Ia kembali menahan satu tebasan Yuang Dao hanya dengan lapisan kegelapan yang menyelimuti lengannya.
"Hahaha!"
"Sudah lama sekali..."
Tang!
"...aku tidak menikmati pertarungan seperti ini!"
Mata Sha Nuo berbinar penuh gairah. Setiap kali Yuang Dao melancarkan jurus yang lebih kuat, senyum di wajahnya justru semakin lebar. Seolah-olah ia bukan sedang menghadapi musuh yang ingin membunuhnya. Melainkan sedang menikmati pertarungan yang telah lama ia rindukan.
Tang!
Setelah benturan terakhir, keduanya sama-sama memilih mundur ke belakang.
Swush!
Swush!
Kaki mereka menggesek tanah, meninggalkan dua jejak panjang di atas lereng bukit yang telah hancur.
Beberapa saat kemudian, keduanya berhenti. Kini, jarak di antara mereka kembali terbentang sekitar belasan meter.
Angin kencang berembus melewati celah di antara kedua pendekar itu. Debu dan daun-daun kering beterbangan.
Yuang Dao mengangkat pedangnya perlahan. Tatapannya tidak pernah lepas dari Sha Nuo. Beberapa saat kemudian, ia tersenyum tipis.
"Sudah lama sekali..."
Ia menarik napas dalam.
"...aku tidak bertarung seperti ini."
Pandangannya menjadi semakin tajam. Di dalam hati, ia tidak dapat lagi meremehkan pria bertubuh besar yang berdiri di hadapannya.
Seluruh rangkaian serangan yang baru saja ia lepaskan, tidak satu pun berhasil melukai lawannya. Bahkan stiap kali pedang mereka saling berbenturan, justru telapak tangannya sendiri yang merasakan getaran hebat. Pria lawannya itu benar-benar kuat.
Yuang Dao perlahan mengangkat pedangnya hingga sejajar dengan wajahnya.
"Sepertinya... aku harus lebih serius."
Whoossh!
Ledakan aura tiba-tiba meledak dari dalam tubuhnya.
Boom!
Tanah di bawah kedua kakinya langsung retak. Gelombang tenaga dalam menyapu ke segala arah. Pepohonan yang masih berdiri langsung tumbang seolah diterjang badai. Bukit kembali berguncang.
Crakkk!!
Petir-petir putih mulai menyambar dari balik awan. Langit yang semula telah gelap kini berubah semakin kelam.
Aura milik Yuang Dao terus meningkat. Ini adalah aura ranah pendekar bumi puncak, setengah langkah menuju Pendekar Langit. Tekanan yang dipancarkannya membuat bebatuan di sekitarnya perlahan terangkat dari tanah.
Namun Sha Nuo hanya memandanginya sambil tersenyum. Tidak terlihat sedikit pun rasa gentar di wajahnya. Sebaliknya, sorot matanya justru dipenuhi kegembiraan.
"Hahaha... Aku juga menikmati pertarungan ini."
Ia mengangkat salah satu pedang hitamnya.
"Tapi..."
Senyumnya perlahan menghilang.
"...setiap pertarungan harus memiliki seorang pemenang."
Whoossh!!
Dalam sekejap, aura yang jauh lebih mengerikan meledak dari tubuh Sha Nuo.
Booommmm!!!
Tanah di bawah kedua kakinya langsung amblas beberapa meter. Retakan besar menjalar ke segala arah bagaikan jaring laba-laba raksasa.
Crakkk!!!
Petir di langit tiba-tiba menyambar lebih ganas. Angin yang sebelumnya hanya berembus kini berubah menjadi badai.
Whoossh!!
Pusaran angin mengangkat bebatuan, batang pohon, bahkan bongkahan tanah ke udara. Awan hitam terus berkumpul. Semakin pekat dan luas. Langit di atas perbukitan seolah terbelah menjadi dua.
Tak lama kemudian, rintik-rintik hujan mulai turun. Namun hanya dalam hitungan napas...
Wusshh!!!!
Hujan mengguyur seluruh perbukitan. Angin menderu semakin kencang. Petir terus menggelegar tanpa henti.
Yuang Dao mematung.
"..."
Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, ekspresinya benar-benar berubah. Tatapannya dipenuhi keterkejutan. Aura ini terlalu kuat. Jauh melampaui perkiraannya.
"Mustahil..." gumamnya pelan.
Di dalam benaknya muncul sebuah kemungkinan yang bahkan enggan ia percayai.
"Jangan-jangan... dia telah berhasil menembus ranah di atas pendekar bumi."
Pikiran itu membuat jantungnya berdegup semakin keras. Jika dugaannya benar, maka lawan yang berdiri di hadapannya bukan lagi seorang pendekar yang setara dengannya. Melainkan seorang ahli yang telah memasuki ranah baru.
Di hadapannya, Sha Nuo perlahan mengangkat kedua pedang hitamnya. Berbeda dengan sebelumnya yang hanya bertahan, kali ini, posisi tubuhnya berubah. Satu kaki maju ke depan dan tubuh sedikit merendah.
Tatapannya terkunci pada Yuang Dao. Jelas sekali kali ini, ia akan menjadi pihak yang menyerang.
Yuang Dao menarik napas panjang. Tangannya menggenggam pedang semakin erat. Ia juga mengambil posisi bertarung.
Tidak ada lagi jalan mundur.
Whoossh!
Aura kedua pendekar kembali saling bertabrakan di udara. Petir dan kegelapan saling melahap. Udara di antara mereka bergetar hebat.
Sesaat kemudian, keduanya melangkah maju hampir bersamaan.
Namun...
"Tunggu!"
Sebuah suara perempuan tiba-tiba menggema dari langit. Suara itu dipenuhi tenaga dalam hingga mampu menembus gemuruh petir.
Baik Yuang Dao maupun Sha Nuo secara refleks menghentikan gerakan mereka.
Whoossh!
Dua sosok melesat turun dari udara. Jubah mereka berkibar diterpa badai.
Beberapa saat kemudian...
Tap!
Tap!
Kedua orang itu mendarat tepat di tengah-tengah kedua pendekar tersebut.
Orang yang berdiri paling depan perlahan mengangkat kepalanya. Wajah cantiknya dipenuhi kecemasan. Ia menatap Yuang Dao.
"Senior Yuang Dao..."
Tatapannya kemudian beralih kepada Sha Nuo.
"...Senior Sha Nuo."
Lan Suya akhirnya tiba. Tanpa ragu, ia berdiri di antara keduanya untuk menghentikan pertarungan yang nyaris kembali pecah.