NovelToon NovelToon
Jalan Pedang Tanpa Bakat

Jalan Pedang Tanpa Bakat

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
​Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Plakat Besi dan Pil Pemecah Batas

​Keheningan di Arena Utama terasa seperti ribuan jarum es yang membeku di udara. Tidak ada yang berkedip. Tidak ada yang berani mengambil napas panjang. Mata ribuan kultivator muda itu terpaku pada genangan darah yang menetes dari tubuh seorang pemuda fana, dan pada sang jenius nomor satu yang kini terkapar mengerang sambil memegangi tangannya yang hancur.

​Wasit yang berdiri di tepi panggung masih menahan napasnya, wajahnya pucat pasi, tak tahu harus berbuat apa. Logika dunia kultivasi yang ia anut selama puluhan tahun baru saja dihancurkan oleh sebatang kayu kasar.

​Di tribun kehormatan, suara retakan keras tiba-tiba memecah kesunyian.

​Pegangan kursi batu yang diduduki oleh Penatua Kuang hancur menjadi debu akibat cengkeraman tangannya yang tak sadar menguat. Mata sang Penatua yang biasanya tenang, kini memancarkan cahaya terang benderang yang sulit diartikan.

​Ia perlahan bangkit berdiri. Jubah abu-abunya berkibar pelan.

​"Wasit. Apa yang kau tunggu?" Suara Penatua Kuang bergema, mengandung tekanan Qi murni yang langsung menyadarkan ribuan orang dari keterkejutan mereka. "Pertarungan sudah berakhir. Umumkan hasilnya."

​Wasit itu tersentak, tubuhnya gemetar. Ia menatap Wu Jian yang tak lagi sanggup memegang pedang, lalu menatap Awan yang masih berdiri meski tubuhnya bersimbah darah.

​"P-Pemenang dari Kompetisi Murid Luar tahun ini... Murid Pelayan, Awan!"

​Begitu pengumuman itu diucapkan, tidak ada sorak-sorai. Hanya ada hembusan napas berat yang keluar secara serentak dari ribuan mulut. Kekalahan Wu Jian bukan sekadar hilangnya gelar juara, melainkan tamparan keras bagi harga diri seluruh murid beraliran spiritual di Sekte Daun Angin.

​Di atas panggung, Awan menunduk menatap Pedang Salju Jatuh yang menancap di bahu kirinya. Hawa dingin dari pedang perak itu telah membekukan aliran darah di sekitarnya, mencegahnya kehabisan darah seketika, namun rasa sakitnya menembus hingga ke sumsum tulang.

​Tanpa mengubah ekspresinya, Awan mengulurkan tangan kanannya, mencengkeram bilah pedang perak yang tajam itu, dan menariknya keluar dengan satu sentakan brutal.

​CRAT!

​Darah hitam yang membeku menyembur keluar. Awan mendengus pelan menahan sakit. Ia melempar pedang spiritual yang sangat berharga itu ke lantai batu seolah itu hanyalah ranting rongsokan.

​Beban kelelahan yang luar biasa akhirnya menimpa tubuhnya. Pandangannya mulai mengabur. Awan menancapkan pedang Kayu Besi Hitamnya ke lantai, menggunakan kedua tangannya untuk bertumpu pada gagang pedang kayunya agar tidak jatuh tersungkur. Ia menolak untuk pingsan di hadapan ribuan orang yang pernah merendahkannya.

​Melihat pemandangan itu, Penatua Kuang mengibaskan lengan jubahnya. Sesosok bayangan melesat dari tribun dan mendarat perlahan di sebelah Awan. Itu adalah Tetua Bagian Medis.

​"Bawa Wu Jian ke Balai Pengobatan. Sambung kembali tulang pergelangannya dengan Salep Penyambung Tulang tingkat dua," perintah Penatua Kuang yang kini sudah melayang turun ke panggung. "Dan bawa pemuda ini ke paviliun perawatanku. Jangan biarkan dia mati."

​Tetua Medis mengangguk, lalu mengetuk beberapa titik akupuntur di sekitar bahu Awan untuk menghentikan pendarahan. Awan menatap Penatua Kuang sejenak, membungkuk kaku sebagai tanda hormat, sebelum akhirnya kegelapan menelan kesadarannya.

​Aroma ramuan herbal yang pekat adalah hal pertama yang menyapa indera penciuman Awan saat ia membuka mata.

​Ia mendapati dirinya terbaring di atas ranjang bambu yang bersih. Atap jeraminya di Dapur Selatan telah digantikan oleh langit-langit kayu berukir yang memancarkan kehangatan. Bahu kiri dan seluruh tubuhnya telah dibalut dengan perban putih yang bersih. Rasa sakitnya telah jauh berkurang, digantikan oleh rasa gatal yang menandakan proses penyembuhan jaringan otot yang sangat cepat.

​"Kau sudah bangun, Bocah."

​Awan menoleh. Penatua Kuang sedang duduk bersila di atas tikar jerami di sudut ruangan, di depannya terdapat sebuah meja kayu kecil dengan teko teh yang mengepulkan asap tipis.

​Awan segera bangkit untuk memberi hormat, namun Penatua Kuang mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar ia tetap duduk.

​"Kau tidur selama tiga hari dua malam," ucap Penatua Kuang seraya menuangkan teh. "Tubuhmu menyerap salep penyembuh setingkat dengan kecepatan siluman buas. Otot-otot fanamu... benar-benar sebuah anomali. Kau membalikkan konsep kultivasi dengan memaksa dagingmu menjadi wadah tenaga."

​"Saya hanya melakukan apa yang saya bisa dengan apa yang saya miliki, Penatua," jawab Awan dengan suara serak.

​Penatua Kuang terkekeh pelan. "Sebuah jawaban yang sangat sombong, namun didukung oleh pembuktian mutlak." Sang Penatua berdiri dan berjalan menghampiri ranjang Awan. Ia mengeluarkan dua buah benda dari balik lengan jubahnya dan meletakkannya di atas pangkuan pemuda itu.

​Benda pertama adalah sebuah plakat besi hitam dengan ukiran daun gugur di tengahnya.

​"Sesuai dengan Pasal Ketujuh Peraturan Sekte, kau yang berhasil mengalahkan Murid Luar di arena, berhak mengambil posisinya," jelas Penatua Kuang. "Mulai hari ini, kau bukan lagi Murid Pelayan. Statusmu adalah Murid Luar. Kau tidak perlu lagi membelah kayu di Dapur Selatan. Kau akan diberi tempat tinggal di Asrama Luar, dan berhak memasuki Paviliun Kitab tingkat pertama."

​Awan menyentuh plakat besi yang dingin itu. Selama enam bulan ia direndahkan sebagai budak kasta terendah, dan kini, ia akhirnya membuka pintu pertama menuju jalan kultivasi sekte.

​Benda kedua adalah sebuah kotak kayu cendana kecil. Kotak itu memancarkan aroma obat yang sangat manis dan murni, membuat aliran darah Awan terasa hangat hanya dengan menciumnya.

​"Ini adalah hadiah utama bagi pemenang turnamen. Pil Pemecah Batas tingkat rendah," Penatua Kuang menatap Awan dengan sorot mata serius. "Pil ini biasanya digunakan oleh kultivator di Alam Pengumpul Qi tingkat puncak untuk menerobos hambatan meridian dan masuk ke Alam Fondasi Roh. Energi di dalamnya sangat liar dan brutal."

​Penatua Kuang terdiam sejenak, lalu mendesah. "Awan. Aku harus memperingatkanmu. Pil ini diciptakan untuk mereka yang memiliki Dantian dan meridian yang terbuka. Jika manusia fana dengan meridian tertutup seperti dirimu menelan pil ini, energi liar itu tidak akan punya tempat untuk bernaung. Energi itu akan meledakkan organ dalammu, dan kau akan mati dengan tubuh hancur berkeping-keping."

​Awan menatap kotak kayu cendana itu dalam diam. Ia mengerti peringatan tersebut. Tubuhnya ibarat botol kaca yang tertutup rapat; jika gas bertekanan tinggi dimasukkan ke dalamnya tanpa ada saluran pembuangan, botol itu akan meledak.

​"Aku memberikannya padamu karena itu adalah hakmu sebagai pemenang," lanjut Penatua Kuang. "Saran dariku: jual pil ini di Kota Batu Merah. Kau bisa menukarnya dengan ribuan keping emas. Cukup untuk membuatmu hidup layaknya seorang raja fana hingga akhir hayatmu."

​Penatua Kuang berbalik, berniat meninggalkan ruangan untuk membiarkan Awan beristirahat.

​"Penatua Kuang," panggil Awan tiba-tiba.

​Langkah pria tua itu terhenti.

​Awan mengambil kotak cendana itu, menggenggamnya erat-erat. "Kapan Asrama Murid Luar membagikan jatah makanan bulanan?"

​Penatua Kuang menoleh, sedikit terkejut dengan pertanyaan yang melenceng itu. "Tiga hari lagi. Mengapa?"

​"Bagus," mata Awan memancarkan nyala api tekad yang membara, kegilaan yang sama saat ia memutuskan menaiki Tangga Seribu Beban. "Itu artinya saya punya waktu tiga hari untuk bertahan hidup. Jika saya menjual pil ini demi emas, saya hanya akan menjadi manusia fana yang kaya. Jika langit menolak memberi saya Dantian, maka saya akan menjadikan seluruh tulang, daging, dan kulit saya sebagai Dantian!"

​Mata Penatua Kuang terbelalak ngeri. "Kau gila! Jika kau menelannya tanpa metode sirkulasi, tubuhmu akan hancur dari dalam!"

​Awan tidak menjawab. Tangannya yang dipenuhi bekas luka dan kapalan perlahan membuka kotak cendana tersebut. Di dalamnya, terbaring sebuah pil bundar berwarna merah darah yang memancarkan aura panas.

​Bagi Awan, energi liar itu bukanlah ancaman mematikan. Itu adalah palu godam raksasa. Jika selama ini ia menggunakan beban fisik dari luar untuk menempa ototnya, maka sekarang, ia akan menggunakan ledakan energi dari dalam untuk menghancurkan kelemahan organ manusianya, meremukkannya, lalu membiarkannya beregenerasi menjadi sesuatu yang melampaui batas fana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!