NovelToon NovelToon
Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kaya Raya
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.

Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.

Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 034: Arsitek dari RSJ

Malam setelah Rian Prasetyo memutuskan membangun Taman Hijau Lestari dengan standar terbaik dan harga terendah, sistem panel muncul tanpa dipanggil.

Cahaya biru mengambang di ruang kerjanya.

[Terdeteksi: proyek properti skala besar.]

[Risiko tinggi. Modal besar. Siklus panjang.]

[Rekomendasi: cari talenta adaptif.]

Rian yang sedang minum air mineral langsung duduk lebih tegak.

"Talenta adaptif?"

Panel menampilkan koordinat.

Nama fasilitas muncul di bawahnya.

Rumah Sakit Jiwa Harapan Senja.

Rian membaca dua kali.

Lalu tiga kali.

"Sistem," gumamnya, "kamu menyuruh aku mencari arsitek di RSJ?"

Panel tidak menjawab.

Tentu saja tidak. Sistem hanya memberi rekomendasi seperti orang melempar batu ke kolam lalu pergi.

Rian menatap koordinat itu lama.

Di satu sisi, ini terdengar sangat tidak normal.

Di sisi lain, ia memang baru mengatakan kepada Pak Haryono bahwa ia tidak mencari yang normal.

Keesokan paginya, Rian berangkat bersama Hendro.

Hendro tidak banyak bertanya, tetapi ketika mobil berhenti di depan gerbang RSJ Harapan Senja, alisnya naik sedikit.

"Pak Rian, kita ke sini untuk menjenguk seseorang?"

"Mungkin merekrut."

Hendro terdiam.

Sebagai mantan tentara, ia sudah melihat banyak situasi aneh. Namun ekspresinya mengatakan bahwa daftar pengalaman hidupnya baru saja mendapat kategori baru.

Di ruang administrasi, dokter penanggung jawab menerima mereka dengan sopan tetapi waspada.

"Pak Rian ingin bertemu pasien?"

"Saya mencari seseorang bernama Arief Wibisono."

Dokter itu berhenti membalik berkas.

"Apa hubungan Bapak dengan beliau?"

"Belum ada. Saya ingin menawarkan pekerjaan."

Keheningan turun di ruangan.

Hendro menatap lurus ke depan, setia pada prinsip tidak bereaksi.

Dokter melepas kacamatanya perlahan.

"Pak, Arief bukan orang biasa. Dan saya perlu memastikan niat Bapak tidak merugikan kondisi beliau."

"Itu wajar," kata Rian. "Saya ingin bertemu dulu. Jika beliau atau pihak medis menolak, saya tidak akan memaksa."

Nada itu membuat dokter sedikit melunak.

Ia membuka berkas.

"Arief Wibisono. Dulu salah satu talenta arsitektur paling luar biasa yang pernah dimiliki Indonesia. Masuk universitas sangat muda, menyelesaikan doktor di Cambridge pada usia dua puluh tiga. Setelah kembali, ia bekerja di firma arsitektur asing."

Dokter berhenti sebentar.

"Desainnya terlalu berani. Mahal, rumit, dan tidak mudah dijual kepada investor konservatif. Ketika proyek besar gagal dan perusahaan rugi puluhan miliar, semua kesalahan diarahkan kepadanya. Tekanan keluarga dan perusahaan membuat kondisinya runtuh. Ia dirawat di sini hampir sepuluh tahun."

Rian mendengar tanpa memotong.

"Apakah dia masih mendesain?"

Dokter menatapnya.

"Setiap hari."

Mereka dibawa ke area taman dalam. Tempat itu tidak menyeramkan seperti bayangan orang awam. Ada pohon ketapang, bangku panjang, jalur terapi, dan beberapa pasien yang berjalan ditemani perawat. Suasananya tenang, meski ada kesedihan yang tidak mudah dijelaskan.

Di sudut taman, seorang pria kurus duduk di meja beton. Rambutnya agak panjang. Wajahnya pucat karena terlalu lama hidup di tempat yang teduh. Di depannya, kertas-kertas gambar memenuhi meja.

Garis-garis pensil itu membuat Rian berhenti.

Bangunan melengkung seperti mengikuti arah angin.

Jembatan pejalan kaki di atas taman.

Rumah susun rendah yang punya halaman bersama.

Kolam retensi yang tidak hanya menampung air, tetapi menjadi ruang publik.

Atap hijau, jalur sepeda, ventilasi silang, balkon yang tidak saling mengintip, ruang bermain anak yang terlihat dari dapur keluarga.

Rian tidak paham semua istilah arsitektur.

Tetapi ia paham satu hal.

Semua ini pasti mahal.

Sangat mahal.

Arief mengangkat kepala ketika bayangan Rian jatuh di atas gambar.

Matanya gelap, lelah, tetapi tidak kosong.

"Jangan sentuh kertasnya," katanya.

Rian menarik tangannya yang bahkan belum bergerak.

"Saya tidak akan menyentuh."

"Orang selalu menyentuh, lalu bilang tidak mungkin dibangun."

"Saya tidak akan bilang begitu."

Arief menatapnya curiga.

"Semua orang bilang begitu sebelum melihat angka."

Rian duduk di kursi seberang.

"Kalau dibangun, desain seperti ini akan menghabiskan banyak uang?"

Untuk pertama kalinya, Arief tampak tertarik.

"Banyak sekali."

Mata Rian hampir bersinar.

"Seberapa banyak?"

Arief mengambil satu gambar dan menunjuk beberapa bagian.

"Struktur melengkung butuh perhitungan khusus. Taman atap butuh waterproofing terbaik. Drainase harus didesain dari awal, bukan ditempel belakangan. Material murah akan menghancurkan konsep. Kalau ingin manusia hidup nyaman, biaya tidak boleh menjadi tuhan."

Rian merasa kalimat terakhir itu seharusnya dicetak dan ditempel di depan kantor akuntansi.

"Saya punya proyek," kata Rian. "Perumahan Taman Hijau Lestari. Mangkrak. Rusak. Korban banyak. Saya ingin membangun ulang."

Arief tertawa pendek.

"Semua pengembang bilang ingin membangun ulang. Lalu mereka minta saya memotong taman, mengecilkan jendela, mengurangi ruang publik, dan mengganti batu alam dengan tempelan murah."

"Saya tidak akan meminta itu."

"Kenapa?"

Rian menjawab dengan jujur versi yang masih bisa diterima manusia normal.

"Karena saya ingin membangun hunian terbaik. Tidak perlu memikirkan biaya dulu."

Arief diam.

Angin menggerakkan sudut kertas gambar.

"Tidak perlu memikirkan biaya?"

"Ya."

"Anda mengerti kalimat itu bisa menghancurkan anggaran?"

"Saya sangat berharap begitu."

Arief menatapnya lama. Dokter di belakang mereka tampak bingung. Hendro tetap diam, tetapi kali ini sudut mulutnya seperti hampir bergerak.

Rian mengeluarkan map kontrak.

"Saya menawarkan posisi chief architect untuk proyek Taman Hijau Lestari. Gaji Rp 100.000.000 per bulan. Tim penuh. Kebebasan desain. Satu syarat: desain rumah yang menurut Anda benar-benar layak untuk manusia."

Tangan Arief gemetar.

"Saya pasien RSJ."

"Anda arsitek."

"Saya sudah sepuluh tahun tidak bekerja."

"Tapi Anda sepuluh tahun tidak berhenti mendesain."

Arief menunduk. Air matanya jatuh ke pinggir salah satu gambar, dan ia cepat-cepat menggeser kertas agar tidak basah.

"Mereka bilang ide saya penyakit."

Rian menatap gambar-gambar itu.

"Mungkin yang sakit adalah dunia yang terlalu terbiasa membangun rumah tanpa memikirkan manusia."

Dokter yang tadi waspada kini terdiam.

Proses tidak selesai hari itu juga. Ada evaluasi medis, persetujuan administratif, rencana pendampingan, dan jadwal kontrol lanjutan. Rian mengikuti semuanya. Ia tidak membeli manusia seperti membeli aset. Jika Arief belum siap, proyek akan menunggu.

Namun Arief siap.

Dua hari kemudian, di depan gerbang RSJ Harapan Senja, Arief berdiri dengan tas kecil, surat keluar, dan kontrak kerja di tangan.

Matahari pagi membuatnya menyipit.

Rian menyerahkan kacamata hitam.

"Silau?"

Arief menerima kacamata itu perlahan.

"Saya lupa Jakarta seterang ini."

"Biasakan lagi," kata Rian. "Pekerjaan barumu menunggu."

Arief memakai kacamata, memeluk tabung berisi gambar, lalu melangkah keluar dari gerbang yang menahannya hampir sepuluh tahun.

Di belakangnya, dokter mengangguk pelan.

Di samping Rian, Hendro berkata singkat, "Selamat datang, Pak Arief."

Arief melihat jalan raya, langit, dan dunia yang dulu menolaknya.

Kali ini, dunia itu punya proyek yang cukup besar untuk menampung kegilaannya.

Dan bagi Rian, cukup mahal untuk mungkin menyelamatkan hidupnya dari keuntungan.

1
Ardan
masih ada lanjutannya author?
Ardan
sangat memahami ya Gas 😄👍
Ardan
ya betul Gas, ini kalimat berbahaya dari sang dewa 😂
Ardan
saluutte 👍
Ardan
wkwkwkwk hihi 😂
Ardan
tak masuk akal yang sungguh menggelitik rasa kemanusiaan tinggi, novel diisi dengan kebingungan, tawa, haru dan kebahagiaan.
Ardan
saya selesaikan baca bab ini dengan derai air mata, thor kamu musti tanggung jawab 😭
Ardan
sama bangetzzz
Ardan
asli ini membuat saya meneteskan air mata 😭
Ardan
bagas sejatinya kawan dalam segala situasi ☺️👍
Ardan
rian sang dewa filosofi😄
Ardan
amppuuunnn ini suatu keindahan yang ditunggu rian, namun semu tak tergapai 😄
Ardan
proyek besar, sebesar harapannya untuk rugi atw malah untung nih ?😄
Ardan
terharu bangettttt dengernya Gas 😭🤣
Ardan
jadi penasara, ekspektasi ini akan terwujud seperti apa yak 🤣?
Ardan
dan ngomen kocak lagi si bagus, "bemcana lucu" sueerrr deh ini keren 😄👍
Ardan
huasseeemmmm, bagas lemes banget ngomong bener nya 🤣👍
Ardan
ampuuuuunnn niat banget ngomentar nya si bagas 🤣
Ardan
astaga seindah ini bisnis dalam novel, brutalllll 😭
Ardan
cikal bakal menderita diatas kesuksesan nih, hehe 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!