NovelToon NovelToon
Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.

Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.

Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 019: Menjinakkan Kuasa

Pukul delapan pagi, Hendra sudah menyiapkan tiga paket bukti.

Satu untuk pengacara.

Satu untuk media.

Satu untuk keluarga Bahtiar.

Ia duduk di kamar hotel Surabaya dengan laptop terbuka. Di layar, rekaman restoran kemarin dipotong menjadi beberapa bagian pendek: suara Ivan meminta lima miliar, ancaman atas proyek Bandung, perintah menghapus CCTV, lalu tamparan yang membuat seluruh ruangan diam.

Bagian terakhir sengaja tidak ia kirim.

Tamparan itu untuk harga diri Ivan.

Yang ia butuhkan pagi ini adalah bagian sebelum tamparan.

Pemerasan.

Ancaman.

Penyalahgunaan nama ayah.

Hendra menekan tombol kirim.

File pertama masuk ke pengacara korporatnya di Jakarta dengan pesan singkat.

Siapkan somasi. Jangan unggah dulu.

File kedua masuk ke folder terjadwal yang hanya perlu satu perintah untuk menyebar ke beberapa akun berita lokal, wartawan, dan halaman komunitas Bandung-Surabaya.

File ketiga ia kirim ke nomor yang semalam dipakai Ivan untuk menelepon ayahnya.

Isinya bukan ancaman panjang.

Hanya satu kalimat.

Pak Bahtiar, saya percaya Bapak tidak ingin nama keluarga Bapak muncul di video ini sebelum makan siang.

Lima menit kemudian, teleponnya berdering.

Nomor tidak dikenal.

Hendra membiarkannya berbunyi sampai hampir putus, baru mengangkat.

"Pak Hendra Wijaya?" suara pria dewasa terdengar kaku. Bukan Ivan. Terlalu terkendali untuk pemuda semalam.

"Saya."

"Saya mewakili Pak Bahtiar untuk meluruskan kesalahpahaman."

Hendra menatap jam di layar laptop.

Cepat juga.

"Kesalahpahaman yang mana?" tanyanya. "Lima miliar? Ancaman proyek? Atau perintah menghapus CCTV?"

Hening di seberang.

"Kita bisa bertemu baik-baik."

"Bawa Ivan."

"Pak Ivan sedang kurang sehat."

"Kalau dia cukup sehat untuk memeras, dia cukup sehat untuk minta maaf."

Suara napas tertahan terdengar.

Pria itu mengubah nada. "Pak Hendra, Anda orang bisnis. Anda pasti mengerti, membesarkan masalah seperti ini bisa merugikan semua pihak."

"Tidak semua pihak."

"Maksud Anda?"

"Saya tidak sedang menjabat. Saya tidak membawa nama kantor publik. Saya tidak punya anak yang direkam meminta lima miliar."

Hening lagi.

Kali ini lebih lama.

Hendra menutup laptop setengah, lalu berkata, "Lobi hotel. Tiga puluh menit. Bawa pengacara Anda. Saya membawa pengacara saya lewat sambungan video. Kalau ada preman, file terkirim otomatis."

Ia memutus telepon.

Tiga puluh menit kemudian, Ivan Bahtiar masuk ke lobi hotel dengan pipi kiri masih sedikit bengkak.

Tidak ada senyum.

Tidak ada jam tangan mencolok diangkat tinggi-tinggi.

Ia datang bersama dua orang: seorang pria berkemeja batik gelap yang membawa map kulit, dan seorang perempuan berblazer abu-abu dengan tablet di tangan. Wajah mereka bukan wajah orang yang ingin menang. Wajah mereka adalah wajah orang yang sedang menghitung kerugian.

Hendra duduk di sofa dekat pilar marmer.

Di atas meja kecil ada secangkir kopi yang belum diminum, ponsel dengan panggilan video terbuka, dan satu amplop putih.

Di layar ponsel, pengacaranya sudah menunggu.

Ivan berhenti di depan meja.

"Kau puas?" suaranya rendah.

Hendra mengangkat mata. "Duduk."

"Aku tidak datang untuk diperintah."

"Kalau begitu berdiri saja. Lebih cocok untuk orang yang sedang meminta masalahnya tidak diunggah."

Wajah Ivan mengeras.

Pria berkemeja batik cepat menyentuh siku Ivan.

"Pak Ivan."

Dua kata itu cukup.

Ivan duduk.

Hendra membuka amplop putih, mengeluarkan tiga lembar kertas, lalu meletakkannya di meja.

"Ini draf somasi. Ini transkrip rekaman. Ini daftar akun dan wartawan yang akan menerima file penuh kalau satu orang dari jaringan Anda menyentuh proyek saya, kontraktor saya, pemasok saya, lahan saya, atau perjalanan saya."

Perempuan berblazer membaca cepat. Wajahnya berubah sedikit saat melihat bagian perintah menghapus CCTV.

"Pak Hendra," katanya lebih hati-hati, "kami tidak membenarkan tindakan Pak Ivan. Tapi menyebarkan materi seperti ini juga bisa menimbulkan persoalan hukum."

"Karena itu belum saya sebarkan."

"Maka kita bicara solusi."

"Solusinya sederhana."

Hendra menggeser lembar terakhir.

"Pernyataan tertulis bahwa Ivan Bahtiar bertindak atas inisiatif pribadi. Urusan restoran selesai tanpa tuntutan balik terhadap saya. Proyek saya di Bandung, CV Karya Graha, pemasok, agen, hotel, dan kendaraan saya dibiarkan bersih dari gangguan. Kalau ada satu laporan palsu, satu inspeksi titipan, satu panggilan gelap, bukti ini keluar."

Ivan menampar meja.

"Kau memeras balik!"

Orang-orang di lobi menoleh.

Hendra tidak bergerak.

"Saya menawarkan Anda kesempatan untuk tidak menjadi berita."

"Ayahku tidak akan tanda tangan untukmu."

"Ayah Anda tidak perlu tanda tangan." Hendra menunjuk kertas. "Anda yang tanda tangan. Anda yang terekam. Anda yang membawa preman. Anda yang meminta CCTV dimatikan."

Ivan membuka mulut, tetapi perempuan berblazer memotong lebih dulu.

"Pak Ivan."

Nadanya halus.

Namun kali ini, Ivan benar-benar diam.

Ponsel Hendra bergetar. Pesan dari pengacaranya muncul di layar video.

Poinnya cukup. Minta mereka paraf setiap halaman.

Hendra mendorong pulpen ke depan.

"Saya tidak butuh uang Anda. Saya tidak butuh permintaan maaf di kamera. Saya hanya butuh Anda berhenti menjadi gangguan."

Ivan menatap pulpen itu seperti melihat pisau kecil.

Kemarin ia memaksa Hendra membayar lima miliar.

Hari ini ia harus menandatangani pernyataan agar dirinya sendiri tidak dihancurkan oleh lima menit rekaman.

Di dunia ini, ada orang yang menang karena punya jabatan.

Ada juga orang yang menang karena tahu kapan menekan tombol kirim.

Ivan akhirnya mengambil pulpen.

Tangannya kaku.

Ia menandatangani halaman pertama.

Halaman kedua.

Halaman ketiga.

Pria berkemeja batik menambahkan paraf sebagai saksi. Perempuan berblazer memotret dokumen dengan tablet, lalu mengirim salinan digital ke pengacara Hendra di layar.

"Kami minta file asli dihapus," kata pria itu.

Hendra memasukkan dokumen ke amplop.

"Tidak."

Ivan mendongak tajam.

"Kita sudah tanda tangan!"

"Bukti tetap saya simpan sebagai jaminan. Selama Anda diam, file itu tidur. Kalau Anda bergerak, file itu bangun."

Perempuan berblazer menutup tablet pelan.

"Itu bisa diterima."

Ivan menatapnya seolah dikhianati.

Namun kali ini tidak ada ruang untuk marah.

Karena di depan mereka, ponsel Hendra masih terhubung dengan pengacara. Di belakang mereka, lobi hotel punya kamera. Dan di tangan Hendra, ada salinan yang lebih tajam daripada pisau.

Ivan berdiri.

"Ini belum selesai."

Hendra menatapnya.

"Bagi saya sudah."

"Kau akan menyesal."

"Mungkin." Hendra mengambil kopinya. "Tapi bukan hari ini."

Ivan pergi lebih dulu. Dua pendampingnya menyusul setelah mengangguk kaku kepada Hendra. Begitu pintu kaca lobi terbuka, panas Surabaya masuk sebentar, lalu tertutup kembali.

Hendra menunggu sampai mereka benar-benar masuk mobil.

Baru setelah itu ia mengirim salinan dokumen ke folder cloud yang sama dengan rekaman.

Front Bahtiar selesai.

Belum musnah.

Belum dilupakan.

Tapi cukup jinak untuk tiga malam ke depan.

Ponselnya kembali bergetar.

Kali ini pesan dari nomor Bang Hantu.

Titik tunggu berubah. Besok malam, pukul satu lewat. Jangan terlambat.

Hendra membaca pesan itu dua kali.

Sudut bibirnya terangkat tipis.

Ia membuka peta dermaga lama, menandai titik baru, lalu menutup semua jendela bukti Bahtiar di laptop.

Urusan kecil sudah dikunci.

Sekarang giliran laut.

1
Alia Chans
Hadir ni... semangat nulis nya😉/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!