NovelToon NovelToon
Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15

Hujan Deras Malam Itu

Perjalanan ke Pulau Zamrud tertunda karena hujan.

Selama empat hari, langit Jakarta tidak pernah benar-benar cerah. Air menggenang di beberapa ruas jalan, angin mematahkan ranting, dan berita cuaca terus mengingatkan potensi petir.

Pada malam kelima, listrik rumah Gunawan padam.

Vivi sedang membaca di ranjang ketika seluruh lampu mati sekaligus. Pendingin udara berhenti. Kamar berubah gelap, hanya diterangi kilat putih yang membelah jendela.

Satu detik kemudian, suara petir menghantam.

DOR!

Buku terlepas dari tangan Vivi.

Tubuhnya bereaksi sebelum pikiran sempat mengingat bahwa ia berada di rumah kokoh di Pondok Indah. Napasnya menyempit. Telapak tangannya dingin, sementara jantungnya memukul terlalu cepat.

Hujan bukan sekadar hujan.

Di dalam tubuh Vivi, bunyi air membawa kembali malam-malam dari kehidupan pertama: jalan yang tak bisa dilewati, telepon yang tidak tersambung, kamar terkunci, dan rasa bahwa tak seorang pun akan datang sebelum napasnya habis.

Ia meraih boneka beruang, masuk ke bawah selimut, lalu menekannya ke dada.

Kilat lain menyala.

Vivi memejamkan mata dan menghitung.

Satu.

Dua.

Petir meledak lebih dekat.

Ia menggigit bibir agar tidak berteriak.

Ponsel di meja samping ranjang menyala karena pesan masuk. Vivi menjulurkan tangan dari balik selimut.

Pak Yanto: Generator utama gagal menyala. Teknisi sedang menuju ruang mesin. Semua staf diminta tetap di area masing-masing karena pohon tumbang di halaman belakang. Mohon jangan keluar kamar, Bu Vivian.

Vivi mencoba membalas bahwa ia baik-baik saja. Jemarinya terlalu gemetar, menghasilkan tiga salah ketik sebelum pesan berhasil dikirim.

Aku baik-baik saja.

Kebohongan itu tampak menyedihkan di layar.

Saat masih tinggal bersama Papa dan Mama, Vivi akan masuk ke kamar mereka setiap kali badai datang. Mama menyalakan lilin, Papa menutup tirai, lalu mereka bertiga berbicara sampai hujan melemah.

Di rumah sebesar ini, suara badai justru terasa lebih luas.

Kilat menyambar lagi. Vivi tersentak dan ponselnya jatuh ke lantai.

Bunyi ketukan terdengar dari pintu.

Ia membeku.

“Vivi.”

Suara Sebastian menembus kayu.

“Kamu di dalam?”

Vivi ingin menjawab, tetapi tenggorokannya menutup. Ia turun dari ranjang dengan boneka beruang masih dipeluk. Kakinya menginjak karpet dingin. Cahaya petir membuat bayangan lemari memanjang seperti jeruji.

Ketukan kedua terdengar.

“Buka pintunya.”

Nada itu tetap rendah, tetapi tidak memerintah seperti biasanya. Ada ketegangan di dalamnya.

Vivi berjalan menuju pintu. Setiap langkah terasa terlalu jauh. Ketika jemarinya menyentuh gagang, petir menghantam lagi.

Ia menjerit.

Ponsel yang baru dipungutnya kembali jatuh. Vivi merosot di depan pintu, menutup telinga dengan kedua tangan.

“Vivi!”

Gagang bergerak dari luar, tetapi pintu terkunci.

“Buka. Aku di sini.”

Aku di sini.

Dua kata itu memberi Vivi cukup tenaga untuk memutar kunci. Pintu langsung terbuka. Sebastian berdiri di lorong dengan senter darurat di satu tangan. Kemejanya tak dikancing sempurna, seolah ia datang sebelum selesai berpakaian.

Begitu melihat Vivi meringkuk di lantai, wajahnya berubah.

Ia berlutut, tetapi berhenti sebelum menyentuh.

“Lihat aku.”

Vivi mengangkat wajah dengan susah payah.

“Ini hanya petir,” katanya. “Kamu aman. Rumah ini aman.”

Radio kecil di saku celananya berbunyi. Suara Pak Yanto terdengar di antara gangguan statis.

“Pak Sebastian, teknisi memperkirakan dua puluh menit. Panel cadangan sisi timur terkena air.”

Sebastian mengangkat radio tanpa meninggalkan Vivi. “Putuskan aliran ke sayap timur. Jangan kirim staf melewati lorong kamar Vivi. Letakkan dua lampu baterai di ujung tangga, lalu kosongkan lantai ini.”

“Baik, Pak.”

“Pastikan pohon tumbang tidak mengenai jalur evakuasi.”

“Jalur depan aman. Mobil juga sudah dipindahkan.”

Sambungan berakhir. Sebastian menaruh radio di lantai agar kedua tangannya terlihat kosong.

“Dua puluh menit,” katanya kepada Vivi. “Kalau listrik belum kembali, kita pindah ke bagian rumah yang memakai panel lain.”

Vivi mengangguk kecil.

Tatapan Sebastian menelusuri wajah dan lengannya. “Kulitmu sakit?”

“Bukan penyakit itu.”

“Sesak?”

“Karena takut.”

Ia tidak berkata jangan takut. Tidak mengatakan Vivi berlebihan atau kekanak-kanakan. Sebastian hanya menggeser posisi agar cahaya senter tidak langsung mengenai matanya.

“Baik. Kita atur napas dulu.”

Kilat memutihkan lorong.

Tubuh Vivi kembali mengecil. Boneka beruang terjepit di antara dada dan lututnya.

Sebastian meletakkan senter di lantai. Ia membuka telapak tangan di hadapan Vivi, membiarkan perempuan itu memilih.

“Tarik napas.”

Vivi mencoba mengikuti. Udara masuk pendek dan tajam.

“Sekali lagi.”

Ia menarik napas lebih dalam.

Sebastian menunggu sampai bahunya tidak lagi naik turun secepat tadi. Lalu ia memandang kamar gelap di belakang Vivi.

“Perlu aku nyalakan lampu darurat?”

“Jangan pergi.”

Kalimat itu keluar sebelum ia sempat menahan.

Sebastian kembali menatapnya.

Suara hujan mengisi jeda. Untuk pria yang biasanya langsung mengambil alih, ia tampak anehnya berhati-hati.

“Perlu aku temani?” tanyanya.

Sebelum Vivi menjawab, Sebastian mengambil ponsel yang jatuh dan memeriksa layarnya. Pelindung kacanya retak di satu sudut, tetapi perangkat masih menyala. Ia mengaktifkan mode hemat daya, membuka nomor Pak Yanto pada panggilan darurat, lalu meletakkannya dalam jangkauan Vivi.

“Kalau aku harus keluar memeriksa sesuatu, tekan ini,” katanya.

Kalimat tersebut membuat jari Vivi kembali dingin. Sebastian segera mengoreksi, “Tapi aku tidak akan keluar kalau kamu tidak mengizinkan.”

Petir menggeram jauh di langit. Vivi tidak menjawab dengan kata-kata.

Ia meraih lengan kemeja Sebastian dan menggenggamnya sekuat tenaga.

“Jangan pergi.”

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!