Selama sepuluh tahun, Bumi diinvasi oleh monster dari "Gerbang Dimensi" (Gates). Han Do-Yoon adalah seorang Hunter Peringkat-F yang bertahan hidup sebagai kuli panggul di dalam Dungeon. Pada Hari Kiamat, saat "Dewa Luar" (Outer Gods) menghancurkan pertahanan terakhir umat manusia, Do-Yoon mengorbankan dirinya untuk melindungi artefak kuno.
Alih-alih mati, ia terbangun sepuluh tahun di masa lalu—tepat di hari di mana sistem kebangkitan pertama kali turun ke Bumi. Namun kali ini, ia tidak membangkitkan kelas biasa. Ia mendapatkan kelas tersembunyi berperingkat Myth: Pewaris Ketiadaan. Dengan pengetahuan masa depan dan sistem absolut di tangannya, Do-Yoon bersumpah untuk mengubah nasib dunia dan membantai para Dewa yang mempermainkan umat manusia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Mata Uang Darah dan Toko Sistem
Angin malam berhembus dingin di atas atap pasar swalayan tersebut, membawa aroma abu dan kehancuran yang kini menjadi parfum baru kota Seoul. Di bawah sana, lolongan monster dan jeritan sesekali masih terdengar, membentuk simfoni kematian yang tak kunjung usai.
Yoo Ji-Ah duduk bersandar pada dinding gardu listrik di tengah atap, memangku kepala adiknya yang tidur beralaskan jaket tebal. Gadis itu menatap kaleng sosis daging di tangannya dengan pandangan kosong. Perutnya berbunyi, menuntut kalori setelah dipaksa bertarung mempertaruhkan nyawa, namun tenggorokannya terasa terlalu sempit untuk menelan apa pun.
Di sudut lain atap, Han Do-Yoon sedang duduk bersila. Ia membersihkan pipa besi berlumuran darah hitamnya dengan selembar kain lap. Wajahnya diterangi oleh cahaya bulan kemerahan, tampak begitu tenang, seolah akhir dunia hanyalah sekadar rutinitas harian baginya.
"Makanlah. Kau butuh tenaga untuk besok pagi," ucap Do-Yoon memecah keheningan, tanpa mengalihkan pandangan dari senjatanya.
Ji-Ah tersentak pelan, lalu mencoba memasukkan sepotong sosis dingin ke dalam mulutnya. Ia mengunyah dengan susah payah. Setelah menelan, ia akhirnya menyuarakan pertanyaan yang mengganjal di dadanya sejak mereka meninggalkan lantai bawah.
"Do-Yoon... tentang orang-orang di bawah tadi," gumam Ji-Ah ragu. "Apakah sikapmu tidak terlalu berlebihan? Maksudku, kau mengancam akan mematahkan kaki mereka. Mereka hanya orang biasa yang ketakutan."
Do-Yoon berhenti menyeka senjatanya. Ia menoleh, menatap Ji-Ah dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Apakah kau pikir aku kejam?" tanya Do-Yoon datar.
"Aku... aku tidak tahu. Tapi kau menyelamatkanku dan Ji-Hye. Jika kau memang tidak peduli pada siapa pun, kau pasti sudah membiarkan kami dimakan monster di stasiun itu," jawab Ji-Ah, menatap lurus ke mata pria itu.
Do-Yoon mendengus pelan, seulas senyum sinis namun lelah terukir di bibirnya. "Kau salah paham, Yoo Ji-Ah. Aku menyelamatkanmu karena kau memiliki nilai. Kau memiliki potensi bertarung yang menguntungkanku. Orang-orang di bawah sana? Mereka tidak memiliki apa-apa selain harapan palsu."
Do-Yoon bangkit berdiri, berjalan mendekati tepi atap dan menatap lautan api di bawah sana.
"Di dunia yang lama, mengandalkan orang lain adalah bentuk kerja sama. Di dunia yang sekarang, itu adalah racun," lanjut Do-Yoon, suaranya mengeras. "Jika aku menolong mereka, mereka akan bergantung padaku. Mereka tidak akan pernah memegang senjata karena mereka tahu ada pahlawan yang akan melindungi mereka. Lalu, apa yang terjadi jika suatu hari aku tidak ada di dekat mereka saat monster menyerang?"
Ji-Ah terdiam. Tenggorokannya tercekat menyadari kebenaran brutal dari ucapan tersebut.
"Mereka akan mati dengan penuh penyesalan, menyalahkanku karena tidak datang tepat waktu," sambung Do-Yoon. "Dengan menakut-nakuti mereka malam ini, aku membunuh harapan naif mereka. Sekarang, mereka tahu bahwa tidak ada dewa penyelamat yang akan turun dari langit. Jika mereka ingin melihat matahari terbit besok, mereka harus mengambil pisau dapur di bawah sana dan membunuh makhluk apa pun yang mendobrak pintu."
Angin malam kembali berhembus, kali ini terasa lebih menusuk tulang Ji-Ah. Ia menatap punggung tegap Do-Yoon dan menyadari satu hal. Pria ini tidak sekadar kejam; ia adalah bentuk paling murni dari kelangsungan hidup. Dan diam-diam, Ji-Ah bersyukur pria ini berada di pihaknya.
Ting!
Suara lonceng perak yang sangat jernih tiba-tiba bergema serentak di dalam kepala setiap manusia yang masih hidup di muka bumi. Do-Yoon melirik arlojinya.
Tepat pukul 00:00. Tanggal 7 Agustus. Hari kedua kiamat resmi dimulai.
[Tahap Percobaan hari pertama telah berakhir.]
[Menghitung jumlah penyintas di wilayah Korea Selatan...]
[Tingkat kelangsungan hidup: 12,4%.]
[Para Rasi Bintang terpukau oleh pertumpahan darah di hari pertama!]
Wajah Ji-Ah memucat melihat angka tersebut. Hampir 90 persen populasi negaranya musnah hanya dalam kurun waktu sepuluh jam.
[Fungsi Sistem Tahap Dua diaktifkan.]
[Toko Sistem kini dapat diakses melalui Jendela Status Anda.]
[Mata uang resmi 'Koin Emas' kini dapat digunakan. Koin Emas didapatkan dari membunuh monster, menjual barang pusaka, atau menyelesaikan Misi.]
[Semoga Anda mendapatkan perbelanjaan yang menyenangkan demi memperpanjang nyawa Anda.]
"Buka Toko Sistem," perintah Do-Yoon dalam hati.
Sebuah layar hologram raksasa berwarna keemasan terbuka di hadapannya. Berbagai macam kategori berjajar rapi: Senjata, Zirah Pelindung, Ramuan, Buku Keahlian, Bahan Material, hingga Kebutuhan Sehari-hari.
Do-Yoon melirik saldo kekayaannya di sudut kanan atas layar.
[Kekayaan Anda: 65.400 Koin Emas]
Bagi seorang Pembangkit normal, mengumpulkan 100 Koin Emas di hari pertama adalah sebuah pencapaian yang luar biasa. Namun, Do-Yoon telah membantai ratusan monster, memusnahkan satu batalion Iblis Kerdil, dan memenggal Penguasa Labirin Tingkat C yang memberikan hadiah koin dalam jumlah fantastis.
Ia jauh lebih kaya daripada seluruh penyintas di Seoul jika digabungkan.
"Apakah kau sudah membukanya?" tanya Do-Yoon tanpa menoleh.
Ji-Ah mengangguk, matanya menatap layar transparan di depannya sendiri. "Y-ya. Saldo milikku... 3.200 Koin Emas. Ini berkat monster-monster yang kau biarkan aku bunuh di dalam istana itu. Apa yang harus kubeli?"
"Buka kategori senjata. Beli 'Pedang Panjang Besi Hitam'. Harganya 2.500 koin," instruksi Do-Yoon. "Itu adalah senjata yang menyalurkan energi sihir elemen angin dengan sangat baik. Sisa koinmu, belikan tiga botol Ramuan Pemulih Stamina Tingkat Rendah dan satu botol Ramuan Penyembuh Luka."
"Baik." Ji-Ah segera menekan tombol beli sesuai arahan. Sejenak kemudian, kilatan cahaya muncul di udara, menjatuhkan sebilah pedang panjang bersarung kulit hitam yang terlihat sangat mematikan, beserta empat botol kaca kecil berisi cairan bercahaya.
Sementara itu, Do-Yoon menelusuri katalog rahasia di dalam Toko Sistem. Ia mencari sebuah barang spesifik yang hanya muncul dalam waktu terbatas di minggu pertama. Jari-jarinya menggulir layar dengan cepat melewati senjata-senjata Tingkat Langka dan Zirah Baja.
"Ah, ini dia."
[Batu Asah Malam Tak Berbintang]
Tingkat: Epik
Harga: 50.000 Koin Emas
Keterangan: Sebuah batu asah yang terbuat dari fragmen meteorit dari dimensi mati. Jika digesekkan pada senjata berbahan dasar bayangan atau energi murni, senjata tersebut akan mendapatkan atribut penembus zirah absolut sebesar 30%. Hanya dapat digunakan satu kali.
Lima puluh ribu koin adalah harga yang tidak masuk akal, setara dengan membangun sebuah markas serikat kecil di masa depan. Tapi bagi kelas Pewaris Ketiadaan milik Do-Yoon, senjata fisik biasa akan selalu hancur jika dialiri energi sihirnya yang terlalu padat. Ia membutuhkan pedang bayangannya untuk menjadi senjata utamanya.
"Beli," batin Do-Yoon tanpa ragu.
Saldo koinnya anjlok drastis, menyisakan sekitar 15.400 koin. Sebuah batu hitam seukuran kepalan tangan, permukaannya berkilau layaknya taburan bintang di langit malam, jatuh ke telapak tangannya.
Ia segera memanggil pedang bayangannya dari telapak tangan kanan. Pedang hitam legam itu terbentuk dengan bunyi mendesis. Do-Yoon lalu menggesekkan Batu Asah Malam Tak Berbintang di sepanjang bilah bayangan tersebut.
Batu itu mencair, melebur ke dalam kegelapan pedangnya, meninggalkan garis perak tipis yang menyala redup di tepi mata pisaunya.
[Pedang Bayangan Anda telah berevolusi menjadi 'Bilah Penebas Malam'.]
[Atribut Penembus Zirah +30% telah diterapkan secara permanen.]
Do-Yoon tersenyum puas. Ia membubarkan pedang itu kembali ke dalam bayangannya. Persiapannya untuk menghadapi gelombang hari esok sudah matang.
Tiba-tiba, dari arah ventilasi atap yang terhubung dengan ruang staf di bawah, terdengar suara keributan.
Bukan auman monster. Melainkan suara pecahan kaca, disusul oleh jeritan wanita yang sangat melengking dan penuh ketakutan.
"T-tolong! Jangan! Lepaskan dia!"
"Hahaha! Tutup mulutmu, jalang! Kami yang menyelamatkan kalian dari monster di lantai bawah tadi, jadi wajar jika kami meminta 'bayaran', kan?"
"Ayah! Jangan sakiti ayahku!"
Suara hantaman benda tumpul terdengar, disusul rintihan pria paruh baya yang sebelumnya memohon bantuan pada Do-Yoon.
Ji-Ah terperanjat, pedang besi hitam barunya nyaris terlepas dari tangannya. Ia berlari ke arah pintu akses atap dan menempelkan telinganya. Wajahnya memucat pasi mendengar percakapan menjijikkan dari bawah sana.
"Do-Yoon... itu suara kelompok penyintas tadi," ucap Ji-Ah dengan suara bergetar karena marah dan jijik. "Ada kelompok lain yang menyerang mereka. Suara mereka... mereka terdengar seperti preman."
Do-Yoon berjalan mendekat dengan tenang. Ia menatap pintu besi yang terkunci dari luar itu. Di hari pertama kiamat, Sistem memberikan Pembangkitan secara acak. Beberapa penjahat, narapidana, atau preman jalanan yang hoki akan mendapatkan kekuatan di luar nalar. Tanpa adanya hukum polisi atau pemerintah yang mengekang, hasrat hewani mereka segera meledak.
Mereka mabuk oleh kekuatan baru.
"Monster terburuk di era baru ini bukanlah Goblin atau Orc, Yoo Ji-Ah," ucap Do-Yoon pelan, mata kelamnya menatap lurus menembus pintu baja seolah bisa melihat para penjahat di bawah sana. "Melainkan manusia yang menyadari bahwa mereka kini kebal terhadap hukum."
"Kita... kita tidak akan membiarkan mereka, kan?" tanya Ji-Ah, buku-buku jarinya memutih menggenggam gagang pedang barunya. Aura hijau tipis mulai menguar dari bilahnya. Gadis itu siap membunuh.
Do-Yoon mengulurkan tangan kirinya ke arah gagang pintu besi. Kegelapan merambat dari telapak tangannya, menghancurkan kunci baja itu menjadi debu dalam hitungan detik. Ia menendang pintu itu hingga terbuka lebar, memperlihatkan tangga darurat yang gelap gulita menuju ke bawah.
"Anggap ini latihan pertamamu memotong daging manusia. Jangan ragu saat menebas leher mereka, atau pedang mereka yang akan merobek perutmu." Do-Yoon melangkah turun menembus kegelapan, matanya menyala layaknya malaikat maut yang kelaparan. "Mari kita bersihkan sampahnya."
jangan lupa hadir juga 😉