Novel ini aku tulis berdasarkan kisah nyata dari seseorang, tapi disini aku menambahkan sedikit ceritanya..
Namaku Melati, aku memiliki seorang sahabat , Lani namanya, yang sudah ku anggap seperti saudara sendiri.
Tapi Lani dengan teganya mengkhianati aku. Ia menikah dengan suamiku secara diam diam.
Marah... benci dan kecewa... itu yang aku rasakan ketika aku mengetahui pengkhianatan suami dan sahabatku.
Aku mencoba bertahan dengan menerima Lani sebagai maduku karena ia lagi mengandung anak dari suamiku.
Akankah aku sanggup bertahan selamanya atau aku pergi meninggalkan suami dan sahabatku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Tujuh
Tak terasa pernikahan Willy dan Lani sudah memasuki bulan ke tujuh Dan kehamilan Lani sudah memasuki bulan ke sembilan.
Walau sekuat hatinya untuk melupakan pengkhianatan Willy dan Lani tapi ia tak bisa pura pura lupa jika saat ini kehamilan Lani hanya menunggu kelahiran.
Melati yang sedang menyuapkan makan ke Nabila dikagetkan dengan suara ponselnya.
"Hallo... apa ini dengan bu Melati"
"Ya.. saya sendiri"
"Maaf bu ini dari toko perlengkapan bayi Ananda.. "
"Ya.. ada apa bu... "
"Kemarin suami dan mertua ibu belanja perlengkapan bayi, ada satu set pakaian bayi yang lupa kami masukan. Apa kami perlu mengantar ke alamat ibu atau ibu yang menjemput ke sini. Kami hanya menyimpan nomor ponsel ibu.. makanya saya langsung menghubungi ibu saja. "
"Oh.. kalau nggak keberatan antar ke alamat saya saja. Ibu masih menyimpan alamat saya"
"Masih bu...Selamat ya bu atas kehamilan keduanya. Bapak bilang anaknya lelaki... semoga nanti kelahirannya lancar dan tetap menjadi langganan kami. Terima kasih bu"
"Terima kasih kembali"
Melati memutuskan sambungan ponselnya dan merasa lemas. Ia bersandar dikursi dan tanpa terasa air matanya kembali jatuh.
"Ya... Tuhan mengapa hatiku belum juga bisa ikhlas. Mengapa Tuhan.. aku tahu semua itu kewajiban mas Willy untuk membeli perlengkapan bayi nya.. tapi yang membuat dadaku sesak, mestua ku begitu antusiasnya akan kelahiran cucunya dari wanita itu, sehingga ikut membeli perlengkapan bayi buat anak wanita itu bersama mas Willy. Tapi ketika Nabila mau lahir.. mengapa ia seakan tak ingin tahu. Jika ia memang tak menyukaiku.. apakah harus Nabila ikut di benci. Apa salah jika aku terlahir dari keluarga tak punya.. bukan mauku lahir dari keluarga tak mampu... Tuhan.. aku tak meminta apa apa.. hanya aku pinta kuatkan hatiku.. tabahkan aku.. buat hati ku ikhlas dan rela menerima semua cobaan darimu... aku rasa aku sudah mulai lelah dengan semua ini... jangan buat aku putus asa Tuhan... "
Melati memijat kepalanya yang terasa pusing, ia membawa Nabila ke kamar untuk beristirahat.
Sore hari ketika kurir mengantarkan pakaian bayi yang tertinggal Willy belum pulang dari kantornya. Melati meletakan belanjaan itu diatas meja ruang keluarga.
Ia langsung memasak buat makan malam. Dan menyiapkan semua di meja makan. Sambil masak air matanya terus mengalir.
Ketika melihat Nabila yang sedang bermain air matanya tambah deras mengalir.
"Apakah Nabila memang ditakdirkan tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang nenek. Apakah ia selamanya tak akan dapat merasakan bagaimana di sayang oleh seorang nenek. Seandainya bunda masih hidup, pasti Nabila mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari bunda... "
Melati memeluk Nabila sambil menangis. Nabila yang seolah mengerti dengan kesedihan bundanya, memegang pipi bundanya yang mengalir air mata.
"Sayang kamu lah satu satu nya yang menjadi penguat bunda menjalani semua ini. Bunda masih bisa bertahan karena ingin tetap melihat senyummu. Selagi kamu bisa tersenyum... bunda akan mencoba tetap bertahan dan kuat..."
Melati mendengar suara mesin mobil Willy, ia segera menghapus air matanya. Willy tak boleh melihat kerapuhannya. Willy tak boleh tahu jika ia masih terluka.
"Selamat malam bidadari ayah... "ucap Willy dan langsung menggendong Nabila.
Nabila yang digendong Willy langsung tertawa.
"Selamat malam bunda yang cantik .."ujar Willy dan mengecup dahi Melati
"Ayah mau mandi dulu atau langsung makan"
"Ayah Mandi dulu bun.. baru makan. Biar enak makannya.. kalau gerah nanti tak nikmat lagi makannya "
"Sini Nabila.. ayah mau mandi.. "
Willy mengecup pipi Melati dan Nabila sebelum masuk ke kamar dan mandi.
Setelah mandi dan makan seperti biasa mereka duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton.
Willy melihat ada paper bag di meja langsung bertanya
"Bunda keluar tadi.. "
"Nggak dirumah saja... mana pernah aku keluar kalau nggak dengan mas"
"Ini belanjaan siapa... "
"Kok ayah malah tanya bunda... "
"Loh ya tanya bunda lah.. ini barang belanja siapa.. kapan bunda belanja"
"Bunda tak pernah belanja jika tak bersama ayah.. bukankah itu belanjaan ayah.. "
"Belanjaan ayah.. kapan ayah belanja. Ayah belanja juga biasanya dengan bunda. .. "
"Ayah lihat dulu isi nya... baru ayah tanya"
Willy membuka isi paper bag. Dan melihat bebrapa set pakaian bayi lelaki. Ia kaget melihatnya.
"Mengapa barang barang ini bisa ada disini... "tanya Willy lemah
"Tadi ada kurir dari toko bayi itu mengantarnya. Ia bilang belanjaan ayah dan mama tertinggal di tokonya"
"Melati... aku bisa jelaskan ini semua"
"Nggak ada yang perlu dijelaskan,itu barang ayah kan. Orang toko nggak salah mengantar barang belanjaankan"
"Melati mama memaksa aku ikut buat membeli semua itu. Mama tak mau pergi jika tidak bersamaku"
"Mas.. aku sudah bilang ..aku tak perlu penjelasan darimu"
"Tapi Melati... "
"Aku tak apa apa... aku sudah terlalu kebal menerima semua ini. Jangankan melihat atau mendengar kamu menemuinya.. kamu bercinta didepan aku saja aku tak akan pernah marah lagi,kamu jangan takut aku sudah terlalu kuat untuk terluka.,aku tak akan pernah merasa sakit lagi.. "
"Melati,aku tak pernah bermaksud menyakiti hati kamu lagi.. "
"Mas,aku sudah bilang,aku tak pernah merasakan sakit hati lagi. Hatiku sudah membatu. Bukan sikapmu yang membuat aku terluka, tapi aku cuma merasa kasihan dengan Nabila.Mengapa ia tak pernah merasakan kasih sayang dari neneknya seperti neneknya yang sangat menyayangi anak wanita itu walau ia belum lahir ke dunia "
"Melati.. maafkan mama"
"Mengapa mas yang harus minta maaf"
"Aku tahu mama salah,tapi kamu jangan salah sangka.Mama juga menyayangi Nabila. Mungkin memang tak terlihat, tapi mama selalu menanyakan tentang Nabila"
"Kalau memang begitu aku cukup bersyukur, tapi jika pun kamu bohong aku tetap bersyukur karena paling nggak Nabila masih memiliki nenek"ucap Melati sedikit ketus
"Melati,tak ada nenek yang tak menyayangi cucunya. Bukankah itu darah dagingnya juga"
"Sudahlah mas.. aku capek. Aku boleh tidur dulu. Nabila juga sudah mengantuk. ..."
"Ya.. pergilah. Selamat malam bidadari bidadari ayah.. semoga mimpi indah"
"Semoga mas... karena hanya dalam mimpi lah aku masih bisa merasakan kebahagiaan,walau itu hanya semu dan mimpi aku sudah cukup merasa senang. "ucap Melati
"Melati.. semakin aku berusaha menjaga hatimu semakin aku terus menambah kesedihan kamu. Mengapa semua ini harus terjadi.... mengapa sampai barang belanjaan aku harus tertinggal... semakin aku bersembunyi semakin Tuhan menunjukan kebenarannya.. . "
********************
Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini
ternyata ada ya, kisah nyata yg mirip kisah halu di dunia pernovelan..
ternyata main ku kurang jauh, hehehe..
semua memang telah ditakdirkan dan kita hanya tinggal menjalankan..
tetapi dalam menjalani kehidupan, kita jg diberi kesempatan untuk memilih mana jalan yg akan kita tempuh..
jadi walau semua telah ditakdirkan, tetapi kita jg tetap punya andil dalam memilih jalan yg akan dilalui..
rasanya bener2 gak habis pikir, sekeluarga dipenuhi dg laki2 yg suka mendua bahkan lebih..
semua perbuatan pasti ada balasannya..
dan semua tokoh telah mendapatkan balasannya sesuai dg perbuatan masing2..
semoga kita bisa menjadi pribadi yg selalu bersyukur dg apa yg kita punya dan terhindar dari penyakit hati, salah satunya iri dengki..
manusia memang tempatnya salah dan lupa..
tapi dengan belajar ilmu agama, kita bisa memilih jalan benar untuk ditempuh..
keren banget ceritanya mam..
kadang ikut kesel jg sama mama Elly terutama..
kok ada orang sesombong dan se-egois itu..
maunya menang sendiri dan gak mau disalahkan..
selalu berprasangka buruk dan keinginannya harus selalu dituruti..
oke deh mama, semoga sehat terus yaa..
tetap semangat berkarya dan semoga sukses selalu..
💪🏻🙏🏻😘🥰😍🤩💕💕💕
cuss lanjut novel berikutnya.. 🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️