NovelToon NovelToon
Benih Yang Ku Sembunyikan

Benih Yang Ku Sembunyikan

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Lari Saat Hamil / Berbaikan / Tamat
Popularitas:43.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.

Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.

Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Pagi itu dapur sudah hidup sejak subuh. Bau nasi hangat bercampur bawang tumis, sementara Nara mengaduk sayur bening pelan dan Albi duduk membaca meski pandangannya sering kosong.

Arbani keluar dari kamar, rambutnya masih sedikit berantakan. Ia duduk di kursi yang selalu ia pilih, tepat di hadapan Albi.

“Pak,” panggilnya pelan.

“Iya, Le?” sahut Albi tanpa menoleh.

“Bapak wis ngombe obat durung?” (Ayah sudah minum obat belum?)

Albi menurunkan bukunya sedikit. “Wis mengko wae. Sakwise mangan.” (Nanti saja. Setelah makan.)

Arbani mengangguk, tapi matanya tidak ikut tenang. Ia tetap memperhatikan ayahnya.

Nara menoleh dari dapur. “Bi, obat pagi kuwi ojo diundur.” (Bi, obat pagi itu jangan ditunda.)

“Iyo, Nara,” jawab Albi cepat. Terlalu cepat.

Mereka duduk bertiga di meja makan. Nasi mengepul, telur dadar terpotong rapi, tempe goreng masih hangat. Arbani makan perlahan, tidak terburu-buru seperti anak lain.

Ia melirik jam dinding sebentar.

“Pak,” katanya lagi, lebih pelan.

“Obate sing warna biru kuwi, sakdurunge jam pitu kudu diminum, ta?” (Obat yang warna biru itu, sebelum jam tujuh harus diminum, kan?)

Sendok Albi berhenti di udara.

“Kowe kok apal?” tanyanya sambil tersenyum kecil. (Kamu kok hafal?)

Arbani menunduk sedikit. “Soale nek telat, Pak biasane ambeganmu dadi luwih abot.” (Soalnya kalau telat, biasanya napas Bapak jadi lebih berat.)

Sunyi menyelip di meja makan. Nara menatap anaknya. Ada sesuatu di dada Nara yang menghangat sekaligus perih. Ini bukan kali pertama Arbani memperhatikan ayahnya seperti itu.

“Le,” ucap Albi akhirnya, suaranya melembut. “Kowe ora usah mikir ngono-ngono. Pak iki wong gede.” (Kamu tidak usah mikir yang begitu-begitu. Bapak ini orang dewasa.)

Arbani mengangguk, tapi tangannya merogoh saku tas kecilnya.

Ia mengeluarkan satu strip obat, rapi dibungkus tisu.

“Iki tak jupukke, Pak.” (Ini saya ambilkan, Pak.)

Nara terkejut. “Ban, kuwi saka ngendi?” (Ban, itu dari mana?)

“Saka laci kamar,” jawab Arbani jujur. “Wingi Pak lali ngombe sore.” (Dari laci kamar. Kemarin Bapak lupa minum yang sore.)

Albi menatap obat di tangan kecil itu lama sekali.

“Kowe nyimpen?” (Kamu yang simpan?)

“Iya, Pak,” jawab Arbani lirih.

“Ben Pak ora lali. Nek Pak sehat, omah iki luwih tentrem.” (Biar Bapak tidak lupa. Kalau Bapak sehat, rumah ini lebih tenang.)

Kalimat itu… terlalu dewasa untuk anak sembilan tahun. Dada Albi terasa dihantam. Ia tidak berani membayangkan jika takdir berkata lain ia hanya tahu satu hal: ia tak ingin anak itu bersedih.

'Ya Allah, beri aku waktu lebih lama. Aku tak ingin mengecewakan anakku,' batin Albi

Sementara Nara ia langsung menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca.

Albi menghela napas panjang. Ia meraih obat itu, lalu mengusap kepala Arbani pelan.

“Ngapunten, Le,” katanya lirih. (Maaf, Nak.)

Arbani menggeleng cepat. “Ora napa-napa, Pak. Aku seneng iso ngelingke.” (Tidak apa-apa, Pak. Aku senang bisa mengingatkan.)

Albi meneguk obatnya dengan air hangat yang disodorkan Nara.

“Saiki wis lega?” tanya Albi.

Arbani tersenyum kecil. “Lega, Pak.” (Lega, Pak.)

Nara menatap dua lelaki di hadapannya, yang satu tumbuh dengan menahan, yang satu belajar menjaga diam-diam.

Dan di pagi yang sederhana itu, ia sadar. Anak itu tumbuh bukan hanya dengan kasih sayang, tapi juga dengan rasa takut kehilangan yang datang terlalu dini.

'Ya Allah, jaga dan lindungi suamiku, dia hanya satu-satunya orang yang menjadi tumpuan kami,' pinta Nara di dalam hatinya.

Selesai sarapan Arbani pamit pada kedua orang tuanya. "Pak Bu, Bani pamit dulu ya," ucap anak itu.

"Gak dianter?" tanya Albi.

Arbani terdiam sejenak anak itu seolah tahu dengan kondisi ayahnya. "Pak ngasoh mawon ndek omah." (Pak, istirahat aja di rumah.)

Albi tidak menjawab, tangannya langsung mengusap kepala anak semata wayangnya itu.

"Hati-hati Le, sing pinter ya," ucapnya sambil mencium kepala Arbani.

"Matur nuwun Pak, wis dongaake," sahut Arbani (Makasih Pak sudah mendoakan)

Arbani segera meraih tangan ibunya, lalu anak itu mulai melangkah ke luar rumah dengan semangat yang ia pikul dan berharap pulang sekolah nanti ia melihat sang ayah sembuh.

☘️☘️☘️☘️

Siang menyapa saat bel sekolah berbunyi. Anak-anak berhamburan pulang, kecuali Arbani yang memilih menunggu hingga halaman lebih lengang.

Arbani berjalan cepat dari arah sekolah. Tasnya agak turun di satu bahu, matanya menunduk menghitung langkah sendiri. Ia terbiasa berjalan tenang, tanpa berlari atau menoleh ke mana-mana.

Di tikungan kecil dekat balai desa, seseorang melangkah dari arah berlawanan.

Bruk.

Tubuh kecil Arbani terdorong sedikit ke belakang. Tasnya jatuh. Buku tulisnya berserakan di tanah.

“Aduh ....” Arbani refleks menunduk, bukan memegangi diri sendiri, tapi meraih buku-bukunya lebih dulu.

Orang di depannya refleks mengulurkan tangan. “Maaf, Nak ...”

Kalimat itu terhenti. Ardan membeku.

Wajah anak itu… terlalu familiar. Bukan sekadar mirip wajah itu terlalu tepat. Seperti duplikat dirinya saat kecil.

Alis yang lurus, hidung yang tegas meski masih kecil, dan sorot mata itu, tenang, bukan sorot anak yang tumbuh dengan riuh. Sorot mata yang seperti… pernah ia lihat bertahun-tahun lalu, di cermin.

Arbani berdiri, menepuk-nepuk bukunya yang kotor tanah.

“Maaf, Pak,” ucapnya sopan, suaranya pelan tapi jelas. “Saya gak lihat.”

Justru kalimat itu yang membuat dada Ardan terasa dihantam pelan, anak itu tidak takut, ataupun menantang, namun ia berkata sopan seolah ia sudah terbiasa hidup teratur.

“Gak apa-apa,” jawab Ardan akhirnya, suaranya lebih berat dari yang ia maksudkan. “Kamu… gak kenapa-kenapa?”

Arbani menggeleng. “Enggak, Pak. Saya yang salah.”

Anak seusia itu biasanya akan manyun. Atau meringis minta dibela. Tapi Arbani malah memunguti sisa buku yang jatuh, lalu berdiri tegak.

Ardan menatapnya terlalu lama.

“Namamu siapa?” tanyanya tanpa sadar.

Arbani sempat ragu. Tapi ia tetap menjawab, sopan seperti diajari untuk tidak sembarang curiga.

“Arbani, Pak.”

Nama itu seperti diketukkan ke tulang rusuk Ardan.

“Sekolah di sini?” tanya Ardan lagi.

“Iya. Saya baru pulang,” jawab Arbani. “Kalau gak ada apa-apa, saya permisi dulu.”

Ia sedikit menunduk, gestur kecil yang membuat Ardan semakin sulit mengalihkan pandang.

“Eh—” Ardan menahan, lalu menghela napas. “Hati-hati di jalan.”

“Iya, Pak. Terima kasih.”

Arbani melangkah pergi. Ardan masih berdiri di tempat yang sama, menatap punggung kecil itu menjauh, jantungnya berdetak tidak beraturan.

Bukan cuma mirip, batinnya. Anak itu… terlalu rapi. Terlalu tenang. Terlalu seperti ....

Ardan menelan ludah, ia tidak berani melanjutkan kata-katanya.

Untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di Desa Bunga, ia lupa alasan bisnisnya datang. Yang tertinggal hanya satu pertanyaan yang tidak berani ia ucapkan:

Anak siapa itu…?

Bersambung. ......

Sore semoga suka ya Kak

1
Sugiharti Rusli
semoga takdir yang harus memisahkan mereka sekarang jadi bekal bagi Arbani ke depannya dan tetap menjadikan sosok Albi sebagai ayah yang selalu hadir❤❤🤍
Sugiharti Rusli
Albi mengajarkan kalo kasih sayang dan ketulusan bukan hanya soal darah siapa yang mengalir, dan Arbani telah merasakan sosok seorang bapak selama 9 tahun ini
Sugiharti Rusli
dan sepertinya kepulangan mereka ke kampung halaman memang menjadi keinginan Albi agar pergi di tempat dan bersama orang" yang dia sayangi selama ini
Sugiharti Rusli
karena cinta dan ketulusan Albi kepada Nara dan Arbani tuh sangat menyentuh
Sugiharti Rusli
asli baca part ini air mata terus mengalir dan turut merasakan perpisahan mereka😭
Ummee
makasih kak author...
ada bonus chapter kah? hehe
Ummee
huuaaaa.... 😭😭😭
aku nangis ini kak...
Rohmi Yatun
😭😭😭😭😭😭ahh sedihh..
ari sachio
😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Kasih Sklhqu
terimakasih Thor 🙏 ditunggu karya berikutnya 🙏
Lisa
Terimakasih y Kak Ayu utk kisahnya..meskipun endingnya sedih..tp ada pelajaran sangat berharga yaitu dari seorang laki2 yg tulus merawat anak yg bukan anak kandungnya..
Ayumarhumah: Sama-sama Kakak ....
total 1 replies
Naim
bahasanya kebanyakan di campur"
Naim
baca nya ribett
Ayumarhumah: itu translate banyak yang gak tahu bahasa Jawa. karena kebanyakan yang baca dari luar pulau. makanya minta translate.
total 1 replies
Naim
bahasanya kalo bisa indo aja, kalo mau ada jawa jangan terlalu banyak jadi kya aneh bacanya
Ayumarhumah: aku di sini hanya ikut event. dan event itu hastagnya romansa pedesaan dan di event itu harus menggunakan bahasa daerah 🙏 nah saat aku menggunakan bahasa daerah banyak pembacaku yang gak ngerti akhirnya aku kasih translate. kalau kakak gak suka skip saja dari pada beri bintang satu.
total 1 replies
Naim
bahasanya belibet
ari sachio
antara Aku,Suamiku dan Mantanku

antara Aku, ibuku,dan Kedua Bapaku
Sugiharti Rusli
apalagi sekarang mereka sudah bisa saling memahami dengan Ardan yang notabene ayah biologis Arbani,,,
Sugiharti Rusli
meski sakit yang Albi derita belum tahu ujungnya sampai kapan, tapi pulangnya mereka semoga menjadi obat dan semangat baru lagi,,,
Lisa: Amin..setuju banget Kak..
total 1 replies
Sugiharti Rusli
mungkin bagi Albi sekarang bukan kesembuhan penuh yang dia harapkan, tapi berkumpul bersama sang putra yang sangat dia sayangi,,,
Sugiharti Rusli
apalagi apa yang Albi dan Nara lalui jauh dari kampung dan putra mereka sendiri,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!