Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.
Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.
Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Pagi itu dapur sudah hidup sejak subuh. Bau nasi hangat bercampur dengan aroma bawang tumis. Nara mengaduk sayur bening pelan, sementara Albi duduk di kursi makan, membaca buku tapi pandangannya sering kosong.
Arbani keluar dari kamar, rambutnya masih sedikit berantakan. Ia duduk di kursi biasa kursi yang selalu ia pilih, tepat di hadapan Albi.
“Pak,” panggilnya pelan.
“Iya, Le?” sahut Albi tanpa menoleh.
“Bapak wis ngombe obat durung?” (Ayah sudah minum obat belum?)
Albi menurunkan bukunya sedikit. “Wis mengko wae. Sakwise mangan.” (Nanti saja. Setelah makan.)
Arbani mengangguk, tapi matanya tidak ikut tenang, entah kenapa anak itu seolah tahu jika sang ayah selalu menghindari obat-obat itu.
Nara menoleh dari dapur. “Bi, obat pagi kuwi ojo diundur.” (Bi, obat pagi itu jangan ditunda.)
“Iyo, Nara,” jawab Albi cepat. Terlalu cepat.
Mereka duduk bertiga di meja makan. Nasi mengepul, telur dadar terpotong rapi, tempe goreng masih hangat. Arbani makan perlahan, tidak terburu-buru seperti anak lain.
Ia melirik jam dinding sebentar.
“Pak,” katanya lagi, lebih pelan.
“Obate sing warna biru kuwi, sakdurunge jam pitu kudu diminum, ta?” (Obat yang warna biru itu, sebelum jam tujuh harus diminum, kan?)
Sendok Albi berhenti di udara.
“Kowe kok apal?” tanyanya sambil tersenyum kecil. (Kamu kok hafal?)
Arbani menunduk sedikit. “Soale nek telat, Pak biasane ambeganmu dadi luwih abot.” (Soalnya kalau telat, biasanya napas Bapak jadi lebih berat.)
Sunyi menyelip di meja makan. Nara menatap anaknya. Ada sesuatu di dadanya yang menghangat sekaligus perih, ini bukan yang pertama Arbani selalu memperdulikan bapaknya.
“Le,” ucap Albi akhirnya, suaranya melembut. “Kowe ora usah mikir ngono-ngono. Pak iki wong gede.” (Kamu tidak usah mikir yang begitu-begitu. Bapak ini orang dewasa.)
Arbani mengangguk, tapi tangannya merogoh saku tas kecilnya.
Ia mengeluarkan satu strip obat, rapi dibungkus tisu.
“Iki tak jupukke, Pak.” (Ini saya ambilkan, Pak.)
Nara terkejut. “Ban, kuwi saka ngendi?” (Ban, itu dari mana?)
“Saka laci kamar,” jawab Arbani jujur. “Wingi Pak lali ngombe sore.” (Dari laci kamar. Kemarin Bapak lupa minum yang sore.)
Albi menatap obat di tangan kecil itu lama sekali.
“Kowe nyimpen?” (Kamu yang simpan?)
“Iya, Pak,” jawab Arbani lirih.
“Ben Pak ora lali. Nek Pak sehat, omah iki luwih tentrem.” (Biar Bapak tidak lupa. Kalau Bapak sehat, rumah ini lebih tenang.)
Kalimat itu… terlalu dewasa untuk anak sembilan tahun, dada Albi terasa dihantam dengan pernyataan barusan, bagaimana jika takdir berkata lain, ia hanya tidak bisa membuat anak kesayangannya itu sedih, jika ia benar-benar diberi umur pendek.
'Ya Allah kasih aku sembuh lebih lama lagi, jujur aku hanya tidak ingin mengecewakan anak laki-laki ku,' batin Albi.
Sementara Nara ia langsung menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca.
Albi menghela napas panjang. Ia meraih obat itu, lalu mengusap kepala Arbani pelan.
“Ngapunten, Le,” katanya lirih. (Maaf, Nak.)
Arbani menggeleng cepat. “Ora napa-napa, Pak. Aku seneng iso ngelingke.” (Tidak apa-apa, Pak. Aku senang bisa mengingatkan.)
Albi meneguk obatnya dengan air hangat yang disodorkan Nara.
“Saiki wis lega?” tanya Albi.
Arbani tersenyum kecil. “Lega, Pak.” (Lega, Pak.)
Nara menatap dua lelaki di hadapannya, yang satu tumbuh dengan menahan, yang satu belajar menjaga diam-diam.
Dan di pagi yang sederhana itu, ia sadar, anak ini tumbuh bukan hanya dengan kasih sayang, tapi dengan rasa takut kehilangan yang terlalu dini, sehingga membuat Nara takut, akan kondisi Albi yang semakin tahun semakin menunjukkan perubahannya.
'Ya Allah, jaga dan lindungi suamiku, dia hanya satu-satunya orang yang menjadi tumpuan kami,' pinta Nara di dalam hatinya.
Selesai sarapan Arbani pamit pada kedua orang tuanya. "Pak Bu, Bani pamit dulu ya," ucap anak itu.
"Gak dianter?" tanya Albi.
Arbani terdiam sejenak anak itu seolah tahu dengan kondisi ayahnya. "Pak ngasoh mawon ndek omah," sahut Albi.
(Pak, istirahat aja di rumah.)
Albi tidak menjawab, tangannya langsung mengusap kepala anak semata wayangnya itu.
"Hati-hati Le, sing pinter ya," ucapnya sambil mencium kepala Arbani.
"Matur nuwun Pak, wis dongaake," sahut Albi. (Makasih Pak sudah mendoakan)
Arbani segera meraih tangan ibunya, lalu anak itu mulai melangkah ke luar rumah dengan semangat yang ia pikul dan berharap pulang sekolah nanti ia melihat sang ayah sembuh.
☘️☘️☘️☘️
Siang menyapa, anak-anak pulang saat bel berbunyi, semuanya berhamburan dan berdesakan, tapi tidak dengan Arbani, anak itu menunggu menghindari berdesak-desakan hingga pada akhirnya ia keluar dari pintu gerbang sekolah.
Arbani berjalan cepat dari arah sekolah. Tasnya agak turun di satu bahu, matanya menunduk menghitung langkah sendiri. Ia terbiasa begitu tidak berlari, tidak ribut, tidak juga menoleh ke kanan kiri.
Di tikungan kecil dekat balai desa, seseorang melangkah dari arah berlawanan.
Bruk.
Tubuh kecil Arbani terdorong sedikit ke belakang. Tasnya jatuh. Buku tulisnya berserakan di tanah.
“Aduh ....” Arbani refleks menunduk, bukan memegangi diri sendiri, tapi meraih buku-bukunya lebih dulu.
Orang di depannya refleks mengulurkan tangan. “Maaf, Nak ...”
Kalimat itu terhenti. Ardan membeku.
Wajah anak itu… terlalu familiar. Bukan sekadar mirip, tapi terlalu tepat, ia menoleh Arbani seolah duplikatnya waktu kecil.
Alis yang lurus, hidung yang tegas meski masih kecil, dan sorot mata itu, tenang, bukan sorot anak yang tumbuh dengan riuh. Sorot mata yang seperti… pernah ia lihat bertahun-tahun lalu, di cermin.
Arbani berdiri, menepuk-nepuk bukunya yang kotor tanah.
“Maaf, Pak,” ucapnya sopan, suaranya pelan tapi jelas. “Saya gak lihat.”
Justru kalimat itu yang membuat dada Ardan terasa dihantam pelan, anak itu tidak takut, ataupun menantang, namun ia berkata sopan seolah ia sudah terbiasa hidup teratur.
“Gak apa-apa,” jawab Ardan akhirnya, suaranya lebih berat dari yang ia maksudkan. “Kamu… gak kenapa-kenapa?”
Arbani menggeleng. “Enggak, Pak. Saya yang salah.”
Anak seusia itu biasanya akan manyun. Atau meringis minta dibela. Tapi Arbani malah memunguti sisa buku yang jatuh, lalu berdiri tegak.
Ardan menatapnya terlalu lama.
“Namamu siapa?” tanyanya tanpa sadar.
Arbani sempat ragu. Tapi ia tetap menjawab, sopan seperti diajari untuk tidak sembarang curiga.
“Arbani, Pak.”
Nama itu seperti diketukkan ke tulang rusuk Ardan.
“Sekolah di sini?” tanya Ardan lagi.
“Iya. Saya baru pulang,” jawab Arbani. “Kalau gak ada apa-apa, saya permisi dulu.”
Ia sedikit menunduk, gestur kecil yang membuat Ardan semakin sulit mengalihkan pandang.
“Eh—” Ardan menahan, lalu menghela napas. “Hati-hati di jalan.”
“Iya, Pak. Terima kasih.”
Arbani melangkah pergi. Ardan masih berdiri di tempat yang sama, menatap punggung kecil itu menjauh, jantungnya berdetak tidak beraturan.
Bukan cuma mirip, batinnya. Anak itu… terlalu rapi. Terlalu tenang. Terlalu seperti ....
Ardan menelan ludah, ia tidak berani melanjutkan kata-katanya.
Untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di Desa Bunga, ia lupa alasan bisnisnya datang. Yang tertinggal hanya satu pertanyaan yang tidak berani ia ucapkan:
Anak siapa itu…?
Bersambung. ......
Sore semoga suka ya Kak