Alina Mahendra, pengacara berhijab sukses dan berprinsip, akhirnya siap mengikat janji suci dengan Farhan Adhitama—pemuda cerdas, gagah, ahli karate, dan pemilik hati yang ia tunggu bertahun‑tahun lamanya. Namun di tengah persiapan bahagia itu, musuh lama kembali muncul dengan wajah baru. Raka Haris kini bersembunyi di balik nama dan topeng pengusaha terhormat, menjalankan bisnis jauh lebih jahat dari ayahnya dulu, dengan satu tujuan tunggal. Menghancurkan Alina sehancur‑hancurnya tepat sebelum pernikahannya berlangsung.
Kebenaran tampak begitu jelas di mata hukum, namun siapa sangka di baliknya tersimpan kebohongan yang dirancang sedemikian rupa. Akankah cinta dan keteguhan mereka cukup menyingkap DI BALIK TOPENG KEBENARAN itu sebelum semuanya terlambat?
Bantu dukung karya ini dengan subscribe, like, komentar dan beri hadiah dan bintang jika suka ya... Terimakasih banyak 🙏😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 : TEKA-TEKI MULAI MENYATU SEMPURNA
...BAB 27...
...TEKA-TEKI MULAI MENYATU SEMPURNA...
“Maafkan saya… Bapak Aditya… maafkan saya…,” isaknya berulang kali di antara tangisan yang memecah keheningan malam. “Saya memang melihat semuanya. Terakhir kali saya lihat, Raka _ dia, mengubah angka‑angka di sistem sampai larut malam. Saya dengar dia juga yang mengajari orang‑orang apa saja yang harus diucapkan di depan hakim untuk menuduh Alina. Saya tahu dia yang atur panggilan mendadak itu keluar. Tapi saya diam… saya diam saja karena dia terus ancam bunuh anak satu‑satunya saya, kalau saya bicara sedikit saja. Saya memang pengecut… Untuk itu saya menuruti perkataannya dan pergi menjauh, seolah saya tidak melihat kelicikan dan kejahatan Raka selama ini. Tapi setiap malam rasanya hati saya seolah disayat‑sayat, Pak… saya tidak pernah bisa tidur tenang sedetik pun.”
[“Itu sebabnya hatimu masih hidup, Bu,”] jawab Pak Aditya lembut dari seberang telepon, diikuti lagi batuk pendek yang melemahkan. [“Uang dan ancaman bisa mengunci mulut orang bertahun‑tahun, tapi tidak akan pernah bisa membunuh rasa bersalah. Itu hukuman paling berat yang sudah kamu pikul sendirian cukup lama. Kamu tidak perlu minta maaf berkali‑kali. Yang terpenting sekarang… kamu sudah berhenti diam. Dan hanya kamulah satu‑satunya orang di dunia ini, yang bisa membuktikan satu hal paling penting, bahwa seluruh tuduhan soal uang, data, dan berkas‑berkas itu semuanya rekayasa buatan dia seorang diri, dan Alina sama sekali tidak pernah bersalah.”]
*****
Sementara itu, di ruang kerja megahnya yang dingin dan sunyi, Raka berjalan mondar‑mandir gelisah dengan langkah cepat dan kacau. Wajahnya masih menyisakan sisa kepanikan hebat dari pertemuan tertutup semalam, dan kini makin memburam mendengar laporan Dira yang masuk bergegas napas memburu.
“Pak… orang yang kita titip pantau baru saja lapor. Malam ini Alina dan Farhan ada di rumah Bu Siti. Mereka diam cukup lama, dan dari balik dinding terdengar jelas Bu Siti menangis sangat hebat sambil memanggil‑manggil nama Bapak Aditya berulang kali, dan menyebut‑nyebut kejadian di ruang sidang hari pernikahan itu secara terperinci.”
Raka berhenti seketika di tempat. Seluruh darah di tubuhnya seolah berhenti mengalir sejenak. Ia menatap Dira lekat‑lekat, matanya membesar penuh ketakutan nyata yang jarang terlihat.
“Bu Siti? Kamu yakin benar namanya?” tanyanya pelan hampir berbisik.
“Pasti, Pak. Wanita yang dulu jadi staf dekat Bapak Haris, lalu ikut mendampingi Bapak dari Bapak masih remaja. Satu‑satunya orang yang tahu persis bagaimana Bapak susun bukti‑bukti keuangan dan administrasi dari nol, sampai akhirnya dijadikan senjata di ruang sidang besar itu.”
Raka mundur selangkah lalu jatuh terduduk lemas di kursi besarnya, kedua tangannya gemetar hebat sampai gelas air di sampingnya berbunyi pelan terbentur permukaan meja. Selama ini dia merasa aman, merasa jebakannya sempurna tanpa cacat, karena dia pikir hanya dia sendiri yang tahu bahwa tuduhan pengalihan dana dan manipulasi data itu 100 % bohong. Dia lupa satu hal saja, ada Bu Siti, yang melihat setiap detik proses pembuatannya dari awal sampai akhir.
“Suruh orang ke sana SEKARANG JUGA!” serunya berteriak keras, suaranya pecah bercampur panik dan amarah yang meluap tak terkendali. “Bawa dia pergi ke tempat yang lebih jauh lebih sepi, atau lakukan apa saja asal dia diam lagi selamanya! Satu kata saja keluar dari mulutnya soal apa yang dia lihat berhubungan dengan sistem, uang, dan berkas sidang itu… semuanya tamat! Segala rencana dendam yang ku susun sejak Ayahku mati membusuk di penjara, semuanya bisa berakhir dalam sekejap!”
“Sudah terlambat, Pak,” jawab Dira pelan dan gemetar, kepalanya tertunduk dalam tak berdaya. “Saat orang kita tiba setengah jam lalu, rumah itu sudah kosong. Farhan sudah membawa Bu Siti beserta anak laki‑lakinya ke tempat aman yang sama sekali tidak kita ketahui jejaknya. Semua catatan, semua sisa berkas, semua jejak yang pernah dia simpan diam‑diam soal bagaimana Bapak ubah data sistem dan latih saksi… semuanya sudah ikut terbawa pergi.”
*****
Kembali di tempat persembunyian yang hangat dan tenang, Bu Siti kini sudah berhenti menangis. Matanya merah bengkak parah, tapi sorotnya berubah total, dari yang dulunya selalu ketakutan dan selalu menunduk, kini menjadi tenang, mantap, dan terasa jauh lebih ringan—seolah batu raksasa yang selama ini menindih dadanya baru saja diangkat pergi sepenuhnya. Ia berjongkok di depan lemari kayu tua, membuka bagian paling bawah yang dilapisi triplek rahasia, lalu mengeluarkan satu kardus tertutup rapat lakban cokelat tebal. Di dalamnya tersusun rapi, salinan layar saat Raka mengutak‑atik data keuangan dari jarak jauh, catatan tanggal dan jam setiap kali dia melatih saksi, rekaman suara saat dia mengakui sengaja atur sidang itu jatuh tepat hari pernikahan, hingga sisa sedikit bubuk putih yang sempat dia ambil diam‑diam sebagai bukti.
“Ini semuanya,” ucapnya pelan sambil menyerahkan kardus itu ke tangan Alina dengan kedua tangan gemetar namun mantap. “Ini yang akan membuktikan ke semua orang, bahwa tuduhan soal pengalihan dana, berkas diubah, akses sistem aneh… semuanya dia buat sendiri dari awal sampai akhir. Kamu tidak pernah melakukan hal sedikit pun dari semua itu, Nak.”
Ia menatap layar telepon yang masih terhubung, tempat suara Pak Aditya terdengar sangat lemah namun jelas sekali.
“Saya sudah diam terlalu lama, Pak. Saya biarkan Alina diinjak‑injak nama baiknya di depan ratusan orang di hari yang seharusnya dia paling bahagia. Saya biarkan Bapak terbaring sakit sendirian tanpa tahu penyebab pastinya. Mulai malam ini… tidak ada lagi yang saya sembunyikan. Di depan hakim, di depan publik, di hadapan siapa saja… saya siap bicara semuanya apa adanya. Walau Raka ancam nyawa saya sekalipun. Lebih baik saya mati bicara jujur, daripada hidup selamanya dibunuh perlahan oleh rasa bersalah ini.”
Dari seberang sana, Pak Aditya hanya menjawab pelan sekali, diikuti satu kali lagi batuk lemah yang menguras tenaganya. “Terima kasih, Bu Siti. Itu saja… sudah lebih dari cukup.”
Malam itu juga, satu per satu potongan teka‑teki yang dulu tercerai berai kini mulai menyatu sempurna menjadi satu rangkaian fakta utuh. Raka yang semalaman berteriak marah dan mengancam semua orang di ruang kerjanya, akhirnya terduduk lemas sendirian dalam kegelapan. Ia baru sadar hal paling mengerikan dari semuanya, celah‑celah kecil yang dulu ia biarkan saja karena terlalu yakin jebakannya sempurna dan dia sudah menang, kini sudah melebar menjadi lubang sangat besar. Dan saksi kunci yang ia yakini selamanya akan terkunci mulutnya, baru saja membuka suaranya—bukan karena dipaksa, bukan karena disuap, tapi semata‑mata karena rasa bersalah yang sudah terlalu berat untuk dipikul sendirian.
Bersambung...
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Tapi sayang yaaa, genre-nya nggk sesuai sama aku... 😂😂😂 di sini, genre-nya tertulis "Pembalasan Wanita" 😁😁😁🙏